NovelToon NovelToon
Senyum Berbalut Luka

Senyum Berbalut Luka

Status: sedang berlangsung
Genre:Trauma masa lalu / Romantis / Persahabatan
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: RahmaYesi.614

Nadia anak tanpa identitas yang mencoba tetap tersenyum menghadapi kejamnya dunia.

Nadia hanya ingin hidup nyaman, mengubur semua duka masa lalu untuk melanjutkan masa depan yang lebih baik. Namun, suatu hari Nadia menabrak mobil milik orang kaya, sehingga Nadia harus membayar ganti rugi sebanyak ratusan juta.

Mampukah Nadia membayar uang ganti rugi atau Nadia memilih mengakhiri perjalanan hidupnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RahmaYesi.614, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Gadis kecil itu...

Jeni kembali ke kamar Nadia. Duduk diam sambil menyuapi Nadia buah jeruk yang tadi sempat di belinya sebelum sampai di rumah sakit.

"Beb, gue buat salah ya sama lo?" tanya Nadia ragu.

Jeni menegakkan kepala, menatap wajah Nadia. "Gue yang salah paham sama lo, beb. Gue minta maaf."

"Kenapa lo yang malah minta maaf?"

"Gue... gue sempat curiga lo sama Kevin diam-diam punya hubungan di belakang gue."

"Apa?!" jerit Nadia lantang.

"Sorry. Gue gak bisa mengendalikan emosi gue saat gue menangkap basah Kevin natap lo dengan tatapan yang cukup membuat gue curiga."

Tenggorokan Nadia terasa kering setelah mendengar itu. Ingatannya membawanya pada hari saat dia menyadari Kevin menatapnya cukup lama. "Terus?" tanya Nadia penasaran.

"Ya, dia ternyata suka curi pandang ke elo karena merasa lo mirip sama seseorang yang dia kenal."

Nadia mengangguk paham. "Lo percayakan sama gue, beb. Gue gak pernah punya pikiran seperti itu, sedikit pun."

"Sorry ya beb. Gue percaya kok sama lo. Dan kalau aja gue gak menghindari lo, harusnya kecelakaan ini gak akan terjadi. Gue nyesel banget beb."

Nadia meraih kedua tangan Jeni. "Beb, ini bukan salah lo. Malah gak ada hubungannya sama sekali sama lo. Gue aja yang lagi apes."

"Terus, sekarang gimana?"

Nadia menghela napas panjang. "Mungkin gue akan coba ngobrol lagi sama orang itu, siapa tau dia mau ngasih gue keringanan buat nyicil. Sebenarnya pun, gue juga bersyukur karena dia gak bawa masalah ini ke polisi. Gue gak bisa bayangin gimana jadinya kalau gue malah jadi tersangka dan harus kena sangsi kurungan belum lagi semua korban bakal nuntut gue." tuturnya lega.

"Iya juga sih. Tapi, mungkin gue bisa bantu lo beb. Nanti gue coba bicara deh sama Om gue buat pinjam uang..."

"Gak usah, beb. Serius gak usah. Gue tau gue gak akan bisa membayar hutang sebanyak itu, tapi gue gak mau berhutang sama lo juga buat bayar hutang gue. Gue akan cari cara lain."

"Tapi gue ngerasa gue gak ada gunanya buat lo, beb. Gue seperti seorang teman yang gak peduli sama kesusahan temannya."

Nadia tersenyum, menepuk-nepuk lembut punggung tangan Jeni. "Dengan lo ada disini aja udah lebih dari cukup buat gue."

"Beb...." Jeni memeluk Nadia.

"Makasih ya, lo ada disini."

Jeni melepas pelukan, memegang kedua tangan Nadia sambil tersenyum. "Gue bersyukur karena lo gak terluka parah. Kalau sampai terjadi apa-apa sama lo, gue pasti akan menyesal seumur hidup gue, Nadia."

"Tapi kan gue gak apa-apa, beb. Jadi gak usah merasa bersalah ya!" Jeni mengangguk paham.

"Laura sama Yuri udah lo kasih tau?" Nadia menggeleng.

"Kenapa?"

"Gak usah kasih tau mereka dulu deh, nanti aja kalau gue udah keluar dari rumah sakit. Mereka juga lagi banyak hal yang harus mereka kerjakan dan urus. Yuri dengan tugas kuliahnya dan Laura dengan kesehatan mamanya. Lagian gue kan baik-baik aja kan."

"Ya udah, kalau lo maunya gitu. Tapi, kapan lo boleh pulang?"

"Dokter Bastian bilang sih, besok pagi kalau kondisi gue tetap stabil seperti ini."

"Ya udah, gue tidur di sini malam ini."

"Gak usah beb. Lagian ada Suster juga yang jagain gue."

"Gak. Pokoknya gue tidur di sini malam ini!" tegasnya.

Nadia pun akhirnya pasrah saja dengan keinginan Jeni untuk menemaninya di rumah sakit.

"Lo sama Kevin kenal dekat ya sama dokter Bastian?"

"Iya." Jeni tersenyum. "Dokter Bastian sahabat baik Kevin."

Nadia mengangguk paham setelah mendengar penjelasan Jeni barusan.

"Beb, sebenarnya ada yang mau gue akuin lagi." lanjut Jeni ragu.

"Apa?"

Sebentar Jeni mengatur posisi duduknya lebih nyaman. "Hmm, sebenarnya pemilik mobil yang lo tabrak itu..." mulut Jeni terasa kaku untuk melanjutkan kalimatnya.

Nadia menatap Jeni dengan tatapan serius dan penuh rasa penasaran mendengar kelanjutan kalimatnya.

"Pemilik SENA Group itu sahabat baik Kevin." gumam Jeni cepat.

Pupil mata Nadia membesar. "Jadi, sekarang gue bermasalah dengan teman dekat dari pacar lo?" tanya Nadia ragu.

Jeni mengangguk cepat. "Kevin bilang, katanya dia yang akan coba ngomong sama temannya itu. Siapa tahu hutang lo bisa di kurangi lah karena lo bestie gue." tutur Jeni penuh harap.

Nadia hanya tersenyum tipis, kemudian dia malah merebahkan punggungnya untuk kembali berbaring di ranjangnya. "Makasih beb, tapi gak usah merepotkan diri buat bantu gue. Gue juga akan usaha kok buat keluar dari masalah sebesar ini."

...>~<...

Setelah menjenguk Nadia, Kevin pulang sendirian karena Jeni bersikeras mau tinggal di rumah sakit bersama Nadia. Jeni juga meminta Kevin untuk membawakan pakaian ganti untuknya nanti malam.

Sebelum ke rumah Jeni untuk mengambilkan baju ganti, Kevin menyetir mobilnya menuju perusahaan Sean karena Sean masih di sana saat ini. Rasa penasarannya begitu besar sampai mengganggu konsentrasinya.

Begitu tiba di parkir gedung perusahaan Sean, Kevin parkir mobilnya tepat di samping mobil Rio.

"Rio disini juga!" Serunya sebelum melangkah menuju lobi.

Sebelum ke ruangan Sean yang berada di lantai delapan, Kevin terlebih dulu meminta kartu akses pada resepsionis.

"Pak Sean ada?"

"Ada pak, Kevin. Silahkan langsung ke ruangan beliau."

"Oke."

Setelah mendapat kartu akses, Kevin pun langsung menuju ruangan Sean. Sesampainya di sana, rupanya benar ada Rio juga yang sedang berbaring santai di sofa besar ruangan itu.

"Kevin. What's up, bro?" sapa Rio yang langsung bangkit dari posisi baringnya.

"Sean mana?" ikut duduk di sebelah Rio.

"Di ruang rapat. Bentar lagi selesai."

Rio memperhatikan wajah Kevin yang terlihat aneh. "Kenapa?"

"Gue penasaran. Sangat amat penasaran."

"Penasaran?!"

"Hmm."

"Tentang?"

Kevin pun menceritakan tentang Sean yang membuat Nadia harus membayar hutang sebanyak lima ratus juta.

"Oh jadi lo datang ke sini karena penasaran tentang itu juga?"

Respon santai Rio membuat Kevin semakin penasaran. "Lo tau?"

"Iyalah. Apa sih yang gak gue tau tentang seorang Sean."

"Berarti lo juga kenal Nadia?"

"Gak juga. Gue cuma tau Nadia itu teman pacar lo dan teman serumah Laura."

"Terus!"

Rio membuka mulut, tapi masih belum bisa mengeluarkan kata-kata karena tidak tahu harus mulai dari mana. Sebelum Rio benar-benar bicara, Sean sudah kembali ke ruangannya.

"Hey, bro." Sapa Sean pada Kevin dan Rio. "Udah lama kalian nunggu gue?"

Sean melepas jasnya, menggantung di sandaran kursinya. Sean juga melipat lengan kemejanya hingga siku.

"Nadia?! Kenapa lo nuntut Nadia sebanyak lima ratus juta?!" selidik Kevin tanpa basa-basi.

"Wah, rasa penasaran nih anak sudah di ubun-ubun." celetuk Rio.

"Gue nanya karena gue gak mau pacar gue ikut sedih dan pusing melihat Nadia yang harus berpikir keras untuk membayar hutang sebanyak itu."

Sean hanya tersenyum menanggapi pertanyaan Kevin.

"Gue juga jadi penasaran. Bukannya lima ratus juta sama dengan beberapa juta aja bagi lo?! Terus, anehnya lo cuma nuntut Nadia dengan uang lima ratus juta, padahal dia sudah membuat mobil kesayangan lo rusak parah." sambung Rio.

Sean masih tersenyum seperti tadi. Bukannya menjawab, dia malah menyalakan laptopnya.

"Bro?!" panggil Kevin tegas dan lantang.

Sebentar Sean menghela napas dalam. "Dia... dia gadis kecil itu."

Mendengar jawaban itu, membuat Kevin dan Rio saling menatap bingung.

"Dia Nadia. Anak kecil yang menyelamatkan gue saat gue hampir terjun dari jembatan waktu gue kehilangan Starla."

"Apa?!" teriak Rio dan Kevin kaget bersamaan.

"Ya. Nadia gadis kecil itu. Mana mungkin gue nuntut dia buat ganti rugi sementara dia menjadi alasan gue masih ada dihadapan kalian saat ini."

Rio dan Kevin terdiam, mereka tidak bisa lagi mengatakan apapun setelah mendengar cerita Sean tentang siapa Nadia di hidupnya.

Bersambung...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!