NovelToon NovelToon
Sweet Love

Sweet Love

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Dokter
Popularitas:545
Nilai: 5
Nama Author: Chocoday

Dia tidak pernah terlihat.... tapi selalu ada.

“Kalau abang serius… kamu mau kenalin abang ke dia?”

Hanif tidak pernah benar-benar muncul di depan Riyani. Namun ia tahu banyak tentangnya—lebih dari yang seharusnya.
Dari kebiasaan kecil, cara berbicara, hingga senyum yang diam-diam ia tunggu.

Melalui adiknya, Hanif memilih jalan yang tidak biasa: mendekati Riyani tanpa pernah benar-benar “hadir” sebelumnya.
Tapi…
bisakah seseorang menerima cinta dari orang yang hampir tidak pernah ia sadari keberadaannya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chocoday, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Perjalanan Rumah Tangga Riyani dan Hanif

"Kata ibu-ibu tadi pengantin baru makanya masih manis. Kalau udah lama berarti gak manis dong, jadi Aa berapa lama manisnya begini?" tanya Riyani.

Suaminya terkekeh, "insyaallah selamanya."

Seharian itu, pasangan suami istri baru itu menikmati waktunya berdua. Memasak, membereskan rumah serta menata ulang semua perabotan agar lebih nyaman.

Apalagi mulai besok, Hanif kembali bekerja setelah cuti pernikahannya. Sudah seminggu ia menikmati waktu bersama istrinya, full—tanpa memikirkan pekerjaan.

...----------------...

Hari berikutnya, Riyani sudah bangun saat adzan subuh berkumandang. Ia pergi ke dapur untuk memasak nasi dan mengambil air wudhu setelahnya.

Sedangkan Hanif masih terlihat nyenyak pada tempat tidur mereka berdua. Biasanya lelaki itu mudah terbangun, sekalipun hanya dengan alarm. Tapi setelah bersama dengan Riyani, Hanif lebih menikmati tidurnya. Tidak pernah insomnia bahkan beberapa kali dibangunkan istrinya.

Selesai sholat, Riyani duduk pada tepian kasur. Ia menepuk pipi suaminya agar terbangun. "Aa ayo bangun!"

Mata suaminya terbuka, perlahan malah merangkul pinggang istrinya dan tertidur kembali.

"Ya ampun kamu malah bobo di paha aku begini. Ayo bangun, terus sholat subuh!"

"Kan sekarang bagian kerja lagi."

Hanif menghela napasnya, mendusel pada perut istrinya. "Aa gak mau pisah sama kamu. Rasanya gak rela."

"Kan gak lama, cuman beberapa jam aja,"

"Beberapa jam juga udah kayak tahun buat nunggu pulang," timpal Hanif.

Riyani terkekeh.

(Kenapa cowok ini jadi lebay banget?)

Wanita itu menahan senyumannya.

"Udah ayo bangun! Nanti kesiangan coba berangkat kerjanya."

Hanif menekuk wajahnya. "Iya Sayang, iya."

Lelaki itu tidak lekas masuk ke kamar mandi. Melainkan menagih sebuah kecupan sebagai rutinitas pagi yang harus Riyani berikan padanya.

Riyani mengecup pipinya berulang kali, sampai lelaki itu salah tingkah dibuatnya.

Hanif bergegas sholat subuh lalu bersiap untuk pergi bekerja di jam 6.30 pagi. Istrinya menyiapkan sarapan, juga kotak bekal yang sudah diisi cukup banyak untuk makan siangnya.

Riyani mengantarnya ke depan. Hanif tersenyum padanya, ia kecup pipi istrinya lalu bersiap dengan motornya.

"Oh iya Sayang, hampir aja lupa," ucap Hanif.

"Kenapa? Apa yang lupa? Dompet? Hp?"

"Bukan. Aa cuman mau bilang kalau Yanuar pengen ketemu sama kamu katanya," jawab Hanif.

"Yanuar? Siapa? Neng gak kenal."

"Temen aa itu loh, yang waktu ke nikahan kita dia sama Velia. Inget gak?"

Riyani mengangguk.

"Mau apa ketemu sama aku?"

"Pokoknya nanti Aa jelasin pas udah pulang kerja. Soalnya panjang," jawab Hanif lalu pamit dengan motornya.

Riyani mendecak.

(Setengah-setengah banget kasih info. Heran!!)

...----------------...

Setibanya di rumah sakit, Hanif memulai kerjanya. Ia bertemu dengan Velia yang berpapasan pada lorong rumah sakit.

"Gimana? Istri lo udah setuju?"

"Gw belum jelasin ke dia. Nanti deh gw kasih tau lagi kalau udah ada jawaban pasti," jawab Hanif.

Baru saja Hanif bertugas di IGD, lelaki itu sudah menemukan pasien gadis muda dengan ibunya yang datang ke IGD—keluhannya sakit pada perut dengan pendarahan ringan pada bagian kewanitaannya.

Hanif mulai memeriksanya, betul saja—wanita muda itu mengandung dan sudah waktunya menuju persalinan. Hanif memanggil bidan yang berjaga, benar saja—sesuai dengan pemeriksaan Hanif. Dimana wanita hamil itu sudah dalam pembukaan 5, belum lagi adanya pendarahan karena sesuai dengan keterangan dari wali pasien—wanita hamil itu terjatuh di kamar mandi.

Bidan segera membawanya ke ruang operasi. Sedangkan, Hanif melanjutkan memeriksa pasien yang lainnya.

Terasa sedikit lama, Hanif menghela napasnya, berulang kali ia memeriksa jam di tangannya.

"Kenapa Lo?" tanya Azka sembari menepuk bahunya.

Hanif menoleh padanya. "Kangen istri."

"Astaghfirullah!! Pengantin baru emang begitu ya?"

"Lo iri ya?" ledek Hanif. Azka mendelik mendengarnya lalu kembali keluar dari IGD setelah membawa berkas yang ia cari.

Saat makan siang tiba, Hanif membuka kotak bekal yang dibawanya—cukup banyak hingga ia bagi ke beberapa rekan kerja yang lain—yang cukup dekat dengannya.

Notifikasi pesan pada ponsel riyani terdengar, wanita itu terkekeh pelan melihat foto kotak bekal yang sudah kosong terlihat room chat dengan suaminya.

"Aa makan semua?"

(Makan. Tapi sedikit dibagi sama temen-temen yang lain, karena kenyang. Gak apa-apa kan?)

"Gak apa-apa. Kan sayang juga kalau dibawa lagi pulang nanti takutnya udah gak enak."

(Iya, makanya Aa bagi aja)

(Makan siang hari ini 1000/10)

Riyani tersenyum membaca pesan suaminya. Bergantian dengan pesan suaminya, pesan dari seseorang masuk.

(Neng, Abang pinjem duit dong)

(Gak banyak, 3 juta aja)

(Pasti ada kan?)

(Nih no rekeningnya)

(127401582xxxxxx)

Iya, itu Bang Ardi. Untuk apa ia pinjam uang? Padahal dirinya sendiri memiliki gaji, sekaligus dengan istrinya yang ikut bekerja. Bahkan untuk beberapa kebutuhan Haikal dipenuhi Pak Adam—bapak Riyani dan Ardi.

"Gak ada, Bang."

(Gak usah bohong deh kamu. Abang tau kamu sekarang udah punya rumah sendiri, masa 3 juta gak punya)

"Ini rumahnya aa, bukan rumah aku. Lagipula aku gak pegang uang segitu banyak."

(Lebih gak mungkin lagi. Itu cuman alasan kamu kan?)

(Ayo lah Neng! Ini buat bantuin ponakan kamu juga)

"Haikal kenapa?"

(Haikal harus dioperasi, kamu tau sendiri kan dia ada kelainan di kakinya kemarin. Katanya harus dioperasi, kalau gak dioperasi bakal berkelanjutan)

"Beneran?"

(Bener, Neng)

(Masa Abang bohong sama kamu)

Dengan bulat, Riyani memilih untuk menghubungi suaminya lebih dulu. Ia membicarakan tentang uang tabungan bahkan sampai operasi yang katanya harus dilakukan pada Haikal.

Hanif malah balik bertanya, "emang kaki haikal ada kelainan apa? Perasaan tuh anak sehat aja."

"Gak tau, A. Neng gak tau persis, cuman dulu Haikal pernah pas main terus ke tusuk kaca kakinya sampai bengkak dan kata abang sih kambuh lagi bengkaknya sampai ada jaringan yang rusak atau apa gitu,"

Merasa ada yang aneh mendengar cerita istrinya, Hanif meminta Riyani untuk tidak memberikan dulu uang pinjamannya. Wanita itu memilih untuk membisukan pesannya dan tidak menerima telepon dari Bang Ardi.

...----------------...

Matahari sudah mulai turun, Riyani baru saja menyelesaikan masakannya. Tapi suaminya belum terlihat datang, padahal Hanif sudah mengabarinya beberapa menit yang lalu.

(Kok tumben Aa lama ya?)

(Bukannya jarak dari sini lebih deket?)

Riyani berulang kali mengecek jam dinding, tidak lama setelahnya—Hanif datang dengan motornya.

Wanita itu membukakan pintu rumahnya, tersenyum lalu memeluk suaminya dengan hangat.

Begitupun dengan Hanif, mencium kening istrinya lalu memeluknya dengan erat. "Aa daritadi kangen kamu."

Riyani mendecak dengan senyuman.

"Aa kok tumben pulangnya agak lama? Bukannya ke sini lebih deket daripada ke rumah ibu?"

Hanif mengangguk.

"Tapi tadi Aa jalannya muter, soalnya mau beli ini," tunjuknya pada kantong yang ia bawa.

Riyani tersenyum.

"Kenapa beli rasa matcha? Bukannya gak suka?"

"Kan istri aa suka,"

"Kok inisiatif beli es krim matcha ini? Kan lumayan jauh," tanya Riyani, "Aa gak buat kesalahan kan?"

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!