NovelToon NovelToon
Unbound By Royalty

Unbound By Royalty

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Mengubah Takdir / Penyelamat
Popularitas:281
Nilai: 5
Nama Author: Yuan La

Alin dikirim ke negara asing untuk menjadi tenaga sukarelawan, negara berbentuk monarki. Terlibat percintaan yang dalam dengan sang pangeran. Pangeran yang mencintainya dengan sepenuh hati dan jiwanya. Namun takdir harus memilih antara tahta dan wanita. Disaat sistem monarki menuntutnya meneruskan kerajaannya, namun Alin hanya ingin hidup bebas tanpa terikat norma dan adat dibalik tembok besar. Akankah cinta mereka berakhir bersama atau justru melepaskan satu sama lain.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yuan La, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 5

“Ada apa?” Tanya Yunxi. Kekasih Yuhan, “Kau menunggu panggilan tugas?”

“Aku menunggu Alin menghubungi ku.” Jawab sang kakak yang berkali-kali hanya melihat kontak nama Alin.

“Kirimkan saja pesan untuknya atau kau mau aku menghubunginya?”

“Tidak perlu. Mungkin dia sibuk. Jika sampai malam dia belum menghubungiku, kau bisa menghubunginya.”

“Ya…”

Bukan karena menjaga harga dirinya sebagai kakak hingga Yuhan tidak ingin menghubungi adiknya terlebih dahulu. Ia tak bisa lakukan hal itu karena pekerjaannya sebagai pasukan intel membuatnya menarik diri dari sang adik. Yuhan tak ingin diketahui bahwa Alin adalah titik kelemahannya, keluarga satu-satunya saat ini. Kedua orang tua mereka telah tiada.

Meski ada saudara dari kedua orang tuanya, namun karena jarak dan waktu membuat mereka renggang dalam komunikasi sejak lama.

...****************...

“Kau tidak makan?” Tanya Alin saat Rei hanya memesan buah dan satu air mineral dalam kemasan.

Peraturan kerajaan membuat Rei tidak bisa sembarangan untuk makan dan minum kecuali restoran milik kerajaan dan menu masakan dari dapur kerajaan langsung. 

“Baiklah, apa yang ingin kau katakan?” Tanya Alin mulai menyantap makanannya dengan lahap tanpa sungkan.

“Tidak ada.”

“Pfftt… ehek…” Alin tersedak hingga Rei memberikannya segelas air minum, “Aku kira kau tidak mau makan karena ada satu hal yang ingin dikatakan. Lalu kenapa kau datang menemui ku. Bukankah tadi…”

“Aku hanya ingin bertemu dengan mu.” Jawab Rei langsung.

“Untuk?” Bingung Alin, “Hah?! Apa kau sakit? Kau terluka? Dimana? Kenapa tidak dari awal katakan pada ku?” Tanya Alin beranjak berdiri, menarik lengan Rei dan melihat kondisinya untuk memastikan.

“Aku tidak apa.” Jawab Rei menarik kembali Alin untuk duduk disisinya, “Apa bertemu dengan mu harus ada yang sakit atau terluka dulu.”

“Ya. Orang datang menemuiku karena mereka butuh perawatan.”

“Aku hanya senggang. Kenapa? Apa aku tidak boleh mengajakmu keluar?” Kesal Rei menenggak air mineralnya, “Kau juga bukannya sedang menjalani hubungan dengan status.” Gumam Rei masih kesal.

“Kau sendiri kenapa tidak mengajak wanita mu. Hari ini ada festival tahunan, berkencanlah dengannya.” Balas Alin kembali dan mulai melahap makanannya.

“Aku sama sepertimu.” Jawabnya, “Mpphhh-.” Rei mengatupkan mulutnya saat Alin menyuapkan makanan untuk Rei.

“Kalau begitu makanlah.” Alin pun sama kesalnya telah dibohongi Rei, tanpa sungkan Alin menodongkan makanan langsung ke mulut Rei.

Hal ini tentu membuat pria itu tercengang kaget. Tidak pernah ada hingga di detik itu seseorang berbuat tidak sopan tanpa sungkan pada seorang bangsawan, terlebih seorang pangeran. 

“Aku tidak bisa memakan ini.” Sahut Rei memuntahkan makanan tersebut dalam tisu.

“Kenapa? Kau tidak suka?” Tanya Alin memakan sisa kue yang telah disodorkan pada Rei sebelumnya.

“Tidak. Bukan begitu tapi aku…”

“Apa? Kau tidak akan mati hanya dengan makanan ini.” Kesal Alin.

“Coba ini.” Alin kembali menyuapkan tanpa aba-aba sepotong makanan, “Jika kau muntahkan lagi aku akan membunuhmu.” Ancamnya, “Itu favoritku.”

Dengan menahan tawa dalam senyuman tipisnya, Rei mengunyah makanan tersebut dan menelannya.

“Bagaimana enak bukan?” Senang Alin, “Ini cobalah lagi?” Suapan memaksa selanjutnya, bahkan Rei belum sempat membuka mulut, tangan Alin sudah dibibir pria itu.

“Aku rindu masakan ditempat ku.” Sahut Alin kemudian saat Rei menghancurkan norma adab kerajaan memakan makanan tersebut. Pria itu mulai makan dengan sendirinya, “Aku tidak suka makanan dari negara mu. Semua terasa hambar untuk ku. Bahkan kue nya saja. Kau tahu…”

Alin semakin mendekatkan dirinya pada Rei untuk berbisik, “Aku memesan lewat aplikasi semua jenis kue yang terdekat dari rumah sakit, aku membuangnya. Karena tidak ada yang manis. Dan kau tahu saat tim ku pulang terlebih dahulu saat undangan makan malam kerajaan, besoknya kami mendapat kiriman kue kerajaan. Kau tahu rasanya…”

“Kau tidak suka?” Tanya Rei, ia bahkan menyuruh orang dari restoran kerajaan untuk membuatkan kue terenak dan termahal untuk dikirimkan ke rumah sakit Alin, untuk dimakan bersama seluruh tim. Namun hanya untuk mendengar keluhan tidak enak dari Alin.

“Ya. Tidak enak. Bahkan jatah kue ku, aku enggan membukanya dan ku tinggalkan untuk perawat jaga malam.”

Rei menahan tawanya, sungguh bersama wanita itu membuat segala bebannya hilang,

“Bukankah makanan Xinglan lebih sehat? Kau tidak tahu itu?” Tanya Rei.

“Ya, memang. Tapi apa kau tidak tahu istilah, makanan tidak sehat adalah yang terlezat. Tapi bukan berarti kau memakan semua ini. Kau akan mati.” Tunjuk Alin pada semua menu makanannya.

“Jadi kau suka makanan manis.” 

“Ya… tapi tidak terlalu manis.”

BIP BIP BIP

Ponsel Alin berdering. Tercantum nama direksi busuk, Lu Minghan. Direktur rumah sakit tempatnya bekerja.

“Siapa pria itu?” Tanya Rei saat melihat photo profil tuan Lu dalam dering ponsel Alin, “Direktur ku.” Jawab Alin, membalikkan ponselnya.

“Tidak diangkat?”

“Tidak perlu. Ini waktu libur ku, aku tidak mau dirusak begitu saja. Aku hampir tidak pernah menikmati waktu libur ku dengan baik selama disini.”

Rei terdiam cukup lama. Wanita itu hanya tiga bulan bertugas dirumah sakit tersebut. Dan bahkan Alin terlihat tidak suka tinggal di negara nya.

“Kau tidak betah disini?” Tanya Rei.

“Aku pernah tinggal di dua negara berbeda. Selain Xinglan. Dan sejauh ini Xinglan merupakan tempat terindah yang pernah ku tinggali. Aku bukannya tidak suka, hanya saja aku merasa tertekan dengan pekerjaan ku sendiri. Terlebih tahun ini aku akan melanjutkan studi spesialis ku.”

“Kau akan melanjutkan apa? Disini?”

“Entahlah. Aku sedang memikirkannya. Dua profesor di tempatku bekerja meminta ku jadi anak didiknya. Spesialis ahli bedah dan spesialis anak, menurut mu bagaimana?”

“Pilihan yang sangat berbeda jauh. Apa ada alasan?”

“Pediatri? Mungkin karena aku cukup akrab dengan anak-anak, kau tahu dirumah sakit itu aku memiliki fans club yang dibuat anak-anak dari bangsal rawat inap. Kalau ahli bedah? Entahlah, dokter Gu dan profesor Alan melihat aku cukup lihai memegang pisau mungkin.”

“Kau menyukai yang mana?”

“Yang bayarannya sangat tinggi. Ahli bedah. Aku mungkin akan mengambil itu.” Jawab Alin masih sibuk menyantap makanannya.

“Apa kau akan melanjutkan studi mu disini?” Tanya ulang Rei.

“Aku dengar disini juga salah satu jalur tempuh pendidikan terbaik. Tapi aku perlu meminta izin pada kakak ku. Butuh waktu delapan jam perjalanan udara untuk kesini dari tempat asal ku.”

“Setidaknya cobalah untuk melanjutkan studi spesialis mu disini, akan ada pendaftaran tahun ini.”

“Aku tidak yakin.”

“Aku memiliki kenalan di yayasan pendidikan mungkin dapat membantu mu.”

“Bukan karena itu. Aku tidak yakin kakak ku akan mengizinkannya.” Ujar Alin menenggak minumannya.

Rei terdiam. Entah ia dapat menahan Alin lebih lama dinegaranya atau tidak, namun saat ini ia hanya ingin Alin merasa bahagia berada di wilayah kekuasaannya. Tanpa terbebani pekerjaan.

“Di Linggu tidak banyak rumah sakit besar, jika ada rumah sakit besar lainnya yang dekat dengan tempat mu saat ini, apa mungkin…”

“Tentu rumah sakit ku tidak kewalahan dengan penerimaan pasien. Setidaknya butuh tiga rumah sakit besar untuk menampung nya. Tapi tidak mungkin terealisasi dalam waktu satu tahun ini bukan. Butuh waktu untuk pembangunan dan perekrutannya.” Ujar Alin, “Ck- coba saat itu aku tidak ada panggilan urgensi, aku bisa memohon pada raja atau putra mahkotanya.”

Rei tersenyum mendengarnya, “Kau ingin memohon apa?”

“Tingkatkan fasilitas kesehatan di wilayah Linggu, apa lagi?! Tidak mungkin aku memohon untuk melamar anaknya.” Canda Alin.

“Kau tahu anaknya?”

“Tidak. Tapi saat pesta itu selesai, di grup medis ku sibuk membicarakan kakak beradik pangeran itu. Entah kenapa mendadak mereka membuat fans club dua pangeran itu.”

“Lalu kau tidak?”

“Aku jarang membuka isi pesan. Jika tidak ada notice nama ku. Membuat laporan harian saja sudah cukup membuat mata ku lelah. Aku tidak bergabung dengan fans club mereka.”

“Jadi kau tidak tahu tampang dua pangeran itu?”

“Tentu aku tahu. Apa aku sebodoh itu.” Jawab asal Alin.

“Sungguh? Jadi kau tahu tampang kedua pangeran itu?”

“Tidak dengan adiknya. Aku tidak menemukan nya di internet. Katanya saat jamuan makan itu, pangeran Yan meninggalkan tempat sebelum acaranya selesai.”

Pangeran Yan adalah julukan resmi kerajaan yang diberikan pada Rei. Sedangkan kakaknya Xue Lingxi mendapat julukan pangeran Lie.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!