NovelToon NovelToon
Dao Of The Fate Severer

Dao Of The Fate Severer

Status: sedang berlangsung
Genre:Kelahiran kembali menjadi kuat
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Anonim

Menceritakan Jiang Xuan yang kembali kemasa lalu tepatnya saat dia berusia 15 tahu, dengan mata takdir dan teknik kaligrafiya dia membantai musuhnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anonim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 31

Kesadaran Jiang Xuan kembali, tetapi tidak diiringi oleh rasa sakit.

Tidak ada tulang rusuk yang menusuk paru-parunya. Tidak ada sensasi darah yang menggenang di tenggorokannya. Ia membuka mata dan menemukan dirinya berdiri di atas sebuah permukaan bening yang membentang tanpa batas, persis seperti cermin raksasa yang tidak memantulkan bayangan apa pun. Di sekelilingnya, dan di atas kepalanya, hanyalah kegelapan absolut yang pekat dan sunyi.

Otak rasionalnya yang tajam segera memproses anomali ini. Ini bukan alam fana. Tubuh fisikku masih terkapar pingsan. Ini adalah ruang mental... Lautan Kesadaranku sendiri. Namun, mengapa ruanganku menjadi begitu luas dan kosong?

Tepat saat pikirannya berpacu mencari jawaban, sebuah suara memecah keheningan yang mencekam itu.

"Kau sudah sadar, bocah?"

Suara itu terdengar sangat parau, serak, dan mengiris udara layaknya bilah pedang berkarat yang diseret di atas batu. Namun, di balik keparauan itu, tersimpan sebuah wibawa absolut yang membuat ruang kesadaran Jiang Xuan bergetar hebat.

Jiang Xuan berputar dengan cepat. Di kejauhan, dari balik tirai kegelapan, sesosok manusia berjalan mendekat dengan tempo yang sangat lambat.

Seorang pria tua. Pakaiannya berupa jubah abu-abu yang compang-camping dan penuh robekan, persis seperti pengemis yang dibuang di pinggir jalan. Rambut putihnya panjang tak terurus. Namun, tubuh kurus pria tua itu memancarkan aura yang begitu menindas, begitu purba, seolah-olah ia memikul ribuan gunung mayat di pundaknya. Tekanan mentalnya jauh melampaui gabungan ketiga Diakon tingkat Pembentukan Fondasi yang baru saja dihadapi Jiang Xuan.

Di hadapan kekuatan absolut, kesombongan adalah kebodohan murni. Jiang Xuan, dengan memori tiga ratus tahun bertahan hidup di dunia kultivasi yang buas, segera mengenali bahwa ini adalah eksistensi yang berada di luar nalar fana.

Jiang Xuan menangkupkan kedua tangannya di depan dada, membungkuk dalam dengan rasa hormat yang murni kalkulatif dan pragmatis.

"Junior ini memberi hormat," ucap Jiang Xuan tenang, tanpa sedikit pun nada gemetar. "Bolehkah saya mengetahui nama atau gelar Senior yang sudi singgah di Lautan Kesadaran saya yang sempit ini?"

Pria tua itu berhenti melangkah, berjarak lima tombak dari Jiang Xuan. Sepasang matanya yang berwarna abu-abu mati menatap Jiang Xuan lekat-lekat, seolah menelanjangi setiap lapis jiwa sang remaja.

Tiba-tiba, pria tua itu tertawa. Tawa yang kasar, kering, dan penuh ejekan.

"Hahaha! Lautan Kesadaran yang sempit, katamu? Ruang ini baru saja menampung energi murni yang mampu meratakan sebuah sekte, dan kau menyebutnya sempit?" Pria tua itu mendengus tajam, senyumnya lenyap seketika berganti menjadi tatapan mematikan. "Jangan berbasa-basi denganku, Bocah. Jawab satu pertanyaanku dengan jujur, atau aku akan menghancurkan jiwamu di sini sekarang juga."

Suhu di ruang bening itu seakan anjlok. Niat Membunuh pria tua itu mengunci pergerakan Jiang Xuan.

"Bagaimana mungkin," suara pria tua itu merendah menjadi bisikan yang mengancam, "seorang bocah fana di tahap Kondensasi Qi sepertimu... bisa menguasai teknik dari Manual Tinta Kematian dengan begitu sempurna? Goresan Void Calligraphy yang kau gunakan untuk membantai lalat-lalat di luar sana... itu adalah milik tuanku. Dan teknik itu seharusnya sudah musnah menjadi abu ribuan tahun yang lalu."

Mata Jiang Xuan sedikit menyipit. Kepingan puzzle di kepalanya menyatu dengan bunyi klik yang presisi.

Pemilik Manual Tinta Kematian. Entitas purba yang bersemayam di dalam Lautan Kesadarannya tepat setelah ia memegang senjata legendaris dari makam itu.

"Anda... Anda adalah roh dari Pena Kuas Tulang," simpul Jiang Xuan, nada suaranya tidak naik, murni menyatakan sebuah fakta.

Pria tua itu mengangkat dagunya. "Aku adalah sisa kehendak dari taring tuanku. Ya. Dan kau belum menjawab pertanyaanku. Dari mana kau mencuri teknik itu?"

Jiang Xuan terdiam selama dua tarikan napas. Otak rasionalnya berhitung cepat. Ia sedang berhadapan dengan Roh Artefak dari senjata yang kini terikat padanya. Di ruang mental ini, tidak ada dinding pelindung antara jiwa mereka. Berbohong kepada entitas setingkat ini hanya akan memicu kecurigaan dan berpotensi membuat roh kuas ini menolak untuk bekerja sama. Ia butuh senjata ini beroperasi pada kapasitas maksimalnya. Kejujuran absolut adalah taktik terbaik.

Jiang Xuan menurunkan tangannya, berdiri tegak, dan menatap lurus ke mata abu-abu pria tua itu. Ia membuang postur hormatnya, menggantinya dengan ketenangan seorang pembantai yang setara.

"Saya tidak mencurinya di kehidupan ini, Senior," jawab Jiang Xuan dengan suara yang sangat datar, namun sarat dengan bobot berabad-abad penderitaan. "Saya mempelajarinya tiga ratus tahun di masa depan."

Alis pria tua itu berkerut tipis. "Masa depan?"

"Hukum Langit di dunia ini selalu menertawakan mereka yang lemah," Jiang Xuan memulai monolognya, suaranya tajam dan tidak mengandung sedikit pun penyesalan. "Di kehidupan saya sebelumnya, saya hanyalah seorang kultivator medioker. Saya merangkak di dalam lumpur darah, menjilat ujung pedang musuh untuk bertahan hidup, dan menghalalkan segala cara yang paling kotor untuk memperpanjang napas."

Jiang Xuan melangkah maju secara perlahan, Niat Membunuh murni dari kehidupan masa lalunya mulai merembes keluar dari jiwanya, mengimbangi sedikit tekanan dari pria tua itu.

"Butuh waktu seratus tahun bagi saya untuk menembus tahap Inti Emas. Di tengah reruntuhan sebuah sekte kuno yang telah saya bantai, saya menemukan perkamen kulit manusia yang nyaris hancur. Itulah Manual Tinta Kematian milik tuan Anda. Kitab itu tidak memiliki sisa roh, tidak memiliki petunjuk... hanya teknik murni tentang bagaimana mengubah Niat Membunuh menjadi tinta untuk membelah langit."

Pria tua itu mendengarkan dalam diam, matanya mulai memancarkan ketertarikan.

"Saya membuang seluruh teknik kultivasi lama saya. Saya menjadikan darah musuh saya sebagai tinta. Saya menggunakan jemari saya karena saya tidak memiliki medium yang pantas," lanjut Jiang Xuan, suaranya semakin berat. "Dunia kultivasi menjuluki saya Cendekiawan Tinta Hantu. Saya membantai tanpa henti hingga mencapai ranah Jiwa Baru Lahir. Selama dua ratus tahun setelahnya, saya mencari di seluruh penjuru Dunia Bintang dan Kehampaan... mencari wujud fisik Anda. Saya tahu teknik itu tidak akan pernah sempurna tanpa Kuas Tulang aslinya."

Jiang Xuan tertawa sinis, menatap telapak tangannya yang ilusi.

"Namun saya gagal. Saya dikhianati oleh aliansi sekte-sekte besar. Saya dikepung, meridian saya dihancurkan, dan tubuh saya dibelah. Tetapi surga punya selera humor yang kejam. Alih-alih mati... artefak kuno di jiwa saya, Mata Roda Langit, memutar balik aliran waktu. Ia menyeret jiwa saya kembali ke usia lima belas tahun, ke dalam wadah sampah Kondensasi Qi ini."

Jiang Xuan menghentikan langkahnya, menatap tajam pria tua itu.

"Berkat kembalinya saya ke masa lalu, saya merusak jalinan takdir. Saya mengubah sejarah, dan perubahan itu secara tidak sengaja mengarahkan langkah saya masuk ke Makam Sayap Barat ini. Ke tempat Anda terkubur. Saya tidak mencuri teknik tuan Anda, Senior. Saya mewarisinya dengan darah, dan saya kembali melintasi waktu murni untuk menjemput taring saya yang hilang."

Keheningan yang sangat pekat turun menyelimuti ruang cermin tersebut.

Pria tua itu menatap Jiang Xuan tanpa berkedip. Ia mengukur setiap getaran jiwa dari kata-kata remaja di depannya. Cerita tentang memutar waktu dan mengelabui Hukum Langit adalah sesuatu yang terdengar seperti bualan orang gila. Namun, Niat Membunuh murni tingkat Jiwa Baru Lahir yang memancar dari jiwa remaja berusia lima belas tahun ini adalah bukti mutlak yang tidak bisa dibantah.

Tiba-tiba, pria tua itu melempar kepalanya ke belakang dan tertawa lepas. Tawanya begitu keras hingga permukaan cermin di bawah kaki mereka beriak.

"Hahahaha! Kau menipu kematian?! Kau meludahi Hukum Langit dan merobek jaring takdirnya murni karena ketidakpuasanmu?!" Pria tua itu berhenti tertawa, matanya menyala dengan keganasan yang menyetujui. "Tuan lamaku membantai separuh Alam Atas karena ia muak dengan aturan surga. Dan sekarang, senjata ini jatuh ke tangan seorang bocah iblis yang mempermainkan waktu itu sendiri!"

Pria tua itu melangkah maju, kini berdiri berhadapan langsung dengan Jiang Xuan.

"Baiklah, Cendekiawan Tinta Hantu," ucap roh kuas itu, suaranya kini dipenuhi pengakuan. "Aku percaya padamu. Tidak ada yang bisa memalsukan Niat Membunuh sepekat itu tanpa mandi di lautan darah selama ratusan tahun. Kau pantas memegang gagangku."

Jiang Xuan mengangguk pelan. "Saya tidak akan membiarkan ujung kuas Anda mengering, Senior."

"Jangan senang dulu, Bocah," sela pria tua itu dengan seringai buas, aura gaibnya kembali menekan. "Mewarisi teknik adalah satu hal, tetapi menanggung beban eksistensiku adalah hal lain. Saat kau meminjam kekuatanku tadi untuk memenggal dua semut Pembentukan Fondasi dan satu lalat Inti Emas... jiwamu yang rusak terpaksa beresonansi denganku."

Pria tua itu menunjuk ke arah tubuh Jiang Xuan. "Kuas Tulang ini bukan senjata fana. Ia adalah medium kematian. Jika kau menggunakannya melebihi batas wadah fisikmu, ia tidak akan menyerap Qi musuh... ia akan memakan umur dan esensi jiwamu sendiri. Kau terkapar di luar sana saat ini bukan hanya karena luka fisik, melainkan karena akar jiwamu nyaris retak."

Jiang Xuan mempertahankan ekspresi datarnya. "Sebuah pisau tajam akan selalu melukai tangan yang tidak terbiasa menggenggamnya. Saya hanya perlu memperkuat wadah saya."

"Keras kepala dan rasional. Persis seperti monster," pria tua itu mendengus kagum. Tubuhnya perlahan mulai memudar menjadi kabut asap hitam. "Waktu diskusimu habis, Bocah. Kesadaran fisikmu di dunia luar sudah mulai terbangun. Pelayan kecilmu sedang memapahmu keluar dari neraka yang runtuh itu."

Saat tubuhnya nyaris sepenuhnya menguap, pria tua itu memberikan satu peringatan terakhir yang menggema di seluruh Lautan Kesadaran.

"Ingat ini, Pemutus Takdir... dunia di luar Reruntuhan Kuno telah mencium bau darah dari delapan ribu nyawa. Hukum Langit yang kau tipu tidak akan diam saja. Bersiaplah untuk perburuan yang sesungguhnya."

Dan dengan itu, kegelapan absolut menelan pandangan Jiang Xuan, menariknya kembali secara brutal ke dunia nyata yang dipenuhi rasa sakit.

1
Shadow
Yahhh keren juga gaya Jiang Xuan tapi jangan kejam x sam Lin ya
Shadow
MC nya sadis
Shadow
Kasat sekali kamu Jiang Xuan
Shadow
Ye Chan tingkat 8, kenapa yang di periksa murid luar yang baru tumbuh ? Harusnya murid dalam atau murid inti yang di periksa.. Para tetua sekte begitu sombong sama murid yang lemah, Padahal anggota sekte sendiri.
Shadow
Kecewa neh MC nya...
Thor, kurangi sifat jahat MC nya
Harusnya dia bersyukur, bisa memulai dari awal dan memperbaiki semuanya
Teteh Lia
Kalau kultivator gini tuh, ada film na nda ya?
@arv_65: cari di play store donghive
total 3 replies
Shadow
Terlalu banyak kalimat kiasan
Shadow
Sepertinya bagus neh ceritanya
Teteh Lia
Kebanyakan, novel genre seperti ini, pakai nama Xuan.
Sebenar na, Xuan itu arti na apa ya? 🙏
Teteh Lia: makasih penjelasan na, kak. maaf saya banyak tanya.
saya kurang paham cerita genre seperti ini.
total 5 replies
@arv_65
okee
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!