NovelToon NovelToon
Pita Hitam Kala Senja

Pita Hitam Kala Senja

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Persahabatan / Trauma masa lalu
Popularitas:106
Nilai: 5
Nama Author: Shourizzz BP

Semua sudah berakhir. Aku yang sulit dalam bergaul, pasti akan mudah dilupakan oleh orang – orang. Tidak dekat dengan siapapun, mau itu teman atau bahkan keluarga, pasti membuat kematianku sama seperti angin yang berlalu. Tidak dikenang oleh siapapun. Hanya kesendirianan yang tersisa. Akhir yang pantas bagi orang sepertiku. Seharusnya begitu, tapi …,
Kenapa aku bisa merasakan tetesan air mata?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shourizzz BP, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

ALASAN SEBENARNYA

Aku dan Nadhifa. Hanya ada kami berdua sekarang. Aku yang masih terbaring, memaksakan diri untuk bangkit. Kulakukan agar bisa melihat Nadhifa yang duduk disebelahku. Kami masih belum bicara. Kami hanya saling lirik melirik untuk menunggu siapa yang akan mulai duluan. Sebelumnya aku sudah minta maaf pada yang lain karena menyuruh mereka keluar. Untung saja mereka tidak marah dan menurutinya. Aku tidak tau bagaimana untuk meyakinkan mereka jika mereka tidak mau keluar. Sebenarnya aku juga tidak tau kenapa aku menyuruh begitu. Kalimatku keluar secara spontan. Sama seperti sekarang. “Gimana disekolah?”

“Gak banyak berubah. Paling …, jadi lebih banyak yang bikin video buat kenang – kenangan.”

“Bukan mereka, tapi kamu.”

“Eh? Aku ngapain ya?” Nadhifa tertawa kecil. Kemudian dia terlihat memikirkan jawaban dari pertanyaanku. “Baca novel, terus …, main kartu kalau ada yang ngajak. Kayaknya itu. Aku ada bolos beberapa hari, jadi cuman itu.”

“Wah parah bolos.”

“Tapikan udah gak ada pelajaran lagi. Gakpapa dong!”

“Iyaiya, tukang bolos.”

“Ih! Apasih!”

“Maaf. Hehe.”

“Eh? Kamu gak perlu sampai minta maaf.” Senyuman diwajah Nadhifa perlahan – lahan menghilang. Dia menundukkan kepalanya. “Aku yang harusnya minta maaf.” Dia berbicara pelan, meski begitu aku masih bisa mendengarnya. Begitu kedatangan Nadhifa, aku mencoba menebak – nebak, apa alasan dia ingin bertemu denganku. Aku sempat malu karena terpikirkan hal romantis. Tapi hal itu langsung terpatahkan karena setelah aku pikir ulang, sepertinya tidak begitu. Ada alasan yang lebih kuat mengapa dia ingin bertemu denganku. Alasan yang sama ketika Clarissa ingin bicara berdua denganku. Itu sebabnya aku minta teman – teman untuk keluar. “Sebenarnya aku –“

“Stop!” Nadhifa menatapku bingung. Aku melihat matanya yang sudah mulai berkaca - kaca. Aku tidak tau harus menjelaskan seperti apa. Setelah banyak hal yang telah kulalui, setelah aku melihat berbagai emosi, aku merasa ada satu hal yang membuatku merasa tidak nyaman. Perasaan yang sama, yang selalu kurasakan. Perasaan yang tidak bisa lepas dari semua orang. Perasaan bersalah. Aku tidak mau lagi menyalahkan apapun atau siapapun. Tidak ada yang perlu disalahkan atas apa yang terjadi. Kejadian yang sudah terjadi biarlah berlalu. Aku tidak mau lagi melihat orang – orang menyalahkan dirinya sendiri, termasuk aku, Clarissa, atau bahkan Nadhifa. “Kamu gak perlu jelasin soal uang kas. Semua orang pernah ngelakuin kesalahan, jadi gak perlu bilang apa – apa.”

“Kamu udah tau?” Nadhifa masih terlihat bingung. Dia menatapku sesaat sebelum kembali menunduk. Kuberikan sebuah senyuman saat itu terjadi. “Berarti kamu ngeliat ya waktu aku naroh uang ditas Clarissa?” Aku mengiyakan. “Kenapa? Kenapa kamu gak langsung bilang kalau pelakunya aku?”

“Aku pikir kamu punya alasan.”

“Memang punya, tapi itu bukan alasan yang ngebuat apa yang kulakukan jadi benar.”

“Kebetulan disini gak ada orang lain selain aku. Gimana kalau kamu cerita?”

“Kenapa?” Nadhifa melihat kearahku. Sepertinya dia menyadari alasanku meminta waktu berdua dengannya. Aku hanya menatapnya balik tanpa bersuara. Aku pikir dia mengerti maksudku tanpa perlu dijelaskan. “Kamu yakin mau dengar?” Aku mengangguk. Nadhifa menengok sekitar. Dia memastikan kalau benar – benar tidak ada yang memperhatikan kami. “Aku disuruh Yasmine.” Sesuai dugaanku. Nadhifa melakukannya bukan karena keinginan dari dirinya sendiri. “Aku gak tau kamu memperhatikan kami atau nggak, cuman aku sering kumpul bareng Yasmine. Aku gak diancam. Dia memang temanku. Dia orang baik yang nerima aku. cuman …, aku gak tau kenapa sekarang jadi begini.

Aku kenal Yasmine waktu kelas 11. Sebelumnya cuman tau nama, tapi baru dekatnya waktu kelas 11. Dia ngenalin aku sama teman – temannya yang lain, aku jadi punya banyak kenalan. Dia juga sering ngajak aku main, aku jadi tau tempat – tempat yang seru. Terus aku juga sering diajak kerumahnya. Kami ngabisin banyak waktu bersama.

Ada suatu waktu aku gak turun karena sakit. Keesokan harinya aku dengar kabar kalau Yasmine ribut sama Clarissa. Aku gak langsung percaya, jadi aku tanya langsung ke orangnya. Dia ngelak setiap aku tanya, dia bahkan sempat marah karena aku terlalu sering ngebahas. Kebetulan suatu hari aku ketemu sama Clarissa, saat itu momennya keliatan pas, jadi aku tanya aja alasan mereka berkelahi. Saat itulah aku tau alasannya, karena seorang cowok bernama Dimas.

Aku gak tau Yasmine tau darimana kalau aku nanya Clarissa, cuman dia nganggepnya aku ngebela Clarissa. Sejak itu dia mulai berubah. Dia nyuruh aku inilah itulah. Pokoknya hal – hal yang sebelumnya gak pernah dia lakuin. Kadang aku nolak, cuman dia keliatan marah waktu aku begitu. Jadi tetap aku lakuin selagi bisa. Aku juga tetap ngumpul bareng Yasmine, aku juga tetap kerumahnya, cuman gimana bilangnya? Rasanya beda aja.

Hari sabtu. Hari dimana aku disuruh buat naroh uang kas di tas Clarissa. Aku sempat nolak berkali – kali sebelumnya, tapi bukannya nyerah, Yasmine malah ngasih ancaman yang lebih berat setiap harinya. Aku tetap nolak karena tau resikonya akan parah. Aku gak mau ngelakuin apa yang dia suruh, sampai dia ngasih ancaman itu. sesuatu yang gak bisa aku tolak. Aku terpaksa ngelakuinnya karena kepentinganku sendiri. Saat itulah kamu muncul. Kamu ngebela Clarissa. Kamu ngebuat aku sadar kalau pilihan yang aku buat emang salah.”

Nadhifa sama sepertiku. Bukan secara personal, tapi berdasarkan hubungan. Hubungan dia dengan Yasmine, sama dengan hubunganku dan Dimas dulu. Perbedaannya adalah dia tetap bertahan. Dia jauh lebih kuat dibandingkan aku secara pribadi. Dia tidak perlu bantuan orang lain untuk tau perubahan yang terjadi pada temannya. Disisi lain, aku bahkan masih belum tau sampai sekarang alasan sikap Dimas berubah. Aku dan Nadhifa tidak bisa dibandingkan. Dia orang yang bisa mengatasi masalah seorang diri. Dia orang yang tidak menyerah untuk menolong temannya. Dia adalah orang yang kuhormati. “Bagus kalau udah sadar. Berarti udah selesai.”

“Aku udah cerita panjang – panjang, masa reaksinya gitu doang?”

“Jangan cemberut! Tadi cuman kata pembuka.” Meski aku menyuruhnya untuk tidak cemberut, Nadhifa tidak menghiraukannya. Dia masih saja begitu. “Hmm …, sebelumnya makasih udah cerita. Jujur aku bingung harus ngerespon gimana. Aku tau kalau kamu sama sekali gak ada niatan jahat. Aku tau kamu ngelakuin bukan karena kamu mau. Makanya aku gak perlu permintaan maaf. Sebenernya aku udah pernah bilang ini ke Clarissa, cuman biar aku ulangin lagi buat kamu. Seharusnya kamu gak ngeliat sesuatu dari sisi negatifnya.”

“Apa hal baik dari kesalahan yang aku buat?”

“Dari aku. Meski keadaanku sekarang begini, tapi aku ngerasa lebih baik dari sebelumnya. Aku ngerasa beban dalam pikiranku hilang. Dari kamu. Kamu …, jadi tau apa salahmu. Itu bisa jadi pelajaran buat ke depannya. Ingat kata – kata Bu Mika dikelas. Hehe.”

“Kamu bercanda mulu.” Dia tersenyum, tapi hanya sebentar. Dia kembali cemberut. Malah lebih dari itu, dia kembali terlihat sedih. “Kenapa kamu gak langsung bilang pelakunya aku?” Padahal aku sudah berusaha keras membuat candaan agar dia tidak terlalu memikirkan soal rasa bersalah. Sepertinya itu memang bukan sesuatu yang bisa hilang begitu saja. “Padahal, waktu kamu mulai bicara, aku udah siap kalau aku yang disalahin. Aku pikir itu balasan yang cocok buat orang kaya aku.”

Pertanyaan menarik. Sebenarnya tindakan yang aku lakukan untuk nyelamatin Clarissa bukanlah cara terbaik yang kupikirkan. Ada cara lain yang lebih mudah. Itu adalah dengan cara mengatakan kebenaran. Aku hanya perlu bilang kalau Nadhifa yang dengan sengaja menaruh uang kas di tas Clarissa. Masalah akan langsung selesai saat itu juga. Cara yang sama yang terpikirkan olehku, sebelum terjadi pengulangan. Aku terus mengulang pemikiran itu. seberapa banyak kupikirkan, aku merasa kalau hal itu adalah sebuah kesalahan. Aku merasa kasus itu bukan hanya soal mencari kebenaran. Melainkan, bagaimana agar tidak ada masalah yang muncul berikutnya. “Bagiku kamu bukan pelaku. Clarissa juga bukan. Gak ada pelaku. Gak semua masalah soal gimana nyelesaiinnya, kadang proses lebih penting daripada hasil. Aku baru aja belajar soal itu.”

               “Kamu …, berubah ya.” Nadhifa menatapku kagum. Itu cuman perasaanku, bisa saja aku yang cuman terlalu percaya diri. Tapi, setidaknya begitulah yang aku rasakan. “Maksudku bukan yang aneh. Kamu keliatan jadi lebih ….”

“Lebih apa?”

“Lebih semangat hidup?”

“Emangnya aku gimana sebelumnya di mata kamu?”

"Keliatan lesu, gak ada motivasi, sama gak peduliin sekitar – Eh! Tapi kamu pintar kok dalam pelajaran!”

Aku pikir Nadhifa tidak bermaksud jahat. Dia hanya mengutarakan pendapatnya sesuai dengan pertanyaan yang aku ajukan. Aku hanya tidak menyangka kalau dia akan benar – benar mengatakan pemikirannya tanpa rem sedikit pun. Disaat seperti sekarang, aku harus mengingat kembali kalimat yang pernah aku katakan pada orang lain, jangan melihat sesuatu dari sisi negatifnya. Setidaknya Nadhifa menganggap kalau aku pintar.

Aku ingin merespon dengan candaan, cuman aku tiba – tiba terpikirkan sesuatu yang lebih penting. Aku merasa harus menyampaikan padanya. “Aku gak dendam sama kamu, jadi kamu juga jangan dendam sama siapapun.” Nadhifa tersenyum, dia mengucapkan terimakasih padaku.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!