NovelToon NovelToon
Sang Tuan Mafia

Sang Tuan Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Mafia
Popularitas:545
Nilai: 5
Nama Author: Yanti Topato

Semua orang mengenal Bintang Prakasa sebagai pengusaha muda yang sukses, berwibawa, dan nyaris sempurna. Namanya terpampang di berbagai media sebagai pemimpin perusahaan besar yang terus berkembang dari tahun ke tahun. Dengan wajah tampan, kecerdasan tajam, dan kekayaan yang melimpah, ia menjadi sosok yang dikagumi banyak orang.

Namun tidak ada yang tahu kehidupan sebenarnya di balik senyum tenangnya.

Di balik dunia bisnis yang gemerlap, Bintang adalah pria yang mengendalikan salah satu organisasi paling berpengaruh di dunia bawah. Namanya dihormati sekaligus ditakuti. Satu perintah darinya mampu mengubah nasib seseorang dalam sekejap.

Meski memiliki segalanya, hidup Bintang tidak pernah benar-benar damai.

Lima belas tahun lalu, ayahnya meninggal dalam sebuah peristiwa yang dianggap sebagai kecelakaan. Semua orang menerima penjelasan itu, kecuali Bintang. Ia yakin ada tangan-tangan kotor yang terlibat dalam kematian ayahnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yanti Topato, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 31 Siapa Bintang?

"Apa maksudmu dengan pertanyaan itu?" tanya Bintang sambil menatap Gavin tanpa berkedip.

"Maksudku sederhana." Gavin menyandarkan tubuhnya ke pintu sambil memasukkan kedua tangan ke dalam saku jaket. "Kalian terlalu sibuk mencari siapa Bima, sampai lupa memastikan siapa sebenarnya Bintang Mahardika."

"Itu omong kosong." Bintang menggeleng pelan sambil mengepalkan tangannya.

"Benarkah?" Gavin mengangkat sebelah alis sambil tersenyum tipis.

Viktor mengembuskan napas panjang sambil memejamkan mata sesaat, reaksinya tidak luput dari perhatian siapa pun yang berada di ruangan itu.

"Kau tahu sesuatu." Rania menatap Viktor sambil mengernyit. "Dan kali ini jangan bilang aku salah."

Viktor tidak langsung menjawab, tatapannya beralih kepada Bintang sebelum kembali ke foto yang masih terpampang di layar monitor.

"Aku memang tahu sesuatu." Viktor mengangguk pelan sambil mengusap wajahnya kasar.

Ruangan langsung menjadi sunyi karena semua orang menunggu kalimat berikutnya.

"Kalau begitu katakan." Bintang melangkah maju sambil menatapnya tajam.

"Aku tidak pernah yakin seratus persen." Viktor mengembuskan napas panjang. "Karena itulah aku memilih diam."

"Itu bukan alasan." Leonard menyilangkan tangan di dada sambil mendengus pelan.

"Tidak." Viktor mengangguk pelan. "Tapi itu kenyataannya."

"Apa yang sebenarnya kau sembunyikan?" tanya Arsen sambil menatap Viktor lekat-lekat.

Viktor berjalan mendekati layar monitor sebelum berhenti tepat di depannya, wajahnya terlihat jauh lebih tua malam itu dibandingkan beberapa jam sebelumnya.

"Dua puluh lima tahun lalu, setelah kebakaran terjadi, kami hanya berhasil menemukan satu anak." Viktor menatap foto lama itu beberapa saat sebelum kembali berbicara. "Anak itu mengalami luka ringan dan syok berat."

"Itu Rania?" tanya Raka sambil mengernyit.

"Ya." Viktor mengangguk pelan.

"Bagaimana dengan yang lain?" tanya Rania sambil mengepalkan tangannya.

"Itulah masalahnya." Viktor menggeleng pelan. "Dua anak lainnya menghilang."

Gavin tersenyum tipis sambil tetap diam.

"Terus?" tanya Bintang sambil menyipitkan mata.

"Beberapa bulan kemudian, seorang pria datang membawa seorang bayi laki-laki." Viktor menatap Bintang lurus. "Pria itu mengatakan bayi tersebut ditemukan tidak jauh dari lokasi kebakaran."

Jantung Bintang langsung berdegup lebih cepat.

"Dan bayi itu aku?" tanyanya sambil menelan ludah.

"Aku tidak pernah tahu pasti." Viktor mengangguk pelan. "Karena pria itu menghilang sebelum kami sempat menyelidikinya.".

"Aku tidak suka ke mana arah cerita ini." gumam Rangga sambil mengusap tengkuknya.

"Aku juga." Damar mengangguk pelan sambil menatap lantai.

Bintang tetap diam, untuk pertama kalinya sejak semua rahasia itu mulai terungkap ia merasa takut mendengar jawaban berikutnya.

"Siapa pria yang membawa bayi itu?" tanya Rania sambil memecah keheningan.

"Kami tidak pernah menemukan identitasnya." jawab Viktor sambil menggeleng pelan.

"Itu tidak mungkin." Leonard mendengus pelan. "Kalian selalu menemukan identitas semua orang."

"Kecuali dia."

Suasana kembali hening karena semua orang tahu Viktor tidak sedang berbohong.

"Apa kau pernah melihat wajah pria itu?" tanya Arsen sambil mengangkat alis.

"Pernah." Viktor mengangguk pelan.

"Kalau begitu siapa dia?" tanya Bintang sambil menatapnya tajam.

Viktor membuka mulut, tetapi Gavin lebih dulu tertawa kecil.

"Pertanyaan itu jauh lebih menarik." Gavin menoleh ke arah Viktor sambil tersenyum tipis.

"Diam!" bentak Septian sambil menatapnya dingin.

"Aku hanya menikmati pertunjukan." Gavin mengangkat bahu santai.

"Aku ingin tahu satu hal." Raka melangkah maju sambil menatap Viktor. "Kenapa kau tidak pernah menceritakan ini kepada Bintang?"

"Karena aku tidak ingin menghancurkan hidupnya." jawab Viktor sambil mengembuskan napas panjang.

"Dan sekarang?" tanya Raka sambil mengernyit.

"Sekarang aku tidak punya pilihan."

Bintang tertawa hambar sambil menggeleng pelan.

"Lucu sekali." Ia menatap Viktor dengan tatapan datar. "Selama ini aku mengira hidupku rumit karena pekerjaanku."

"Kau marah?" tanya Rania sambil menoleh ke arahnya.

"Aku bahkan tidak tahu harus merasakan apa." Bintang mengusap wajahnya kasar.

"Itu jawaban yang masuk akal." ujar Arsen sambil mengangguk pelan.

"Untuk pertama kalinya aku setuju denganmu." balas Bintang sambil mendengus pelan.

Suara notifikasi kembali terdengar dari salah satu monitor keamanan, kali ini operator yang berjaga langsung berdiri dari kursinya dengan wajah tegang.

"Tuan Viktor." Pria itu menelan ludah sebelum melanjutkan. "Ada kiriman lain."

"Apa lagi sekarang?" tanya Viktor sambil mengernyit.

Operator segera membuka file yang baru masuk, dalam hitungan detik sebuah video muncul di layar besar. Semua orang langsung menoleh.

"Putar." perintah Leonard sambil menyipitkan mata.

Video itu mulai berjalan, layar menampilkan sebuah ruangan gelap yang hanya diterangi satu lampu redup. Di tengah ruangan tampak seorang pria tua duduk di kursi kayu sambil menatap kamera.

Rania langsung membeku, Septian kehilangan warna di wajahnya, sedangkan Leonard terlihat seperti baru saja melihat hantu.

"Itu tidak mungkin..." bisik Leonard sambil mundur selangkah.

"Siapa dia?" tanya Bintang sambil menatap layar.

Tidak ada yang langsung menjawab.

Pria tua dalam video itu tersenyum tipis sebelum membuka mulut.

"Kalau kalian sedang menonton ini, berarti Gavin berhasil menemukan kalian." Suaranya terdengar tenang, tetapi memiliki tekanan yang membuat ruangan terasa semakin dingin.

Gavin hanya tersenyum sambil menyandarkan tubuhnya ke dinding.

"Sudah lama sekali." lanjut pria tua itu sambil menatap kamera. "Aku hampir lupa bagaimana wajah kalian sekarang."

"Katakan siapa dia." Bintang menatap Leonard sambil mengepalkan tangannya.

"Itu Adrian Mahardika." Leonard menelan ludah sebelum akhirnya menjawab.

Nama itu membuat seluruh ruangan membeku.

"Mahardika?" ulang Rania sambil membelalak.

"Ya." Leonard mengangguk pelan.

Jantung Bintang langsung berdegup semakin cepat karena itu adalah nama keluarganya.

"Itu ayahku?" tanyanya dengan suara rendah.

"Tidak ada yang tahu pasti." jawab Leonard sambil menggeleng pelan.

"Aku mulai membenci kalimat itu." gerutu Bintang sambil memijat pelipisnya.

Video terus berjalan.

"Aku tahu kalian memiliki banyak pertanyaan." Adrian tersenyum tipis sambil menyilangkan tangan. "Dan aku tahu sebagian besar pertanyaan itu berhubungan dengan tiga anak yang hilang."

Rania mengepalkan tangannya, Raka menatap layar tanpa berkedip, sedangkan Arsen terlihat semakin tegang.

"Kalian sudah menemukan dua di antaranya." lanjut Adrian sambil mengangguk pelan. "Itu lebih cepat dari perkiraanku."

"Dia tahu tentang kita." gumam Raka sambil mengernyit.

"Jelas dia tahu." balas Arsen sambil mendengus pelan.

"Lalu siapa yang ketiga?" tanya Rania sambil menatap layar seolah berharap pria itu bisa mendengarnya.

Seolah menjawab pertanyaan tersebut, Adrian tersenyum tipis.

"Dan mengenai anak ketiga..." ucapnya sambil berhenti sesaat. "Aku rasa sudah waktunya kalian mengetahui kebenaran."

Tidak ada seorang pun yang bergerak, tidak ada seorang pun yang berbicara karena semua orang menunggu jawaban yang sama.

"Kebenaran apa?" tanya Bintang pelan sambil menatap layar.

Video terus berjalan, namun sebelum Adrian sempat melanjutkan layar tiba-tiba berubah gelap.

"Brengsek!" umpat Damar sambil menghantam meja.

"Apa yang terjadi?" tanya Viktor sambil menoleh ke operator.

"Seseorang memutus koneksinya." jawab operator sambil mengetik cepat.

Ruangan langsung dipenuhi suara protes dan umpatan, sedangkan Gavin hanya tersenyum tipis.

"Kalian benar-benar suka membuatku kesal." ujar Bintang sambil menatap pria itu tajam.

"Itu memang salah satu bakatku." Gavin mengangkat bahu santai.

"Tidak ada yang lucu." bentak Septian sambil melangkah maju.

"Tidak." Gavin mengangguk pelan. "Yang lucu adalah kalian masih belum menyadarinya."

"Menyadari apa?" tanya Rania sambil mengernyit.

Gavin menatap satu per satu wajah yang berada di ruangan itu sebelum akhirnya berhenti pada Bintang.

"Bahwa jawaban yang kalian cari selama ini..." ujarnya sambil tersenyum tipis, "...sebenarnya sudah berdiri di tengah ruangan bersama kalian."

Kalimat itu membuat semua orang membeku dan untuk pertama kalinya malam itu... tatapan mereka perlahan beralih ke arah yang sama, ke arah Bintang.

1
Glastor Roy
yg bayak tor up ya
Glastor Roy
yg bayak tor up ya hari ini
Glastor Roy
yg bayak tor up ya
Glastor Roy
update ya dong torku
Glastor Roy
seru kali torku yg baik hati
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!