Sahara adalah anak kandung yang terusir bersama dengan ibunya karena Fit-nahan yang di buat oleh wanita lain di hati ayahnya.
Mampukah Sahara memperjuangkan dan membersihkan nama ibunya dari fit-nah keji wanita yang tak lain adalah sahabat ibunya itu?
Akankah ayahnya percaya? baca terus kisah Perjuangan Sahara.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sahara 24
"Siapa Bang Kenzo? Jadi bener pipinya lebam karena luka. Dan semalam mereka berduaan? Uang? Apa wanita itu juga menjual dirinya untuk mendapatkan uang? Ck. Murah*n juga ternyata wanita itu. Bermalam dengan pria dan meminta uang. Itu apa namanya? Gak ada yang gratisan."batin Brian masih berdiri disana.
"Pak Brian sedang apa? Dari tadi bengong disini? Apa sedang cosplay jadi patung Pak?"tanya Sahara membuat Brian sadar dari lamunannya.
"Suka-suka saya mau bengong mau tidur mau ngapain juga. Kantor juga kantor saya. Sudah sana kerja yang bener. Dan tunggu hukumanmu." Kesal Brian karena ketauan bengong dan kembali masuk kedalam ruangannya. Bahkan dia tidak jadi masuk kedalam ruangan Raka.
"Pria aneh."ucap Sahara menaikkan kedua bahunya dan kembali melanjutkan pekerjaannya.
Di dalam ruangannya, Brian terlihat tidak fokus dan malah memikirkan pembicaraan Sahara dengan pria yang ada di sebrang sana. Pria bernama Kenzo. Dia seperti familiar dengan nama Kenzo. Apakah dia Kenzo yang sama ataukah Kenzo yang berbeda. Entahlah, dia tak tau. tapi yang pasti dia penasaran karena Sahara mengatakan terima kasih uangnya. Lalu lebam di pipinya itu bekas apa? Apa mungkin Kenzo itu pria beristri? Itulah pertanyaan yang ada di benak Brian. Dia sampai-sampai tak melakukan pekerjaannya dan malah memikirkan hal itu.
"Pak, permisi. Ini ada berkas dari bagian keuangan katanya. Maaf saya yang antarkan karena Pak Raka sedang keluar ruangannya entah kemana. Mungkin sedang patroli,"suara Sahara mengagetkan Brian yang sedang melamun apalagi Sahara menyimpan berkasnya cukup keras di meja miliknya.
"Apa kamu tidak punya sopan santun? Kalau masuk ruangan orang lain itu, ketuk pintu dulu biasakan!"kesal Brian membuat Sahara memutar bola matanya malas.
"Saya sudah berkali-kali mengetuk pintu bahkan dengan sangat kencang. Tapi Pak Brian terlalu fokus melamun. Sehingga gedoran keras tadi aja nggak kedengaran,"jawab Sahara.
"Ngasal! Siapa yang melamun? Aku sedang sibuk bekerja. Ya sudah simpan saja dan kamu boleh keluar! Lain kali jangan masuk kalau aku belum memintaku masuk!"kesal Brian.
"Baik pak, permisi.silahkan di lanjutkan pekerjaan melamunnya. Kalau yang punya perusahaan mah bebas pak, mau ngapain juga,"ujar Sahara kemudian pergi dari sana membuat Brian mendelikkan matanya tajam ke arah Sahara yang malah cengengesan.
*****
"Mas, apa kamu belum mau memberikan kepercayaan kepada Akmal untuk membantu kamu mengelola perusahaan? Karena aku rasa, Akmal sudah cukup bagus dan bisa kamu andalkan untuk memegang posisi penting di perusahaan,"tanya Wanda saat mereka sedang makan malam bersama.
Wanda mencoba untuk meminta suaminya secara perlahan karena selama ini anak laki-lakinya, Akmal masih bekerja sebagai Manager di perusahaan milik Sandy. Lebih tepatnya perusahaan milik bersama antara Sandy dan Rianty. Karena mereka membangun perusahaan itu bersama. PT. Sbastian, adalah nama perusahaan milik mereka. Di kelola bersama sehingga menjadi perusahaan besar.
Hingga akhirnya saat Sandy meminta Rianty untuk tinggal di rumah saja dengan alasan karena dia ingin mempunyai anak lagi. Dan berharap anak itu adalah laki-laki. Tapi nyatanya itu adalah salah satu alasan Sandy untuk melancarkan hubungannya bersama dengan Wanda, yang barus saja bekerja sebagai sekretarisnya. Walau pendidikan Wanda hanya tamatan sekolah menengah atas. Tapi dengan pengaruh Sandy dia bisa menempati posisi dengan jabatan tinggi itu. Hingga akhirnya bisa menjerat Sandy dan menikahinya secara siri menjadi istri kedua.
"Belum saatnya. Karena Akmal masih harus banyak belajar lagi. Menjadi manager juga masih banyak kesalahan dan kekurangannya apalagi dia juga kurang teliti dalam mengerjakan laporan. Jika ingin mengelola perusahaan harus belajar dari hal yang lebih kecil dulu. Baru setelah semua itu, dia bisa menjadi salah satu pemimpin yang bisa di andalkan oleh perushaan. Banyak orang yang bergantung hidup di perusahaan,"jawab Sandy membuat Wanda dan Akmal mendengus kesal.
"Baik Pa, aku akan berusaha lebih giat lagi untuk memperbaiki diri. Mohon maaf kalau selama ini aku masih banyak melakukan kesalahan."jawab Akmal.
Padahal di bawah sana tangannya sudah terkepal dengan kuat menahan amarah kepada ayah tirinya itu. Karena Sandy terlalu sulit jika masalah perusahaan. Dia sangat teliti dan juga begitu perhitungan akan hal itu. Sehingga membuat Akmal kesulitan untuk bisa mendapatkan jabatan yang lebih tinggi dari sekarang.
"Bagus. Nanti setelah kau bisa memperbaiki diri perlahan jabatanmu akan naik."jawab Sandy membuat keduanya tertawa hambar. Sedangkan Citra dia tak peduli dengan obrolan mereka. Karena menurut Citra tidak ada yang penting.
"Wanda, masuk keruangan kerjaku."ucap Sandy setelah mereka selesai makan malam. Ruangan yang sudah beberapa tahun terakhir ini menjadi tempat Sandy untuk tidur dan beristirahat. Dia jarang masuk ke ruangan Wanda kalau bukan hanya menginginkan sesuatu saja. Setelah dan selebihnya dia lebih banyak menghabiskan waktu di ruang kerja.
"Baik sayang."jawab Wanda.
"Ini berikan kepada Sahara dan ibunya."Sandy memberikan amplop berwarna coklat berisikan uang jatah bulanan anak kandung dan mantan istrinya. Biasanya Sandy akan memberikan dua puluh sampai tiga puluh juta. Sandy memberikan jatah untuk Rianty dua tahun terakhir ini. sebagai rasa bersalah karena memang perushaan adalah milik dia juga. Apalagi di rintis bersama. Dai sudah mulai sadar jika selama ini dia sangat dzalim kepada istrinya itu. terlepas dari kesalahannya yang sudah berkhianat padanya. Itu yang ada di dalam pemikiran Sandy. Melihat amplop tersebut mata Wanda berbinar.
"Baik sayang. Besok akan aku berikan kepada mereka di rumah kontrakannya."jawab Wanda, Sandy mengangguk dan melanjutkan pekerjaannya yang masih tersisa.
Wanda keluar dan memanggil kedua anaknya kedalam kamar milik Citra. Sambil memperlihatkan amplop berwarna coklat kepada mereka.
"Nih buat kalian masing-masing lima juta seperti biasa. Dan ini buat Mama. Enak saja mereka mendapatkan uang sebanyak ini."ucap Wanda yang memang setiap bulan jatah untuk Sahara dan ibunya malah dia ambil untuk mereka.
"Ma, si Sahara itu juga jarang ke kampus jadi aku sulit sekali membuat dia jera dan mempermalukan dia setiap hari. Aku gak punya mainan lagi. Apalagi di kampus baru, malah banyak yang suka sekali dengan wanita itu!"rengek Citra.
"Biar saja. Kalau bisa semoga mereka menghilang selamanya."jawab Wanda sambil tertawa terbahak.
"Ma, Ayah menghubungiku kemarin. Dia meminta Mama menemuinya besok di rumah."ucap Akmal.
"Baiklah besok Mama akan temui Ayah kalian. Mama juga sudah rindu dengan Ayah kalian, Karena memang hampir dua minggu ini mama terasa terkurung di dalam rumah karena ulah si Sahara membuat Sandy tidak mengizinkan Mama untuk shopping dan berkumpul dengan teman-teman Mama."kesal Wanda. Karena setelah kedatangan Sahara, Sandy semakin mengawasi setiap gerak geriknya.
salam sehat selalu outhor syantik ku 🫶🫶🫶🫶