Di tengah duka kehilangan bayinya dan pengkhianatan suaminya, Shanum berjuang sendirian demi kesembuhan Sang Nenek, satu-satunya keluarga yang ia miliki.
Bekerja sebagai ART dengan upah kecil, tak cukup untuk membiayai pengobatan jantung sang nenek di rumah sakit.
Kondisi ini menarik simpati Dokter Daniel yang menangani neneknya. Daniel sendiri tengah didera lara, ia ditinggal selingkuh oleh istrinya dan kini merawat putri kecilnya yang berusia empat bulan seorang diri.
Masalah kian pelik karena sang bayi mengalami alergi susu formula dan sangat bergantung pada donor ASI.
Didorong rasa iba dan kebutuhan yang mendesak, Daniel menawarkan Shanum pekerjaan sebagai pengasuh sekaligus ibu susu bagi putrinya. Bagi Shanum, ini dilema antara kehormatan dan kebutuhan ekonomi. Tanpa ia sadari, bayi kecil yang butuh dekapannya itu perlahan menjadi obat bagi trauma kehilangan buah hatinya.
Akankah pertemuan dua jiwa yang sama-sama patah ini menjadi awal dari kesembuhan luka mereka berdua?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eli Priwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 20
Dengan langkah yang diselimuti kegugupan, Daniel melangkah masuk melintasi ambang pintu. Shanum bergeser mundur, seolah mempersilakan pria itu masuk ke dalam kamar pengantin mereka. Kepalanya tertunduk dalam, sama sekali tidak berani menatap sepasang netra suaminya yang tajam dan mengintimidasi bagaikan mata elang.
Daniel berdehem pelan, mengusap tengkuknya yang mendadak terasa kaku. "Maaf, Num. Tadinya aku sama sekali tidak berniat untuk masuk dan mengganggu ketenanganmu di sini, tapi..." Daniel menggantung kalimatnya, benar-benar bingung dan kehilangan kata-kata untuk menjelaskan situasi kocak akibat ulah ibunya.
Shanum mencoba menarik napasnya dalam-dalam demi meredakan debar di dadanya. "Saya sudah tahu, Pak Dokter... eh, m...maksud saya... Mas Daniel," jawab Shanum terbata-bata. Karena terlampau salah tingkah, ia refleks menggigit bibir bawahnya sendiri.
Mendengar Shanum yang begitu kaku dan canggung saat memanggil dirinya dengan sebutan "Mas", ada rasa hangat yang menggelitik di sudut hatinya Daniel. Sebuah senyuman tipis yang sangat menawan terukir di bibir tegas sang dokter.
"Jika kamu belum terbiasa memanggil namaku dengan sebutan 'Mas', tidak usah dipaksakan. Panggil saja seperti biasanya, aku tidak keberatan," ujar Daniel lembut, mencoba mencairkan ketegangan. Pria itu melirik ke arah luar koridor sebentar. "Aku tahu, panggilan itu pasti atas perintah ibuku, kan?"
Shanum mendongak sedikit lalu menganggukkan kepalanya pelan. Respons jujur itu membuat Daniel menghela napas panjang sembari menggeleng-gelengkan kepalanya. "Sudah kuduga, Mamah memang selalu seperti itu."
Setelah dialog singkat itu, suasana di dalam kamar pengantin kembali diselimuti keheningan yang canggung. Shanum yang ingin memecah ketegangan segera menunjuk ke arah meja kayu kecil di sudut ruangan.
"Oh iya... tadi Nyony... maksud saya Mamah, menyiapkan ini untuk kita," ucap Shanum pelan.
Daniel menoleh ke arah meja, di mana terdapat dua gelas susu putih hangat yang permukaannya masih mengepulkan uap tipis. Daniel tersenyum tipis di dalam hati. Rupanya sang ibu masih menghafal dengan sangat baik kebiasaan masa kecilnya yang selalu meminum segelas susu hangat sebelum tidur.
Daniel melangkah mendekat, mengambil salah satu gelas lalu menyesapnya perlahan. Melihat sang suami meminumnya, Shanum pun ikut mengambil gelas satunya lagi dan meminumnya hingga tandas.
Setelah kedua gelas itu kosong, rasa lelah yang teramat sangat setelah seharian berdiri menyambut tamu mendadak mendera tubuh Daniel. Ditambah lagi, rasa gugup yang terus bergelayut sejak melihat penampilan baru Shanum membuatnya butuh tempat bersandar. Dengan langkah pelan, Daniel berjalan menuju ranjang berukuran king size yang sudah dihias indah dan ditaburi kelopak bunga mawar merah. Ia merebahkan tubuh jangkungnya di atas sana, memejamkan matanya sejenak untuk menenangkan pikiran.
Sementara itu, Shanum masih tetap bergeming di posisinya. Ia berdiri mematung di dekat area pintu, tampak bingung dan takut untuk melangkah lebih dekat ke arah ranjang.
Daniel membuka matanya, lalu menoleh ke arah Shanum. "Sampai kapan kamu mau berdiri di sana terus, Num? Kemari dan duduklah di sini," panggil Daniel, suaranya terdengar berat dan dalam.
Melihat Shanum yang masih ragu, Daniel memposisikan dirinya miring, menatap wanita itu dengan sorot mata yang meyakinkan. "Kau tenang saja... aku akan selalu memegang teguh janjiku di ruang kerja tempo hari. Aku tidak akan menyentuhmu tanpa izinmu."
Mendengar penegasan janji dari bibirnya Daniel, Shanum seketika menghembuskan napasnya lega. Ketakutan di wajahnya sirna. Ia melangkah pelan dan anggun menuju tempat tidur, lalu mendudukkan dirinya di sisi ranjang. Tentu saja, ia mengambil jarak yang lumayan jauh di ujung kasur, menyisakan ruang kosong yang lebar di antara mereka.
Daniel terus memperhatikan gerak-gerik wanita yang kini berstatus sebagai istrinya itu. Shanum tampak bergerak pelan, tangannya yang lentik meraih sebuah jepitan rambut dari meja kecil. Dengan gerakan anggun, ia mengangkat rambut panjangnya yang bergelombang, lalu menjepitnya rapi ke atas.
Tindakan sederhana itu seketika menyingkap bagian belakang kepala dan leher jenjang Shanum. Di bawah temaramnya lampu kamar pengantin, kulit leher Shanum terlihat begitu putih, bersih, dan sehalus sutra, persis seperti warna susu putih hangat yang barusan mereka minum bersama.
Glek.
Seketika, jakun Daniel bergerak naik turun dengan susah payah. Pemandangan indah dan intim yang tersaji di depan matanya itu benar-benar menguji pertahanan dirinya sebagai seorang pria normal. Daniel langsung memalingkan wajahnya ke langit-langit kamar, meremas ujung bantalnya sembari merutuki detak jantungnya yang mendadak berdegup dua kali lebih kencang dari biasanya.
Untuk menghilangkan rasa canggung yang semakin menebal dan menyiksa, Daniel berdehem pelan. Ia mengubah posisi tidurnya menjadi menyamping, menumpu kepalanya dengan satu tangan sambil menatap punggung Shanum.
"Num... daripada kita terjebak dalam suasana kaku seperti ini, bagaimana kalau kita mengobrol? Ceritakan padaku, bagaimana masa kecilmu dulu di kampung?" tanya Daniel, mencoba mencairkan suasana.
Shanum menoleh sedikit, tampak terkejut namun kemudian mengangguk setuju. "Masa kecil saya sangat sederhana, Pak Dokter. Dulu saya sering membantu Nenek memetik sayuran di kebun untuk dijual ke pasar, lalu sorenya bermain petak umpet bersama anak-anak kampung."
Daniel mendengarkan dengan penuh perhatian, sesekali mengulas senyum tipis. Bergantian, Daniel pun mulai menceritakan masa kecilnya yang berbanding terbalik dan penuh dengan les privat, aturan ketat khas keluarga beradab, namun juga terselip kisah jenaka saat ia mencoba membolos dari les biola.
Meskipun di tengah obrolan rasa kantuk yang lumayan hebat mulai menyerang akibat kelelahan seharian, keduanya terus menyahut. Waktu terus bergulir hingga jarum jam dinding menunjukkan pukul 12.00 malam. Shanum dan Daniel berkali-kali menguap lebar, namun malam ini mereka entah bagaimana terlihat jauh lebih akrab dan hangat setelah saling berbagi potongan masa lalu.
"Mas... Pak Dokter, maaf saya permisi ke toilet sebentar," pamit Shanum sembari beranjak dari sisi ranjang.
"Silakan, Num," ujar Daniel dengan suara yang sudah agak serak karena kantuk.
Shanum melangkah masuk ke dalam kamar mandi. Saat melihat ke arah cermin, ia baru teringat jika tadi setelah mandi dan mengeringkan rambutnya setelah keramas, Shanum lupa dan belum melepaskan kabel hairdryer dari colokan dinding. Takut terjadi korsleting, Shanum pun buru-buru melangkah ke arah sana untuk menarik kabelnya.
Pretek!
Tepat saat Shanum menarik paksa kabel tersebut, tiba-tiba terdengar suara letupan kecil dari saklar utama, dan sedetik kemudian seluruh lampu di dalam kamar pengantin langsung padam total. Suasana berubah menjadi gelap gulita. Shanum yang memang dasarnya takut akan kegelapan seketika tersentak panik.
"Aaaah!" jerit Shanum kecil, terkejut setengah mati.
Di kamar utama, Nyonya Tania dan Tuan Lee yang sebenarnya belum tertidur karena terus memantau situasi kamar pengantin, langsung menegakkan posisi duduk mereka di atas kasur saat mendengar suara samar dari dinding sebelah.
"Pah... Pah, Papah denger kan suara barusan?" bisik Nyonya Tania setengah heboh, menyenggol lengan suaminya.
Tuan Lee tersenyum lebar, lalu mengangguk-angguk sembari menaikkan kedua alisnya dengan tatapan menggoda. "Iya, Mah... Papah dengar. Suara jeritan manja. Akhirnya, putra kita sudah menjadi pria normal lagi, Mah!"
Tuan Lee kemudian menatap istrinya dengan pandangan jahil. "Mah... gara-gara mereka, Papah jadi kepingin bernostalgia seperti mereka dulu waktu muda."
Mendengar celetukan sang suami di tengah malam buta, Nyonya Tania terkejut setengah mati. Wajah paruh baya nya merona merah. "Papah! Kau ini sudah tua tapi masih saja nakal, ya!" ucap Nyonya Tania sembari mencubit pelan pinggang suaminya, membuat pria itu terkekeh geli di dalam kamar yang temaram.
Sementara itu, kondisi di dalam kamar pengantin jauh dari apa yang dibayangkan oleh kedua orang tuanya Daniel.
Begitu lampu padam, Shanum yang didera rasa takut luar biasa langsung berlari kencang keluar dari kamar mandi tanpa arah. Karena kondisinya yang gelap gulita, langkah kakinya menjadi tidak seimbang hingga akhirnya...
Bruk!
Tubuh ramping Shanum menabrak keras dada bidang dan tubuh kekar suaminya yang rupanya sudah beranjak bangkit dari ranjang tempat tidur untuk memeriksa keadaan. Tanpa berpikir panjang, Shanum langsung melingkarkan kedua tangannya, memeluk erat pinggangnya Daniel. Tubuhnya bergetar hebat di dalam dekapan pria itu karena ketakutan yang mendalam pada kegelapan.
Deg!
Sentuhan fisik yang teramat intim dan mendadak itu membuat Daniel mematung seketika. Jantungnya berdegup sangat kencang, bertalu-talu di dalam rongga dadanya. Daniel merasakan sekujur tubuhnya meremang hebat saat kehangatan tubuh Shanum menyapu piyama satinnya, ditambah aroma harum rambut Shanum yang langsung menyeruak menusuk indra penciumannya.
"Num... Shanum, tenanglah. Ini hanya lampu padam," bisik Daniel, suaranya mendadak berubah menjadi sangat serak dan berat.
Namun, Shanum seolah tidak mendengar kalimat itu. Ia semakin menyembunyikan wajah polosnya di dada bidang Daniel, meremas punggung piyama suaminya dengan erat sembari terus memeluk Daniel erat-erat, membiarkan detak jantung mereka beradu dalam keheningan malam yang gulita.
Bersambung...
shanum menahan perasaannya jangan sampai baper lagi seperti kemarin yah takutnya dokter Daniel mengatakan seperti itu hanya untuk meyakinkan hakim dan memenangkan persidangan d hak asuk ziva yah num
shanum masih gk percaya klau daniel cinta sm dia,,ayo daniel nyatakan lg perasaan mu sm shanum nanti di mobil,,biar shanum gk salah faham 🤭
Dan Sony yg mulai meragukan cinta Klara kpdnya...segera hengkang...menjauh & lepas tangan thd Klara
Biar sempurna hancurnya perempuan penuh intrik & drama itu
Cobalah utk saling jujur ttg perasaan masing²
Manatau gayung bersambut kan
Klwpun bertepuk sebelah tangan ..ya gpp...anggap uji nyali