"Saat KKN di desa terpencil, Puri Retno Mutia dan Rendra Adi Wardana diserang kesurupan misterius. Puri merasakan sakit keguguran dan dendam seorang gadis bernama Srikanti yang dulu jatuh cinta dan hamil oleh Abi Manyu, tapi difitnah dan ditinggalkan hingga meninggal. Sementara Rendra merasakan rasa bersalah yang tak terjangkau dari masa lalu. Ternyata, mereka adalah reinkarnasi Srikanti dan Abi Manyu. Akankah sumpah dendam Srikanti terwujud di zaman sekarang? Atau bisakah mereka putus rantai tragedi yang terulang?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Gemini 75, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menantang Bahaya yang Mengintai
Memburu artefak, menantang bahaya. Mampukah mereka menemukan jejak masa lalu, ataukah justru terperangkap dalam kegelapan abadi?"
Dengan petunjuk dari Mbah Karto, Ayu, Rendra, dan Bayu memulai pencarian artefak kuno. Mbah Karto memberi tahu mereka bahwa artefak itu kemungkinan besar disembunyikan di salah satu tempat keramat di sekitar desa: Gua Siluman, Reruntuhan Candi Tua, atau Hutan Larangan.
Mereka memutuskan untuk memulai dari Gua Siluman, tempat yang paling dekat dengan desa dan memiliki reputasi angker. Gua itu terletak di lereng gunung yang terjal, tersembunyi di balik rimbunnya pepohonan.
"Menurut cerita, Gua Siluman dulunya adalah tempat pertapaan para dan juga tempat para anggota sekte melakukan ritual-ritual mereka," kata Mbah Karto sebelum mereka berangkat. "Berhati-hatilah, karena tempat itu dijaga oleh kekuatan gaib yang kuat."
Ayu, Rendra, dan Bayu mempersiapkan diri sebaik mungkin. Mereka membawa obor, tali, peta, kompas, dan beberapa jimat perlindungan yang diberikan oleh Mbah Karto. Mereka juga berjanji untuk saling menjaga dan tidak terpisah satu sama lain.
Saat mereka mendekati Gua Siluman, suasana di sekitar mereka mulai berubah. Udara terasa lebih dingin dan lembap, dan pepohonan tampak lebih gelap dan menakutkan. Mereka mendengar suara-suara aneh, seperti bisikan, lolongan, dan gemerisik daun, yang membuat bulu kuduk mereka merinding.
"Kau dengar itu?" bisik Bayu dengan nada khawatir.
"Aku dengar," jawab Ayu dengan suara pelan. "Sepertinya kita tidak sendirian di sini."
Mereka terus berjalan dengan hati-hati, mengikuti jalan setapak yang semakin terjal dan berbatu. Akhirnya, mereka tiba di mulut gua. Gua itu tampak gelap dan menganga, seperti mulut raksasa yang siap menelan mereka.
"Siap?" tanya Rendra sambil menyalakan obornya.
Ayu dan Bayu mengangguk. Mereka menarik napas dalam-dalam, lalu melangkah masuk ke dalam gua.
Di dalam gua, suasana semakin mencekam. Udara terasa pengap dan berbau belerang. Dinding-dinding gua dipenuhi dengan stalaktit dan stalagmit yang tampak seperti gigi-gigi raksasa. Mereka mendengar suara tetesan air yang jatuh ke dalam genangan air, menciptakan gema yang menakutkan.
Mereka terus berjalan lebih dalam ke dalam gua, mengikuti lorong-lorong yang berkelok-kelok dan bercabang-cabang. Mereka menemukan beberapa lukisan dinding yang menggambarkan adegan-adegan ritual yang mengerikan, serta tulang-tulang manusia yang berserakan di lantai gua.
"Tempat ini benar-benar menakutkan," kata Bayu dengan nada gemetar. "Aku merasa seperti ada yang mengawasi kita."
Tiba-tiba, obor yang dipegang oleh Rendra padam. Gua itu menjadi gelap gulita.
"Sial!" seru Rendra dengan nada panik. "Oborku padam!"
Ayu segera menyalakan obornya sendiri dan mengarahkan cahayanya ke sekeliling mereka. Mereka melihat bahwa mereka sedang berada di sebuah ruangan yang luas, dengan langit-langit yang tinggi dan dinding-dinding yang dipenuhi dengan lukisan dinding.
"Di mana Rendra?" tanya Ayu dengan nada khawatir.
"Aku di sini!" jawab Rendra. "Aku tidak apa-apa. Oborku saja yang padam."
Ayu menghela napas lega. Ia segera menghampiri Rendra dan memberikan obornya kepadanya.
"Hati-hati," kata Ayu. "Kita harus tetap bersama."
Mereka melanjutkan perjalanan mereka, menyusuri lorong-lorong gua yang semakin sempit dan gelap. Mereka merasa seperti sedang tersesat di dalam labirin yang tidak berujung.
Tiba-tiba, mereka mendengar suara gemuruh yang keras. Gua itu mulai bergetar.
"Apa itu?" tanya Bayu dengan nada panik.
"Aku tidak tahu!" jawab Ayu. "Kita harus keluar dari sini!"
Mereka berlari sekuat tenaga, mencoba untuk mencari jalan keluar dari gua. Tapi gua itu terus bergetar, dan lorong-lorong gua mulai runtuh.
"Awas!" teriak Rendra.
Sebuah batu besar jatuh dari langit-langit gua, hampir menimpa Ayu. Rendra mendorong Ayu hingga terjatuh, menyelamatkannya dari bahaya. Tapi Rendra sendiri tertimpa batu itu.
"Rendra!" teriak Ayu dan Bayu bersamaan.
Mereka segera menghampiri Rendra dan mencoba untuk mengangkat batu itu. Tapi batu itu terlalu berat.
"Rendra, kau tidak apa-apa?" tanya Ayu dengan nada khawatir.
"Aku... aku baik-baik saja," jawab Rendra dengan suara lirih. "Tapi aku tidak bisa bergerak."
Ayu dan Bayu saling berpandangan. Mereka tahu bahwa mereka harus segera mengeluarkan Rendra dari gua itu sebelum gua itu runtuh sepenuhnya. Tapi bagaimana caranya? Akankah mereka berhasil menyelamatkan Rendra, ataukah mereka semua akan terjebak di dalam gua yang runtuh itu?
Sementara waktu terus berjalan, dan suara gemuruh semakin keras, memaksa Ayu dan Bayu untuk membuat keputusan sulit yang akan menguji persahabatan dan keberanian mereka.
Di kedalaman gua, persahabatan diuji. Mampukah mereka berkorban demi yang lain, ataukah kegelapan akan menelan semuanya?"
Ayu dan Bayu berusaha sekuat tenaga mengangkat batu yang menimpa Rendra, namun sia-sia. Batu itu terlalu besar dan berat. Mereka terengah-engah, putus asa mulai menghantui.
"Kita harus mencari bantuan!" seru Bayu dengan panik. "Aku akan kembali ke desa!"
"Tidak, Bayu! Terlalu lama!" balas Ayu. "Gua ini bisa runtuh kapan saja. Kita harus melakukan sesuatu sekarang!"
"Tapi apa yang bisa kita lakukan?" Bayu berteriak frustrasi. "Kita tidak bisa mengangkat batu ini!"
Ayu menatap Rendra yang meringis kesakitan di bawah batu. Wajah Rendra pucat, dan napasnya tersengal.
"Ayu... tinggalkan aku," bisik Rendra dengan suara lemah. "Selamatkan dirimu dan Bayu."
"Tidak, Rendra! Kami tidak akan meninggalkanmu!" balas Ayu dengan air mata yang mulai membasahi pipinya.
"Aku... aku tidak punya banyak waktu lagi," kata Rendra. "Aku... aku mohon..."
Ayu terdiam. Ia tahu Rendra benar. Waktu mereka semakin menipis. Jika mereka tidak segera bertindak, mereka semua akan terjebak di dalam gua yang runtuh itu.
Dengan berat hati, Ayu membuat keputusan yang sulit. Ia mengambil sebilah belati dari pinggangnya dan memberikannya kepada Bayu.
"Bayu, dengarkan aku," kata Ayu dengan suara bergetar. "Di dinding gua ini, ada beberapa stalaktit yang cukup tajam. Coba potong batu itu sedikit demi sedikit. Mungkin kita bisa memecahnya menjadi bagian yang lebih kecil."
Bayu menatap Ayu dengan ragu. "Tapi itu bisa berbahaya! Kita bisa melukai Rendra!"
"Aku tahu," jawab Ayu. "Tapi kita tidak punya pilihan lain. Ini satu-satunya cara untuk menyelamatkannya."
Bayu mengangguk dengan ragu. Ia mengambil belati itu dan mulai memotong stalaktit-stalaktit yang tajam. Ayu membantu memegangi obor, menerangi area yang dipotong oleh Bayu.
Mereka bekerja dengan hati-hati dan teliti, menghindari agar tidak melukai Rendra. Potongan demi potongan batu itu terkelupas, namun prosesnya terasa sangat lambat dan melelahkan.
Tiba-tiba, gua itu bergetar lebih keras dari sebelumnya. Langit-langit gua mulai runtuh, menimpa mereka dengan debu dan bebatuan kecil.
"Cepat, Bayu! Cepat!" teriak Ayu dengan panik.
Bayu mempercepat gerakannya, memotong batu itu dengan sekuat tenaga. Akhirnya, setelah berjuang dengan susah payah, mereka berhasil memecah batu itu menjadi bagian yang lebih kecil.
\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*