NovelToon NovelToon
TENTANG KITA YANG NGGAK SENGAJA

TENTANG KITA YANG NGGAK SENGAJA

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Cinta Seiring Waktu / Idola sekolah
Popularitas:288
Nilai: 5
Nama Author: grayen

Berawal dari tabrakan di koridor sekolah saat terlambat, hidup Alya yang tenang mendadak berubah jadi penuh drama gara-gara Raka, si kapten basket populer yang hobi mengganggunya. Situasi makin kacau saat foto candid Alya tak sengaja masuk ke story Instagram Raka dan membuat satu sekolah gempar.

Namun, dari benci jadi chattingan. Di balik sikap usil Raka, Alya pelan-pelan menemukan sisi rapuh cowok itu yang tersembunyi dari dunia.

Sayangnya, saat benih perasaan mulai tumbuh, kehadiran Kevin—murid baru yang mendekati Alya—menyalakan api cemburu Raka. Ditambah rumor sekolah dan kesalahpahaman masa lalu, Alya mulai ragu dengan perasaan mereka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon grayen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tarian Malam Itu

Festival sekolah belum benar-benar selesai. Meski stan-stan mulai dibereskan, acara puncak malam masih menunggu: pentas seni dan pertunjukan tari dari beberapa kelas.

Lampu gantung yang dipasang di halaman mulai menyala satu per satu. Suasananya berubah menjadi hangat dan meriah. Siswa, guru, bahkan orang tua yang datang masih memenuhi area depan panggung.

Alya berdiri di dekat pagar pembatas sambil mengecek baterai kameranya.

“Untung belum habis,” gumamnya.

Hari itu ia sudah mengambil ratusan foto, tapi rasanya masih belum puas.

Di belakangnya, Nadya datang sambil membawa dua tusuk sosis bakar.

“Fotografer harus makan.”

Alya menerima satu tusuk dan langsung menggigitnya.

“Penyelamat hidup.”

“Kalau nggak makan, nanti tumbang sebelum acara selesai.”

Mereka tertawa bersama.

---

Di sisi lain, Raka baru selesai membantu membereskan perlengkapan permainan basket.

Kaos panitianya sedikit kusut dan wajahnya terlihat lelah, tapi begitu melihat panggung yang mulai ramai, semangatnya muncul lagi.

Dion menghampiri sambil membawa minuman.

“Masih kuat?”

“Harus kuat.”

“Kenapa?”

“Soalnya katanya penampilan terakhir bakal bagus.”

Dion melirik ke arah Alya yang sedang memotret lampu-lampu hias.

“Kayaknya bukan panggung yang lo tunggu.”

Raka hanya tersenyum tipis.

---

Acara demi acara berlangsung lancar.

Band sekolah tampil membawakan beberapa lagu dan berhasil membuat penonton ikut bernyanyi.

Setelah itu, giliran penampilan tari modern dari kelas sebelas.

Lampu dipadamkan sesaat sebelum musik dimulai.

Alya segera mengangkat kameranya.

Kilatan lampu panggung, gerakan para penari, dan sorak penonton membuat suasana terasa hidup.

Di sela-sela memotret, ia tidak sengaja melihat Raka berdiri di sisi panggung sambil memperhatikan pertunjukan.

Begitu mata mereka bertemu, Raka mengacungkan jempol.

Alya membalas dengan senyum kecil.

---

Usai penampilan tari, pembawa acara naik ke panggung.

“Karena malam ini adalah penutupan festival, kita mau mengajak beberapa panitia dan pengunjung ikut permainan singkat!”

Penonton langsung bersorak.

“Siapa yang mau naik ke atas panggung?”

Tanpa diduga, Dion mendorong pelan bahu Raka.

“Tuh, naik.”

“Gila lo.”

Belum sempat menolak, nama Raka sudah dipanggil oleh salah satu panitia.

Di saat yang sama, Nadya juga mendorong Alya ke depan.

“Ayo, sekali-sekali.”

“Aduh, jangan…”

Namun terlambat.

Beberapa siswa mulai bertepuk tangan memanggil nama Alya.

Dengan wajah pasrah, mereka berdua akhirnya naik ke atas panggung bersama beberapa peserta lain.

---

Permainannya ternyata sederhana.

Musik diputar, lalu semua peserta diminta bergerak bebas mengikuti irama.

Tidak ada penilaian, hanya untuk hiburan.

Raka berdiri di samping Alya.

“Kalau malu, kita pura-pura aja lagi olahraga.”

Alya menahan tawa.

“Mana ada olahraga begini.”

Musik mulai terdengar.

Beberapa peserta langsung menari dengan percaya diri.

Ada yang sengaja membuat gerakan lucu hingga penonton tertawa.

Raka dan Alya sendiri hanya menggerakkan tangan dan sesekali mengikuti irama dengan langkah kecil.

Melihat ekspresi canggung mereka, penonton justru semakin heboh.

“Semangat!”

“Jangan malu-malu!”

Dion dari bawah panggung bahkan berteriak,

“Raka, senyumnya jangan ditahan!”

Raka menggeleng sambil tertawa.

Alya ikut tertawa hingga hampir lupa kalau mereka sedang berada di atas panggung.

---

Di tengah lagu, pembawa acara iseng berkata,

“Sekarang coba saling berhadapan!”

Semua peserta mengikuti arahan.

Alya dan Raka pun otomatis saling menghadap.

Selama beberapa detik, mereka hanya saling menatap sambil menahan tawa.

“Ini aneh banget,” bisik Alya.

“Iya.”

“Tapi lucu.”

“Lumayan buat kenangan.”

Musik berakhir disambut tepuk tangan meriah.

Semua peserta kembali turun dari panggung.

Begitu sampai di bawah, Nadya langsung menghampiri Alya.

“Lihat ekspresi kalian tadi lucu banget!”

“Udah, jangan dibahas.”

“Sayang lho, banyak yang ngerekam.”

Alya langsung menutup wajahnya dengan kedua tangan.

“Waduh…”

---

Setelah acara selesai, para panitia membantu membereskan panggung.

Langit malam tampak cerah, berbeda dengan beberapa hari sebelumnya yang selalu ditemani hujan.

Saat mengangkat kabel bersama, Raka berkata pelan,

“Untung tadi lo ikut naik.”

“Kenapa?”

“Kalau sendirian, gue pasti kabur.”

Alya tertawa.

“Berarti gue penyelamat?”

“Bisa dibilang begitu.”

Mereka melanjutkan pekerjaan sambil sesekali bercanda.

Tidak ada momen romantis yang berlebihan.

Tidak ada kata-kata manis.

Hanya kebersamaan sederhana yang terasa semakin berarti.

---

Malam semakin larut.

Sebelum pulang, Alya membuka hasil foto di kameranya.

Di antara ratusan gambar festival, ada satu foto yang membuatnya berhenti.

Foto itu diambil oleh salah satu panitia saat permainan di atas panggung berlangsung.

Raka dan Alya sedang berdiri saling berhadapan, sama-sama tersenyum tanpa sadar.

Lampu-lampu kecil di belakang mereka membuat suasana foto terlihat hangat.

Alya memandang gambar itu cukup lama sebelum akhirnya mematikan layar kamera.

Tanpa ia sadari, dari kejauhan Raka juga melihat foto yang sama di ponsel Dion.

Ia hanya tersenyum kecil.

Malam itu memang tidak ada pengakuan perasaan.

Tidak ada momen dramatis.

Hanya sebuah tarian sederhana yang berlangsung beberapa menit.

Namun bagi mereka berdua, tarian malam itu menjadi kenangan yang diam-diam disimpan di tempat paling istimewa dalam hati.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!