Luna Evelyn, gadis malang yang tidak diinginkan ayah kandungnya sendiri karena sang ayah memiliki anak dari wanita lain selain ibunya, membuat Luna menjadi gadis broken home.
Sejak memutuskan pergi dari rumah keluarga Sucipto, Luna harus mencari uang sendiri demi memenuhi kebutuhan hidupnya. Hingga suatu malam ia bertemu dengan Arkana Wijaya, seorang pengusaha muda terkaya, pemilik perusahaan Arkanata Dinasty Corp.
Bukannya membaik, Arkana justru membuat Luna semakin terjatuh dalam jurang kegelapan. Tidak hanya menginjak harga dirinya, pria itu bahkan menjerat Luna dalam ikatan rumit yang ia ciptakan, sehingga membuat hidup Luna semakin kelam dan menyedihkan.
"Dua puluh milyar! Jumlah itu adalah hargamu yang terakhir kalinya, Luna."
-Arkana Wijaya-
Bagaimana Luna melewati kehidupan kelamnya? Dan apakah ia akan berhasil membalas dendam kepada keluarga Sucipto atau semakin tenggelam dalam kegelapan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Melia Andari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kencan Buta
Sebulan kemudian, semua sudah kembali tenang. Luna tidak pernah lagi datang ke kantor Arkana sejak kejadian itu.
Namun perkuliahannya tetap berlanjut. Arkana telah menghubungi pihak kampus untuk meluluskan pemagangan Luna dengan nilai yang baik di perusahaannya.
Pria itu benar-benar ingin menjauh sepenuhnya dari sosok Luna.
Pertunangan Maya dan Arkana pun benar-benar ditunda sesuai dengan ucapan pria itu pada malam terakhir mereka bertemu.
Namun sayangnya, Luna tidak tahu pertunangan mereka akan dilaksanakan kapan, atau diundur sampai kapan. Luna pun tidak ingin memikirkannya.
Jadi atau tidak Arkana bertunangan, atau bahkan menikah sekalipun, seharusnya Luna tidak perlu memikirkannya.
Ya. Luna mencoba untuk tidak mempedulikan itu. Toh sampai kapanpun, Arkana hanya menganggapnya wanita bayaran yang murahan.
Dalam menjalani masa tenangnya, Luna sesekali pergi bersama Selin untuk sekedar melepas rasa bosan. Kemudian Radika pun beberapa kali mengunjunginya walau hanya sekedar berbincang masalah perkuliahan mereka.
Seperti hari ini, Selin datang ke apartemennya dan mengacaukan kegiatan Luna.
"Ayolah Lun, kamu nggak bosan apa sendiri terus? Arkana juga kan sudah benar-benar memutuskan mu?"
"Kami nggak pernah pacaran!" sahut Luna sewot.
"Hahaha iya deh iya. Maksudku, kamu dan Arkana sudah benar-benar berpisah dan tidak pernah bertemu lagi kan?" tanya Selin.
"Iya, akhirnya aku bisa lepas dari dirinya."
Selain mengerutkan dahi seraya memperhatikan sahabatnya itu. "Kamu yakin senang lepas darinya? Kamu nggak merindukan sentuhannya kan?"
"Apa sih kamu? Ngapain aku merindukan pria jahat seperti dia!"
Selin pun tersenyum.
"Nah bagus. Kalau begitu kamu harus ikut agendaku hari ini," ucapnya.
"Dari tadi kamu bilang agenda terus. Memangnya agenda mu itu apa? Dan kamu mau mengajakku kemana?"
"Hehehe, aku ada agenda kencan buta. Nah ada dua pria yang akan datang, jadi aku ingin mengajakmu untuk ikut ke acara kencan buta itu, Luna."
"Apa?? Kencan buta?" sahut Luna kaget.
Selin pun tersenyum seraya menganggukkan kepalanya.
"Tidak! Aku tidak mau!"
"Ayolah Lun, masa iya aku kencan dengan dua pria sekaligus?"
"Bagus dong, kamu jadi bisa pilih yang mana yang sesuai selera mu."
"Jangan gitu dong Lun, masa kamu tega sama aku?"
Luna menatap Selin sejenak, lalu menghela nafasnya.
"Baiklah, aku akan ikut tapi hanya satu kali ini saja!" sahut Luna mengalah.
Selin pun tersenyum ceria lalu memeluk sahabatnya itu dengan senang.
...----------------...
Arkana dan beberapa temannya sedang makan malam di sebuah restoran ternama. Setelah membahas bisnis, mereka pun melanjutkan acara dengan makan malam bersama.
"Hei tahu nggak, restoran ini terkenal, katanya disini itu tempat orang-orang menjadi pasangan loh. Jika kita pergi kesini dengan wanita yang kita cintai sepenuh hati, maka kita dengannya tidak akan terpisahkan," ucap Dewa.
"Kata siapa kamu?" sahut Galih.
"Kamu ngga tahu? Kalau restoran ini sering digunakan untuk kencan buta. Dan rata-rata setiap pasangan yang kencan buta di sini, mereka bisa menjadi pasangan yang sesungguhnya hingga menikah," jelas Dewa.
"Benarkah?" tanya Galih.
"Iya, kamu juga bisa coba. Siapa tahu kamu bertemu dengan cinta sejatimu," ucap Dewa.
Arkana hanya menggelengkan kepalanya melihat percakapan antara dua sahabatnya itu.
"Sudah tahun berapa ini? Kau masih saja percaya hal-hal primitif seperti itu," tutur Arkana.
"Kamu nggak percaya karena kamu udah punya Maya sebagai pasangan mu. Coba kalau belum, jangan-jangan kamu malah ikutan kencan buta," sahut Dewa.
Arkana tertawa dan memilih tidak menghiraukan ucapan kedua sahabatnya.
Sementara itu, karena acara kencan buta pun segera dimulai, Luna dan Selin baru saja tiba di restoran yang menjadi titik pertemuan mereka.
"Nah itu dia orangnya," ucap Selin sambil menunjuk seorang pria yang sedang duduk sendiri di dekat jendela.
"Itu pria mu?" tanya Luna.
"Bukan, itu pria mu, kalau pria ku ada di sebelah sana," sahut Selin seraya menunjuk pria yang juga sedang duduk sendiri beberapa meja dari pria yang pertama.
Luna memperhatikan. Pria itu bertubuh tegap dan tinggi. Wajahnya perpaduan Chi na-Indonesia, membuatnya terlihat tampan.
Dengan malas, Luna pun berjalan mendekati pria tersebut. Saat sudah dekat, pria itu menoleh ke arah Luna dan tertegun sejenak.
Luna mengenakan dress selutut dipadukan dengan selendang sutra di bahunya. Ia begitu terlihat cantik dan juga anggun.
"Kamu yang menggantikan wanita kencan buta saya?" tanya pria itu.
Luna hanya tersenyum kikuk. "Maaf ya, temanku mendadak sakit, jadi demi menghormati mu, dia mengutus aku untuk menggantikannya."
"Tidak apa-apa," sahut pria itu tersenyum.
Tanpa Luna sadari, di belakang tubuh pria yang sedang kencan buta dengannya, adalah Arkana. Pria itu masih duduk berbincang bersama kedua temannya dengan posisi membelakangi mereka. Karena jarak kursi dan meja mereka yang sangat jauh, Luna pun tidak terlalu memperhatikan.
Tiba-tiba saja Galih yang memang duduk menghadap meja Luna itu seperti menyadari sesuatu.
"Eh itu bukannya Luna ya? Wanita yang sempat berhubungan dengan mu, Arkana?"
Arkana terhenyak, ia menatap Galih, lalu menoleh ke belakang, mengikuti arah pandang Galih.
Pria itu terperangah.
Melihat Luna sedang tersenyum bersama seorang pria, tatapan matanya pun berubah menjadi muram.
"Apa dia ikut kencan buta?" tanya Dewa.
Arkana hanya diam seraya mengeratkan rahangnya.
Sebulan tidak bertemu dan memutuskan untuk berpisah, ia justru menemukan Luna melakukan tindakan yang lagi-lagi tidak pernah diduganya.