Naya terpaksa menggantikan kakak tirinya yang kabur beberapa jam sebelum pernikahan dengan Adrian, seorang CEO dingin yang lumpuh akibat kecelakaan misterius.
Bagi Adrian, Naya hanyalah pengganti yang harus menanggung dosa keluarganya. Di rumah mewah yang terasa seperti penjara, Naya dipaksa menjalani kehidupan penuh penghinaan dan penderitaan.
Namun Adrian tidak mengetahui satu kebenaran besar.
Wanita yang selama ini ia benci adalah orang yang pernah mempertaruhkan nyawanya untuk menyelamatkan dirinya dari maut tiga tahun lalu.
Saat perlahan rahasia itu mulai terungkap dan hati Adrian mulai luluh, Naya justru memilih pergi.
Kini Adrian harus menghadapi satu pertanyaan yang terus menghantuinya:
Masih adakah kesempatan untuk memperbaiki semua kesalahannya sebelum wanita yang dicintainya menghilang untuk selamanya? ❤️
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Satisuci Ituaku, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33 — Bayangan yang Mengintai Keluarga Amarta
Malam setelah amplop misterius itu ditemukan, suasana di kediaman keluarga Amarta berubah total.
Seluruh area rumah dijaga ketat. Petugas keamanan berjaga bergantian selama dua puluh empat jam. Kamera pengawas tambahan dipasang di setiap sudut yang dianggap rawan.
Namun semua itu tidak mampu menghilangkan kegelisahan di hati Adrian.
Pria itu berdiri di depan layar monitor keamanan di ruang kerja bersama Dimas.
Puluhan rekaman CCTV terus diputar.
Sayangnya, tidak satu pun memberikan petunjuk yang berarti.
"Ada perkembangan?" tanya Adrian.
Dimas menggeleng.
"Belum ada, Tuan."
Rahang Adrian mengeras.
Sudah dua hari berlalu sejak ancaman pertama muncul.
Namun pelakunya masih belum ditemukan.
Justru itulah yang membuat situasi semakin berbahaya.
Seseorang sedang mengawasi keluarganya.
Dan orang itu cukup cerdas untuk menghilang tanpa jejak.
Ponsel Dimas tiba-tiba bergetar.
Pria itu membaca laporan yang baru masuk lalu langsung menegakkan tubuh.
"Tuan."
"Ada apa?"
"Tim keamanan menemukan sesuatu di taman belakang."
Sorot mata Adrian langsung berubah tajam.
"Maksudmu?"
"Kami menemukan bekas jejak sepatu yang tidak cocok dengan seluruh staf maupun petugas keamanan."
Suasana ruangan langsung membeku.
"Periksa seluruh rekaman."
"Sudah, Tuan."
"Hasilnya?"
Dimas menarik napas.
"Orang itu berhasil menghindari sebagian besar kamera."
Untuk pertama kalinya, Adrian benar-benar merasa sedang menghadapi lawan yang berbahaya.
---
Di lantai atas, Naya baru saja selesai beribadah malam.
Ia duduk di tepi ranjang sambil mengusap perutnya yang semakin besar.
Gerakan kecil dari dalam kandungan membuatnya tersenyum.
"Kamu belum tidur ya?"
Tangannya mengusap lembut perut bulat itu.
"Ayahmu pasti sedang sibuk lagi."
Tiba-tiba terdengar suara langkah cepat dari luar kamar.
Beberapa detik kemudian pintu terbuka.
Adrian masuk.
Wajahnya terlihat serius.
"Mas?"
Adrian segera menghampiri.
"Kamu baik-baik saja?"
Naya mengangguk bingung.
"Iya."
Pria itu duduk di sampingnya.
Tangannya langsung berpindah ke atas perut Naya.
Barulah ketegangan di wajahnya sedikit berkurang.
Naya memperhatikan suaminya.
"Ada sesuatu yang terjadi?"
Adrian terdiam sesaat.
Kemudian mengangguk.
"Tim keamanan menemukan jejak orang asing di taman belakang."
Wajah Naya langsung berubah.
"Jadi benar ada seseorang?"
"Kemungkinan besar."
Naya refleks memegang perutnya.
Melihat hal itu, Adrian segera menggenggam tangannya.
"Dengarkan aku."
Naya menatapnya.
"Tidak ada yang akan menyentuhmu."
Suara Adrian terdengar mantap.
"Dan tidak ada yang akan menyentuh anak kita."
Naya mencoba tersenyum.
Meski rasa cemas masih ada, kehadiran Adrian selalu membuatnya merasa lebih kuat.
---
Keesokan paginya.
Dimas datang membawa laporan baru.
Adrian sedang sarapan bersama Naya dan Ibu Rahayu ketika pria itu menghampiri meja makan.
"Tuan, kami berhasil melacak sebagian jejak kendaraan yang berada di sekitar rumah malam itu."
Adrian langsung meletakkan cangkir kopinya.
"Lanjutkan."
"Kendaraan tersebut menggunakan pelat nomor palsu."
"Tentu saja."
"Namun kami menemukan satu hal menarik."
Dimas menyerahkan sebuah foto.
Adrian memperhatikannya beberapa detik.
Di dalam foto itu terlihat seorang pria bertopi hitam sedang berbicara dengan seseorang di area parkir sebuah hotel.
Wajahnya memang tidak terlihat jelas.
Namun postur tubuhnya cukup familiar.
"Siapa dia?"
"Belum dipastikan."
"Tapi?"
Dimas membuka berkas lain.
"Kami menemukan bahwa pria ini beberapa kali terlihat berada di lokasi yang sama dengan Surya Pranoto."
Naya yang mendengar nama itu langsung teringat sesuatu.
"Surya Pranoto... bukankah dia mantan rekan bisnis ayah Mas?"
Adrian mengangguk pelan.
Tatapannya berubah dingin.
Nama itu kembali muncul.
Dan setiap kali nama itu muncul, selalu ada masalah yang mengikutinya.
---
Malam harinya.
Setelah semua orang beristirahat, Adrian masih berada di ruang kerja.
Matanya tertuju pada foto keluarga yang baru dicetak dari sesi pemotretan kehamilan beberapa minggu lalu.
Dalam foto itu, Naya tersenyum bahagia sambil memegang perutnya.
Di sampingnya ada dirinya.
Dan calon anak mereka.
Perlahan Adrian mengembuskan napas.
Selama hidupnya, ia pernah kehilangan banyak hal.
Kepercayaan.
Kesehatan.
Ketenangan.
Namun kali ini berbeda.
Ia tidak akan membiarkan siapa pun mengambil keluarganya.
Ketukan terdengar di pintu.
Dimas masuk.
"Tuan."
"Ada lagi?"
Pria itu mengangguk.
"Kami baru menerima laporan dari tim lapangan."
"Apa?"
Dimas terlihat ragu sejenak.
"Lukas Surya kemungkinan sudah berada di Jakarta."
Ruangan mendadak hening.
Tatapan Adrian langsung mengeras.
"Kau yakin?"
"Delapan puluh persen."
"Di mana dia sekarang?"
"Itu yang masih kami cari."
Adrian perlahan berdiri dengan bantuan tongkatnya.
Meski kakinya belum sepenuhnya pulih, sorot matanya kembali menunjukkan siapa dirinya sebenarnya.
Adrian Amarta.
Pria yang tidak pernah takut menghadapi siapa pun.
"Temukan dia."
"Baik, Tuan."
"Dan mulai sekarang, jangan biarkan Naya keluar tanpa pengawalan."
"Siap."
Dimas mengangguk lalu keluar dari ruangan.
Setelah pintu tertutup, Adrian kembali menatap foto keluarganya.
Firasatnya mengatakan satu hal.
Badai yang sesungguhnya baru akan dimulai.
Dan kali ini...
musuh mereka sudah semakin dekat.
Bersambung ke Bab 34...