Velix Purnama umur 26tahun seorang pekerja kantoran tanpa sengaja kembali ke masa lalu saat dia masih menduduki bangku SMP.
"Dengan sistem aku akan mengejar apa yang menjadi mimpiku", ujar Velix
bagaimana kisah Velix menjadi legenda sepakbola mari kita saksikan bersama sama!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wawan wan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 13: Langkah Pertama yang Sempurna
BAB 13: Langkah Pertama yang Sempurna
Sisa waktu babak kedua berjalan dengan kendali penuh di tangan Tim Merah Marun. Frustrasi karena tertinggal dua gol dan terus-menerus didikte oleh pergerakan taktis Velix, permainan SMP 14 menjadi makin tidak terorganisasi.
Hingga wasit meniup peluit panjang tanda berakhirnya pertandingan, skor tetap bertahan 3-1 untuk kemenangan tim Velix.
Prreeettt! Prreeettt! Prreeettt!
"Kita menang! Babak penyisihan pertama lolos!" Ryan langsung berlari dari bangku cadangan, menumpahkan sebotol air mineral ke kepala Velix yang basah oleh peluh. Anak-anak lain berteriak heboh, merayakan tiga poin pertama mereka di Stadion Mini Jakarta Timur.
Velix melepaskan mode monsternya. Wajahnya yang sedingin es saat pertandingan seketika mencair menjadi senyuman hangat khas dirinya di luar lapangan. Dia tertawa renyah, menerima pelukan dan jabat tangan dari rekan-rekan setimnya dengan ramah.
Saat berjalan menuju terowongan pemain, Velix berpapasan dengan kapten dan pemain nomor 6 SMP 14 yang tadi menebas kakinya. Mereka menatap Velix dengan pandangan yang tidak lagi dipenuhi amarah, melainkan rasa segan dan kagum yang mendalam.
Velix menghentikan langkahnya, mengulurkan tangan terlebih dahulu kepada pemain nomor 6 tersebut. "Pertandingan yang bagus. Tekelmu tadi sempat bikin gua kaget, tapi itu bagian dari permainan. Sampai ketemu lagi," ucap Velix ramah dengan kedewasaan seorang pria dewasa.
Pemain nomor 6 itu tertegun, menjabat tangan Velix dengan canggung sembari menunduk. "Ah... iya. Maaf soal tekel tadi, ya. Lu... emang jago banget di lini tengah."
Setelah beres bersalaman, Velix berjalan masuk ke ruang ganti dengan perasaan yang teramat lega.
Sore harinya, setelah kehebohan di sekolah mereda, Velix pulang ke rumahnya menggunakan motor bebek tua milik ayahnya yang di masa ini masih terasa cukup prima. Begitu sampai di kamar, dia langsung merebahkan tubuhnya yang kelelahan di atas kasur, memejamkan mata, dan memanggil Sistem.
Ting!
[Pertandingan Resmi Selesai!]
[Statistik Kontribusi: 1 Goal, 1 Assist, 1 Key Pass (Decoy Run).]
[Sinkronisasi Biologis Aktif: Proses penambahan tinggi badan (+0.2 cm) sedang berjalan malam ini. Tinggi Anda saat ini: 162.2 cm.]
[Tingkat Ketenangan Pasif "Cold-Blooded Mentor": Beroperasi dengan efisiensi 100% selama pertandingan.]
Velix merasakan otot-otot kakinya berdenyut pelan, tanda bahwa Sistem sedang bekerja meregenerasi sel-sel tubuhnya sekaligus menstimulasi hormon pertumbuhannya secara bertahap menuju target 184cm.
Dia kemudian membuka menu Status Teknik untuk melihat dampak dari pertandingan resmi pertamanya.
[TEKNIK - PERUBAHAN STAT]
- Kontrol Bola (Ball Control): 38.2 -> 39.0 / 100
- Operan (Passing): 44.1 -> 45.0 / 100
- Tembakan (Shooting): 32.0 -> 33.5 / 100
[System Points (SP): 1 -> 6 SP (Menerima +5 SP dari performa pertandingan)]
Velix mengangguk puas. Progresnya terasa sangat nyata. Meskipun angka-angka ini masih berada di level pemain amatir atas, perubahan dari minggu ke minggu menunjukkan bahwa dia berada di jalur yang benar.
Kombinasi antara mentalitas pria 26 tahun yang logis, kemampuan mengontrol bola Sentuhan Pertama Sutra milik Berbatov, dan ketenangan batin dari Cold-Blooded Mentor milik Lampard telah mengubahnya dari anak tanpa bakat menjadi komandan lini tengah yang ditakuti di tingkat kecamatan.
Dia melirik sisa misi utamanya yang melayang dengan pendaran cahaya emas:
[Misi Utama: Juara Kecamatan (Progres: 1 / 4 Pertandingan Dimenangkan)]
[Target Berikutnya: Babak Perempat Final dalam 3 Hari.]
Velix mengubah posisinya menjadi duduk tegak, mode serius dan fokusnya kembali menyala di dalam kegelapan kamar. Matanya menatap lurus ke depan dengan tekad yang tak tergoyahkan.
"Satu pertandingan selesai. Masih ada tiga pertandingan lagi menuju gelar juara kecamatan," gumam Velix pelan, mengepalkan tangan kanannya erat-erat. "Tunggu gua, Eropa. Gua pasti datang."
Cetak biru itu kini telah menuntaskan babak pertamanya dengan sempurna. Panggung Jakarta Timur baru saja menyaksikan riak kecil dari ombak besar yang kelak akan mengguncang dunia sepak bola internasional.