Rasyid adalah calon Bupati muda yang dikelilingi wanita-wanita cantik yang mengincar posisi Istri Bupati.
Tetapi hati Rasyid sudah terpaut pada Ami, gadis desa lulusan SMA yang benar-benar tak tertarik padanya.
Perjuangan Rasyid untuk mendapatkan Ami, dibantu oleh ajudan setianya, Andre.
Ketika Rasyid sudah mendapatkan Ami, lawan politik menyerang hingga mereka dipisahkan takdir.
Andre hadir untuk mengisi posisi kosong itu tanpa niat buruk.
Namun, ketika keadaan kembali seperti semula, Ami memutuskan kembali ke desa, mencari ketenangan hingga dijemput kembali oleh lelaki pilihannya.
~~Kita bisa merencanakan sesuatu, namun takdir yang menentukan akhirnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria Susanti Harahap, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dilamar Calon Bupati
Dua hari setelah kunjungan itu, Rasyid kembali memanggil Andre, orang kepercayaannya sejak lama. “Sudah coba hubungi Ami?” tanyanya singkat.
Andre yang sedang memeriksa jadwal langsung mengangguk pelan. “Sudah, Pak.”
“Lalu?”
Andre tampak ragu sebelum menjawab. “Dia menolak lagi.”
Rasyid mengangkat pandangan.
“Katanya tidak ada yang perlu dibicarakan secara pribadi.” Andre tersenyum kecil. “Dia juga bilang kalau semua aspirasi warga sudah disampaikan saat pertemuan kampung.”
Untuk beberapa detik, Rasyid hanya diam. Biasanya orang justru mencari kesempatan agar bisa dekat dengannya. Bahkan banyak yang sengaja meminta pertemuan pribadi hanya demi foto atau perhatian khusus. Namun Ami berbeda. Perempuan itu seolah benar-benar tidak tertarik. Dan semakin Ami menjaga jarak, semakin besar rasa penasaran Rasyid.
Hari itu, saat ada jeda kosong sebelum agenda berikutnya, Rasyid tiba-tiba mengambil keputusan sendiri. “Sore ini jangan ada yang ikut.”
Andre tampak bingung. “Maksud Bapak?”
“Saya mau ke Lembah Embun.”
“Sekarang?”
Rasyid mengangguk sambil mengambil jaket sederhana dan topi. “Kalau datang sebagai calon bupati, dia pasti menghindar lagi.”
Andre menatap atasannya tak percaya. “Pak serius mau menyamar?”
“Memangnya wajah saya seterkenal itu?”
Andre hampir tertawa kecil, tetapi urung saat melihat Rasyid benar-benar serius.
Sore itu, untuk pertama kalinya selama masa kampanye, Rasyid datang ke sebuah kampung tanpa rombongan, tanpa mobil dinas, tanpa atribut politik. Hanya mengenakan pakaian sederhana dan topi kusam yang menutupi sebagian wajahnya.
Lembah Embun terasa jauh lebih tenang dibanding saat kunjungan resmi kemarin. Udara pegunungan dingin menusuk, sementara hamparan kebun hijau membentang di lereng-lereng bukit.
Setelah bertanya pada beberapa warga, akhirnya Rasyid menemukan lokasi kebun milik keluarga Ami. Dan di sanalah ia melihat gadis itu.
Ami sedang berdiri di antara tanaman sayur dengan lengan baju tergulung sampai siku. Tangannya sibuk membersihkan rumput liar, sementara wajahnya tampak sedikit berkeringat terkena matahari sore.
Tetapi entah kenapa, pemandangan itu membuat Rasyid berhenti melangkah beberapa detik.
Ami yang menyadari ada orang datang akhirnya menoleh. Awalnya ia hanya melihat sekilas. Namun beberapa detik kemudian, matanya menyipit curiga. “Pak Rasyid?”
Rasyid spontan salah tingkah karena ketahuan begitu cepat. “Topi saya gagal rupanya.”
Ami menatapnya heran. “Bapak ngapain ke sini?”
“Kalau saya bilang ingin berbincang, kamu pasti menolak lagi.”
Jawaban itu membuat Ami terdiam sesaat. Lalu gadis itu menghela napas kecil sambil meletakkan cangkul kecil di sampingnya. “Calon bupati itu memang suka memaksa, ya?”
“Pak, Bapak sebaiknya pulang sekarang,” katanya pelan tetapi tegas sambil melihat sekitar dengan cemas. “Kalau ada warga lihat, nanti bisa salah paham.”
Rasyid justru memasukkan kedua tangan ke saku jaketnya dengan santai. “Saya cuma mau bicara.”
“Bapak itu calon bupati.”
“Makanya saya datang diam-diam.”
Ami menghela napas tidak percaya. “Kalau ketahuan malah lebih bahaya.”
Namun Rasyid tetap tidak bergerak. Tatapannya justru serius menatap Ami. “Kalau saya pergi sekarang,” katanya pelan, “saya nggak tahu kapan bisa ketemu kamu lagi.”
Kalimat itu membuat Ami terdiam sesaat. Ada sesuatu dalam nada suara Rasyid yang terdengar sungguh-sungguh, bukan sekadar candaan politik seperti yang biasa ia lihat di televisi. Akhirnya Ami menyerah. “Ya sudah. Ikut saya.”
Ia berjalan lebih dulu melewati jalan setapak di antara kebun sayur menuju sebuah gubuk kecil di ujung lahan. Bangunannya sederhana dari kayu dengan bangku panjang di depan. Biasanya dipakai keluarganya untuk beristirahat saat bekerja di kebun.
Rasyid mengikuti dari belakang sambil memperhatikan suasana sekitar. Udara dingin pegunungan, aroma tanah basah, dan suara serangga sore hari terasa begitu berbeda dari hiruk-pikuk dunia politik yang biasa ia jalani.
Begitu sampai di gubuk, Ami berdiri sambil melipat tangan di dada. “Nah,” katanya langsung. “Apa yang ingin Anda sampaikan?”
Rasyid malah menatap Ami beberapa detik sebelum bertanya santai, “Usia kamu berapa?”
Ami mengernyit bingung. “Kenapa?”
“Jawab saja.”
Ami memandangnya curiga beberapa saat. “Dua puluh menuju dua puluh satu tahun.”
Rasyid mengangguk pelan seolah sedang memastikan sesuatu. “Oke.” Ia kembali bertanya tanpa basa-basi. “Sudah punya calon suami?”
Ami melongo. “Hah?”
“Fokus jawab.”
“Belum.”
Wajah Rasyid tiba-tiba terlihat lega. “Alhamdulillah.”
Ami semakin bingung melihat ekspresinya.
Rasyid lalu bersandar santai di tiang kayu gubuk sambil menatap Ami lurus-lurus. “Kalau begitu…” katanya tenang. “Apa kamu mau jadi calon istri bupati?”
Ami membeku. Matanya melebar tidak percaya. “Hah?!”
Suasana gubuk mendadak sunyi. Bahkan suara angin sore seperti ikut berhenti sesaat. Ami menatap Rasyid seolah sedang memastikan laki-laki itu masih waras. Sedangkan Rasyid terlihat terlalu serius untuk dianggap bercanda.
Ami masih menatap Rasyid dengan wajah sulit percaya. Sementara laki-laki itu justru terlihat tenang, seolah baru saja mengatakan sesuatu yang sangat biasa.
“Pak…” Ami akhirnya bersuara lirih. “Anda sadar nggak sedang ngomong apa?”
“Sadar.”
“Anda calon bupati.”
“Iya.”
“Saya cuma perempuan kampung.”
“Terus?”
Jawaban singkat itu membuat Ami kehilangan kata-kata beberapa detik.
Rasyid lalu melirik jam tangannya. Waktu kunjungan berikutnya hampir tiba. Andre pasti sudah panik mencarinya sekarang. Namun anehnya, untuk pertama kali selama masa kampanye, justru percakapan di gubuk kecil ini terasa lebih penting dibanding semua agenda politiknya.
Rasyid berdiri pelan. “Saya harus pergi.”
Ami spontan merasa lega sekaligus bingung.
“Tapi,” lanjut Rasyid sebelum Ami sempat bicara, “saya juga nggak akan memaksa kamu jawab sekarang.” Tatapan laki-laki itu berubah lebih serius. “Pikirkan baik-baik.”
Ami masih diam.
“Kalau perlu istikharah,” ujar Rasyid tenang. “Saya lebih suka jawaban yang datang dari keyakinan daripada sekadar perasaan sesaat.” Angin sore berembus pelan melewati celah dinding kayu gubuk. Rasyid menatap Ami beberapa detik lebih lama sebelum melanjutkan, “Manfaatkan waktu kamu sebaik mungkin.” Nada suaranya rendah, tetapi terdengar sungguh-sungguh. “Pikirkan, apa kamu mau berjuang bersama saya untuk memajukan masyarakat.”
Ami perlahan mengangkat pandangan. Rasyid tidak mengatakan tentang cinta. Tidak merayu. Tidak membahas wajah ataupun ketertarikan. Yang ia tawarkan justru perjuangan. Tanggung jawab. Dan masa depan banyak orang.
“Mungkin orang lain melihat jabatan bupati sebagai kekuasaan,” lanjut Rasyid pelan. “Tapi saya melihatnya sebagai amanah yang berat.” Tatapannya lurus pada Ami. “Dan saya merasa… saya butuh seseorang yang berani mengingatkan saya saat salah.”
Jantung Ami berdetak tidak menentu. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ada seseorang yang memandang dirinya bukan sebagai gadis desa biasa. Melainkan seseorang yang dianggap pantas berjalan berdampingan dengan calon pemimpin daerah.
Rasyid tersenyum tipis sebelum berbalik pergi. “Kalau nanti jawabanmu tetap menolak,” katanya tanpa menoleh, “setidaknya saya sudah mencoba memperjuangkan perempuan yang saya inginkan.”
Dan setelah itu, ia benar-benar pergi meninggalkan Ami sendirian di gubuk kecil di ujung kebun. Dengan kepala penuh kekacauan. Dan jantung yang sejak tadi belum kembali tenang.