NovelToon NovelToon
Jangan Cintai Aku, Tuan Muda!

Jangan Cintai Aku, Tuan Muda!

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Romansa Fantasi / Teen
Popularitas:578
Nilai: 5
Nama Author: EsKobok

Lana hanyalah gadis desa bersahaja yang membawa koper tua ke ibu kota demi sebuah cita-cita. Namun, ia tak menyangka bahwa beasiswa dari paman jauhnya datang dengan "syarat" tak tertulis: tinggal satu atap dengan tujuh pria elit di sebuah penthouse mewah.

​Arka sang CEO dingin, Bumi si dokter lembut, hingga Kenzo sang aktor idola—ketujuh sahabat ini memiliki dunia yang terlalu berkilau bagi Lana. Awalnya ia dianggap gangguan, namun perlahan kepolosan Lana memicu persaingan panas di antara mereka. Saat perjanjian persahabatan mulai retak demi satu cinta, siapakah yang akan Lana pilih? Ataukah ia hanya bidak dalam permainan para Tuan Muda?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EsKobok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kehangatan Sentuhan yang Terjaga

Bumi sudah beranjak menuju kamarnya untuk beristirahat setelah sif malam yang panjang, namun di balkon itu, waktu seolah membeku bagi Lana. Ia masih duduk mematung di kursi rotannya, jemarinya perlahan terangkat, menyentuh bibirnya sendiri dengan sangat hati-hati—seolah takut menghapus jejak kehangatan yang baru saja ditinggalkan oleh jemari Bumi.

Ada sebuah rasa yang tidak asing menjalar di dadanya. Sebuah rasa aman yang amat sangat, yang selama dua minggu ini tenggelam dalam kebisingan klakson Jakarta dan dinginnya dinding marmer penthouse. Sentuhan Bumi tadi bukan hanya sekadar memoleskan pelembap bibir; sentuhan itu memiliki berat emosional yang mengingatkannya pada sesuatu yang sangat jauh, di sebuah rumah panggung kayu di lereng bukit yang selalu berkabut.

Lana memejamkan matanya, dan seketika, aroma vanila dari lipbalm organik itu bercampur dengan memori tentang bau kayu bakar dan minyak telon.

Ia teringat ayahnya.

Di desa, Ayah adalah sosok yang pendiam namun memiliki tangan yang sangat kasar karena puluhan tahun memegang cangkul dan membelah kayu. Namun, meski tangannya kasar dan pecah-pecah, sentuhannya selalu menjadi obat paling mujarab bagi Lana kecil. Lana ingat saat ia terjatuh dari pohon mangga dan lututnya berdarah, Ayah akan menggendongnya pulang tanpa sepatah kata pun. Lalu, dengan tangan yang sama yang bisa membelah batang jati yang keras, Ayah akan membersihkan luka Lana dengan sangat lembut menggunakan kapas dan air hangat.

"Jangan nangis, Nduk. Luka ini tandanya kamu anak yang berani," suara Ayah yang parau selalu terngiang di telinganya.

Sama seperti Bumi tadi. Cara Bumi memegang dagunya agar tidak bergeser, cara jemari Bumi bergerak dengan presisi namun penuh kehati-hatian, semuanya memiliki frekuensi kasih sayang yang sama dengan Ayahnya. Di tengah hiruk-pikuk kota yang menuntut segalanya serba cepat dan keras, Lana menemukan sebuah oase kelembutan yang jujur.

"Ternyata orang kota nggak semuanya jahat ya, Yah," bisik Lana pada angin sepoi-sepoi yang masuk lewat ventilasi balkon.

Air mata Lana perlahan jatuh, namun kali ini bukan air mata kepedihan. Ini adalah air mata kelegaan. Selama ini, ia merasa seperti anak ayam yang kehilangan induk di tengah hutan beton. Ia takut pada Arka yang tegas, ia segan pada Ezra yang perfeksionis, dan ia minder pada Rian yang sangat pintar. Namun, melalui Bumi, Lana menyadari bahwa di bawah lapisan kemewahan dan keglamoran pria-pria ini, ada sebuah naluri pelindung yang sangat murni.

Lana kembali menatap cermin kecilnya. Bibirnya yang kini merona tipis tidak lagi tampak seperti "bibir orang kampung" yang ia benci kemarin. Bibir itu kini tampak berharga, karena telah disentuh oleh tangan seorang dokter yang sangat menghargai hidup. Kehangatan sentuhan Bumi yang masih terjaga di kulitnya seolah menjadi mantel pelindung bagi hatinya yang sempat menggigil karena hinaan Sisca dan teman-temannya di kampus.

"Gak asik banget kalau lo terus-terusan ngerasa nggak pantes, Lana," ucapnya menirukan gaya bicara Bumi dengan suara pelan, lalu terkekeh sendiri.

Rasa rindu pada Ayah di desa kini tidak lagi terasa menyakitkan. Jika sebelumnya rindu itu membuatnya ingin pulang dan menyerah, kini rindu itu bertransformasi menjadi kekuatan. Ia merasa seolah-olah Ayahnya telah "menitipkannya" pada orang yang tepat. Kelembutan Bumi adalah bukti bahwa kasih sayang itu universal; ia bisa ditemukan di sebuah gubuk sederhana di desa, maupun di sebuah penthouse mewah di lantai lima puluh Jakarta.

Hati Lana benar-benar menghangat. Ia merasa diterima bukan karena ia sudah cantik, tapi karena ia berhak untuk dirawat. Ia mulai menyadari bahwa kemewahan yang diberikan Arka dan yang lain adalah bentuk "cinta" yang mungkin belum pernah ia pahami bahasanya. Arka mencintainya dengan keamanan, Ezra dengan keindahan, Jeno dengan keceriaan, dan Bumi... Bumi mencintainya dengan kesembuhan jiwa.

Lana berdiri, membawa kotak putih gadingnya masuk ke dalam kamar. Ia tidak lagi meletakkannya dengan ragu di meja rias. Ia meletakkannya tepat di tengah, sejajar dengan buku-buku kuliahnya. Ia merapikan tempat tidurnya, lalu duduk bersila di sana, mencoba meresapi kembali setiap detik interaksinya dengan Bumi tadi.

Setiap kali ia merasa ragu, ia akan kembali menyentuh bibirnya, merasakan sisa-sisa kehangatan itu. Baginya, itu adalah janji. Janji bahwa ia tidak akan dibiarkan hancur sendirian. Janji bahwa ada tangan-tangan kuat yang akan selalu siap memoles kembali senyumnya jika ia mulai pudar.

"Lana janji, Yah... Lana bakal bertahan di sini. Lana nggak akan bikin malu Kak Bumi dan yang lain," gumamnya penuh tekad.

Sore itu, suasana hati Lana berubah seratus delapan puluh derajat. Ia mulai berani keluar kamar untuk sekadar mengambil air minum di dapur tanpa harus menunggu rumah sepi. Bahkan, saat ia berpapasan dengan Gaza di lorong, Lana tidak lagi menunduk sampai dagunya menyentuh dada. Ia memberanikan diri sedikit mengangkat kepalanya, meskipun masih belum berani menatap mata Gaza yang tajam.

Gaza, yang biasanya dingin dan tidak banyak bicara, sempat berhenti melangkah saat melihat Lana. Ia memperhatikan bibir Lana yang tampak sedikit lebih "hidup" dan rona wajahnya yang lebih segar.

"Lo... kelihatan lebih mendingan hari ini," ucap Gaza pendek, suaranya berat seperti suara guntur yang jauh.

Lana tersenyum tipis, benar-benar tipis namun tulus. "Terima kasih, Kak Gaza. Lana baru aja dapet 'resep' dari Kak Bumi."

Gaza hanya mengangguk sekali, lalu melanjutkan langkahnya. Namun, di balik punggungnya yang tegap, Gaza sebenarnya merasa lega. Kabar tentang "Sesi Terapi Estetik" Bumi sudah menyebar di grup obrolan mereka, dan Gaza senang melihat hasilnya bekerja dengan cepat pada mental gadis itu.

Malam harinya, saat Lana bersiap untuk tidur, ia kembali melakukan ritual kecil yang diajarkan Bumi. Ia menyemprotkan face mist ke wajahnya, lalu memoleskan sedikit pelembap bibir. Kali ini ia melakukannya sendiri, namun ia melakukannya sambil mengingat gerakan tangan Bumi tadi—lembut, hati-hati, dan penuh perhatian.

"Selamat malam, Yah. Selamat malam, Kak Bumi," bisiknya sebelum mematikan lampu.

Kehangatan sentuhan Bumi benar-benar terjaga di dalam sanubarinya. Itu adalah api kecil yang akan menjaganya tetap hangat di tengah dinginnya persaingan sosial di universitas besok. Lana tidak lagi merasa seperti domba yang malang. Ia merasa seperti seorang putri yang baru saja diberikan baju zirah transparan oleh seorang tabib bijaksana.

Tidur Lana malam itu sangat nyenyak. Tidak ada lagi mimpi buruk tentang wajah-wajah sinis mahasiswi atau ruangan auditorium yang gelap. Ia bermimpi tentang taman bunga matahari di desanya, di mana Bumi dan ayahnya duduk bersama, minum teh dan tertawa, sementara ia berlari-lari di antara kelopak bunga dengan bibir yang terus tersenyum.

Bagi Lana, transformasi fisiknya mungkin belum terlihat signifikan di mata orang luar, namun di dalam dirinya, sebuah revolusi sedang terjadi. Revolusi tentang rasa percaya diri yang dibangun dari fondasi kehangatan sebuah sentuhan. Dan ia sudah tidak sabar untuk melihat pantulan wajahnya di cermin esok pagi, bukan lagi untuk mencari kekurangan, tapi untuk merayakan perhatian yang telah ia terima dengan penuh syukur.

1
Bri Anto
sunting mantap
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!