NovelToon NovelToon
Petani Ndeso Di Dunia Game

Petani Ndeso Di Dunia Game

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Romansa / Slice of Life
Popularitas:11.2k
Nilai: 5
Nama Author: DipsJr

Bima Saputra, seorang sarjana pariwisata yang hidupnya terjerat lilitan utang keluarga, kini terjebak menjadi juragan warung sayur di Kabupaten Jatiroso. Realita yang pahit, ibu sakit, dan pernikahan diam-diam dengan wanita impiannya, Dinda, membuatnya merasa terhimpit. Namun, nasibnya berubah drastis saat ponselnya kesetrum, membuka gerbang menuju ladang virtual game Harvest Moon! Kini, ia bisa menanam buah dan sayur berkualitas dewa yang tumbuh sekejap mata, memindahkannya ke dunia nyata, dan menjualnya untuk meraup omzet gila-gilaan. Dari semangka manis hingga stroberi spesial, Bima menemukan jalan ninjanya menuju kekayaan. Bisakah ia melunasi utang ratusan juta, membahagiakan ibunya, dan meresmikan pernikahannya dengan Dinda secara terang-terangan, tanpa ada yang mencurigai rahasia ladang gaibnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DipsJr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pindahkan Semangka dari Game ke Dunia Nyata buat Dijual!

Di Kabupaten Jatiroso, jalur kulakan semangka biasanya cuma ada dua. Yang pertama, pergi ke pasar induk grosir buah yang lokasinya ada di kawasan logistik ujung kabupaten, lumayan jauh jarak tempuhnya. Yang kedua, harus mau capek dikit blusukan ke desa-desa sekitar buat nebas langsung dari petani.

Jadi, dengan harga grosir yang sama-sama Rp 6.000 sekilo, tapi kualitas semangka jauh lebih enak dan free ongkir sampai depan warung, mustahil nggak ada yang mau beli.

Begitu pesan promo Bima terkirim, tiga orang di grup langsung nyahut.

"Oalah, ternyata Mas Bima."

"Mas Bima sekarang banting setir jadi agen grosir toh?"

"Wah, boleh lah aku ikut ngeramein."

Bima kenal betul dengan tiga orang yang membalas pesan itu. Kebetulan lapak mereka juga berada di sekitar jalanan pasar.

Melihat grup kembali sepi, Bima pun janjian dengan ketiganya untuk bertemu di warungnya.

Saat itu, Bima menyadari layar antarmuka game di benaknya memunculkan notifikasi. Bibit yang baru ditanamnya butuh disiram air untuk pertama kalinya.

Lewat kendali pikirannya, ia segera mengarahkan karakter gamenya masuk ke gudang perkakas, mengambil gembor air, mengisinya di tepi sungai, lalu menyiram seluruh bibit tersebut.

Tak lama berselang, ketiga orang dari grup WhatsApp tadi tiba dengan mengendarai motor masing-masing. Dua orang bapak-bapak, Pak Darjo dan Pak Hasan, serta satu ibu-ibu bernama Bu Ningsih.

Baru saja melangkah masuk, Darjo langsung nyerocos, "Bim, mana semangkamu? Coba liat!"

Bima menunjuk tumpukan semangka di lantai, "Pak Darjo, Pak Hasan, Bu Ningsih, monggo dicek dulu semangkanya."

Ketiganya langsung mendekat dan menginspeksi. Sebagai pemain lama di bisnis buah, mereka tentu tahu cara membedakan mana barang bagus dan mana barang abal-abal.

Corak garisnya tajam dan warnanya kontras... Tangkainya masih hijau segar, tanda baru dipetik. Pas ditepuk bunyinya nyaring memantul. Dilihat dari sudut mana pun, ini jelas semangka kualitas super.

"Kelihatannya mantap bener nih," puji Darjo sambil tersenyum. Pak Hasan dan Bu Ningsih ikut mengangguk setuju.

Tapi, zaman sekarang banyak tengkulak dan petani bodong yang suka main curang. Biar afdal, buahnya tetap harus dibelah buat dicicipi.

Bima tentu paham kode tersebut. Ia mempersilakan mereka, "Monggo, silakan pilih aja satu buat dibelah."

"Bim, yang ini aja!" Darjo menunjuk salah satu semangka secara acak.

Bima mengangguk. Ia mengangkat semangka itu dan langsung membelahnya jadi dua. Daging buah berwarna merah segar yang menggugah selera langsung terekspos.

Bima memotong semangka itu menjadi irisan-irisan kecil, lalu menawarkannya, "Pak Darjo, Pak Hasan, Bu Ningsih, monggo diicipi!"

Ketiganya tidak sungkan. Mereka masing-masing mengambil sepotong dan mulai melahapnya.

"Guk! Guk!"

Terdengar lagi suara gonggongan anjing hitam dekil tadi. Sepertinya ia melihat Bima sedang bagi-bagi semangka, makanya ia kembali nongkrong di depan pintu warung dengan langkah pelan penuh harap.

Asu, beneran ngelunjak nih anjing. Melihat tingkahnya, Bima dengan santai melempar satu irisan lagi ke arah anjing tersebut.

Anjing itu kalau kebanyakan makan semangka biasanya bakal mencret. Biarin aja dia ngerasain kejamnya dunia, biar tahu rasa kalau makanan ini nggak cocok buat perutnya dan kapok mampir ke mari lagi.

Berkat buff atribut Lezat +1, Manis +1, Tekstur +1, Darjo dan kawan-kawan baru mengunyah dua gigitan saja matanya sudah berbinar terang.

"Iki baru semangka jos! Rasanya jauh lebih mantap dibanding stokku yang kemarin-kemarin."

"Beneran, jian manis pol, airnya juga luber."

"Bim, kowe beneran mau ngirim free ongkir sampai warung?"

Ketiganya serempak menatap Bima. Semangka dengan visual menggoda dan rasa kualitas dewa ini harganya sama dengan harga tengkulak biasa, masih ditambah gratis ongkos kirim pula. Bener-bener nggak ada alasan buat nggak kulakan.

"Ya jelas dong, Pak. Pasti saya antar sampai depan lapak," jawab Bima meyakinkan.

Ketiga bos warung itu mengangguk mantap. Mereka langsung memutuskan untuk mengambil masing-masing 30 buah sebagai permulaan, menyisakan beberapa buah untuk stok warung Bima sendiri.

Jarak lapak mereka lumayan dekat. Bima juga tidak menagih uang muka (DP). Transaksi disepakati dengan sistem COD, bayar di tempat saat semangka tiba.

Bima sengaja repot-repot nawarin free ongkir murni demi menjaga rahasia. Memang warungnya tidak dipasangi CCTV, tapi jalanan pasar ini CCTV-nya ada di mana-mana.

Kalau dia terus-terusan ngeluarin ratusan semangka dari warung mungilnya ini secara gaib, sekali dua kali mungkin nggak masalah, tapi kalau keseringan pasti bakal memancing curiga. Gila aja, tiap hari nggak pernah kelihatan truk datang loading barang, tapi bisa terus-terusan jual semangka dalam partai besar? Kalau sampai ada yang kepo dan ngelapor, bisa berabe urusannya.

Makanya, ke depannya dia mutlak harus mencari markas yang lebih tersembunyi.

Setelah rombongan Darjo pamit undur diri, Bima melirik sekilas ke arah anjing hitam yang masih asyik mengunyah kulit semangka di luar. Ia masa bodoh, lalu menutup dan menggembok rolling door warungnya. Bima berjalan menuju area dalam parkiran pasar, menghampiri sebuah motor roda tiga niaga (Tossa) butut yang besi pegangannya sudah karatan parah. Dijual sejuta aja mungkin rongsokan pun nolak.

Tapi asal bannya nggak meledak, motor Tossa butut ini masih lumayan badak buat ngangkut muatan sampai satu ton.

Bima menyetir Tossa itu ke depan warungnya. Ia memindahkan seluruh pesanan semangka ke atas bak, mengunci kembali warungnya, lalu tancap gas mengantar pesanan Darjo dan kawan-kawan.

Lapak Darjo adalah yang paling dekat, sama-sama berada di jalanan pasar, cuma perlu melintasi beberapa blok. Nama lapaknya Warung Buah Darjo Jaya.

Darjo terlihat sedang mengobrol dengan seorang pria pembeli semangka di depan warungnya. Begitu melihat motor roda tiga Bima merapat, ia langsung menarik pria itu dan mempromosikan barangnya, "Mas Topik, sini liat semangka yang baru di-drop ini. Fresh dari kebun, kualitas sultan! Sini pilih satu, tak belahin buat tester."

"Boleh, Pak Darjo," angguk Mas Topik sambil mendekat ke bak motor dan mulai memilih-milih.

Darjo menjelaskan pada Bima, "Bim, Mas Topik ini tetangga atas ruko sekaligus pelanggan setiaku. Dia emang doyan banget makan semangka, sekali beli pasti borong banyak. Nanti hitungannya digabung aja."

"Siap, Pak," Bima mengangguk.

Mas Topik dengan cepat memungut satu semangka jumbo dari bak motor Bima dan menyerahkannya ke Darjo untuk ditimbang.

"Bim, ini beratnya 5,5 kilo." Sehabis menimbang, Darjo menaruhnya di talenan, membelahnya, dan memberikan seiris kecil kepada Mas Topik.

Karena sudah langganan, Mas Topik menerimanya tanpa sungkan dan langsung menggigitnya. Sedetik kemudian, ia berseru kaget, "Wah, Pak Darjo, iki beneran manis pol! Teksturnya juga krenyes-krenyes seger, jauh lebih enak dari semangka yang kemaren-kemaren! Harganya piro, Pak?"

Darjo tersenyum sumringah. "Harganya tetep sama kok, delapan ribu sekilo. Mau ambil berapa?"

"Kalau gitu aku ambil 4 buah aja deh, Pak. Nanti sampeyan minta tolong anterin ke atas ya," ucap Mas Topik sambil mencomot 4 buah semangka dari bak motor Bima untuk ditimbang. Keempat buah itu semuanya berukuran raksasa di atas 5 kilogram. Total beratnya mencapai 23,5 Kilogram.

Darjo menghitung, "23,5 kilo, jadinya Rp 188.000, Mas. Tolong ditandain dulu yang punya sampeyan, nanti kalau udah selo tak anter."

"Alah, nggak usah ditandain segala, aku percaya sama Sampeyan. Duitnya udah tak transfer pakai QRIS ya, Pak," Mas Topik melambaikan tangan sambil memamerkan bukti transfer di ponselnya.

Begitu tetangganya itu pergi, Darjo kembali menyapa Bima. "Bim, semangka dari kebun saudaramu ini bener-bener sakti. Mas Topik itu aslinya rewel banget lho kalau urusan rasa semangka."

Bima tentu saja ikut gembira. Ia mengambil keranjang bambu dari warung Darjo dan mulai mengangkut sisa pesanan. Darjo berhasil menjual 4 buah semangka, yang artinya ikut menyumbang pemasukan segar lebih dari seratus ribu rupiah ke kantong Bima.

Bima menurunkan sisa 26 buah semangka. Total berat 26 buah itu adalah 143,5 kg. Jika digabung dengan pesanan Mas Topik seberat 23,5 kg, total keseluruhannya mencapai 167 Kilogram. Dikalikan harga grosir Rp 6.000, tagihannya genap Rp 1.002.000.

Darjo dengan sigap mentransfer uang tersebut ke rekening Bima. Bima juga tak lupa menulis nota kuitansi untuk Darjo, mengingat dokumen ini penting untuk pelaporan pajak UMKM perorangan.

"Pak Darjo, kalau stoknya nipis langsung kabari aja ya. Saya pamit ngirim jatah ke Pak Hasan sama Bu Ningsih dulu," ucap Bima dengan senyum lebar hingga ke telinga. Satu transaksi ini saja profitnya sudah jauh melibas keuntungan warungnya seharian full!

Rute selanjutnya, Bima mengirimkan masing-masing 30 buah semangka ke lapak Hasan dan Bu Ningsih.

Timbangan di lapak Hasan menyentuh 180 Kg, menghasilkan tagihan Rp 1.080.000. Sementara di lapak Bu Ningsih tercatat 164 Kg, menghasilkan tagihan Rp 984.000. Jika ditotal dengan setoran Darjo tadi, 90 buah semangka ajaib ini sukses menyumbang cuan bersih sebesar Rp 3.066.000.

Setibanya di warungnya sendiri, Bima terheran-heran melihat anjing hitam itu masih asyik rebahan santai di teras. Sama sekali tidak ada tanda-tanda mencret atau sakit perut. Lah, kok bisa?

Menjelang matahari terbenam, sisa semangka yang ditinggal di warungnya berhasil laku eceran sebanyak 4 buah. Ditambah dengan penjualan eceran pagi tadi, laci kasir warungnya bertambah tebal dengan uang tunai sekitar Rp 350.000. Secara keseluruhan, total omzet bersih yang ia keruk dari semangka gaib hari ini nyaris menyentuh angka tiga setengah juta rupiah!

Bima mengepalkan tangan menahan keinginan untuk berteriak heboh. Kalau dia bisa konsisten meraup tiga setengah juta rupiah sehari, omzet bulanannya bakal tembus di atas seratus juta rupiah! Di kabupaten sekecil Jatiroso, ini jelas kasta penghasilan level sultan!

Di tengah euforianya, layar antarmuka di kepalanya tiba-tiba memunculkan tanda peringatan. Ladangnya mulai ditumbuhi rumput liar. Ia harus segera menyianginya sebelum bibit semangka barunya layu berebut nutrisi.

Setelah urusan bersih-bersih lahan gaibnya selesai, Bima melirik jam dinding. Langit sudah gelap gulita. Ia mengemasi barang-barangnya, menyisihkan beberapa sayuran sisa jualan untuk dibawa pulang, menarik rolling door, lalu berjalan ke area parkir untuk memacu Tossa bututnya pulang ke rumah.

Normalnya, setiap subuh ia harus memakai Tossa reyot ini untuk kulakan sayur di pasar induk. Tapi mulai besok, fungsi Tossa ini bakal di-upgrade eksklusif cuma buat ngangkut semangka gaibnya.

Dengan omzet jutaan per hari, jualan sayur eceran receh sudah nggak level lagi buat dipusingin. Tunggu beberapa minggu, tumpukan utang ratusan juta peninggalan ayahnya pasti lunas tanpa sisa.

Tossa Bima merapat di sebuah kompleks perumahan susun yang sudah terlihat kusam dimakan usia. Sejak rumah asli mereka terpaksa dijual, Bima dan ibunya menyewa unit dua kamar tidur sederhana yang harga sewanya paling bersahabat di sini.

Begitu melangkah masuk ke unit rusun di lantai 3, ia mendapati ibunya, Bu Laras, sedang sibuk menyiapkan makan malam.

Walaupun statusnya apartemen dua kamar, aslinya ukurannya sangat sempit karena cuma hasil sekat partisi triplek. Ditambah tumpukan kardus dan barang rongsok di sana-sini, suasananya terasa makin pengap dan suram. Yah, mau bagaimana lagi. Dengan kondisi ekonomi yang minus dan utang mencekik leher, tempat berteduh bocor pun sudah patut disyukuri.

"Ibu ki lho, kan Bima udah bilang ntar makanannya Bima aja yang masak pas pulang," tegur Bima lembut begitu masuk.

"Halah, fisik Ibu emang lagi gampang drop, tapi kan bukan berarti Ibu lumpuh. Wis, cepet cuci tangan terus makan!" balas Bu Laras ngeyel. Meski wajahnya pucat pasi, nada bicaranya tetap tak mau kalah. Sebagai wanita pekerja keras seumur hidup, disuruh nganggur duduk manis di rumah justru terasa seperti siksaan batin baginya.

"Iya, iya, Ibu..." Bima cuma bisa mendesah pasrah sambil memasukkan sisa sayuran bawaannya ke dalam kulkas.

Bu Laras menyodorkan sepiring nasi hangat pada putranya dan bertanya, "Gimana jualan di warung hari ini, Le? Rame?"

"Wah, jauh lebih gacor dari kemarin-kemarin, Bu. Dan ke depannya dijamin bakal makin gila lagi." Teringat mukjizat yang dialaminya seharian ini, nada bicara Bima memancarkan aura keyakinan yang luar biasa tebal.

Mendengar jawaban super optimis khas Bima, Bu Laras malah menghela napas panjang merana. "Bim... Ibu sama mendiang Bapakmu bener-bener minta maaf ya, Le. Liat temen-temen seumuranmu, mereka pada enak dibantuin orang tuanya modalin biaya nikah, DP KPR rumah... Lha kowe? Malah diwarisi utang bejibun sama Bapak-Ibumu."

"Ya Allah, Ibu ki ngomong apa to? Ibu sama Bapak udah ngelahirin Bima utuh tanpa cacat, ngerawat sampai gede, terus nyekolahin Bima sampai sarjana. Itu aja udah utang budi yang nggak bakal bisa Bima bayar seumur idup!" Bima tak pernah sedikit pun menaruh dendam pada orang tuanya. Dibesarkan dengan limpahan kasih sayang penuh, itu jauh lebih berharga dibanding warisan harta miliaran bagi Bima.

Makin bijak Bima membalas, makin hancur perasaan Bu Laras merasa gagal jadi orang tua. Ia kembali mendesah pelan, "Bim, hubunganmu sama Dinda gimana? Kowe jangan pernah benci sama mertuamu lho, ya. Dinda itu anak wedok yang suangat baik. Orang tuanya juga udah mentok ngebantu kita... Mereka rela nggak minta uang mahar seserahan, nggak minta dibeliin mobil, murni cuma minta jaminan DP KPR rumah petak kecil aja buat kalian tinggal berdua. Tapi gimanapun juga, uang segitu pun keluarga kita nggak sanggup ngeluarin. Ini murni murni salahnya kondisi kita."

"Jalanin aja dulu hubunganmu sama Dinda pelan-pelan. Nanti kalau fisik Ibu udah mendingan, biar Ibu yang jaga warung. Kowe cari kerja kantoran aja yang jenjang karirnya jelas. Kita banting tulang bareng-bareng demi ngumpulin duit DP rumah itu. Tapi ya... andaikan takdir berkata lain dan kowe gagal nikahin Dinda, kowe harus ikhlas, Le!"

Gerakan tangan Bima yang sedang menyendok nasi seketika terhenti mengambang di udara.

Sosok Dinda Saraswati memang kelewat perfect di matanya. Mereka dulu satu angkatan di SMA, beda kelas bersebelahan. Lucunya, selama tiga tahun pakai seragam putih abu-abu, mereka mentok cuma tatap-tatapan pas papasan di lorong tanpa pernah nyapa sekalipun. Eh, takdir malah menyatukan mereka karena sama-sama keterima di kampus negeri yang sama, lalu duduk berdampingan di gerbong kereta yang sama saat merantau. Dari obrolan canggung di kereta itulah, benih-benih asmara mulai mekar. Fix, jalur jodoh emang misterius.

Dan jujur, Bima sadar seribu persen kalau dia nggak punya hak buat marah sama orang tua Dinda. Di zaman realistis sekarang ini, orang tua mana coba yang ikhlas ngelepas putri kesayangannya dinikahi sama cowok kere nggak punya mobil, rumah ngontrak, plus digelayuti utang ratusan juta? Kalau posisinya dibalik, Bima sendiri juga bakal nabok cowok macem itu.

Apalagi calon mertuanya itu aslinya udah sangat pengertian. Bebas mahar fantastis, bebas tuntutan roda empat, dan mentok cuma minta jaminan DP rumah KPR tipe 36 doang biar putrinya nggak luntang-lantung ngontrak. Syarat itu jauh, jauh lebih manusiawi dibanding mertua-mertua di luar sana yang matrenya naudzubillah. Kalau syarat sepele itu aja nggak bisa dipenuhi, ya itu mutlak aib pihak cowok. Kalau maksa komplain, namanya nggak tahu diri.

“Ibu tenang aja, rumah KPR itu pasti kebeli bentar lagi. Dinda juga pasti resmi jadi mantunya Ibu.”

Bima tersenyum tipis, tapi matanya tidak ikut.

Ia menyelesaikan makannya lebih cepat dari biasanya, lalu berdiri tanpa banyak bicara. Ibunya hanya mengangguk, tidak menyadari bahwa kalimat barusan… bukan sekadar janji.

Pintu kamar tertutup.

Kunci diputar.

Sunyi.

Bima membuka lemari, menggeser tumpukan pakaian, lalu menarik keluar sebuah map cokelat yang disembunyikan di bagian paling dalam.

Tangannya berhenti sejenak sebelum membuka isinya.

Seolah masih berharap… semuanya tidak nyata.

Dua buku nikah.

Merah dan hijau.

Nama Suami: Bima Saputra

Nama Istri: Dinda Saraswati

Cap resmi dari Kantor Urusan Agama tertera jelas. Tanda tangan. Nomor register. Tidak ada celah untuk menyangkal.

Pernikahan itu sah.

Sepenuhnya sah.

Dan justru itu yang membuatnya terasa lebih berat.

Ayah Dinda tidak pernah benar-benar menolak.

Pria itu hanya diam lama saat Bima datang, duduk berhadapan di ruang tamu dengan tangan dingin dan suara yang hampir gemetar.

“Aku serius, Om. Aku mau tanggung jawab.”

Kalimat itu sederhana. Tapi cukup.

Ayah Dinda menghela napas panjang, lalu berkata pelan, “Asal kamu berani nikahin dia secara benar… saya jadi walinya.”

Tidak ada pelukan. Tidak ada restu hangat.

Hanya izin yang diberikan… dengan berat hati.

Yang tidak pernah mereka dapatkan—

adalah restu ibunya.

“Ibu nggak akan pernah setuju,” bisik Dinda malam itu, suaranya bergetar. “Kalau Ibu tahu, semuanya bakal hancur sebelum mulai.”

Dan untuk pertama kalinya, Bima melihat sesuatu di mata Dinda.

Bukan sekadar cinta.

Tapi ketakutan… yang hampir berubah jadi nekat.

Mereka tetap menjalani proses di Kantor Urusan Agama seperti pasangan lain.

Daftar.

Verifikasi.

Menunggu hari akad.

Hari itu datang tanpa kemeriahan.

Tanpa keluarga besar.

Tanpa ibu dari pihak mempelai wanita.

Ayah Dinda hadir.

Duduk kaku.

Tatapannya berat saat mengucapkan ijab, seolah setiap kata yang keluar adalah beban yang harus ia tanggung sendiri.

Bima menjawab dengan suara mantap.

Sah.

Dalam satu tarikan napas status mereka berubah.

Setelah itu, semuanya kembali… seperti tidak terjadi apa-apa.

Dinda pulang ke rumahnya.

Bima kembali ke rumahnya.

Dan dunia tetap berjalan seolah mereka belum terikat apa-apa.

Hanya saja

sekarang ada sesuatu yang harus disembunyikan dari satu orang.

Orang yang paling tidak boleh tahu.

Bima menutup buku nikah itu perlahan.

Ia teringat tatapan ayah Dinda hari itu.

Bukan marah.

Bukan juga sepenuhnya ikhlas.

Lebih seperti… seseorang yang tahu ia baru saja mengkhianati rumahnya sendiri, demi anak yang tidak ingin ia kehilangan.

Dan ibu Dinda?

Jika wanita itu tahu—

ini bukan sekadar kemarahan.

Ini bisa jadi akhir dari segalanya.

Bima menyandarkan punggung ke lemari.

Matanya terpejam.

Untuk pertama kalinya sejak hari itu, ia benar-benar merasa—

mereka tidak sedang menyembunyikan hubungan.

Mereka sedang menunda… ledakan.

Di tengah lamunan melankolisnya, layar sistem di kepalanya tiba-tiba berkedip memberi sinyal. Bima buru-buru menaruh kembali map cokelat tersebut, mengunci lemari, lalu memfokuskan pandangannya ke dalam layar antarmuka.

Di petak ladang tersebut, bibit-bibit semangka sudah menjalar membentuk sulur lebat. Besok pagi pasti sudah matang dan siap panen. Tapi sialnya, di antara dedaunan rimbun itu muncul ulat-ulat hama yang berkedip menyebalkan. Hama ini harus segera dibasmi, kalau tidak durasi panennya bakal molor dan jumlah produksinya bisa kena nerf.

Hanya dengan menjentikkan niat di otak, Bima mengendalikan karakternya untuk mengeluarkan jaring serangga kecil dan membasmi hama ulat tersebut satu per satu.

1
Yuliana Tunru
kapqnnih kejutan x buat dinda ..pasti dinda ternehek2 takjub bina sdh jd orkay 🤭🤭
Maz Shell
lanjutkan Thor
Yuliana Tunru
mantap bima hrs jd suami setia hempaskan cwek2 halu sok cantik pula mulut x penuh filter racun 🤭🤭
Yuliana Tunru
bima mmg the best tak sabar nunghu oeresmian vila oleh dinda jgn lupa klga x dinda ya sekian lamaran resmi ke ihu x dinda vila jd mas kawin bakqlqn shock habis tuh ibu2 💪💪💪bima up 3 napa thorrr blm puas ini
Tio Kusuma
mantappppp
Manusia Biasa
auto diborong🤣
Hardjoe Kewek
terima kasih
Hardjoe Kewek
cerita nya bagus,alurnya jg bagus
Jujun Adnin
lanjut
Yuliana Tunru
tak sabar gmn para karyawan bima yrrmehek2 liat bijit tanaman bogenvile x di tata aplg yg kelas sultan up x kurang thorrr 🤭🤭🤭
ZHIVER
thor tak bisa bahasa jawa
Yuliana Tunru
kwalitas gila tuh tak sabar nunggu bima nanam semua hunga di tanah koßoang trus buat gazebo2 buqt qisatawan nikmati ..cuan ngalir kyk air 💪💪 bimaa
Yuliana Tunru
smoga bimo yg dapat vila x buat hadiah pernikahan x dgn dinda ..gassss
Jack Strom
Lah dapat ikan hias legend, masalahnya mau diletak dimana itu ikan???🤔😁
Blue Izoel
tetap semangat thor bikin cerita petani 👍💪
Jack Strom
Ikan² kualitas 2 gak usah dijual, buat dikonsumsi saja, sayang efeknya tuh... 😁
Jack Strom
Selain lunasi pinjaman 100jt, juga kasih bantuan nikah 50jt cukup... 😁
Yuliana Tunru
mantal bima...bayarin utang2 mu duku bima hbs tuh siap2 ngumpuli buat beliin dinda rmh jd lapang tuh hati
Blue Izoel
update terus thor bakal saingan nih sma lahan mustika klo bnyk episode nya👍💪
Jack Strom
Wuih, sudah mulai ada acara mancing2nya, dapat ikan gede lagi... mantap!!! 😁
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!