NovelToon NovelToon
Tolong Sayangi Aku

Tolong Sayangi Aku

Status: tamat
Genre:Dunia Masa Depan / Balas Dendam / Ketos / Tamat
Popularitas:12k
Nilai: 5
Nama Author: canny***

"Duniaku gelap, tapi aku tidak butuh lampu. Aku hanya butuh seseorang yang tidak memalingkan wajah saat aku memanggil 'Papa'."
Di kediaman Tenggara yang megah, Aurora Alandriana adalah sebuah anomali. Di tengah kesuksesan sang Ayah dan dominasi keempat kakak laki-lakinya—Eros, Gavin, Juna, dan Arvin—Aurora hidup seperti hantu. Baginya, rumah itu bukan tempat berteduh, melainkan sebuah pengadilan yang menghukumnya atas kesalahan yang tidak pernah ia lakukan: lahir ke dunia.
Tiap sudut rumah adalah pengingat akan kebencian. Meja makan adalah tempat penghinaan, dan lorong sekolah adalah tempat ia harus berpura-pura tidak mengenal darahnya sendiri. Terutama Arvin, kakak keempatnya yang paling dekat jarak usianya, yang memilih untuk menjadi perundung paling kejam di sekolah hanya untuk membuktikan bahwa Aurora tidak punya tempat di hidupnya.
Namun, saat sebuah rahasia besar di balik kematian sang Ibu mulai terkuak, dan saat tubuh Aurora yang rapuh mulai mencapai batas kemampuannya untuk ber

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon canny***, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 9

Pagi di hari ketiga MPLS tidak diawali dengan sinar matahari, melainkan dengan langit yang berwarna abu-abu pekat, seolah alam sedang ikut berduka atas apa yang akan terjadi.

Di dalam kamar sempitnya, Aurora terbangun dengan rasa sakit yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Dada kirinya terasa seperti dihantam palu godam, menciptakan denyutan nyeri yang menjalar hingga ke punggung dan ujung jemarinya.

Ia mencoba duduk di tepi tempat tidur, namun dunianya seketika berputar. Paru-parunya terasa menyempit, membuat setiap tarikan napas menjadi perjuangan hidup dan mati.

Aurora meraih botol air mineral di atas meja kecilnya, namun tangannya terlalu gemetar hingga botol itu jatuh ke lantai.

"Tolong..." bisiknya lirih, namun ia segera tersadar. Tidak ada siapa pun yang akan datang menolongnya di rumah ini. Nenek Lastri sedang pergi ke pasar sejak subuh, dan kakak-kakaknya? Mereka hanya akan menganggap keluhannya sebagai gangguan pagi yang tidak diinginkan.

Dengan sisa tenaga, Aurora bersiap. Ia memulas sedikit bedak untuk menutupi wajahnya yang kini sepucat kertas mayat. Ia tidak boleh terlihat sakit. Sakit berarti lemah, dan lemah berarti aib bagi keluarga

Tenggara.

Di ruang makan, suasana tetap sama. Dingin dan angkuh.

"Vin, pastikan hari ini tidak ada drama pingsan lagi," ucap Gavin tanpa mengalihkan pandangan dari ponselnya. "Kepala sekolah menelepon Papa kemarin. Katanya, reputasi keluarga kita dipertanyakan karena 'insiden' lapangan kemarin. Papa sangat murka."

Arvin yang sedang menyantap rotinya mendengus. "Gue nggak bisa janji, Kak. Anak pembawa sial ini kan hobinya memang cari perhatian. Lihat saja mukanya, sudah disiapkan buat akting pingsan jilid dua."

Aurora berdiri di ambang pintu, memegangi pinggiran meja untuk menopang tubuhnya yang limbung. Ia menatap Arvin, berharap menemukan sedikit saja empati di mata kakaknya itu. Namun, yang ia temukan hanyalah kilat kebencian yang sama.

"Aku... aku berangkat sekarang," suara Aurora

terdengar parau dan putus-putus.

"Pergi sana. Jangan lewat pintu depan, Pak Sopir sedang mencuci mobil Eros. Kamu lewat pintu belakang saja, jangan sampai bajumu yang kotor itu menyenggol mobil mahal itu," perintah Juna dengan nada datar

yang menyayat hati.

Perjalanan menuju sekolah terasa seperti ribuan kilometer bagi Aurora. Setiap langkah kaki menaiki bus adalah siksaan. Sesampainya di SMA Cakrawala, upacara penutupan MPLS sudah dimulai.

Ratusan siswa baru berbaris di bawah awan mendung yang lembap. Udara terasa sangat berat bagi paru-paru Aurora.

"Ayo semuanya, tegakkan badan kalian! Ini hari terakhir!" teriak Kaila Ranisatya dari atas podium. Matanya yang tajam seperti elang segera menemukan sasaran favoritnya: Aurora yang berdiri dengan bahu merosot di

barisan paling belakang.

Kaila turun dari podium, langkah sepatunya berbunyi ritmis di atas aspal lapangan. Ia menghampiri Aurora.

"Kamu lagi. Kenapa postur tubuhmu seperti orang mau mati, Aurora? Kamu sengaja mau merusak estetika barisan ini?"

"Maaf, Kak... dadaku... sesak," rintih Aurora. Pelat keringat dingin mulai membasahi dahinya.

"Sesak? Atau kamu cuma malas karena sebentar lagi ada pengumuman pemenang atribut terbaik?" Kaila tertawa sinis, diikuti oleh beberapa panitia lain.

"Dengar, Aurora. Arvin ada di sana, memperhatikanmu. Jangan harap dia bakal lari menolongmu seperti di film-film. Dia justru yang menyuruhku untuk lebih tegas padamu."

Aurora menoleh ke arah barisan senior. Di sana, Arvin berdiri dengan tangan bersedekap. Ia memang sedang menatap ke arah Aurora, namun ekspresinya tidak terbaca. Bagi Aurora, tatapan itu terasa seperti vonis mati.

Tiba-tiba, rasa sakit di dada Aurora memuncak. Ia merasa ada sesuatu yang hangat naik ke tenggorokannya. Ia terbatuk kecil, mencoba menahannya dengan telapak tangan. Saat ia melihat tangannya, ada bercak cairan merah kental yang tercampur dengan ludah.

Darah.

Mata Aurora membelalak. Tubuhnya gemetar hebat. Ia mencoba mencari pegangan, namun ia hanya memegang udara kosong.

"Lho, kenapa diam saja? Saya bicara sama kamu!" Kaila mendorong bahu Aurora dengan

cukup keras.

Dorongan itu menjadi pemicu terakhir. Tubuh Aurora yang sudah berada di ambang batas tak lagi mampu bertahan. Ia jatuh berlutut, kedua tangannya mencengkeram seragam tepat di bagian jantung. Napasnya terdengar pendek-pendek dan berbunyi ngik yang menyakitkan.

"Hah... hah... S-sakit..."

"Halah! Jangan akting!" Kaila berteriak, mulai merasa kesal karena perhatian semua siswa kini tertuju pada mereka. "Bangun sekarang atau saya siram pakai air kotor!"

Arvin, yang awalnya hanya menonton, mulai merasakan debaran aneh di jantungnya. Ia melihat Aurora yang terus mencengkeram dadanya hingga kuku-kukunya memutih. Ini berbeda dari pingsan kemarin. Wajah Aurora bukan lagi pucat, melainkan membiru di sekitar bibir.

"Ra?" Arvin melangkah maju satu tindak, namun keraguan masih menahannya. 'Ini pasti tipu muslihat dia,' batinnya mencoba menyangkal.

Namun, saat Aurora menoleh ke arah Arvin dengan tatapan mata yang mulai kehilangan fokus—tatapan mata yang seolah mengucapkan selamat tinggal—pertahanan Arvin runtuh.

"ARVIN! TOLONG!" Bimo berteriak dari barisan lain saat melihat Aurora tiba-tiba tersungkur ke depan. Wajahnya menghantam aspal panas, dan dari hidungnya, darah segar mengalir deras, membasahi kain putih seragamnya yang kotor.

"Aurora!" Arvin berlari secepat kilat, menabrak barisan siswa dan mendorong Kaila hingga terjatuh ke samping.

Ia meraih tubuh kecil adiknya itu ke dalam pelukannya.

Tubuh itu terasa sangat dingin dan ringan, seolah-olah tidak ada lagi beban hidup di dalamnya. Darah dari hidung Aurora mengenai tangan Arvin, warna merah yang begitu kontras dengan kulit pucat adiknya.

"Ra... bangun! Jangan bercanda, Ra!" Arvin mengguncang bahu Aurora dengan tangan gemetar. "Gue nggak akan maafin lo kalau lo mati sekarang! Bangun!"

Untuk pertama kalinya dalam enam belas tahun, Arvin merasakan ketakutan yang murni. Ketakutan akan kehilangan satu-satunya orang yang memiliki mata yang sama dengan wanita yang ia rindukan.

Di tengah lapangan yang riuh oleh teriakan panik, Arvin menggendong tubuh Aurora, berlari sekuat tenaga menuju mobil di parkiran. Ia mengabaikan semua aturan sekolah, mengabaikan Kaila yang masih terpaku, dan mengabaikan egonya yang setinggi langit.

"Tolong... jangan pergi dulu, Ra. Sayangi gue sebentar saja..." bisik Arvin dengan suara yang pecah oleh tangis yang selama ini ia kunci rapat.

Namun, Aurora tetap diam. Matanya tertutup rapat, dan detak jantungnya terasa sangat lemah di bawah telapak tangan Arvin, seolah-olah ia sudah benar-benar lelah menunggu kasih sayang yang tak kunjung datang.

1
Emily
seharusnya kalian keluarga bramantyio juga sebagai tersangka terutama biang kerok si bramantyio
Emily
wah ini bpak nya bisa di kenakan pasal menelantarkan anak
Emily
bapaknya biang keroknya udah tua Bangka kelakuan macam iblis
Emily
salah lu sendiri nyet
Emily
pesong
Emily
keluarga goblok gak waras pikirannya sinting penampilan aja mentereng
Emily
wah keluarga odgj kah
Emily
apa itu keluarga psikopat dgn anak dan saudara kandung berperilaku kejam
ArchaBeryl
Terimakasih kak untuk ceritanya
Banyak pelajaran yg bisa kita ambil dari cerita kk
sungguh sangat sedih dan menguras air mata🥹🥹🥹
ArchaBeryl
😭😭😭😭😭🥹🥹🥹🥹
Neneng Lesmana
sedih
ArchaBeryl
😭😭😭😭😭😭😭
ArchaBeryl
Alur ceritanya bagus kak
tapi gak kuat bacanya
soalnya sedih banget 😭😭🥹🥹
ArchaBeryl: Pastinya kak💪💪💪
total 1 replies
ArchaBeryl
sedih pakek banget😭😭😭😭
syina chan
hi
ArchaBeryl
sedih kak🥹🥹🥹🥹🥹
ArchaBeryl
lanjut kak tetap semangat 💪💪💪
ArchaBeryl
lanjut kak penasaran
ArchaBeryl
mana lanjutnya kak
merry
hbs in hdp dgn baik Rora nikmati kekayaan kluarga mu 😄😄😄 ,,, ksh kesempatan buat abng mu Bpk mu yg bodoh Percy takhayul itu wlpun gk mudah ya 🙏🙏🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!