NovelToon NovelToon
Sistem 2bit: Dari Sampah Jadi Dewa

Sistem 2bit: Dari Sampah Jadi Dewa

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Action / Sistem / Harem / Komedi / Mengubah Takdir
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: HAMBALANGVERSE

Raka Pratama pernah menjadi kebanggaan keluarganya.

Bakat luar biasa. Masa depan cerah. Tunangan idaman.

Sampai sebuah misi menghancurkan meridiannya.

Kultivasinya mandek. Pertunangannya dibatalkan. Keluarganya membuangnya ke gubuk tua di pinggir desa.

Saat semua orang menganggap hidupnya telah berakhir, sebuah warisan kuno terbangun.

Sistem 2Bit.

Sistem murahan yang mengaku dirinya kelas dua.

Tapi bagi yang sudah kehilangan segalanya, kesempatan sekecil apa pun sudah cukup.

Mereka mengira kisah Raka telah berakhir.

Padahal baru dimulai.


━━━━━━━━━━━━━━━

⚔️ ORIGINAL HAMBALANGVERSE ⚔️

Genre:
#Cultivation
#System
#Action
#Fantasy
#Harem
#Revenge
#Survival
#Hambalangverse.


🗓️ Jadwal update:
Sampai Matahari Padam

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HAMBALANGVERSE, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 33

Latihan malam itu berlangsung di balik bukit kecil di belakang desa, jauh dari pandangan warga. Maya berdiri tegak di tengah hamparan rumput kering dengan tangan tersilang di belakang punggung, postur yang begitu mirip dengan Guru Raka dulu di Gunung Tidar. Raka menyadari kemiripan itu namun memilih untuk diam. Ia meletakkan tas kecil berisi air dan handuk di tanah, lalu mengambil posisi siap di hadapan wanita itu.

"Kau sudah terlalu bergantung pada sistem untuk memprediksi gerakan lawan," buka Maya tanpa basa-basi. "Malam ini, kau dilarang menggunakannya. Rasakan energi di sabukmu. Biarkan aliran itu yang memandu, bukan angka-angka dingin di kepalamu."

Raka memejamkan mata. Di dalam kesadarannya, sistem 2Bit benar-benar sunyi senyap; tidak ada notifikasi, tidak ada kotak biru yang muncul. Entah Maya melakukan sesuatu atau ini memang cara kerja artefak tersebut, Raka tidak peduli. Ia memusatkan seluruh perhatiannya pada sabuknya, pada artefak segitiga yang selama ini hanya terasa seperti beban mati seberat besi.

Awalnya, keheningan hanyalah keheningan. Hanya ada dinginnya angin malam yang menusuk kulit dan dengungan jangkrik dari kejauhan. Namun, saat Raka memaksakan dirinya untuk benar-benar rileks, sebuah getaran halus mulai terasa di pinggangnya. Bukan getaran mekanis, melainkan sensasi hangat seperti aliran air tipis yang merambat dari pinggang ke tulang punggung, lalu menyebar perlahan ke bahu dan ujung jari-jarinya.

"Aku merasakannya," gumam Raka pelan.

"Jangan bicara. Rasakan saja alirannya."

Raka menuruti instruksi itu. Ia membiarkan sensasi hangat itu bergerak bebas tanpa coba ia kendalikan. Dalam imajinasinya, ia membayangkan aliran tersebut sebagai sungai kecil yang mengalir melalui pembuluh darahnya, menyambungkan titik-titik energi yang selama ini terasa terputus-putus.

Maya melangkah mendekat, suaranya kini terdengar lebih dekat. "Sekarang, tanpa membuka mata, tangkap tanganku."

Raka mengangkat tangannya, namun telapak tangannya hanya menangkap udara kosong. Maya telah bergeser ke kiri, lalu dengan cepat berpindah ke kanan. Raka hanya bisa menebak-nebak, tangannya meraba-raba ruang hampa seperti orang buta yang kehilangan arah.

"Kau masih mengandalkan penglihatanmu," tegur Maya. "Padahal matamu sudah tertutup rapat."

"Lalu bagaimana aku bisa tahu posisimu?" tanya Raka frustrasi.

"Dengarkan langkah kakiku. Rasakan pergeseran angin saat aku bergerak. Energi tidak hanya hidup di dalam tubuhmu, Raka. Ia juga ada di sekitarmu, mengisi setiap ruang kosong."

Raka menarik napas dalam-dalam dan mencoba lagi. Kali ini, ia memusatkan seluruh indranya pada suara rumput kering yang terinjak halus dan perubahan tekanan udara di sekitar pipinya. Ketika Maya bergerak ke kiri, helai rambut di dahinya terasa tertiup angin pelan. Saat wanita itu mendekat, ia merasakan hembusan kehangatan samar di sisi kanannya.

Tangannya bergerak cepat mengikuti insting, dan kali ini jarinya berhasil menyentuh pergelangan tangan Maya.

"Hanya satu detik," komentar Maya datar, meski sudut bibirnya sedikit terangkat. "Tapi itu jauh lebih baik dari yang kuharapkan."

Raka membuka mata. Maya berdiri tepat di depannya dengan ekspresi wajah yang sulit dibaca, namun ada kilatan persetujuan di matanya. Bagi Raka, itu adalah pujian terbesar yang pernah ia terima dari seorang guru.

Latihan berlanjut selama dua jam penuh. Maya mengajarkannya cara memindahkan energi dari artefak ke telapak tangan, cara mendeteksi keberadaan orang lain tanpa melihat, hingga teknik membuat langkah kaki menjadi tak bersuara di atas rumput kering. Tubuh Raka yang sudah terbiasa dengan simulasi sistem membuatnya cepat menyerap instruksi fisik tersebut, meski keringatnya sudah membasahi baju.

Saat mereka selesai, bintang-bintang telah bertaburan jelas di langit malam. Raka duduk lemas di atas rumput, napasnya masih berat, namun matanya berbinar karena semangat baru.

"Besok malam kita lanjutkan," kata Maya sambil membereskan barang-barangnya. "Kau perlu belajar mengeluarkan energi itu sebagai serangan nyata, bukan hanya sekadar sensasi pasif di dalam tubuh."

Raka mengangguk patuh. Ia bangkit dengan tubuh lelah dan berjalan kembali ke desa. Dari kejauhan, cahaya lampu minyak dari gubuknya masih menyala redup, pertanda bahwa Laras belum tidur.

Sesampainya di depan gubuk, Raka mendengar suara aneh dari dapur. Bukan suara gorengan atau air mendidih, melainkan geraman pelan yang tertahan, mirip orang yang sedang berteriak dalam hati. Ia melangkah mendekati sumber suara dengan hati-hati.

Laras berdiri kaku di depan tungku. Di atas api kecil, sebuah wajan berisi nasi mulai menghitam di bagian bawahnya. Wanita itu memegang spatula dengan erat hingga buku-buku jarinya memutih, matanya menatap nasi gosong itu seolah-olah benda itulah yang menjadi sumber semua masalah hidupnya.

Raka berhenti di ambang pintu. "Kau masih masak? Sudah larut malam."

Laras menoleh dengan gerak kaget. Pipinya semerah tomat matang, bukan karena demam. "Aku tidak bisa tidur. Pikiranku terlalu berisik."

Raka melirik nasi yang asapnya mulai mengepul hitam. Ia melangkah masuk dan mengambil alih spatula dari tangan Laras dengan gerakan tenang.

"Mari," katanya lembut. "Aku bantu."

Laras tidak menolak. Ia mundur selangkah, membiarkan Raka mengaduk nasi dengan gerakan canggung. Raka memang tidak ahli di dapur, tapi setidaknya ia tahu cara menyelamatkan sisa nasi yang belum hangus.

"Kau dengar penjelasan Maya tadi malam?" tanya Raka tanpa menoleh, fokus pada wajan.

"Ya."

"Tentang artefak, tentang Kaisar, dan tentang guruku."

"Ya, aku mendengar semuanya."

Raka berhenti mengaduk sejenak dan menoleh menatap Laras. "Kau tidak banyak bicara setelah itu."

Laras mengangkat bahunya tinggi-tinggi, sikap defensif yang biasa ia tunjukkan. "Apa lagi yang mau kukatakan? Aku tidak punya sistem canggih. Tidak punya artefak sakti. Tidak punya guru misterius yang konon menyelamatkan dunia. Yang aku miliki cuma parang tumpul dan sedikit keberanian bodoh. Tapi kalau kau bilang itu cukup untuk membantumu, ya, aku percaya."

Ucapan itu keluar dengan jujur, tanpa lapisan sindiran atau kepura-puraan. Itu adalah pengakuan lugas tentang keterbatasannya dan penerimaan terhadap peran yang ia pilih.

Raka menatap sahabatnya lekat-lekat. Di bawah cahaya lampu minyak yang kuning dan redup, wajah Laras terlihat lebih muda dan rapuh dari biasanya. Namun, mata perempuan itu tidak lagi dipenuhi ketakutan atau kemarahan semata. Ada ketenangan baru yang menetap di sana.

"Aku tidak butuh kau menjadi pahlawan," kata Raka pelan. "Aku hanya butuh kau tetap menjadi Laras."

Laras terdiam lama. Bibirnya bergerak-gerak seolah ingin membalas, namun akhirnya ia hanya mendengus kesal untuk menutupi emosinya.

"Nasi gosong," tunjuknya pada wajan. "Itu hadiah buat kau."

Raka menoleh ke wajan. Bagian bawah nasi memang sudah menjadi arang, tetapi sebagian besar di atasnya masih putih dan bisa diselamatkan.

"Masih bisa dimakan," jawab Raka santai.

"Aku tidak akan makan benda itu."

"Aku yang akan menghabiskannya."

"Kau memang bodoh."

"Sudah sering kudengar itu dari mulutmu."

Tiba-tiba, Laras tertawa. Bukan tawa yang keras atau dibuat-buat, melainkan tawa pendek yang lolos begitu saja dari tenggorokannya. Ia segera menutup mulutnya dengan tangan, tampak terkejut bahwa dirinya bisa tertawa di tengah suasana seseram ini.

Raka memperhatikan reaksi itu tanpa berkomentar, namun senyum tipis terbentuk di wajahnya.

Malam itu, mereka menghabiskan nasi setengah gosong dengan lauk seadanya. Raka makan dengan lahap hingga tiga porsi, sementara Laras hanya memakan satu piring kecil. Maya sudah terlelap nyenyak di tikarnya di sudut gubuk, tidak terganggu oleh aktivitas mereka. Tidak ada percakapan mendalam lagi, hanya suara sendok beradu dengan piring keramik dan desisan angin malam yang menyusup lewat celah dinding bambu.

Di luar, bulan purnama bersinar terang menerangi halaman desa. Untuk pertama kalinya sejak peristiwa tekanan spiritual itu, Raka merasa bahwa segala kekacauan ini mungkin, pada akhirnya, akan baik-baik saja.

1
Chen Haoran
Bagus toh sistem nya lucu
KZ2: Kalau gw tulis sejarahnya sistem 2bit bakalan jadi 10 bab🚬🗿🤣.
thanks udah mampir
total 1 replies
Chen Haoran
menurut ku ini menarik di setiap kata-katanya ada dialog yang interaktif dan tidak kelihatan kaku🙏
Chen Haoran: yap euy
total 2 replies
Chen Haoran
lucu euy sistem nya bisa becanda 🤣
KZ2: wkwkkw emang novel absurd
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!