NovelToon NovelToon
THE 100 BILLION SECRETARY

THE 100 BILLION SECRETARY

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Cinta Seiring Waktu / Cinta pada Pandangan Pertama
Popularitas:2.9k
Nilai: 5
Nama Author: Jeonndhhh

Demi 100 Miliar, Gisel harus menjadi sekretaris penggoda bagi bosnya sendiri.
Gisella (20) terjepit kebutuhan ekonomi untuk pengobatan ibunya. Di tengah keputusasaan, Nyonya Widya ibu dari CEO tampan Arselan Dirgantara memberinya penawaran gila: Imbalan 100 miliar rupiah jika Gisel bisa membuktikan bahwa Arsel bukan penyuka sesama jenis.
Tugas Gisel hanya satu: Menjadi sekretaris pribadi dan menggunakan segala cara termasuk pesona fisiknya untuk memicu kembali gairah Arsel yang membeku sejak dikhianati masa lalu.
Gisel yang ceriwis harus menghadapi Arsel yang dingin dan gila kerja. Namun, saat tembok es Arsel mulai mencair, Gisel terjebak dalam dilema antara tuntutan kontrak dan perasaan yang mulai tumbuh nyata.
"Mampukah Gisel menuntaskan misinya, atau justru ia yang akan hancur oleh kebenaran di balik kontrak tersebut?"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tiket Ke Bali dan Dilema Hati

Pagi itu, kedamaian di rumah Gisella terusik oleh dering telepon yang tak henti-hentinya berbunyi. Seharusnya, Gisel masih memiliki satu hari sisa cuti untuk memanjakan ibunya. Namun, sebuah pesan singkat dari sekretaris pengganti di kantor bernada panik: “Mbak Gisel, tolong! Pak Arsel tidak mau memulai rapat dengan investor Jepang kalau Mbak tidak ada. Dia bilang hanya Mbak yang tahu detail revisi kontraknya!”

Gisel menghela napas, menatap ibunya yang sedang duduk di teras menikmati sinar matahari pagi.

"Bu, sepertinya Gisel harus ke kantor sekarang. Ada rapat darurat," ucap Gisel merasa bersalah.

Ibu Sarah tersenyum lembut, mengelus tangan putrinya. "Berangkatlah, Nak. Ibu sudah jauh lebih sehat. Jangan buat Pak Arsel menunggu, dia sudah sangat baik pada keluarga kita."

Dengan terburu-buru, Gisel mengenakan setelan kantornya blazer biru laut yang pas di badan dan memoles wajahnya tipis. Sifat ceriwisnya kembali muncul saat ia memberikan instruksi berlapis-lapis pada Rian sebelum berangkat.

Rapat berlangsung sangat tegang. Para investor dari Jepang itu sangat teliti. Namun, kehadiran Gisel seolah menjadi pelumas bagi mesin yang macet. Ia dengan cekatan memaparkan poin-poin revisi dengan gaya bicaranya yang lugas, cerdas, dan sesekali dibumbui humor ringan yang membuat suasana mencair.

Arsel, yang duduk di kursi utama, tak sekalipun melepaskan pandangannya dari Gisel. Ia melihat bagaimana asistennya itu bekerja dengan penuh semangat meskipun baru saja melewati masa-masa sulit.

"Kesepakatan tercapai!" seru pimpinan investor sambil menjabat tangan Arsel.

Setelah ruangan kosong, Arsel menyandarkan punggungnya. Ia menatap Gisel yang sedang merapikan berkas-berkas di meja rapat.

"Kerja yang bagus, Gisella," ucap Arsel rendah.

"Tentu saja, Pak. Bapak kan bayar saya mahal," sahut Gisel sambil nyengir nakal.

Arsel membuka laci mejanya, mengeluarkan sebuah amplop biru elegan dan meletakkannya di atas meja. "Ambil ini. Ini bonus atas keberhasilan rapat hari ini dan permintaan maaf saya karena telah memotong waktu cutimu."

Gisel membukanya dan matanya membelalak. Di dalamnya terdapat 'dua tiket pesawat kelas bisnis menuju Bali' lengkap dengan reservasi resor mewah di tepi pantai Seminyak.

"Bali? Bapak serius?" seru Gisel kegirangan. Namun, sedetik kemudian ia membaca detailnya. "Lho, kok Bapak juga ikut?"

"Saya juga butuh istirahat, Gisella. Dan jangan lupa, saya adalah bosmu. Saya yang menentukan kapan kita berangkat," ujar Arsel dengan gaya diktatornya yang khas, meski ada binar jenaka di matanya.

Sesampainya di rumah, kegembiraan Gisel mendadak surut. Ia menatap dua tiket di tangannya dengan bimbang. Ia sangat ingin pergi siapa yang tidak mau liburan gratis ke Bali? tapi pikirannya langsung tertuju pada Ibu Sarah.

"Satu tiket buat aku, satu lagi buat siapa?" gumam Gisel. "Rian harus sekolah, dia juga harus jaga Ibu. Mana mungkin aku tega ninggalin Ibu sendirian dalam kondisi habis sakit begini?"

Gisel duduk di ruang tamu dengan wajah murung. Ia berniat mengembalikan tiket itu besok pagi. Namun, Ibu Sarah yang mendengar gumaman Gisel langsung mendekat.

"Gisel, ambillah liburan itu. Ibu sudah benar-benar tidak apa-apa," ujar Ibu Sarah tegas.

"Tapi Bu, kalau Ibu kumat lagi gimana? Gisel di Bali, jauh banget," protes Gisel, matanya mulai berkaca-kaca.

"Ibu ada Rian. Ada tante sebelah juga yang janji mau bantu masak. Kamu sudah kerja keras buat Ibu, Nak. Pergilah, cari udara segar. Ibu malah sedih kalau kamu di sini terus tapi pikirannya terbebani kerjaan," desak Ibu Sarah meyakinkan.

Rian pun ikut menimpali, "Iya Kak, tenang aja. Rian bakal jadi 'kepala keluarga' sementara. Lagian Kakak butuh healing kan biar nggak makin cerewet?"

Setelah mendapatkan restu (dan sedikit paksaan) dari ibunya, Gisel langsung teringat satu nama yang pasti akan melompat kegirangan hingga menabrak langit-langit jika mendengar berita ini.

Ia segera menelepon Sisil.

"Halo, Sil? Lo ada acara nggak akhir pekan ini?" tanya Gisel.

"Nggak ada. Kenapa? Mau minta temenin cari diskon daster?" sahut Sisil di ujung telepon.

"Gue punya tiket ke Bali. Kelas bisnis. Hotel bintang lima. Gratis. Lo mau ikut?"

Hening selama tiga detik, lalu... "WAAAAAA! GISEL! LO SERIUS?! GUE PACKING SEKARANG! GUE SIAPIN BIKINI PALING KECE!"

Gisel tertawa mendengar teriakan histeris sahabatnya. "Eh, denger dulu! Pak Arsel juga ikut. Jadi lo harus jaga sikap, jangan bikin gue malu di depan dia!"

"Tenang aja, Sel! Gue bakal jadi asisten lo yang paling kalem... tapi tetep bakal jadi makcomblang paling handal buat lo sama Pak Arsel di pantai Bali nanti!" goda Sisil.

Gisel menutup teleponnya dengan senyum lebar. Meski hatinya masih sedikit berat meninggalkan rumah, ia tahu bahwa perjalanan ke Bali ini bukan sekadar liburan. Dengan Arsel yang ikut serta, Bali akan menjadi saksi apakah hubungan mereka akan tetap profesional, atau justru ombak pantai Kuta akan membawa mereka ke perasaan yang lebih dalam.

"Bali, here we come!" bisik Gisel, menatap gaun merah marunnya yang tersampir di lemari, membayangkan apa yang akan terjadi di bawah matahari Bali bersama sang Bos Es Batu.

1
⁽⁽ଘ[🐾©️le🅾️🦋]ଓ⁾⁾
kok cepet banget bacanya kak😅😅🙏🙏
⁽⁽ଘ[🐾©️le🅾️🦋]ଓ⁾⁾
10 jam 🤣🤣🤣
nanti kamu praktekan aja 🤭🤭
kuat💪💪
⁽⁽ଘ[🐾©️le🅾️🦋]ଓ⁾⁾
yeeeeee tetap semangat kak 💪💪❤️❤️
makacih udah update 🙏
Nessa
hai kak… aku mampir ceritanya seruuu.. di tunggu up brikutnya… semangat 😍👍🏻
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!