Anindya Maheswari, menikah dengan Raditya Wicaksono tanpa restu dari orang tua Radit karena Anindya hanya seorang yatim piatu dan besar di panti asuhan.
Cinta tulus dari Radit membuat Anindya bertahan, berjuang bersama, banting tulang, memeras otak dan keringat. Memulai segalanya dari nol hingga akhirnya sukses.
Namun, siapa sangka setelah sukses Radit malah berkhianat? Menjalin hubungan dengan gadis yang lebih muda, memiliki seorang anak, dan bahkan selingkuhan itu sedang hamil lagi.
Membawa amarahnya yang membara, Anindya bertekad mengembalikan Radit dan keluarga nya ke keadaan semula.
“Kamu lupa satu hal. Jika aku bisa membuatmu sukses, aku juga bisa membuatnu hancur!”
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mama Mia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
22
.
“Jadi, bagaimana, Tuan Raditya Wicaksono? Kapan Anda akan melunasi pembayaran pajak perusahaan Anda?” tanya petugas pajak lagi dengan suaranya yang datar namun juga mendesak.
"Kira-kira... berapa jumlah pajak yang harus kami bayar? Apakah jumlahnya besar sekali?" tanya Radit karena dia memang sama sekali tidak pernah tahu urusan pajak sebelumnya.
Raditya Wicaksono, sejak berdirinya perusahaan dia hanya duduk di kursi direktur dan semua selesai dengan sendirinya. Dia hanya tinggal menandatangani apa yang sudah dibereskan oleh Anindya.
Kini, otaknya dipaksa untuk berpikir tentang segala hal. Sungguh, dia merasa kepalanya mau pecah. Bukan hanya pusing, tapi juga malu. Ketidakmampuannya memegang perusahaan dikupas tuntas di depan para pemegang saham.
Petugas pajak mengeluarkan berkas dari tasnya lalu membukanya,
"Berdasarkan data yang kami terima, perusahaan Anda memiliki laba kena pajak sekitar Rp35 miliar untuk tahun lalu. Dengan tarif pajak 22% yang berlaku untuk perusahaan besar, maka jumlah pajak yang harus dibayar adalah sebesar Rp7,7 miliar," jelasnya tegas.
Semua orang yang ada di sana tertegun mendengar angka itu.
"Rp7,7 MILIAR?!" seru Raditya dengan mata terbelalak tak percaya. Tubuhnya terasa lemas seketika. "Mana ada uang sebanyak itu di kas perusahaan sekarang! Kami sudah kehabisan dana besar untuk membayar ganti rugi pada mitra kerja!"
"Itu baru pokok pajaknya saja, Tuan Raditya," lanjut petugas itu dengan nada yang semakin menekan. "Karena sudah lewat jatuh tempo, maka akan ditambah dengan denda sebesar 2% per bulan serta bunga keterlambatan. Sampai hari ini, total yang harus dibayar sudah mencapai lebih dari Rp 8 miliar. Jumlah ini akan terus bertambah setiap harinya jika tidak segera dilunasi.”
"Dan jika Anda tidak segera menyelesaikan masalah ini, maka kami akan mengambil tindakan tegas berupa penyitaan aset perusahaan untuk menutupi utang pajak tersebut."
"APA?!" seru salah satu pemegang saham tua tak percaya. "Disita?!”
BRUK!
Raditya terduduk lemas kembali di kursinya. Seluruh darahnya seakan berhenti mengalir membayangkan betapa buruknya situasi yang sedang ia hadapi.
“Tidak! Ini tidak boleh terjadi,” gumam Radit pelan tapi masih terdengar oleh orang-orang yang berada dalam ruangan itu. Pria itu menggelengkan kepalanya berkali-kali seakan ingin mengusir bayangan buruk dari dalam pikiran nya.
“Sa saya… saya… bolehkah saya minta waktu? Saya pasti akan segera membayarnya,” pinta Radit dengan suara bergetar. Matanya menatap penuh permohonan.
“Baiklah, Tuan Radit. Mengingat ini pertama kalinya perusahaan Anda melakukan kesalahan, maka kami memberi toleransi selama satu minggu. Segera pergi ke kantor pajak, atau kami yang kembali ke sini! Permisi!” ucap pimpinan petugas lalu dengan telapak tangannya yang mengayun, memberi isyarat pada rekan-rekannya untuk meninggalkan tempat itu.
“Tuan Raditya! Apa yang sudah kamu lakukan dengan perusahaan ini?! Kenapa sampai bisa seberantakan ini?!" geram seorang pengusaha yang terlihat paling tua.”
“Benar!” sahut yang lain. “Waktu Bu Anindya masih ikut turun tangan dalam urusan perusahaan, hal seperti ini tidak pernah terjadi. Tapi, ini bahkan baru dua bulan, dan semua sudah terlihat berantakan!”
Lagi. Raditya bagai ditampar dengan keras. Ia tidak pernah dipermalukan seperti ini sebelumnya. Tapi, mau membantah juga tidak bisa. Lalu, apa langkah yang harus dia ambil sekarang?
Anindya! Dia harus mencari istrinya itu untuk menyelamatkan diri.
Setelah petugas pajak dan para pemegang saham pergi meninggalkan ruangan, suasana menjadi sunyi senyap. Hanya tersisa Raditya yang masih terduduk lemas dengan keringat dingin yang membasahi pelipisnya, dan asisten Darius yang berdiri dengan wajah tertunduk di sampingnya.
Tiba-tiba Raditya berdiri tegak. Seakan sudah ada solusi dia temukan. "Anindya... Aku harus menghubungi Anindya sekarang juga!" batinnya berteriak. Hanya istrinya itu yang tahu seluk-beluk urusan seperti ini. Hanya dia yang bisa membantu.
Dengan tangan gemetar, Raditya merogoh sakunya dan mengambil ponselnya. Ia mulai menekan nomor Anindya, namun...
Tut... tut... tut... Nomor yang Anda tuju tidak dapat dihubungi.
Wajah Raditya memerah menahan kesal. Ia baru teringat, sejak beberapa waktu lalu Anindya memang sudah memblokir nomornya! Dan wanita itu juga tidak pulang ke rumah sejak kemarin. Mau pinjam ponsel Darius juga tidak bisa, karena nomor Darius juga sudah diblokir.
“Bagaimana ini?” Raditya berjalan mondar-mandir dengan wajah semakin pucat.
"Tidak! Aku tidak bisa terus seperti ini!" geram Raditya sambil membanting tinjunya ke meja. "Anindya tidak boleh terus lari dari aku! Dia istriku! Dia harus menurut dan patuh apa kataku. Dia juga harus membantuku menyelesaikan masalah ini!".
"Darius!” panggilnya pada sang asisten yang masih berdiri menunggu perintah.
"Ya,Tuan?" Darius seketika mengambil sikap tegak.
"Cari! Cari tahu di mana Nyonya Anindya sekarang juga! Aku harus bertemu dengannya demi keselamatan perusahaan!!" perintah Raditya dengan nada tinggi.
"Baik, Tuan. Segera saya lakukan," jawab Darius hormat lalu segera berlari keluar menuju ruangannya.
Sesampainya di ruangan, Darius langsung duduk di hadapan laptopnya. Tangannya dengan cepat mengakses sistem pelacakan yang terhubung langsung ke GPS yang tertanam di ponsel milik Anindya.
Layar laptop berkedip, dan tak lama kemudian sebuah titik merah muncul di peta digital, menunjukkan lokasi yang sangat akurat.
Hotel Grand Sapphire
Sebuah hotel bintang lima yang paling mewah dan eksklusif di pusat kota.
"Ternyata Nyonya menginap di tempat sekeren ini," gumam Darius pelan. Ia segera mencatat alamat lengkapnya lalu bergegas kembali ke ruangan Raditya.
"Tuan! Saya sudah dapat alamatnya!" seru Darius saat masuk kembali.
Raditya langsung berdiri tegak. "Di mana?! Di mana istriku sekarang?!"
"Nyonya Anindya saat ini sedang berada di Hotel Grand Sapphire, Tuan," lapor Darius.
"Hotel Grand Sapphire?” tanya Raditya terbelalak tak percaya.
‘'Bukankah itu hotel yang sangat mewah dan harganya selangit?’' batin Raditya bertanya-tanya. '’Dari mana dia mendapatkan uang sebanyak itu untuk menginap di tempat semewah itu? Apa dia memiliki tabungan pribadi yang tidak aku ketahui?'’
Rasa penasaran bercampur dengan sedikit kecurigaan mulai menyelinap di hatinya, namun rasa panik akan masalah pajak jauh lebih besar.
"Baiklah! Siapkan mobil! Aku akan pergi ke sana sekarang juga! Kali ini aku tidak akan membiarkan dia menghindar lagi!" seru Raditya tegas.
Darius mengangguk lalu pergi keluar. Sementara Radit mencoba memperbaiki penampilannya yang sedikit kusut. Entah kenapa tiba-tiba ia merasa, untuk bertemu dengan Anindya dia harus terlihat sempurna.
“Anindya… awas saja jika ternyata kamu. Memang menyembunyikan tabungan dariku,“ gumamnya sambil terus melangkah.
“Ah… tidak, tidak! Aku harus bersikap baik. Ada bagusnya kalau dia punya tabungan. Jadi aku bisa memintanya untuk membayar pajak dan memperbaiki kondisi perusahaan. Pokonya aku harus bersikap baik nanti. Anin… kamu sedang ingin main tarik ulur, ya? Kamu pasti masih marah soal Sofia, kan? Baiklah, kali ini aku akan mengalah padamu! Nanti setelah kondisi perusahaan membaik, siap-siap lah menerima hukumanmu!”
apa lgi yg lbih mnyedihkn slain nsibnya s pcundang....udh pd tngkat dewa bkln dpt tender,taunya zonk...😛😛😛....
smntra anin,dia udh bngkit plus dpt dkungn dr bnyak orng yg pduli sm dia....ga sbr nunggu s pcundang hncur.....