Alvian Wira. Di panggung internasional, dunia mengenalnya sebagai Hades, Dokter Dewa, karena kemampuan medisnya luar biasa. Tapi setelah kembali ke Indonesia, dia hanya seorang dokter umum biasa yang mendirikan sebuah klinik kecil di pinggir kota.
Konflik kepemilikan tanah membawanya ke sebuah pernikahan dengan anak direktur rumah sakit terkenal, Clarissa Amartya. Dokter SpJP yang hanya ingin fokus dengan karirnya, tapi dipaksa menikah dengan ancaman mencabut izin prakteknya.
Clarissa yang dingin seperti kulkas, Alvian yang pecicilan dan suka menggoda. Dua kepribadian tinggal bersama, perlahan menumbuhkan perasaan.
Namun, ketika perasaan itu mulai tumbuh, masalah datang silih berganti, hingga mengungkap kebenaran tentang masa lalu Alvian. Tentang siapa dia sebenarnya, dan alasan kenapa dia menyembunyikan semuanya.
Apakah Clarissa bersedia menerima Alvian? Terlebih setelah mengetahui jika Alvian yang ia kenal selama ini, hanyalah topeng untuk menutupi identitas dan masa lalunya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sayap perak, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33 : Kekacauan
Pukul 07.30 WIB.
Harusnya di waktu sepagi ini Alvian masih menyiapkan sarapan di rumah, tapi Mbak Sari sudah telepon memberitahu jika ada banyak orang yang berkumpul di depan klinik.
Klinik yang biasanya sepi jam segini, sekarang penuh hampir tidak ada tempat. Bahkan parkiran motor sudah meluber sampai ke warung depan.
Hal ini terjadi menyusul kabar penggrebekkan gudang obat palsu yang terjadi pagi dini hari. Banyak yang panik ingin menukarkan obat karena khawatir obat yang mereka beli di apotek itu termasuk obat palsu.
"Bagaimana, Dok?" tanya seorang nenek perihal keadaan cucunya. Dia mendekap anak laki-laki lima tahun itu, sambil terus mengelus puncak kepalanya.
"Aman, Nek. Tidak ada masalah. Obatnya juga asli," kata Alvian.
Mendengar hal itu Sang Nenek menghela nafas lega. Dia pun mengajak cucunya pulang, dan pemeriksaan lanjut ke pasien berikutnya.
"..."
Pukul 10.15 WIB.
Alvian masih melayani pasien, seorang bapak-bapak tukang becak. Dia mengeluarkan secarik kertas, ingin membuat resep, tetapi pintu klinik tiba-tiba didobrak dengan keras.
Brak!!
Ibu-ibu yang tepat di belakang pintu hampir jatuh terjerembab. Namun seolah tak peduli, tiga orang masuk, satu ibu-ibu gendong anak umur 4 tahun yang kejang-kejang dan dua pria bertubuh besar di belakangnya. Mereka masuk dan melakukan siaran langsung.
"DOKTER BIADAB! INI ANAK SAYA MINUM OBAT DARI SINI SEMALAM! SEKARANG KEJANG-KEJANG! TANGGUNG JAWAB!"
Klinik yang tadinya ramai langsung hening. Semua mata langsung tertuju ke Alvian. Ada yang hanya melihat, ada juga yang mulai mengeluarkan HP, ikut merekam.
Pria satu. Dia yang pegang live, berseru ke kamera. "Viralkan! Dokter kasih obat palsu! Anak kecil jadi korban! #TutupKlinikAditya #DokterPembunuh."
Mbak Sari di samping langsung pucat. "Bo... bohong! Klinik kita tidak pernah jual obat itu! Kalian fitnah!"
Alvian tidak panik. Dia meletakkan stetoskop di meja, lalu matanya menyapu ketiga orang itu, dan beralih ke anak kecil yang "kejang".
Satu detik. Alvian bahkan tidak diberi lebih banyak waktu karena si ibu langsung menjauhkan anaknya.
"Kamu mau apa? Tidak lihat anak saya sudah seperti ini?" Dia mulai mengiba.
Namun Alvian sudah melakukan pemeriksaan meski hanya satu detik. Dan dari pengamatannya, anak itu tidak memiliki tanda-tanda keracunan obat. Pupil matanya normal, tidak dilatasi. Napasnya teratur, tidak ada sianosis di bibir. Kejangnya juga terlalu ritmis, seperti menggigil kedinginan.
Alvian semakin yakin setelah melihat tidak ada keringat pada anak itu.
Kesimpulannya, ketiga orang ini adalah kelompok penipu.
Tapi massa sudah keburu terpancing. Ibu-ibu yang hampir tengkurap di lantai tadi berdiri. "Beneran, Dok? Masa obat dari dokter bikin kejang?"
Alvian buka mulut. Tapi sebelum suara keluar, pintu klinik terbuka lagi.
Sosok cantik mengenakan sneli putih RS Sentral lengkap dengan ID Card. Mukanya datar, tapi mata yang tajam berusaha menganalisis situasi tersebut.
"Istri ...."
Clarissa mengabaikan sapaan Alvian dan berjalan lurus ke ibu-ibu itu. "Saya dr. Clarissa Amartya. Sp.PD. RS Sentral." Suaranya dingin, memotong keributan. "Biar saya periksa anak Ibu."
Ibu-ibu langsung gagap dan panik. "Ng... nggak perlu! Dokter ini yang salah!"
Dua pria kekar menyahut. "Iya! Nggak usah ikut campur!"
Clarissa menatap kedua pria itu. Tanpa bicara, sudah mengenakan sarung tangan lateks dan langsung pegang dagu anak itu. Jempolnya menekan titik di bawah telinga kanan. Titik vagus nerve.
Bertahap, kejang anak itu berhenti dan matanya perlahan terbuka. Tapi dia bingung apa yang sebenarnya terjadi dan kenapa ada di tempat tersebut.
"..."
Clarissa melepas sarung tangan lateks nya dan berdiri tepat di depan kamera live. "Dengar, kejang tonik klonik umum tidak berhenti dengan tekanan tragus. Yang berhenti itu akting." Dia menoleh ke ibu-ibu. "Anak Ibu sehat. Detak jantung 90, normal. Kalau Ibu maksa dia kejang lagi, saya laporin ke KPAI."
Hening.
Pria yang sedang live langsung berkeringat dingin. "Ci... cih, ini settingan! Kalian suami-istri kongkalikong!"
Clarissa menaikkan alis, lalu ambil HP dari tangan pria itu. "Oh ya? Apakah ini live TikTok? Bagus." Dia bicara ke kamera, datar. "Saya dr. Clarissa Amartya, STR 321... Saya menyatakan, pasien anak ini memalsukan kejang. Saya punya rekaman. Kalau video ini tidak di-takedown dalam 5 menit, saya akan lapor polisi pasal pencemaran nama baik dan UU ITE. Saya bisa menghubungi pengacara saat ini juga."
Dia mengembalikan HP. Pria itu langsung beringsut kusut, dan tangannya gemetar saat mematikan siaran langsung.
"..."
Bukan hanya pria itu, pengunjung lain yang tadinya merekam, pelan-pelan menurunkan HP dan bisik-bisik. "Lah, itu anaknya Prof. Hendra ya, Direktur RS Sentral? ... Ternyata dia istrinya Dokter Alvian ...."
"Dari kemarin ke mana aja Bu. Dokter Alvian memang suami Dok Clara." Kang Ujang yang baru datang bersandar di pintu, menambahkan, "Secara tidak langsung Dokter Alvian adalah menantu Direktur RS Sentral. Jadi tidak ada alasan baginya untuk berbuat seperti itu."
Ibu-ibu dan 2 pria kekar perlahan menggeser kakinya mundur. Tangan mereka terangkat, menunjuk Alvian "Awas aja kau, Dok!" Mereka kabur, meninggalkan anak kecil itu yang bengong.
Mbak Sari langsung peluk anak itu. "Aduh, Nduk, kasihan sekali nasibmu. Sini, sama Mbak."
"..."
Pukul 10.25 WIB.
Klinik kembali normal, tapi atmosfernya berbeda. Ada 3 wartawan online yang tadi ikut masuk, sekarang sibuk update berita. "Dugaan Malpraktek di Klinik Tebet Ternyata Hoax, dr. Clarissa Amartya Turun Tangan Membela Suaminya".
Alvian beres-beres tensimeter. Clarissa lepas sarung tangan, buang ke medical waste.
"Kamu datang di waktu yang tepat.
Clarissa memutar mata. " Hanya kebetulan lewat. Sekalian mau ke RS." Bohong. Jam segini dia harusnya sudah di rumah sakit dan visite pasien. Tapi karena Alvian sudah tidak ada saat dirinya bangun membuat Clarissa menyusulnya ke klinik.
"..."