Dunia ini kejam, tak ada kebahagiaan yang kekal, ujian selalu datang, maka jangan jadi orang yang lemah.
Di tengah hutan terpencil terdapat tempat pelatihan pembunuh bayaran, suatu organisasi dunia gelap yang dibentuk oleh bos mafia besar asia yaitu Bos Jamal.
disanalah tempat tinggal seorang pemuda bernama Bayu yang telah ditinggalkan orang tuanya sejak masih berumur sepuluh tahun. kini 12 belas tahun telah berlalu namun bayangan tragedi kematian kedua orang tuanya masih terngiang dikepalanya.
Ditempat pelatihan pembunuh bayaran ini lah ia dilatih oleh sang paman menjadi mesin pembunuh yang jenius untuk membalaskan dendam kematian kedua orang tuanya.
kehidupannya mulai berubah saat ia mengenal seorang gadis yang bernama Anita, sosok dosen cantik yang dapat menyentuh hatinya.
ideologinya sedikit demi sedikit mulai berbeda, tentang asmara, balas dendam, maupun apa yang telah diwariskan, semua memiliki batu sandungan yang harus diterjang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon pena pedang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bersiap.
Malam itu setelah pertemuan singkat, Bayu mendekat pada pak Roni, "sebenarnya aku ingin membahas hal penting mengenai soal pemilu sama bapak", kata itu itu berbisik.
Pak Roni mengangguk, "kita atur besok", ia memberi secarik kertas nomor telepon,
Gerakan itu tanpa disadari keluarganya.
Setelahnya Bayu pamit pergi meninggalkan Rumah indah sekeluarga.
Jalanan sudah sepi, gojek maupun taxi gak ada yang beroperasi.
Terpaksa Bayu jalan kaki.
........
Di tempat lain.
Anita sudah pulang, begitu juga Ratih, sedang April masih terlihat duduk di kursi mobil pengemudi.
ia mengambil ponsel, "hai... Bayu, ada yang perlu aku omongin", kata April langsung.
"Ah... Kebetulan, bantu aku dong.. aku lagi jalan kaki nih..., gak ada taxi yang lewat, aku Shar lokasinya." Jawab Bayu kegirangan.
Panggilan itu buru-buru Bayu putus, tanpa bisa April tolak.
"Ah... Orang ini, seenaknya aja, ya udah lah satu kali ini aja," gumam April langsung tancap mobil setelah tahu lokasi Bayu.
Singkat waktu.
Bayu duduk di pinggir trotoar.
Mobil April berhenti tepat di depannya.
April membuka cendela kaca mobil. "Masuklah."
Bayu buru-buru masuk mobil.
"Makasih ya... Ternyata kamu beneran datang juga." Kata Bayu sambil menggigil kedinginan.
"Ini mau kemana?" Tanya April.
"Rumahku, nurut GPS ini aja." Bayu meletakkan ponselnya di depan April.
Bayu pun memejamkan mata, dan tak terasa tertidur.
April melirik kearah Bayu, "Anak ini selain tampan kalau sedang tidur wajahnya terlihat polos dan imut."
Disudut bibir April terangkat sedikit, kemudian tersenyum lebar. "Pulasnya... Mungkin hari-hari ini dia sangat capek".
April pun kembali fokus menatap kedepan, walau sesekali dia tetap melirik kearah Bayu yang sedang tidur sangat lelap.
Singkat waktu.
Mobil telah sampai dirumah Bayu, yang kebetulan rumah besar itu memiliki pagar otomatis didepan.
Sensor mengenai tubuh Bayu, yang membuat pintu pagar itu terbuka sendiri.
April menoleh ke kanan dan ke kiri saat pintu pagar tiba-tiba terbuka.
"Eh... Mana orangnya?", gumam April pelan, namun tanpa ragu ia tancap gas masuk menuju halaman Rumah.
April gak langsung turun, dia diam untuk sesaat. Menyandarkan kursi mobilnya lalu menutup mata, sebab dia juga sangat ngantuk.
Malam ini keduanya tertidur di mobil.
.....
Pagi datang, burung-burung kecil berkicau merdu, seperti nyanyian pengisi di pagi hari.
Mata April terbuka.
Hal pertama yang ia lihat adalah lampu besar menggantung berbentuk gugusan anggur.
April menoleh, ia melihat cendela kaca yang sangat lebar, itu bukan cendela, tapi hampir seperti dinding karena ketebalan dan kelebaran kacanya.
Di balik kaca yang tembus pandang itu April melihat ranting pohon besar, dan di ranting itu dihinggapi berbagai burung kecil berwarna warni, meloncat dari satu ranting ke ranting yang lain, saling menyambar, bergurau riang.
Dalam hidupnya April tak pernah melihat hal ini, ia pun tersenyum tanpa sadar.
Semenit, lima menit.
Ia menepuk pipinya, baru sadar dan mengingat, semalam ia tertidur di mobil, namun tiba-tiba berada di kamar yang besar ini.
Kamar itu bersih dan rapi, disisi samping ada dinding kaca seolah memang dibuat untuk mempertontonkan pemandangan, ini kamar lantai dua.
April buru-buru memeriksa tubuhnya, apakah terjadi hal yang tidak ia inginkan semalam, namun sepertinya tak terjadi apa-apa.
Ia perlahan membuka pintu kamar, lalu menuruni tangga, selangkah demi selangkah dengan sedikit ragu.
Sedangkan pandangan matanya celingak-celinguk memeriksa keadaan disekitar.
"Udah bangun", suara itu terdengar dari arah belakang.
April hampir melompat.
"Eh... Kamu mau terbang ya...". Goda Bayu yang melihat April merentangkan kedua tangannya saat hampir melompat.
"Sial, kamu mengagetkanku", balas April saat menoleh dan melihat Bayu.
"Udahlah... Ayo sarapan dulu", ajak Bayu duduk di meja makan.
Di atas meja makan terlihat berbagai menu makanan.
"Kamu yang memasak?". Tanya April heran.
Bayu mengangguk.
"Enak gak?", balas April.
"Kalau gak cocok sama lidahmu, kamu bisa masak sendiri, bahan-bahannya lengkap ada di dapur". Ungkap Bayu.
"Hehehe... Makan ini aja, aku gak bisa masak". Jelas April tersenyum canggung.
Bayu pun tersenyum.
Mereka pun makan, "enak... Kamu jago juga ya" kata April.
Bayu tak menjawab hanya fokus makan.
"Oh... Iya.. apa semalam kamu yang memindahkan aku ke kamar?" April menatap penasaran.
"Semalam kamu tidur sambil berjalan, aku tinggal mengarahkannya aja" jelas Bayu.
"Ah... Yang bener... Emang aku melakukan hal kayak gitu ya", jawab April spontan, pipinya terlihat memerah.
"Emang ada ya... Kejadian sekonyol itu, aneh" kata Bayu datar menatap April yang terlihat masih malu.
"Jadi... Kamu membohongiku", lanjut April merasa sebal.
"Udahlah... Aku lihat tadi malam kamu kecapean, biar gak masuk angin, aku bawah kamu ke kamar, hitung-hitung balasan kamu mau mengantarku pulang tadi malam", jelas Bayu sambil makan.
April terdiam, lalu berkata, "makasih".
"Ya.." kata Bayu singkat.
.....
Disisi lain.
Bos Jamal melihat aktivitas dirumah Bayu pada cctv rumah Bayu.
"Apakah bocah ini pindah ke lain wanita?" Pak Bagas bertanya ragu-ragu.
"Aku tahu watak bocah ini, tak mungkin pindah ke lain wanita semudah itu, mungkin ada alasan yang membuat dia mendekati wanita itu". Jawab bos Jamal sambil menghembuskan asap cerutu.
"Dia salah satu model utama yang di sewa pak Herman yang mencalonkan wali kota." Jelas pak Bagas.
Bos Jamal terdiam untuk sesaat, matanya tajam menatap layar, tangannya mengetuk diatas meja.
Seperti sedang menghitung, atau sedang merangkai rencana.
Ketukan jari terdengar seperti alunan, tok.
.. tok...tok.., pelan namun terdengar berbobot.
"Kita rubah rencana".
Pak Bagas terkejut, ia sadar mungkin ini hal yang tidak baik.
"Ambil senapanmu, aku ingin melihat aksimu", kata bos Jamal.
"Siapa targetnya?",
Bos Jamal mengangkat sudut bibirnya,
"Herman".
"Tapi kita belum tahu nama-nama target selanjutnya", pak Bagas bertanya ragu.
"Ikuti saja Bayu, dan jangan sampai dia sadar".
Pak Bagas mengangguk kemudian pergi.
.......
Setelah makan, Bayu duduk di kursi sofa.
April juga duduk disana, tempat mereka saling berhadapan.
"Anita ingin bertemu sama kamu".
"Bilang saja aku masih sibuk", kata Bayu cepat.
"Kamu bisa duduk santai seperti ini, bisa-bisanya beralasan sibuk", April tiba-tiba meninggikan suaranya.
"Udah lah... Bilang saja sibuk", Bayu berkata dengan nada malas.
"Emangnya kamu ada masalah apa sih sama Anita." April menatap penasaran.
"Untuk sementara ini aku ingin fokus untuk pemilu", jelas Bayu beralasan.
"Pemilu, sampai seserius itu ya..?".
"Iya.. dong, oh iya... Kapan pak Herman mengadakan pertemuan lagi?" Tanya Bayu.
"Kayaknya sih.. besok, kalau soal tempatnya biasanya sih menyusul, maklum ini kan pertemuan rahasia yang disembunyikan dari para wartawan".
Bayu menghela napas pelan, "ok, aku ngerti kok..." Kemudian bersandar ke kursi.
Rencana mulai tersusun rapi, Bayu mengingat video cctv kejadian penangkapan indah, disana ada bukti yang mengarah pada pak Herman.
"Bukti kejahatan, sedikit demi sedikit mulai terkumpul, sekarang tinggal menangkap" pikir Bayu dalam diam.
Bersambung.