bukan novel terjemahan!!
buku ini merupakan novel dengan tema tahun 1960 dengan protagonis pria yang mungkin akan terlambat. bagi yang suka wanita kuat yang tidak pernah lemah, silahkan coba membaca.
Sinopsis:
bagaimana jika seorang ratu kiamat penguasa dunia bertransmigrasi ke tahun 1960? dengan gelar ratu iblis yang selalu melekat di dirinya karena latihan kejam milik nya. bagaimana kehidupan dia selanjutnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cloudia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
pilihan jinyu
Sebulan telah berlalu sejak ujian menembak yang menghebohkan itu. Kini pertengahan Juni 1963, musim panas mulai menyapa dengan terik matahari yang semakin hangat. Jinyu telah melalui berbagai ujian dengan nilai sempurna dari lari, lompat, memanipulasi senjata, semuanya. Namanya kini dikenal di seluruh markas sebagai "anak ajaib" atau "bintang kecil" dari keluarga Su.
Namun di balik semua pujian, ada pengamatan diam-diam dari atas.
Suatu sore, sepulang latihan, Jinyu dipanggil sendirian ke kantor Kakek Xu. Tidak ada Ayah Su, tidak ada Kakak Ketiga. Hanya dirinya dan dua orang dewasa yang menunggu di ruangan berpendingin udara itu.
"Su Jinyu," sapa Kakek Xu dengan nada resmi tapi hangat. "Duduklah."
Jinyu duduk di kursi kayu di depan meja besar. Di samping Kakek Xu, duduk seorang pria paruh baya berkacamata tebal—Paman Su Zhiming, peneliti senjata yang jarang terlihat. Jinyu mengernyit dalam hati. Ada apa ini?
"Kakek Xu, Paman Su," Jinyu memberi hormat sopan. "Ada yang bisa saya bantu?"
Kakek Xu dan Su Zhiming saling pandang. Lalu Kakek Xu membuka pembicaraan.
"Jinyu, selama sebulan ini kami mengamati bakatmu. Kemampuanmu luar biasa—bahkan melebihi anak-anak seusiamu, bahkan melebihi beberapa prajurit dewasa." Ia berhenti sejenak. "Kami punya tawaran untukmu."
Jinyu diam, menunggu.
"Ada program pelatihan khusus," lanjut Kakek Xu. "Bukan untuk anak-anak biasa. Hanya untuk yang terpilih. Di sana, kau akan dilatih oleh instruktur terbaik, belajar strategi militer tingkat lanjut, bela diri, intelijen, dan berbagai hal yang tidak diajarkan di program biasa. Tempatnya tertutup, rahasia, hanya diketahui kalangan tertentu."
Jinyu mengerjapkan mata. Program khusus? Tempat tertutup?
"Berapa lama?" tanyanya.
"Enam tahun. Dengan sistem asrama. Kau akan tinggal di sana, hanya bisa pulang saat libur tertentu."
Jinyu diam. Hatinya berdesir. Enam tahun jauh dari keluarga? Dari Ibu Liu yang selalu memasakkan makanan hangat? Dari Ayah Su yang membacakan cerita? Dari Kakak Ketiga yang cerewet tapi sayang?
"Tapi..."
"Kami tidak memaksamu," potong Su Zhiming lembut. "Ini pilihanmu sepenuhnya. Hanya saja, sebagai pamanku dan sebagai peneliti yang melihat potensi luar biasa, aku merasa sayang jika bakatmu tidak diasah maksimal."
Kakek Xu menambahkan, "Negara butuh orang sepertimu, Jinyu. Bukan untuk jadi tentara anak, tapi untuk masa depan. Kau bisa jadi aset berharga. Tapi sekali lagi, ini pilihanmu."
Jinyu terdiam lama. Pikirannya berkecamuk.
Di satu sisi, ia ingin tetap dekat keluarga. Di sisi lain, ia sadar bahwa di era 60-an ini, ia bukan siapa-siapa. Dulu ia ratu iblis, penguasa akhir zaman. Sekarang ia hanya anak kecil adopsi yang kebetulan pintar. Tanpa kekuatan, tanpa status, tanpa pengaruh. Keluarga Su telah memberinya segalanya dari kasih sayang, perlindungan, rumah. Bagaimana ia bisa membalas semua itu?
Dengan menjadi kuat. Dengan memiliki status. Dengan menjadi seseorang yang bisa melindungi mereka, bukan hanya dilindungi.
"Jinyu," panggil Kakek Xu lembut. "Kau tidak perlu memutuskan sekarang. Pikirkan—"
"Aku terima."
Keduanya terkejut. Su Zhiming melepas kacamatanya, mengusapnya, lalu memasang lagi. "Kau... serius?"
Jinyu mengangguk mantap. "Saya serius, Kakek Xu, Paman Su. Saya ingin jadi kuat. Saya ingin berguna. Saya ingin... suatu hari bisa melindungi orang-orang yang saya sayangi."
Kakek Xu tersenyum bangga. "Kau anak yang luar biasa, Jinyu. Sungguh."
Su Zhiming mengangguk. "Aku akan urus administrasinya. Program dimulai bulan depan, awal Juli. Manfaatkan waktu ini untuk bersiap dan berpamitan dengan keluarga."
Jinyu mengangguk. Dalam hati, ia sudah memikirkan cara memberitahu Ibu Liu dan Ayah Su.
Malam harinya, setelah makan malam, Jinyu meminta semua anggota keluarga berkumpul di ruang tamu. Suasana hangat seperti biasa, tapi ada ketegangan di wajah mungil Jinyu.
"Ibu, Ayah, Kakak Pertama, Kakak Kedua, Kakak Ketiga," ia memanggil satu per satu. "Aku ada yang ingin disampaikan."
Ibu Liu mengernyit. "Ada apa, Yuyu? Kok serius sekali?"
Jinyu menarik napas dalam. Lalu ia menceritakan semuanya—panggilan dari Kakek Xu, tawaran program khusus, dan keputusannya untuk menerima.
Hening.
Kakak Ketiga yang pertama bersuara. "Jadi Yuyu mau pergi? Enam tahun?" Suaranya bergetar. "Aku nggak mau! Yuyu jangan pergi!"
Ibu Liu memeluk Jinyu erat. "Nak, Ibu tidak setuju. Kau masih kecil, baru 4 tahun. Masak harus tinggal di asrama jauh dari keluarga?"
"Aku mengerti kekhawatiran Ibu," Jinyu berkata lembut. "Tapi aku ingin jadi kuat. Aku ingin suatu hari bisa melindungi Ibu, melindungi Ayah, melindungi kakak-kakak semua."
Ibu Liu menangis. "Ibu nggak perlu dilindungi, yang penting kau bahagia dan dekat dengan Ibu."
"Aku akan bahagia kalau Ibu bangga padaku," Jinyu membalas. "Aku ingin jadi kebanggaan keluarga Su. Ibu sudah menerimaku, menyayangiku, merawatku. Aku ingin membalas semua kebaikan Ibu."
Kakak Pertama yang sejak tadi diam, akhirnya buka suara. "Jinyu, kau serius dengan keputusan ini?"
"Sangat serius, Kakak Pertama."
Kakak Pertama mengangguk. "Kalau begitu, aku dukung. Tapi janji, kau akan pulang setiap ada kesempatan, dan kau akan jaga diri baik-baik."
"Janji."
Kakak Kedua menghela napas. "Aku juga dukung. Tapi kalau ada yang nakal di sana, kabari aku. Aku akan datang."
Jinyu tersenyum. "Terima kasih, Kakak Kedua."
Ayah Su yang sejak tadi diam, akhirnya angkat bicara. Suaranya berat, penuh pertimbangan. "Yuyu, Ayah dengar program itu berat. Enam tahun bukan waktu sebentar. Ayah khawatir masa kecilmu akan hilang. Apa kau sudah pikirkan matang-matang?"
Jinyu menatap Ayah Su. Pria ini selalu bijaksana, selalu memikirkan yang terbaik untuknya.
"Ayah, aku sudah pikirkan," jawabnya pelan. "Aku tahu ini berat. Tapi aku juga tahu, di dunia ini, tanpa kekuatan dan status, kita bukan siapa-siapa. Keluarga Su telah memberiku segalanya. Aku ingin suatu hari bisa membanggakan kalian, bisa melindungi kalian. Aku tidak mau jadi beban."
Ayah Su menarik napas panjang. Ia menatap putri kecilnya bukan, bukan kecil lagi. Matanya menunjukkan kedewasaan yang jauh melampaui usianya.
"Kau yakin?"
"Yakin, Ayah."
Ayah Su mengangguk pelan. "Baik. Ayah tidak akan menghalangi. Tapi ingat, apa pun yang terjadi, rumah ini selalu menunggumu. Kau tetap anakku, selamanya."
Jinyu merasakan hangat di dadanya. Ia memeluk Ayah Su. "Terima kasih, Ayah."
Ibu Liu yang masih menangis akhirnya mengalah. Ia memeluk Jinyu erat. "Nak, Ibu izinkan. Tapi kau harus janji: makan teratur, jaga kesehatan, dan kalau kangen, tulis surat. Ibu akan selalu baca."
"Janji, Bu."
su weimin masih cemberut. "Yuyu... nanti kalau aku rindu, gimana?"
Jinyu tersenyum. "Kakak Ketiga bisa tulis surat. Atau nanti kalau libur, aku pulang."
"Janji?"
"Janji."
Malam itu, keluarga Su larut dalam kehangatan meski hati sedikit perih. Ibu Liu memasak hidangan spesial, Ayah Su membacakan cerita lebih panjang dari biasanya, Kakak Ketiga tidak mau lepas dari sisi Jinyu.
Di kamar, malam semakin larut. Jinyu berbaring, menatap langit-langit. Yoyo melingkar di perutnya.
Shshsss~ "Jinyu, kau yakin dengan keputusan ini?"
"Yakin"
["Program enam tahun. Berat."]
"Aku tahu. Tapi ini jalan terbaik. Di sini, aku bukan siapa-siapa. Di sana, aku bisa jadi sesuatu."
Shshsss~ "Kau mau balas budi pada keluarga Su?"
"Iya. Mereka memberiku rumah, kasih sayang, tanpa syarat. Aku tidak bisa membayarnya dengan apa pun. Tapi setidaknya, aku bisa jadi seseorang yang mereka banggakan."
["Mengharukan,"] sistem berkata dengan nada datar. ["Tapi kau ingat, di program itu pasti banyak aturan ketat. Jangan sampai ketahuan identitas aslimu."]
"Aku tahu, sistem. Aku akan hati-hati."
Shshsss~ "Dan kami akan tetap bersamamu. Di dimensi, di telepati, di mana pun."
Jinyu tersenyum. "Terima kasih, Yoyo. Terima kasih, sistem."
["Sama-sama, bos."]
Jinyu memejamkan mata. Di luar, angin malam berdesir lembut. Ia membayangkan enam tahun ke depan—latihan keras, teman baru, tantangan. Juga kerinduan pada keluarga.
Tapi ia tahu, ini pilihan yang benar.
Untuk keluarganya.
Untuk dirinya sendiri.
Untuk masa depan.