NovelToon NovelToon
Istri Kecil Tuan Devano

Istri Kecil Tuan Devano

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Perjodohan / Nikah Kontrak
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: adawiya

Alana Wijaya tidak pernah menduga hidupnya akan berubah menjadi neraka dalam semalam. Demi menyelamatkan perusahaan keluarganya yang diambang kehancuran, ia dipaksa menjadi pengantin pengganti untuk menikahi Devano Adhitama—seorang CEO arogan yang dikenal sebagai monster berdarah dingin dan harus duduk di kursi roda akibat kecelakaan misterius.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon adawiya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11 percikan api

Grand Ballroom Hotel Bintang Lima malam itu bertabur kemewahan yang menyilaukan. Pameran Bisnis Tahunan yang dihadiri oleh para taipan papan atas dan investor internasional diubah menjadi panggung perputaran uang dan kekuasaan. Lampu gantung raksasa memancarkan cahaya keemasan, memantul pada gaun-gaun sutra mahal dan setelan jas desainer ternama yang dikenakan para tamu undangan.

Alana melangkah masuk dengan gaun formal bersiluet mermaid berwarna hijau zamrud yang melekat sempurna di tubuh rampingnya. Potongan gaun itu sangat berkelas—tertutup namun mempertegas lekuk pinggang dan keanggunan leher jenjangnya. Rambut hitamnya disanggul modern, menyisakan beberapa helai yang membingkai wajah cantiknya yang dipulas riasan natural namun tegas.

Di sampingnya, Devano Adhitama duduk tegak di atas kursi roda elektriknya. Setelan jas hitam tiga potong (three-piece suit) membuat sang tirani terlihat luar biasa tampan namun memancarkan aura kegelapan yang pekat. Tatapan mata elangnya menyapu ruangan dengan dingin, membuat siapa pun yang berniat mendekat langsung mengurungkan niat karena terintimidasi.

"Jaga ekspresi wajahmu, Alana," desis Devano dengan suara rendah yang seksi, tanpa menoleh sedikit pun ke arah istrinya. "Kau adalah asisten pribadi sekaligus Nyonya Adhitama malam ini. Jangan biarkan mata-mata di ruangan ini melihat celah dari pernikahan kita."

Alana menarik napas dalam-dalam, meremas pelan tas genggam satinnya untuk menutupi getaran di jemarinya. "Saya tahu, Tuan Devano. Saya tidak akan mempermalukan Anda."

Setelah insiden pembersihan Siska di dermaga beberapa hari lalu, Alana sadar hidupnya telah berubah total. Ia telah diseret masuk ke dalam pusaran takdir Devano yang kejam. Di satu sisi, pria ini melindunginya dari kehancuran luar biasa yang direncanakan keluarganya sendiri. Namun di sisi lain, Devano adalah pemilik rantai kasat mata yang kini melilit erat leher Alana, menguncinya dalam kepatuhan mutlak tanpa akhir.

"Ah, Tuan Besar Devano Adhitama. Sebuah kehormatan bisa melihat Anda menghadiri pameran ini."

Sebuah suara bariton yang terdengar renyah, penuh percaya diri, dan sarat akan nada provokasi tiba-tiba memecah keheningan di sekitar mereka.

Alana menoleh dan seketika terpaku. Seorang pria bertubuh jangkung dengan setelan jas abu-abu modern sedang melangkah mendekat. Pria itu memiliki wajah yang luar biasa tampan dengan garis rahang yang tegas, namun berbeda dengan Devano yang berwajah sedingin es, pria ini mengulas senyuman tipis yang memikat. Sepasang mata cokelat terangnya memancarkan kilat kecerdasan sekaligus kelicikan yang setara dengan Devano.

Dia adalah Julian Mahendra, CEO Mahendra Group—rival abadi Adhitama Group yang selama bertahun-tahun menjadi satu-satunya pria yang berani menantang dominasi Devano di dunia bisnis.

Sepasang mata elang Devano seketika menyipit pekat. Aura membunuh yang sangat dingin langsung meluap dari tubuh kekarnya, membuat udara di sekitar mereka mendadak turun beberapa derajat. "Julian. Aku tidak tahu pameran kelas atas seperti ini mengizinkan lintah darat sepertimu masuk."

Julian terkekeh rendah, sebuah tawa yang terdengar sangat menjengkelkan di telinga Devano. Pria itu mengabaikan sindiran tajam Devano, karena perhatiannya kini telah teralihkan sepenuhnya pada sosok Alana yang berdiri anggun di samping kursi roda sang rival.

Kilat ketertarikan yang sangat pekat melintas di mata cokelat Julian. Ia melangkah satu langkah lebih dekat, mempersempit jarak dengan Alana hingga membuat Devano mengepalkan tangan kanannya di atas sandaran kursi roda hingga buku jarinya memutih.

"Dan siapa wanita cantik ini?" tanya Julian dengan suara yang sengaja dilembutkan, menatap lurus ke dalam manik mata Alana. "Kudengar rumor bahwa penguasa Adhitama baru saja menikahi seorang dewi tersembunyi. Ternyata rumor itu terlalu meremehkan kecantikan aslimu, Nyonya."

Sebelum Alana sempat merespons, Julian dengan gerakan cepat membungkukkan tubuhnya, meraih jemari tangan kanan Alana yang dingin, dan berniat mendaratkan sebuah ciuman formal di punggung tangan wanita itu sebagai bentuk sapaan ala bangsawan Eropa.

Brak!

Satu sentakan kasar memutus gerakan Julian sebelum bibirnya sempat menyentuh kulit Alana.

Devano mencengkeram pergelangan tangan Alana dengan kekuatan yang luar biasa dan menarik wanita itu dengan satu hentakan brutal. Tubuh ringkih Alana kehilangan keseimbangan, terdorong ke depan hingga jatuh terjerembap tepat di atas pangkuan kekar Devano.

Lengan kekar Devano langsung melingkar erat di pinggang ramping Alana, mengunci tubuh wanita itu tanpa ampun agar melekat erat pada dada bidangnya yang sekeras batu karang. Tatapan mata Devano yang tertuju pada Julian kini berkilat dengan kegilaan posesif yang sangat ekstrem.

"Singkirkan tangan kotormu dari properti milikku, Julian," desis Devano dengan suara serak yang sangat rendah, namun sarat akan ancaman kematian yang mutlak. "Satu kali lagi kau mencoba menyentuhnya, aku pastikan Mahendra Group akan lenyap dari bursa saham sebelum fajar menyingsing."

Julian mundur satu langkah, mengangkat kedua tangannya ke udara dengan seringai licik yang semakin melebar di wajah tampannya. Pria itu tampak sangat puas karena berhasil memancing emosi sang tirani yang biasanya tak tersentuh.

"Wow, santai, Tuan Adhitama. Aku tidak tahu kau begitu protektif terhadap asisten barumu," ujar Julian penuh nada mengejek. "Nyonya Alana, jika suatu saat kau bosan dikurung di dalam sangkar es yang membosankan ini... pintu Mahendra Group selalu terbuka lebar untuk menyambutmu dengan kehangatan."

Dengan kedipan mata yang provokatif ke arah Alana, Julian berbalik dan melangkah pergi menembus kerumunan tamu, meninggalkan kepulan asap peperangan yang siap meledak.

"Jefri, kosongkan VIP Lounge lantai dua sekarang juga," perintah Devano melalui alat interkom nirkabel di telinganya. Suaranya terdengar begitu serak dan berbahaya hingga membuat Jefri di seberang sana langsung bergerak tanpa menunda satu detik pun.

Tanpa memedulikan pandangan terkejut dari para tamu undangan yang menyaksikan insiden tadi, Devano menggerakkan kursi rodanya dengan kecepatan tinggi menuju lift privat, dengan Alana yang masih dipaksa duduk di atas pangkuannya dalam posisi mengunci.

Begitu pintu VIP Lounge yang kedap suara itu tertutup dan dikunci dari luar oleh Jefri, sebuah teror baru langsung menguasai seluruh kesadaran Alana.

Klek.

Devano melepaskan cengkeraman pinggang Alana, membiarkan wanita itu berdiri dengan tubuh gemetar di atas lantai marmer yang dingin. Detik berikutnya, Alana membelalakkan matanya saat melihat Devano perlahan bangkit berdiri dari kursi roda elektriknya!

Kedua kakinya yang panjang menumpu dengan sangat kokoh, menampilkan postur tubuhnya yang tinggi besar dan mengintimidasi. Devano melangkah maju, memenjarakan Alana langsung pada dinding berlapis wallpaper beludru merah marun di sudut ruangan.

Brak!

Devano menghantamkan kedua telapak tangannya di sisi kanan dan kiri kepala Alana, mencondongkan tubuh kekarnya hingga dada bidang mereka saling menekan. Aroma parfum maskulin yang sensual bercampur wangi tembakau mahal dari tubuh Devano langsung meracuni indra penciuman Alana, memicu ketegangan yang sangat pekat dan membakar udara di sekitar mereka.

"Kau menikmatinya, Alana?!" desis Devano dengan rahang yang mengeras sempurna menahan amarah cemburu yang bergejolak dahsyat di dadanya. Sepasang mata elangnya menatap lekat-lekat pada bibir mungil Alana yang bergetar. "Kau menikmati saat bajingan itu menatapmu dan mencoba mencium tanganmu?!"

"T-tidak, Tuan Devano! Saya bersumpah!" Air mata Alana mulai menggenang di sudut matanya akibat tekanan dominasi yang terlalu menyesakkan dada. Kedua tangannya bertumpu pada dada bidang Devano, mencoba menahan jarak yang tersisa. "Saya bahkan tidak mengenalnya! Dia yang tiba-tiba mendekat..."

"Kau adalah milikku, Alana! Dari ujung rambut hingga ujung kakimu, tidak ada satu pun pria di dunia ini yang boleh menyentuhmu atau menatapmu dengan pandangan menjijikkan seperti itu!" bentak Devano serak, kilat obsesi gelap ekstrem berkobar di matanya.

Jemari tangan Devano yang besar bergerak naik, mencengkeram rahang Alana dengan kuat, memaksa wajah cantik itu mendongak mutlak menatapnya. "Jika aku melihat ada pria lain yang berani menyentuh kulitmu lagi... aku tidak hanya akan menghancurkan pria itu, tapi aku akan menandai setiap jengkal tubuhmu di tempat ini agar seluruh dunia tahu siapa pemilikmu yang sesungguhnya!"

Sebelum Alana sempat mengeluarkan suara untuk membela diri, Devano membungkuk dan langsung membungkam bibir mungil Alana dalam sebuah ciuman yang sangat kasar, panas, dan menuntut kepatuhan absolut. Alana melenguh pelan di dalam tenggorokannya, meremas kemeja hitam Devano seiring dengan rasa takut dan gairah asing yang mulai membakar seluruh sisa akal sehatnya.

Devano mengunci pinggang Alana dengan satu tangan, mengangkat tubuh wanita itu sedikit lebih tinggi di dinding, memperdalam ciuman tirani yang penuh dengan kilat kecemburuan gelap di dalam ruangan VIP yang remang-remang.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!