bagi orang lain, cinta pertama seorang anak perempuan adalah seorang ayah tapi tidak Resty, karena baginya ayah adalah neraka baginya
inilah kisahnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon glaze dark, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 35
Ketika bel kedua akhirnya berbunyi, seluruh kelas meledak dalam keriuhan. Murid-murid lain langsung berhamburan keluar dengan riang, seolah-olah bel itu adalah kode untuk membebaskan diri dari kurungan. Tapi Resty dan Dinda tetap duduk beberapa detik lebih lama, masih mencerna pelajaran dari Bu Indri dan masih menyesuaikan diri dengan ritme baru yang harus mereka ikuti.
"Gimana kalau kita ke kantin?" ajak Dinda, suaranya masih setengah ragu. "Tapi pelan-pelan. Jalan kayak murid teladan, biar gak ada guru piket yang nyetop."
Resty mengangguk setuju. Mereka berjalan beriringan melewati koridor, mengamati setiap detail: papan pengumuman yang penuh selebaran kegiatan, foto-foto kegiatan siswa angkatan sebelumnya, dan lukisan dinding yang menggambarkan visi misi sekolah. Sebagai murid baru, semuanya masih terasa asing tapi sekaligus menarik untuk dipelajari.
Di kantin, mereka sengaja memilih antre di barisan paling belakang. Bukan karena malu, tapi karena ingin mengamati dulu bagaimana sistemnya bekerja. Murid-murid lain sudah tahu harus pesan apa, bayar ke siapa, duduk di meja mana. Sementara Resty dan Dinda masih harus beradaptasi, masih harus mencatat setiap prosedur agar tidak salah langkah lagi.
Sambil menunggu giliran, Dinda berbisik, "Tadi kata Bu Indri, disiplin itu buat bentuk karakter kita sendiri. Aku baru ngeh...! selama ini Aku kira disiplin itu cuma buat nurut sama guru dan orang tua. Ternyata lebih dari itu."
Resty menyuapkan sendok nasi uduk ke mulutnya. Uang yang diberikan Awi tadi pagi lebih dari cukup untuk jajan. lalu menjawab dengan mulut penuh yang dia tutup rapat pakai tangan. "Iya. Sebagai murid baru, kita punya kesempatan buat bangun karakter dari nol. gak ada beban masa lalu. Jadi kalau kita mulai dengan disiplin sekarang, orang-orang bakal inget kita sebagai murid baru yang beda."
Perbincangan itu terasa lebih dewasa dari obrolan murid baru pada umumnya. Tekanan dari insiden pagi tadi ternyata mempercepat proses pendewasaan mereka. Dalam beberapa jam saja, Resty dan Dinda sudah belajar pelajaran yang biasanya butuh berminggu-minggu untuk dipahami: bahwa reputasi dibangun dari konsistensi tindakan kecil setiap hari.
Setelah selesai makan, mereka sengaja kembali ke kelas lebih awal daripada teman-teman lain. Langkah kaki mereka lebih mantap, punggung lebih tegak, dan senyum lebih percaya diri. Karena mereka sadar, sebagai murid baru yang baru masuk beberapa hari, setiap pilihan yang mereka buat hari ini akan menjadi fondasi bagi cerita mereka selama tiga tahun ke depan.
Pelajaran akhir dimulai. Kali ini guru yang masuk lebih ramah dan murah senyum, tidak ada ketegangan yang terjadi seperti pagi tadi. pelajaran ini lebih santai dari sebelumnya. Suasana kelas juga terasa berbeda.
Bu Wulan, guru Bahasa Indonesia, menuliskan tema hari ini di papan: "Sikap dan Tanggung Jawab". Entah kebetulan atau tidak, Resty dan Dinda saling lirik sekilas.
Sepanjang pelajaran, mereka berdua paling aktif angkat tangan. Bukan buat cari perhatian. Tapi karena mereka benar-benar nyatet, benar-benar dengerin. Waktu Bu Wulan minta kelompok maju presentasi dadakan, Resty yang biasanya gugup malah maju duluan.
"Kami berdua, Bu," kata Dinda, berdiri di sebelahnya.
Presentasinya tidak sempurna. Suara mereka masih gemetar. Tapi mereka tepat waktu, sudah siap, dan saling melengkapi. tidak ada drama dan tidak ada alasan.
Pas bel pulang berbunyi, Bu Wulan mampir ke meja mereka. "Saya lihat perubahannya," bisiknya. "Reputasi baru emang dimulai dari hal kecil ya."
Ketegangan yang menggantung sejak pagi buta tadi. Suara bel itu bukan sekadar pertanda jam pulang, melainkan semacam deklarasi pembebasan bersyarat bagi Resty dan Dinda yang sedari tadi menahan napas.
Anak-anak lain berhamburan keluar kelas dengan antusiasme yang meledak-ledak, kursi-kursi diseret tanpa ampun, tas-tas dilempar ke bahu, sementara obrolan bersahut-sahutan menciptakan simfoni kekacauan khas akhir pelajaran. Namun berbeda dengan mereka, Resty dan Dinda justru bergerak dengan kecepatan yang terukur, seakan-akan mereka sedang melaksanakan ritual penutup yang sakral setelah melalui badai disiplin yang nyaris menelan mereka utuh. Mereka merapikan meja masing-masing dulu. Kursi dimasukkan, kertas bekas dirobek lalu dibuang ke tempat sampah. Hal kecil. Tapi mereka sengaja melakukannya pelan-pelan, biar jadi kebiasaan.
Di luar kelas, suasana koridor sudah kayak pasar. Teman-teman lain saling kejar, ada yang teriak manggil nama, ada yang rebutan di depan pintu gerbang.
"Besok kita tetap 10 menit lebih awal kan?" tanya Resty sambil nyusulin Dinda yang udah nunggu di tangga.
Dinda ngangguk, ngeluarin permen mint dari saku. Dia bagi dua. "Janji. Reputasi gak dibangun dalam sehari, tapi dirusak bisa sedetik doang."
Mereka jalan pulang bareng, tidak secepat anak lain. Langkah masih sama punggung tegak, ngobrolnya lebih rendah. Di gerbang, Pak Satpam yang tadi pagi sempet lihat insiden mereka cuma ngangguk kecil. tidak senyum, tapi juga tidak judesin seperti pagi tadi.
Resty baru mau pamit ke Dinda, langkahnya terhenti. Di seberang pagar, ada Honda butut warna biru dongker yang catnya sudah banyak ngelupas. Di atas motor itu, Bapaknya duduk nungguin, helmnya ditaruh di spion. Keringat masih nempel di pelipis, kemeja kerjanya yang sudah pudar warnanya kebuka satu kancing.
Bapaknya bukan tipe yang suka jemput. Tapi hari ini bapaknya mengantar pagi tadi dan sekarang juga menjemputnya. "Anak gede harus mandiri," katanya dulu sambil membentak. Tapi hari ini beda.
Resty jalan pelan ke arah motor itu. Anak-anak lain yang lewat langsung ngelirik. Ada yang bisik-bisik, "Itu motor siapa sih? Udah tua banget."
Resty denger. Tapi dia tidak peduli, karena mereka tidak tahu, sebahagia apa dirinya bisa di jemput bapaknya."Assalamualaikum, Pak," sapanya. Suaranya tidak malu-malu lagi.
Awi nengok, ngelap keringat pakai lengan kemeja."waalaikumsalam, anak bapak."
Awi memberikan helm ke Resty. Ia nerima helm itu, tangannya gemetar dikit. Helmnya bau keringat dan minyak rambut Awi. Tapi buat dia, itu baunya paling aman sedunia.
Sebelum naik, dia muter badan sekilas ke arah Dinda. Dinda yang masih berdiri di tangga ngacungin dua jempol. Resty balas dengan senyum kecil, bukan senyum maksa seperti sebelumnya.
Begitu mesin motor butut itu dinyalakan, suaranya brebet-brebet khas motor tua. Beberapa anak SMP di gerbang ada yang ketawa kecil. Resty denger. Tapi dia milih nguatin pegangannya ke pinggang Bapak, duduk tegak, dagu ngangkat.