"Dulu aku adalah debu di bawah kakimu, kini aku adalah badai yang akan menghancurkan istanamu!"
Arka Nirwana hanyalah menantu "sampah" yang dihina dan dipaksa mencuci sepatu keluarga Adiningrat. Kehilangan anak, dikhianati istri, dan dianggap gila adalah makanan sehari-harinya. Namun, mereka tidak tahu bahwa selama empat tahun, Arka sedang melakukan tirakat suci untuk membuka Segel Nusantara.
Saat guntur menyambar dan Jenderal tertinggi bersujud di kakinya, dunia sadar bahwa Sang Satria Piningit telah bangkit. Masa perbudakan telah usai, kini saatnya Arka menjemput kembali miliknya dan meratakan siapa pun yang menghalanginya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dedik Januari Purnomo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 34: KAWAH CANDRADIMUKA: PERTARUHAN NYAWA
Langit Trowulan yang semula jingga karena fajar mendadak berubah menjadi merah tembaga. WREEEEEUMMM...
Aura dari kehadiran Maya di atas portal dimensi itu terasa seperti ribuan jarum yang menusuk kulit. Arka berdiri mematung, mendekap tubuh Dafa yang mungil dan dingin.
Matanya terpaku pada garis hitam tipis yang melingkar di tengkuk anaknya, sebuah jerat Setya Pati yang tampak begitu nyata dan mematikan. DZZZT... DZZZT...
"Maya..." KRAKK! Arka mendesis, suaranya mengandung getaran yang membuat tanah di bawah kakinya retak halus.
"Empat tahun aku membusuk dalam kegilaan yang kau ciptakan, dan sekarang kau berani menanam racun di dalam sukma anakku?"
Maya tertawa, sebuah tawa yang merdu namun terdengar seperti gesekan pisau pada kaca. Ia melayang turun perlahan, gaun merahnya menyapu kabut hitam yang tersisa dari pertempuran Mahesa Suro.
"Jangan salahkan aku, mantan suamiku tersayang. Kau sendiri yang berdoa dengan begitu putus asa di depan cermin kuno itu."
"Kau menginginkan seorang anak yang bisa mencintaimu tanpa syarat di saat dunia membuangmu. Aku hanya mengabulkannya, tentu saja dengan sedikit... biaya administrasi."
Rendra Adiningrat, yang masih tergeletak dengan tulang rusuk hancur, mencoba merangkak menuju Maya. SREEEET... "Maya... bantu aku... teknologi kita..."
Maya melirik Rendra dengan jijik. TAK! Dengan satu jentikan jari, sebuah gelombang energi gelap menghantam kepala Rendra, membuatnya pingsan seketika. BOOM!
"Diamlah, alat yang rusak tidak punya hak untuk bicara. Fokusku sekarang adalah mahakarya di pelukan Arka."
Arka merasakan denyut nadi Dafa semakin lemah. Setiap kali Dafa bernapas, garis hitam di tengkuknya berpendar redup, seolah sedang menghisap esensi kehidupan sang bocah.
Arka tahu, bernegosiasi dengan Maya sama saja dengan menyerahkan Nusantara pada kehancuran. Namun, ia tidak bisa membiarkan Dafa layu begitu saja.
"Arka, jangan dengarkan dia!" Reyna bangkit berdiri dengan susah payah, tangannya memegang tasbih yang kini telah pecah menjadi dua.
"Maya menggunakan ilmu Jitaksara, dia memutarbalikkan fakta. Kutukan itu tidak akan hilang meski kau menyerahkan Dafa padanya."
"Dia hanya ingin menggunakan Dafa sebagai wadah untuk membangkitkan Bethari Durga!"
"Tahu apa kau, wanita suci gadungan?" Maya menatap tajam ke arah Reyna. "Kau hanyalah penjaga ruko yang kebetulan punya sedikit garis leluhur. Arka, pilihannya ada padamu."
"Serahkan Dafa padaku dalam hitungan sepuluh, atau saksikan jantungnya berhenti berdetak di sini, di tanah para raja yang tidak bisa menolongmu."
Arka memejamkan matanya. Di tengah kekacauan itu, suara berat Sabdo Paloh kembali bergema di dalam batinnya, lebih jernih dari sebelumnya. WUUUUUNG...
"Arka... elingo... Geni ora bakal mati amarga geni. Banyu ora bakal asat amarga banyu. Gowo bocah kuwi menyang kawah sing dadi panggonane para dewa dikumbah. Candradimuka dudu panggonan pati, nanging panggonan dadi."
(Arka, ingatlah... api tidak akan mati karena api. Air tidak akan surut karena air. Bawa bocah itu ke kawah tempat para dewa dibersihkan. Candradimuka bukan tempat kematian, tapi tempat untuk menjadi.)
Arka membuka matanya. ZING! Kilat ungu di pupilnya kini bercampur dengan cahaya putih murni yang ia serap dari gading pemberian Sang Pamomong.
"Aku tidak akan menyerahkan Dafa padamu, Maya. Dan aku tidak akan membiarkannya mati," ucap Arka dengan nada yang sangat tenang, ketenangan sebelum badai yang paling mengerikan.
Arka menghujamkan Gading Putihnya ke tanah Trowulan dengan kekuatan penuh.
“Aji Pancasona: Pintu Gerbang Candradimuka!” JLEB!
Bumi di bawah mereka meledak, bukan ke atas, melainkan menciptakan pusaran air dan api yang berputar dengan kecepatan cahaya. DHUAAAAAARRRRRR!
Sebuah lubang dimensi ghaib terbuka, menyedot udara di sekitarnya. VREEEUUUMMM! Ini adalah teknik terlarang yang hanya bisa dilakukan oleh seorang Satria Piningit yang sudah pasrah sepenuhnya pada takdir.
"Kau gila, Arka! Kau akan menghancurkan sukmamu sendiri masuk ke sana tanpa ritual!" teriak Maya, wajahnya yang cantik berubah menjadi penuh amarah dan ketakutan.
"Aku sudah pernah gila selama empat tahun, Maya. Masuk ke neraka para dewa hanyalah perjalanan pulang bagiku," jawab Arka dingin.
Tanpa menoleh lagi, Arka melompat ke dalam pusaran itu sambil mendekap Dafa. Reyna, tanpa ragu sedikit pun, ikut melompat di belakang mereka.
BLAAAM! Portal itu menutup dengan dentuman keras, meninggalkan Maya yang meraung histeris di reruntuhan Trowulan.
***
Arka merasa tubuhnya seperti ditarik dari sepuluh arah yang berbeda. Ruang dan waktu di sekitarnya melengkung.
Dalam hitungan detik yang terasa seperti ribuan tahun, mereka mendarat di sebuah tempat yang melampaui imajinasi manusia.
Kawah Candradimuka.
Tempat ini bukan berada di puncak gunung berapi mana pun di peta manusia. Ini adalah dimensi Sunyaruri, sebuah kawah raksasa yang berisi cairan perak mendidih. BLUP... BLUP... BLUP...
Langitnya berwarna ungu tua dengan kilatan petir abadi. Di sini, udara berbau wangi dupa bercampur dengan hawa panas yang sanggup melelehkan baja, namun anehnya, Arka merasakannya sebagai kesejukan yang spiritual.
Arka berdiri di tepi kawah, tubuhnya dipenuhi luka bakar ghaib akibat perjalanan dimensi tadi. Ia melihat Reyna tergeletak tak jauh darinya, masih bernapas namun pingsan.
Arka fokus pada Dafa. Wajah anaknya kini sudah membiru. Garis hitam di tengkuknya mulai mengeluarkan asap tipis yang berbau busuk. SREEE...
"Jangan tinggalkan Papa, Dafa. Papa sudah kehilangan segalanya, aku tidak akan kehilanganmu," bisik Arka, air matanya menetes dan langsung menguap karena hawa panas tempat itu.
Tiba-tiba... BOOM! BOOM! BOOM!
Dari tengah kawah perak mendidih itu, muncul tiga sosok raksasa yang sangat familiar dalam urban legend Jawa. Semar, Gareng, dan Petruk.
Namun, mereka tidak tampak lucu seperti di pertunjukan wayang. Mereka adalah entitas kosmik yang sangat besar, tubuh mereka terbuat dari awan dan cahaya.
"Hehehe... kowe nekat temen, Le,"(Hehehe... kau nekat sekali, Nak) suara Semar mengguncang dimensi tersebut. VREEEEUMM...
"Membawa anomali semesta ke tempat pencucian dewa. Apa kau siap jika kau sendiri yang justru terbakar habis?"
Arka berlutut di depan sosok raksasa itu. "Aku adalah Arka Nirwana, pembawa janji Sabdo Paloh. Aku tidak minta kekuasaan, aku tidak minta kekayaan. Aku hanya minta anakku dibersihkan dari racun Jitaksara milik Maya."
Petruk, yang tingginya menjulang hingga ke langit ungu, membungkuk melihat Dafa. WUUUNG. "Anak ini bukan terkena racun biasa, Satria. Dia adalah bagian dari doamu yang terjebak dalam cermin kegelapan."
"Jika kau mencelupkannya ke kawah ini, kutukannya akan hilang, tapi seluruh ingatan Dafa tentangmu juga akan terhapus. Bagi Dafa, kau akan menjadi orang asing."
Jantung Arka seolah berhenti. DEG! Inilah pengorbanan yang sebenarnya. Menyelamatkan nyawa Dafa, tapi kehilangan cinta sang anak.
Dafa tidak akan lagi memanggilnya "Ayah" dengan binar mata yang sama. Dafa tidak akan lagi ingat bagaimana Arka menemaninya saat ketakutan di ruko tua.
"Apakah tidak ada cara lain?" tanya Arka, suaranya parau.
"Keseimbangan Nusantara menuntut bayaran, Arka," jawab Gareng dengan nada serius. "Kau ingin dia hidup sebagai Titisan Batara, atau mati sebagai anakmu? Pilih."
Arka menatap Dafa yang kian pucat. Ia teringat sumpah yang ia ucapkan, Dia adalah darah sukmaku. Seorang ayah sejati tidak memiliki anak untuk dimiliki, tapi untuk dilindungi agar bisa tumbuh.
"Lakukan," ucap Arka. Hiks... (Air matanya menguap sebelum jatuh). "Biarkan dia hidup, meski dia harus melupakan namaku."
Semar tersenyum bijak, sebuah senyuman yang mengandung kesedihan ribuan tahun. Dengan satu gerakan tangan, tubuh Dafa melayang menuju tengah kawah perak. SREEEET.
Saat tubuh mungil itu menyentuh cairan perak, sebuah ledakan energi murni terjadi. DUARRRRRRR! Garis hitam di tengkuk Dafa menjerit, suara Maya terdengar dalam jeritan itu sebelum akhirnya hancur menjadi abu ghaib.
Cahaya putih meledak dari dalam kawah, menyapu seluruh dimensi Candradimuka. WHIIIIIIITTTTT! Arka terlempar ke belakang, penglihatannya kabur.
Ia merasakan sebagian dari jiwanya seolah-olah ditarik paksa keluar. Memorinya tentang saat-saat paling membahagiakan bersama Dafa seolah terbakar dan hilang dari garis takdir Dafa.
Saat cahaya itu meredup, Dafa melayang kembali ke tepi kawah. Kulitnya kini putih bersih, auranya begitu agung, dan napasnya sangat kuat.
Dafa perlahan membuka matanya.ZING! Mata cokelatnya kini memiliki lingkaran emas di sekeliling pupilnya. Dafa bangkit berdiri. Ia melihat Arka yang terkapar bersimbah darah.
Arka mencoba tersenyum, meski hatinya hancur berkeping-keping. "Dafa... Nak..."
Dafa menatap Arka dengan pandangan yang asing. Tidak ada lagi binar cinta di sana. Hanya ada tatapan seorang entitas tinggi yang melihat manusia biasa.
"Terima kasih sudah membantuku lahir kembali, Tuan Satria," ucap Dafa dengan suara yang merdu namun datar. "Siapakah Anda? Dan kenapa wajah Anda tampak begitu sedih?"
DEG!
Dada Arka terasa seperti dihantam godam raksasa. Ia ingin berteriak, ia ingin memeluk Dafa dan mengingatkannya tentang ruko tua, tentang mimpi kuda cokelat, tentang segalanya. Tapi suaranya tertahan di tenggorokan.
Tiba-tiba... GRRRRRRRR! Bumi Candradimuka bergetar hebat. Sabdo Paloh muncul di samping Semar, wajahnya penuh amarah.
"Arka! Jangan larut dalam kesedihanmu! Maya tidak bekerja sendirian!" Sabdo Paloh menunjuk ke arah lubang dimensi yang tadi digunakan Arka.
"Dia telah memanggil Danyang Penguasa Utara untuk menyerang Reyna dan Dafa yang baru bangkit! Mereka tidak ingin Dafa melupakanmu, mereka ingin Dafa membencimu!"
Dari lubang dimensi yang tertutup tadi, muncul sosok-sosok hitam yang mulai merayap masuk ke wilayah Candradimuka. SRAK... SRAK... SRAK...
Maya telah menemukan cara untuk menembus dimensi suci ini dengan bantuan kekuatan luar yang jauh lebih besar dari sekadar klenik Jawa biasa.
Arka berdiri perlahan. Luka-lukanya masih mengeluarkan darah, tapi matanya kini tidak lagi menunjukkan kesedihan. Matanya hanya menunjukkan kehampaan yang mematikan. DZZZZT!
"Dafa mungkin melupakanku," ucap Arka, ia mengambil pedang Gading Putihnya yang kini berubah menjadi hitam pekat akibat amarahnya yang murni.
"Tapi dia tetap anakku. Dan bagi siapa pun yang mencoba menyentuhnya lagi... aku akan menunjukkan kenapa seorang Satria Piningit disebut sebagai Sang Pembawa Kiamat Kecil."
WUSH! Arka melesat menuju gerombolan bayangan hitam itu, kecepatannya kini melampaui batas yang pernah ia capai sebelumnya.
Ia bukan lagi bertarung untuk tugas, ia bertarung untuk melindungi orang asing yang sangat ia cintai.
SLASH! BRAK! JLEB!
Arka kini bertarung membabi buta melawan pasukan Danyang Utara di dalam dimensi suci Candradimuka, sementara Dafa yang telah kehilangan ingatannya hanya menonton dengan tatapan dingin dari kejauhan.
Namun, di tengah pertempuran, Dafa mulai memegang kepalanya yang sakit.
Potongan-potongan ingatan tentang "seorang pria yang memandikannya dengan air hangat di ruko tua" mulai beradu dengan kekuatan dewa yang baru ia terima.
Di sisi lain, Maya muncul di mulut kawah, memegang sebuah keris kuno yang dikenal sebagai Keris Kyai Setan Kober.
"Jika ingatan tidak bisa membunuhnya, maka keris ini yang akan melakukannya, Arka!"
***
Dukung perjalanan Arka Nirwana dengan Like & Komen. Update setiap hari. Terima kasih.