NovelToon NovelToon
Pesona Murid Baru

Pesona Murid Baru

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Teen
Popularitas:4.1k
Nilai: 5
Nama Author: Vina Melani Sekar Asih

Bagi semua siswi di SMA 1 Nusa Bangsa, kedatangan Rian adalah sebuah anugerah. Cowok pindahan bertampang dingin itu punya pesona yang menyihir siapa saja. Namun tidak bagi Cinta.

Melihat seragamnya yang berantakan dan tatapannya yang tajam, Cinta yakin Rian hanyalah tipikal anak nakal yang harus dihindari. Di saat teman-temannya sibuk memuja Rian, Cinta justru memilih menjauh.

Namun, sebuah tugas kelompok memaksa Cinta mengenal Rian lebih dekat. Di balik kesan urakan yang selama ini ia benci, ada sisi Rian yang tak pernah terlihat oleh orang lain. Kini, Cinta dihadapkan pada satu kenyataan. Apakah ia akan tetap pada prasangkanya, atau justru ikut luluh pada pesona sang murid baru?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vina Melani Sekar Asih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 29 Genggaman Di Balik Kegelapan

Anak tangga demi anak tangga di lantai dua gedung barat SMA 1 Nusa Bangsa terasa jauh lebih panjang daripada saat siang hari. Cahaya senter di tangan Rian bergerak lurus, membelah kepekatan lorong yang biasanya dipenuhi hilir mudik siswa kelas XII. Di malam hari seperti ini, tempat ini berubah total menjadi labirin yang sunyi dan mengintimidasi. Suara derit lantai kayu lama dan lolongan angin yang menyusup lewat ventilasi membuat suasana semakin mencekam.

Cinta berjalan dengan langkah yang sangat hati-hati. Jemari tangan kirinya masih bertaut erat dalam genggaman tangan kanan Rian. Telapak tangan cowok itu terasa hangat dan kokoh, menjadi satu-satunya jangkar yang membuat Cinta tidak berbalik arah dan berlari kembali ke lapangan.

"Kita mulai dari kelas ujung," bisik Rian pelan, memecah kesunyian lorong.

Cinta hanya mengangguk kaku, mengikuti tarikan lembut tangan Rian. Mereka berhenti di depan pintu kelas XII MIPA 3. Pintu kayu itu sedikit terbuka, menyisakan celah hitam yang pekat. Rian mendorong pintu itu perlahan dengan kaki kirinya, menimbulkan suara derit panjang yang membuat bulu kuduk Cinta meremang.

Rian mengarahkan sorot senter ke dalam ruangan. Meja dan kursi yang tertata rapi menciptakan bayangan-bayangan panjang yang menyerupai makhluk abstrak di dinding kelas. "Kamu periksa deretan meja guru dan loker depan, aku cari di barisan meja belakang. Jangan lepas dari dekatku."

"Iya," jawab Cinta hampir berbisik.

Meskipun Sarah bilang mereka harus mencari stiker sebanyak-banyaknya, fokus Cinta buyar seketika saat matanya menangkap siluet gaun putih di sudut dekat papan tulis. Jantungnya mencelos. Ia refleks menarik lengan baju pramuka Rian dengan kuat.

"Rian! I-itu... di sana..." bisik Cinta dengan suara bergetar, menunjuk ke arah sudut kelas yang gelap.

Rian dengan sigap mengarahkan sorot senternya ke titik yang ditunjuk Cinta. Detik berikutnya, tawa kecil yang tertahan keluar dari bibir cowok itu. Di bawah cahaya senter, terungkap bahwa gaun putih itu hanyalah sebuah manekin laboratorium untuk pelajaran biologi yang ditutupi oleh kain pelindung debu.

"Cuma manekin, Cinta," ucap Rian lembut. Ia menoleh dan menatap wajah Cinta yang tampak pucat di bawah pendar pantulan cahaya. Rian membawa tangan Cinta yang bebas untuk mengusap lengan gadis itu, mencoba menyalurkan ketenangan. "Ingat kata panitia tadi, hantunya cuma kakak kelas XII. Dan mereka tidak akan menyakiti kita."

Cinta mengembuskan napas panjang, merutuki kebodohannya sendiri yang terlalu paranoid. "Habisnya mirip sekali. Ya sudah, ayo cari stikernya."

Dengan sisa keberanian yang ada, Cinta mendekati meja guru. Ia meraba bagian bawah laci dan... binggo! Jarinya menyentuh permukaan kertas yang licin. "Rian, aku dapat satu!" seru Cinta tertahan sambil menunjukkan stiker logo pramuka berukuran kecil ke arah Rian.

Rian tersenyum, mengacungkan jempolnya. "Bagus. Di belakang sini kosong. Ayo kita pindah ke kelas sebelah."

...****************...

Mereka keluar dari kelas pertama dan melanjutkan perburuan ke kelas XII IPS 1. Di kelas ini, pencarian mereka berjalan lebih mulus. Rian berhasil menemukan dua stiker yang ditempel di balik mading kelas, sementara Cinta menemukan satu lagi di dekat bingkai foto presiden di dinding depan.

Empat stiker sudah berada di tangan mereka. Cinta mulai merasa sedikit percaya diri. Rasa takutnya perlahan terkikis oleh rasa seru berburu poin, meskipun tangannya sama sekali tidak pernah terlepas dari genggaman Rian. Setiap kali Cinta hendak melangkah terlalu jauh, Rian akan dengan lembut menariknya kembali ke dalam jarak aman.

Namun, ketenangan mereka tidak bertahan lama saat mereka memasuki kelas ketiga, yaitu kelas XII MIPA 1.

Begitu melangkah masuk, udara di dalam kelas itu terasa jauh lebih dingin. Senter Rian menyapu ruangan, dan tepat saat cahaya lampu senter mendarat di bawah meja paling belakang, sebuah bayangan hitam besar tiba-tiba melompat keluar.

"HOOOAAARRGHHH!"

Suara geraman keras menggema di dalam ruang kelas yang kosong. Sosok itu mengenakan kain kafan putih yang sengaja dibuat kumal dan penuh bercak merah menyerupai darah, dengan wajah yang ditutupi topeng seram berambut panjang acak-acakan. Itu adalah salah satu kakak kelas XII pengurus OSIS yang bertugas menjadi hantu pocong.

"Aaaaakh!"

Cinta menjerit pelan karena sangat terkejut. Tanpa berpikir panjang, ia langsung menghambur ke depan dan memeluk tubuh Rian dengan erat, menyembunyikan seluruh wajahnya di dada bidang cowok itu. Tubuh Cinta gemetar hebat, kegelapan dan kejutan instan itu benar-benar meruntuhkan pertahanannya.

Rian yang mendadak mendapat pelukan erat dari Cinta sempat tertegun selama satu detik. Jantungnya sendiri mendadak berpacu liar, bukan karena takut pada hantu buatan di depan mereka, melainkan karena kehangatan tubuh Cinta yang merapat sempurna pada tubuhnya. Aroma wangi sabun mandi sore tadi dari rambut Cinta langsung menusuk indra penciumannya.

Dengan sigap, Rian melingkarkan lengan kirinya di pinggang Cinta, memeluk gadis itu dengan protektif dan menepuk-nepuk punggungnya pelan. "Ssst... tidak apa-apa. Cuma kakak kelas. Aman, ada aku."

Rian kemudian mengalihkan pandangan tajamnya ke arah kakak kelas yang menyamar jadi hantu tersebut. Sorot mata Rian yang dingin dan datar di kegelapan membuat sang hantu justru merasa canggung sendiri. Kakak kelas XII itu berdeham pelan di balik topengnya, menyadari bahwa taktik menakut-nakutinya justru berujung pada momen romantis sepasang adik kelasnya.

"Ehem... ya sudah, cari stikernya sana. Waktu kalian tinggal sedikit," ucap sang hantu dengan suara aslinya yang terdengar canggung, lalu ia berjalan mundur dan kembali bersembunyi di balik lemari belakang.

Cinta yang mendengar suara hantu itu berbicara normal perlahan mendongak. Ia menyadari posisinya yang saat ini sedang mendekap Rian dengan sangat erat di tengah kegelapan kelas. Wajahnya yang semula pucat karena takut, seketika berubah menjadi merah padam yang membara, bahkan mengalahkan rasa takutnya.

Cinta buru-buru melepaskan pelukannya dan mundur satu langkah, meskipun Rian masih menolak untuk melepaskan kaitan tangan mereka. "M-maaf, Rian... aku refleks karena kaget sekali tadi," bisik Cinta sambil menunduk dalam-dalam, pura-pura sibuk membetulkan kacu pramukanya yang sedikit miring.

Rian terkekeh rendah, sebuah suara serak yang selalu berhasil membuat bulu kuduk Cinta meremang dengan cara yang berbeda. "Tidak perlu minta maaf. Kalau kamu mau memelukku sepanjang jurit malam ini juga tidak apa-apa. Aku sama sekali tidak keberatan."

"Rian! Jangan bercanda di situasi seperti ini!" protes Cinta dengan suara tertahan, meskipun hatinya menari-nari karena perlakuan manis itu.

"Aku serius, Cinta," balas Rian dengan nada yang kembali melembut. Ia mengarahkan senternya ke kolong meja tempat hantu tadi bersembunyi. "Lihat, di bawah meja itu ada warna merah. Sepertinya stiker."

Cinta mendekat dengan hati-hati, memastikan sang kakak kelas tidak mengejutkannya lagi. Benar saja, ada dua stiker tertempel di sana. Dengan cepat Cinta mengambilnya. "Sekarang kita punya enam stiker."

...****************...

"Waktu tinggal tiga menit lagi!" suara pengumuman dari pelantang suara panitia di lapangan bawah terdengar samar-samar sampai ke lantai dua.

"Ayo kita turun, kita harus kumpul lagi dengan Sarah dan Rio sebelum waktu habis," ajak Cinta.

Mereka berjalan cepat menyusuri koridor lantai dua menuju tangga tengah. Namun, tepat di dekat belokan tangga, mereka berpapasan dengan kelompok lain yang juga sedang berburu stiker. Dan sialnya, itu adalah kelompok Clarissa.

Clarissa berjalan bersama tiga teman sekelompoknya. Ketika sorot senter mereka saling bertubrukan, langkah Clarissa langsung terhenti. Matanya langsung turun tertuju pada tangan Rian dan Cinta yang masih bertautan erat tanpa jarak.

Ada kilat kemarahan dan ketidaksukaan yang jelas terpancar dari mata Clarissa di bawah remang cahaya malam. Namun, Rian sama sekali tidak peduli. Ia tidak melepaskan genggaman tangannya pada Cinta, justru mempererat remasan jemarinya seolah ingin menegaskan kepada Clarissa bahwa posisi Cinta di sisinya tidak akan bisa diganggu gugat oleh siapa pun.

Rian melewati Clarissa begitu saja tanpa menyapa atau melirik sedikit pun, menarik Cinta dengan lembut untuk terus berjalan menuruni tangga. Cinta sempat menoleh sekilas dan melihat Clarissa yang mengepalkan tangannya kuat-kuat, namun Cinta memilih untuk mengabaikannya. Keamanan dan kehangatan yang diberikan Rian saat ini jauh lebih penting daripada drama masa lalu yang berusaha dihidupkan kembali oleh Clarissa.

...****************...

Begitu mereka menginjakkan kaki kembali di lorong lantai bawah dekat pintu keluar gedung barat, Sarah dan Rio sudah berdiri di sana sambil memeriksa jam tangan digital milik Rio.

"Cin! Rian! Sini cepat! Waktunya tinggal satu menit lagi!" seru Sarah melambaikan tangan dengan heboh.

Cinta dan Rian mempercepat langkah mereka hingga sampai di depan kedua temannya. Saat jarak sudah dekat, Cinta baru menyadari tangan mereka masih bergandengan. Dengan cepat dan sedikit canggung, Cinta menarik tangannya dari genggaman Rian. Rian sempat menahan ujung jarinya selama sedetik sebelum akhirnya merelakan tangan mungil itu terlepas, menyisakan rasa dingin yang tiba-tiba di telapak tangan Cinta.

"Bagaimana? Dapat berapa stiker kalian di atas?" tanya Rio penasaran, wajahnya terlihat acak-acakan karena sepertinya ia juga sempat dikejar hantu di lantai bawah.

"Kami dapat enam stiker," jawab Cinta sambil mengeluarkan lembaran stiker dari saku celana pramukanya. "Kalian sendiri bagaimana?"

Sarah memamerkan senyum kemenangan yang lebar. "Kami dapat lima! Berarti total kelompok kita punya sebelas stiker! Gila, ini sih fiks kita bakal jadi kelompok dengan poin tertinggi di angkatan!"

Tepat setelah Sarah selesai berbicara, suara peluit panjang ditiup sebanyak tiga kali dari lapangan utama, menandakan waktu 15 menit untuk sesi mereka telah habis sepenuhnya. Seluruh kelompok instruksikan untuk kembali ke lapangan untuk menyetorkan hasil buruan mereka ke meja panitia.

Sambil berjalan beriringan menuju lapangan yang kembali diterangi oleh sisa-sisa bara api unggun, Sarah sengaja berjalan melambat agar posisinya sejajar di samping Cinta, membiarkan Rio dan Rian berjalan beberapa langkah di depan mereka.

"Cin," bisik Sarah menyenggol siku Cinta dengan pandangan menggoda.

"Apa lagi, Sar?" tanya Cinta, sudah bisa menebak arah pembicaraan sahabatnya itu.

"Tadi di atas... aman, kan? Tangan kalian kok bisa nempel terus dari pas berangkat sampai pas mau balik ke sini? Jangan pikir aku nggak lihat ya pas kalian turun tangga tadi," goda Sarah dengan senyum penuh kemenangan.

Cinta merasakan pipinya kembali menghangat untuk kesekian kalinya malam itu. Ia melirik punggung tegap Rian yang berjalan di depannya di bawah pendar sisa api unggun. "Tadi... tadi di atas ada hantu pocong, Sar. Aku kaget banget, jadi..."

"Jadi kesempatan dalam kesempitan, nih?" potong Sarah sambil tertawa kecil tanpa suara. "Tapi jujur deh, Cin. Rian itu beneran keren banget malam ini. Cara dia menjaga kamu, cara dia tidak peduli dengan sekitar demi memastikan kamu aman... kamu beneran nggak mau buru-buru kasih dia jawaban?"

Cinta terdiam, menatap ujung sepatu pramukanya yang kotor terkena tanah lapangan. Pertanyaan Sarah kali ini tidak ia jawab dengan bantahan. Di dalam hatinya, sebuah keyakinan baru telah tumbuh. Di tengah kegelapan gedung sekolah malam ini, Cinta tidak hanya menemukan stiker-stiker pramuka, tetapi ia juga menemukan kepastian bahwa di dalam genggaman tangan Rian, ia tidak perlu lagi merasa takut pada badai apa pun yang akan menghadang mereka.

1
Restu Siti Aisyah
mampir kak👍
EvhaLynn
Luar Biasa😉
clarisa
Ayo lanjut lagi, eh jgn lupa mampir di karyaku permen kopi edisi spesial yaaaaaa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!