Safa adalah gadis cantik nan penurut yang tampaknya selalu dimusuhi takdir. Sejak kecil, ia tak pernah mencecap manisnya kasih sayang keluarga, bahkan dari ibunya sendiri. Kesalahan di masa lalu yang bukan kehendaknya membuat Safa dilabeli sebagai "anak pembawa sial" dan dibenci seumur hidup. Puncaknya, ia dipaksa menikah dengan seorang kakek demi menyelamatkan bisnis keluarga yang nyaris bangkrut.
Namun, kenyataan tak seburuk dugaannya. Sang kakek ternyata hanya perantara, ia mencarikan istri untuk cucu laki-lakinya yang bertemperamen kaku, cuek, dan dingin. Di rumah barunya, Safa yang terbiasa disisihkan justru mulai merasakan hangatnya kasih sayang dari keluarga sang suami yang memperlakukannya dengan sangat baik. Sayangnya, benteng es di hati suaminya sendiri tetap tak tergoyahkan.
Mampukah Safa memenangkan hati pria yang menikahinya hanya karena amanah sang kakek? Ataukah pernikahan "titipan" ini akan hancur dan berakhir dengan perceraian?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Uswatun Kh@, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
3. Pernyataan Cinta
Safa mematung, tak menyangka Adit teman seangkatannya akan menyatakan cinta lagi. Ya ... lagi. Karena ini untuk yang ke tiga kalinya.
Semua orang menatap ke arah mereka. Bahkan, banyak yang merasa iri dengan pernyataan cinta romantis itu.
Namun, tidak dengan Safa. Ia justru semakin muak. Bukan tanpa alasan, Adit belum juga menjadi kekasihnya sudah sangat posesif. Safa hanya merespon beberapa kali, tapi Adit menganggap itu perhatian darinya bahkan mulai mengatur hidup Safa.
"Terima! Terima!" ucap mereka kompak.
Safa semakin malu dan bingung. Jika ia menolak, mereka pasti mengatakan dirinya tak memiliki hati. Namun, jika ia terima, ia tak memiliki perasaan apa pun padanya.
"Adit, ikut aku."
ia mengajak Adit untuk berbicara berdua. Saat berada di gang sepi Safa berbalik, menatap Adit dengan intens.
Adit mengulurkan tangan berusaha meraih tangan Safa. "Kamu mau kan jadi pacarku."
"Ini nih, yang buat aku gak suka sama kamu, Dit. Kamu belum jadi pacar aku bahkan berani memegang tanganku," ujar Safa. Walau kesal ia tetap berusaha sopan.
"Tapi maaf, aku beneran gak punya perasaan apa pun denganmu. Jadi aku mohon berhentilah. Lagi pula dalam agamaku pacaran di larang," tambahnya. Safa yang enggan lama berduaan dengannya berniat pergi.
Adit berusaha meraih tangan Safa, namun, Safa segera menjauh. "Safa! Aku beneran cinta sama kamu. Kamu gak boleh sama orang lain!"
Semakin takut dengan sikap posesif Adit, Safa mempercepatan langkahnya. Ia khawatir jika Adit terus mengikutinya. Sesampainya di depan kelas, Farah sang sahabat berlari ke arahnya.
"Kamu dari mana? Aku ketinggalan pertunjukan seru deh kayaknya," ucapnya sambil menelisik ke wajah Safa.
Safa tak berkomentar. Ia terus berjalan menuju kursinya. Farah yang penasaran segera menyusul.
"Ada apa sih, ini. Kenapa semua menatapmu, hah?"
Seketika tatapan Safa berubah redup. "Udah deh gak usah kepo. Nanti kamu malah kesel, lagi."
"Hah! Aku makin penasaran tau," Farah semakin merengek. Rasa ingin tahu mulai mengusiknya.
Namun, belum juga Safa membuka mulut dosen mereka lebih dahulu masuk. Safa yang bersiap bercerita seketika menghadap ke depan dengan tenang. Sementara Farah menjatuhkan dirinya ke meja dengan kecewa.
Adit yang baru masuk sempat melirik ke arah Safa. Namun, Safa sama sekali tak menghiraukannya.
Kelas pun berakhir. Semua segera meninggalkan ruang kelas. Ada yang ke kantin ataupun hanya nongkrong di taman mengobrol ringan.
Suasana kantin ramai seperti biasa. Farah yang baru tiba memesan makanan duduk di samping Safa.
"Fa, aku dengar mereka menggosipkan kamu. Memangnya tadi ada apa sih? Kenapa mereka bilang kamu tega nyakitin hati, Adit?" Farah bertanya dengan tatapan penuh selidik.
Safa terdiam sesaat, helaan nafas panjangnya seolah lelah dengan semua yang terjadi. "Adit. Lagi-lagi nembak aku."
"What! Kamu serius!" Farah benar-benar terkejut sampai tak sadar menggebrak meja dengan keras.
Kini semua tatapan tertuju pada mereka. Melihat semua menatap ke arah mereka, Safa menariknya pelan agar kembali duduk.
"Tenanglah," bujuk Safa.
"Tapi dia benar-benar gak punya malu, tau gak. Bisa-bisanya dia nembak kamu lagi padahal kamu sudah menolaknya berkali-kali. Bahkan sekarang di depan banyak orang." Farah benar-benar geram, kedua tangan mengepal kuat.
"Mana dia sekarang! Biar aku buat perhitungan dengannya," timpalnya lagi.
Tak lama makanan yang dipesan datang. Safa segera menyodorkan segelas jus jeruk. "Udah minum ini dulu biar gak panas. Aku gak papa kok, lagian aku udah tolak dia lagi tadi."
Farah meneguknya dengan tak sabar. "Ya, tapi tetap aja dia keterlaluan. Dia sengaja melakukan itu biar kamu gak bisa nolak. Tapi bagus, orang kayak dia memang harus ditolak. Ganteng juga gak tapi posesif banget."
Farah meneguk jus hingga tandas. Dadanya masih kembang kempis menahan gejolak amarah.
"Kalau dia berani deketin kamu lagi mending bilang ke aku, deh. Biar aku timpuk kepalanya yang peang itu," ujarnya, sambil melahap bakso.
Bukannya ikut marah Safa justru hanya tersenyum melihat sahabatnya yang kebakaran jenggot.
"Itu, tuh. Kamu itu terlalu lembek sama dia. Kamu harus tegas nolaknya," ungkap Farah.
"Iya, iya. Udah sekarang makan dulu, ya?" Bujuk Safa dengan menyodorkan beberapa makanan ke arahnya.
Melihat sahabatnya yang begitu tenang, Farah hanya bisa menghela nafas. Ia hanya kasihan jika Safa jadi gunjingan banyak orang.
Kelas berakhir hari ini. Safa dan Farah berjalan santai di lorong kelas. Sesekali mereka bersendau gurau.
Namun, saat mendekati pintu gerbang, Adit dan beberapa temannya nongkrong di sana. Safa enggan melihat ke arahnya, bahkan tak menoleh sedikit pun.
"Ingat, abaikan saja," seru Safa pada sahabatnya yang telah bersiap untuk melabrak.
"Safa .... "
"Udahlah. Jangan suka marah-marah. Cuekin aja mereka, ya. Aku mohon," bujuknya.
Kedua pundak Farah merosot. Rencananya ingin membuat Adit babak belur gagal. Safa melewati mereka begitu saja seolah mereka hanya angin lalu.
"Kalian tau kan, dia itu hanya anak pembawa sial. Tapi sombongnya minta ampun. Sok suci, segala bilang dalam agama di larang," sindir Adit yang masih tek terima cintanya ditolak.
"Tau dari mana, lo?" timpal yang lain.
"Ya, tau lah. Aku kan kaya, banyak informanku di luar sana. Berita tentang itu, siapa sih yang gak tau." Adit melirik tajam ke arah Safa.
Safa seketika berhenti. Ia meremas ujung bajunya hingga kusut. Belum sempat ia bereaksi, tiba-tiba ...
Sraak!
Bug!
Farah merangsek ke arah mereka, dengan cepat ia menendang Adit tepat di ulu hati hingga dia tersungkur.
Semua terperangah termasuk Safa. Farah kembali ke posisi siap, ia lalu mengibas ke dua tangannya.
"Jadi cowok jangan resek, makanya. Lo tu lebih pantes pake rok deh, kayaknya. Mulut kok ember banget," cecarnya.
"Lo berani mukul gua, hah!" Adit segera berdiri, ia menunjuk Farah denga tangan gemetar karena marah.
Farah tak gentar, ia justru semakin mendekat. Tangannya berayun hendak memukul ke arah Adit namun tepat di depan hidung tangannya tertahan.
"Gua akan jadi garda terdepan kalau lo, berani ganggu Safa lagi. Jadi mending pergi jauh-jauh. Ini bukan peringatan, tapi ancaman."
Farah berbalik, dengan gaya angkuh ia menarik tangan Safa menjauh.
Hingga mereka sampai di pinggir jalan, tepat di depan sang ojek langganan menunggu.
"Kamu yakin gak mau aku antar," Farah meyakinkan lagi.
Safa menggeleng. "Gak usah, beneran. Aku pulang sendiri aja. Makasih udah belain aku."
"Udah tenang aja. Ya udah, ati-ati ya."
"Mang ati-ati bawa temenku ya, Mang," ucap Farah sambil melambai.
Motor segera melaju kencang di tengah padatnya jalanan. Pikiran Safa melayang entah ke mana. Ia merasa beban hidupnya begitu banyak.
Jakarta ramai sore itu, namun tidak untuk Safa. Ia benar-benar merasa kesepian.
"Sampai kapan seperti ini. Siapa yang bisa aku aduin selain engkau, Tuhan," ucapnya lirih.
Udara yang dingin menusuk membuat Safa merapatkan sweaternya. Sampai beberapa saat, mereka tiba di depan rumahnya.
Safa berhenti di depan gerbang menatap ke arah rumah. "Ini bukan tempatku. Aku seolah asing dengan tempat ini. Rumah yang seharusnya tempat paling aman, justru paling berbahaya buat ku."
Langkahnya gontai. Serasa enggan melangkah masuk. Namun, kemana lagi ia akan pergi jika bukan ke rumah neraka itu.
Safa masuk begitu saja saat pintu terbuka lebar. Namun, saat hampir sampai ke ruang keluarga ia berhenti.
"Kita nikahkan saja, Safa. Setidaknya dia ada gunanya. Anak pembawa sial sepertinya lebih baik pergi dari rumah ini secepat mungkin," ucap sang kakak yang nyaris membuatnya ambruk.