Kanaya Tabitha adalah definisi wanita sempurna. Cantik, pintar, dan mandiri, dia sukses membangun bisnisnya dari nol. Di balik keanggunannya, Kanaya adalah sosok wanita tangguh yang menguasai seni bela diri tingkat tinggi, dan jangan harap ada pria yang bisa mendekatinya dan mengusik hidup tenang nya, hubungan dan cinta tidak ada di dalam daftar hidup nya.
Namun, dunia indahnya runtuh saat sebuah rahasia besar mendadak memutarbalikkan hidupnya. Tubuhnya mengalami perubahan aneh yang tak masuk akal. Bagaimana bisa dia hamil tanpa pernah disentuh pria mana pun?
Kanaya tidak tahu bahwa setiap malam, rahimnya telah diklaim oleh Alexander Giorge, Raja Vampir yang posesif dan berbahaya di balik kegelapan.
"Kamu milik ku, Kanaya. Berlari lah sejauh apa pun, darah daging ku akan selalu membimbingku kembali ke tempat tidurmu. Jika ada pria lain yang berani menyentuhmu, ku pastikan namanya tinggal sejarah."_ Alexander Giorge.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hofi03, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BELAJAR MENERIMA
"Setelah ini aku harus pergi sebentar, ada sesuatu yang harus aku urus, lakukan apa pun yang kamu mau di sini, kalau butuh sesuatu minta saja sama pelayan," ucap Alexander lembut.
Pria itu meletakkan mangkuk sup yang sudah kosong ke atas meja, lalu mengambil selembar tisu untuk mengusap sisa kuah di sudut bibir Naya dengan sangat hati-hati.
Naya memundurkan kepalanya sedikit, merasa risi dengan perhatian yang terlalu intim itu, menatap Alexander dengan curiga.
"Urusan apa? Kamu mau membantai vampir-vampir liar lagi seperti kemarin sore?" tanya Naya selidik, nada suaranya ketus namun matanya tidak bisa menyembunyikan rasa penasarannya.
Alexander berdiri dari tepi ranjang, merapikan kembali lipatan lengan kemeja putihnya. Mendengar pertanyaan Naya, dia hanya tersenyum tipis tanpa ada niat untuk menyangkal.
"Hanya urusan bisnis yang sedikit terbengkalai, Sayang, kamu tidak perlu memikirkan hal-hal berdarah seperti itu. Tugasmu di sini hanya beristirahat dan memanjakan dirimu sendiri," jawab Alexander santai, seolah-olah berburu mahluk malam hanyalah pekerjaan sampingan yang biasa.
Naya mendengus kesal, melipat kedua tangannya di depan dada sambil bersandar pada tumpukan bantal empuk.
"Gimana aku bisa santai kalau dikurung di rumah sebesar ini? Keluar kamar saja aku takut nyasar, apalagi kalau mendadak ketemu pelayan kamu yang mukanya pucat-pucat itu," gerutu Naya, membayangkan suasana mansion yang terasa sangat asing baginya.
Alexander terkekeh rendah melihat wajah cemberut Naya yang menurutnya justru terlihat sangat menggemaskan, dia melangkah mendekati sisi kepala ranjang, lalu membungkukkan tubuhnya hingga wajah mereka sejajar dan sangat dekat.
"Mereka semua adalah pelayan terlatih dan tidak akan ada yang berani menyentuh seujung rambutmu, Naya. Tapi, kalau kamu benar-benar bosan dan ingin berjalan-jalan keliling mansion, aku akan meminta James untuk menemani mu," ucap Alexander, suaranya berat dan berbisik pelan di dekat telinga Naya.
Naya langsung menoleh cepat, membuat hidung mereka nyaris bersentuhan.
"James?" ulang Naya, mengerut kan kening nya.
"Dia tangan kananku yang paling bisa dipercaya, jadi, kamu aman bersamanya," jawab Alexander, memanfaatkan jarak dekat itu untuk mencuri sebuah kecupan singkat di pipi Naya yang mendadak menegang karena kaget.
Cup
"Alexander! Sialan ya, hobi banget nyari kesempatan!" amuk Naya langsung mengangkat bantalnya dan memukulkannya ke dada Alexander dengan gemas.
Alexander tertawa renyah sambil menangkap bantal tersebut dengan mudah menggunakan satu tangan nya, lalu menegakkan kembali tubuhnya, menatap Naya dengan binar mata yang penuh kemenangan.
"Aku pergi dulu, jangan nakal selama aku tidak ada, Ratu-ku," pamit Alexander dengan nada menggoda, berbalik dan melangkah mantap keluar dari kamar utama, meninggalkan Naya yang masih menggerutu hebat di atas kasur.
Setelah pintu kamar tertutup rapat dan suasana kembali sunyi, Naya menghembuskan napas panjang, dia menatap langit-langit kamar yang dihiasi lampu kristal mewah, lalu tangannya perlahan turun mengusap perut buncitnya yang terasa sangat tenang.
"Sayang, baru sehari di sini saja, ayahmu sudah bikin kepala Ibu pusing tujuh keliling," bisik Naya pelan pada perutnya sendiri, merasakan sensasi hangat yang kembali mengalir dari dalam rahimnya seolah sang bayi sedang menanggapi ucapannya.
"Aku mau mandi, tubuhku rasanya lengket semua," ucap Naya pada dirinya sendiri sambil mendesah pelan.
Naya menyibak selimut tebalnya, lalu mencoba turun dari ranjang dengan hati-hati.
Begitu kedua kakinya menyentuh lantai, Naya sedikit meringis karena tubuhnya terasa jauh lebih berat dari biasanya, menggerakkan kaki dengan perut yang membesar seukuran hamil tua dalam hitungan minggu benar-benar membuatnya kesusahan dan harus menjaga keseimbangan nya.
Naya melangkah perlahan menuju kamar mandi, begitu pintu itu didorong, matanya langsung berkedip takjub melihat kemewahan di dalamnya.
Kamar mandi itu sangat luas, dengan dinding marmer hitam berurat emas dan sebuah bathtub berukuran besar di tengahnya.
"Gila, ini kamar mandi apa lapangan bola? Gede banget," gumam Naya sambil geleng-geleng kepala.
Dia berjalan mendekati wastafel untuk mencuci mukanya terlebih dahulu, namun, saat dia mendongak dan menatap pantulan dirinya di cermin di depannya, Naya langsung melotot kaget.
"Hah? Ini... baju siapa yang aku pakai?!" seru Naya panik, meraba pakaian yang melekat di tubuhnya.
Dia baru sadar kalau gaun yang dia pakai kemarin sore sudah berganti menjadi daster tidur berbahan sutra satin berwarna merah muda yang sangat nyaman.
Pikiran Naya langsung traveling mengingat bagaimana dia bisa pingsan semalam di dekapan Alexander.
"Jangan-jangan... si monster mesum itu yang gantiin bajuku?!" pekik Naya dengan wajah yang mendadak memerah sempurna sampai ke leher karena malu sekaligus kesal setengah mati.
Tok
Tok
Tok
Suara ketukan pintu kamar mandi mendadak membuyarkan kekesalan Naya, dari balik pintu, terdengar suara seorang pelayan wanita yang sangat sopan.
"Nona Naya? Maaf mengganggu, saya mendengar suara Anda berteriak dari dalam. Apa terjadi sesuatu? Atau apakah Anda membutuhkan bantuan untuk menyiapkan air hangat?" tanya pelayan itu dari luar.
Naya menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan jantungnya yang berdegup kencang karena malu, lalu dia membuka pintu kamar mandi sedikit, mengintip pelayan wanita paruh baya yang berdiri dengan menunduk hormat di depan pintu.
"Em, saya mau nanya. Baju yang saya pakai ini... siapa yang gantiin semalam?" tanya Naya.
Pelayan itu mendongak sedikit, lalu tersenyum ramah dan sangat sopan kepada Naya.
"Oh, pakaian Anda digantikan oleh saya dan dua pelayan wanita lainnya atas perintah langsung dari Yang Mulia Alexander, Nona. Beliau melarang pelayan pria mana pun untuk masuk ke kamar ini," jawab pelayan itu sopan.
Mendengar jawaban itu, Naya langsung mengembuskan napas lega yang sangat panjang, memegangi dadanya yang tadi sempat berdegup kencang karena sudah berburuk sangka pada Alexander.
"Oh... syukurlah. Makasih ya, Bi," ucap Naya dengan raut wajah yang kembali santai.
"Sama-sama, Nona. Apakah Anda ingin saya siapkan air hangatnya sekarang? Berendam akan sangat bagus untuk mengurangi rasa pegal di pinggang Anda," tawar pelayan itu lagi.
Naya sempat berpikir sejenak sebelum akhirnya mengangguk setuju, kondisi perutnya yang besar ini memang membuat punggung dan pinggangnya terasa sangat pegal, persis seperti keluhan ibu hamil tua pada umumnya.
"Boleh deh, Bi. Tolong ya, soalnya badan aku beneran kaku semua ini," jawab Naya, memberikan senyuman tipis.
"Baik, Nona. Mohon tunggu sebentar ya," ucap pelayan itu sigap, langsung masuk ke dalam kamar mandi untuk memutar keran air hangat dan mencampurkannya dengan minyak aroma terapi yang menenangkan.
Naya memperhatikan pelayan itu bekerja sambil mengusap perutnya sendiri yang mendadak berdenyut pelan, memberikan sensasi hangat yang nyaman di rahimnya.
"Air hangatnya sudah siap, Nona. Saya juga sudah mencampurkan minyak aromaterapi lavender agar Anda bisa lebih relaks," ucap pelayan itu setelah mematikan keran bathtub, dan berdiri sambil merapikan handuk putih bersih di dekat tempat berendam.
makasih ka author, semangat terus sehat selalu. 🙏🙏
semangat ka 💪💪💪💪