we Lin seorang penjaga toko perhiasan yang di kirim ke dunia lain dan menjadi karakter op di dunia lain
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon WERWET, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 15 ke salah pahaman kecil
Sementara itu...
Di toko perhiasan.
We Lin sedang menghitung stok cincin.
"Satu..."
"Dua..."
"Tiga..."
Di atas meja kasir.
Cermin Mata Dewa masih tergeletak diam.
Mode diam masih aktif.
Sangat patuh.
We Lin cukup puas dengan hal itu.
"Kalau semua artefak bisa setenang ini, hidupku pasti lebih nyaman."
Di pojok toko.
Tetua Morcant masih tidur.
Ngorrr...
Beberapa pelanggan yang datang bahkan mengira lelaki tua itu adalah pelanggan tetap yang ketiduran.
Tak ada yang tahu siapa dirinya sebenarnya.
Jauh di markas Organisasi Rasi Bintang.
Seorang tetua tiba-tiba membuka sebuah gulungan kuno.
Debu berjatuhan dari permukaannya.
Ia membaca isi gulungan itu perlahan.
Semakin lama...
Ekspresinya semakin berubah.
"Ada apa?"
tanya tetua lain.
Tetua tua itu mengangkat kepalanya.
Suaranya terdengar berat.
"Dalam catatan leluhur..."
"Hanya ada satu kemungkinan saat Cermin Mata Dewa memilih pemilik baru."
Semua orang langsung fokus.
Tetua itu melanjutkan.
"Pemiliknya harus diakui oleh Mata Dewa itu sendiri."
Ruangan menjadi sunyi.
Salah satu tetua menelan ludah.
"Artinya..."
Tetua tua itu perlahan mengangguk.
"Jika laporan ini benar..."
"Maka pemuda itu mungkin adalah orang yang selama ribuan tahun dicari organisasi kita."
Tak seorang pun berbicara.
Karena mereka semua memahami arti dari kalimat tersebut.
Untuk pertama kalinya dalam ribuan tahun...
Jejak Pemilik Mata Dewa akhirnya muncul.
Dan yang paling ironis...
Sang pemilik sendiri sedang sibuk menghitung stok cincin tanpa mengetahui apa pun.
Di toko perhiasan.
Ngorrr...
Tetua Morcant masih tidur nyenyak.
We Lin melirik ke arahnya.
"Hebat juga."
"Bisa tidur selama itu."
Tetua Morcant membalik badan.
Ngorrrr...
Dengkurannya malah semakin keras.
We Lin menggeleng.
Lalu kembali menyusun perhiasan.
Saat itulah—
Ting!
Bel pintu berbunyi lagi.
We Lin mengangkat kepalanya.
"Hm?"
Sudah cukup lama tidak ada pelanggan datang.
Perlahan, pintu toko terbuka.
Seorang wanita berjubah biru muda berdiri di ambang pintu.
Wajahnya cantik.
Tatapannya tenang.
Namun matanya langsung menyapu seluruh ruangan begitu masuk.
Berhenti sesaat pada We Lin.
Lalu...
Berhenti lebih lama pada Cermin Mata Dewa di atas meja kasir.
Dan akhirnya...
Berpindah ke arah Tetua Morcant yang sedang tidur di pojok toko.
Untuk pertama kalinya, ekspresi tenangnya sedikit berubah.
Wanita berjubah biru muda itu tetap berdiri di ambang pintu selama beberapa detik.
Tatapannya menyapu seluruh ruangan sekali lagi.
Toko itu tampak biasa.
Terlalu biasa.
Namun justru itulah yang membuatnya sulit tenang.
Menurut laporan yang diterimanya, jejak Mata Dewa terakhir muncul di tempat ini.
Dan sekarang...
Artefak yang hanya ada dalam legenda itu benar-benar tergeletak di atas meja kasir.
Seolah tidak memiliki nilai apa pun.
Sementara pemilik toko hanya berdiri santai di belakang meja.
“Selamat datang.”
sapa We Lin seperti biasa.
“Silakan lihat-lihat.”
Wanita itu sedikit tersadar.
“Terima kasih.”
Ia melangkah masuk.
Namun kali ini langkahnya jauh lebih hati-hati dibanding anggota berjubah abu-abu sebelumnya.
Matanya sempat berhenti pada Cermin Mata Dewa.
Lalu beralih ke arah We Lin.
Kemudian ke arah Tetua Morcant yang sedang tidur.
Ngorrr...
Suara dengkuran masih terdengar.
Wanita itu mengernyit tipis.
"Aneh..."
Ia tidak merasakan apa pun dari lelaki tua itu.
Namun entah kenapa, instingnya menyuruh untuk tidak meremehkannya.
Di sisi lain, We Lin justru salah paham.
“Kakek itu mengganggu ya?”
“Hm?”
Wanita itu menoleh.
We Lin menunjuk ke arah Tetua Morcant.
“Dia memang suka tidur di situ.”
“Kadang dari pagi sampai malam.”
“...”
Sudut bibir wanita itu berkedut.
Untuk sesaat ia tidak tahu harus menjawab apa.
Sementara Tetua Morcant tetap tidur tanpa peduli apa pun.
Wanita itu akhirnya mengalihkan perhatian.
“Apakah cermin itu dijual?”
Tanyanya sambil menunjuk Cermin Mata Dewa.
We Lin melihat ke arah meja.
“Oh, yang itu?”
“Benar.”
We Lin berpikir sejenak.
“Kurasa tidak.”
Wanita itu sedikit menghela napas lega.
Namun kalimat berikutnya hampir membuatnya tersedak.
“Karena aku juga tidak tahu benda itu sebenarnya untuk apa.”
“...”
Wanita itu terdiam.
"Artefak tertinggi organisasi..."
"Dan beliau tidak tahu fungsinya?"
Salah paham kembali terbentuk.
Dalam pikirannya, hanya ada dua kemungkinan.
Pertama, pemuda ini benar-benar tidak tahu.
Kedua...
Ia sudah berada pada tingkat yang tidak membutuhkan artefak tersebut lagi.
Kemungkinan kedua jauh lebih menakutkan.
“Kalau begitu...”
Wanita itu berbicara hati-hati.
“Bolehkah saya melihatnya dari dekat?”
“Silakan.”
jawab We Lin santai.
Baginya itu hanya cermin aneh yang suka menampilkan hal-hal aneh.
Wanita itu mendekat perlahan.
Saat jaraknya tinggal beberapa langkah dari meja kasir—
Cermin Mata Dewa yang selama ini diam mendadak bergetar pelan.
Buzz...
Mata wanita itu langsung menyipit.
"Bereaksi?"
Ia menahan napas.
Namun We Lin hanya melirik sekilas.
“Mungkin baterainya mau habis.”
“...”
Wanita itu hampir kehilangan ketenangannya.
Artefak kuno yang telah diwariskan ribuan tahun...
Disebut seperti barang elektronik biasa.
Namun sebelum ia sempat mengatakan apa pun—
Mata emas di permukaan cermin terbuka perlahan.
Tatapannya langsung mengarah kepada wanita berjubah biru.
Dalam sekejap.
Tubuh wanita itu membeku.
Jantungnya berdebar kencang.
Seolah ada keberadaan kuno yang sedang menilai dirinya.
Lalu sebuah tulisan kecil muncul di permukaan cermin.
[Tidak memiliki otoritas.]
[Akses ditolak.]
Wanita itu langsung mundur selangkah.
Wajahnya berubah.
Sementara We Lin hanya mengangkat alis.
“Hm?”
“Jadi ternyata ada tulisan juga di benda itu.”
Di pojok toko.
Tetua Morcant yang sedang tidur perlahan membuka satu mata lagi.
Kali ini sedikit lebih lebar dari sebelumnya.
Tatapannya jatuh pada Cermin Mata Dewa.
Kemudian pada wanita berjubah biru.
Lalu pada We Lin.
“...”
Beberapa detik berlalu.
Tetua Morcant menutup matanya kembali.
Menarik selimut hingga menutupi bahunya.
Ngorrr...
Ia kembali tidur.
Seolah semua kejadian barusan sama sekali tidak menarik perhatiannya.
Namun wanita berjubah biru tahu.
Keringat dingin mulai muncul di dahinya.
Karena untuk pertama kalinya...
Ia merasa toko kecil yang sunyi ini jauh lebih menakutkan daripada markas Organisasi Rasi Bintang.