NovelToon NovelToon
BOSS GALAK ITU CALON SUAMIKU

BOSS GALAK ITU CALON SUAMIKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Cinta Seiring Waktu / CEO
Popularitas:3.4k
Nilai: 5
Nama Author: Eunoia Fashion

Selama tiga tahun bekerja di perusahaan advertising ternama milik keluarga Mahardika Group, hidup Naura Azzahra nyaris seperti neraka. Semua gara-gara atasannya: Arkan Mahendra, direktur muda yang tampan, perfeksionis, dingin, dan hobi menghancurkan harga diri karyawan dengan satu tatapan.
Naura sudah berkali-kali berniat resign. Namun gaji besar dan cicilan rumah membuatnya bertahan.
Sampai malam presentasi besar itu datang.
Di depan seluruh direksi, Arkan tanpa ampun mengkritik konsep Naura habis-habisan. Bukan cuma mempermalukannya, pria itu juga menyebut Naura “tidak cukup kompeten untuk berada di perusahaan ini.”
Malu bercampur marah membuat Naura meledak.
Untuk pertama kalinya, ia membalas semua omongan Arkan—bahkan menyebut pria itu manusia paling menyebalkan yang mungkin akan mati sendirian karena tak punya hati.
Lalu ia resign malam itu juga.
Naura merasa hidupnya akhirnya tenang… sampai ibunya memaksanya datang ke acara makan malam keluarga seminggu kemudian.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eunoia Fashion, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22

Pagi ini, aku harus turun ke lapangan. Divisi pemasaran sedang melakukan survei pasar secara langsung untuk produk terbaru di sebuah mal pusat kota. Sebagai Manajer Pemasaran yang turun tangan langsung, aku mengenakan *blazer* kasual dan celana bahan yang nyaman untuk berjalan jauh.

Arkan? Dia melarangku pergi.

"Kamu punya tim lapangan, Naura. Kenapa harus kamu yang turun tangan sendiri?" Arkan berdiri di depan pintu apartemen, menghalangi jalanku dengan tubuhnya yang menjulang. Dia sudah rapi dengan setelan jas abu-abu gelapnya, siap berangkat ke kantor.

"Arkan, ini riset langsung. Aku perlu melihat bagaimana reaksi pelanggan terhadap sampel produk kita tanpa filter laporan staf," jelasku sabar, mencoba menggeser tubuhnya. "Lagipula, ini bagian dari pekerjaanku."

"Kamu bisa minta laporan *real-time* lewat Hadi," balasnya, melipat tangan di dada. "Tidak perlu kamu yang berdesakan di mal. Nanti kalau ada pria iseng yang menabrakmu, atau kalau kamu kelelahan dan pingsan, siapa yang tanggung jawab?"

"Aku sudah dewasa, Arkan. Aku tidak akan pingsan cuma karena jalan-jalan di mal," aku mendengus, akhirnya berhasil meloloskan diri dari blokadenya. "Sampai nanti di kantor!"

Sepanjang perjalanan menuju mal, aku merasa ada yang aneh. Bukan karena aku merasa diikuti, tapi karena setiap sepuluh menit, ponselku bergetar dengan pesan dari nomor tak dikenal yang isinya cuma: 'Jaga jarak aman dengan pria asing'

'Jangan duduk di tempat yang tidak ada sandarannya'

hingga, 'Kirim lokasi real-time sekarang'.

Aku tahu itu pasti si bos besar. Posesifnya sudah mencapai level pengintaian intelijen negara.

Sesampainya di mal, timku sudah berkumpul. Kami mulai membagikan sampel produk dan mencatat testimoni pelanggan. Aku sangat menikmati interaksi ini—melihat senyum kepuasan pelanggan saat mencoba produk kami adalah kepuasan tersendiri.

Namun, di tengah kesibukanku mewawancarai seorang ibu muda, aku merasa ada sepasang mata yang mengawasiku. Aku menoleh ke sekeliling. Tidak ada yang mencurigakan, hanya kerumunan orang. Tapi instingku mengatakan sebaliknya.

Tepat saat aku hendak kembali fokus, seorang pria muda, mungkin mahasiswa, mendekat ke arah *booth* kami. Dia tersenyum ramah dan bertanya tentang produk. Saat aku menjelaskan, dia terus-menerus mencoba mendekat, seolah ingin melihat brosur di tanganku.

"Wah, mbaknya pintar menjelaskan, ya. Boleh minta nomor WhatsApp-nya buat konsultasi produk lebih lanjut?" tanya pria itu dengan nada yang sedikit terlalu akrab.

Aku hendak menolak dengan sopan, ketika tiba-tiba, sebuah tangan besar dengan jam tangan mewah melingkar di bahuku dari belakang. Aroma *sandlwood* dan *mint* yang sangat kukenali langsung menyeruak, mematikan seluruh indraku.

"Nomor telepon istri saya tidak tersedia untuk umum," suara bariton itu terdengar dingin, tajam, dan penuh otoritas mutlak.

Aku menoleh. Arkan. Dia berdiri di sana, mengenakan setelan jas yang sama dengan tadi pagi, tampak sangat kontras dengan keramaian mal. Dia tidak terlihat seperti orang yang sedang bekerja; dia terlihat seperti seorang kaisar yang sedang menyamar untuk menginspeksi rakyatnya.

Pria mahasiswa tadi langsung pucat pasi. "Eh—maaf, Pak! Saya tidak tahu! Permisi!" Dia langsung lari terbirit-birit.

Aku menatap Arkan dengan melongo. "Arkan? Kamu ngapain di sini? Kamu bilang mau ke kantor!"

Arkan tidak menjawab. Dia justru merapikan sedikit kerah *blazer*-ku dengan gerakan yang sangat posesif, seolah-olah ada debu yang menempel di sana. Matanya menyapu sekeliling, menatap setiap pria yang berani melirik ke arah kami dengan tatapan yang bisa membunuh.

"Kamu mematikan GPS di ponselmu," ucapnya datar, mengabaikan pertanyaanku.

"Aku tidak mematikan GPS, aku cuma menutup aplikasinya biar baterai tidak boros!"

"Hadi sudah melacak posisi terakhirmu sejak satu jam lalu," lanjutnya seolah tak mendengar bantahanku. "Dan setelah melihat kamu dikerumuni orang-orang asing yang tidak jelas tujuannya, saya memutuskan untuk datang sendiri."

"Arkan, ini tempat umum! Kamu CEO Mahardika, orang-orang bisa melihatmu!" bisikku panik, mencoba menariknya sedikit menjauh dari *booth*.

Arkan justru menarik tanganku, membuatku harus berjalan di sisinya. Dia tidak melepaskan genggamannya, seolah aku adalah properti berharga yang akan diculik dalam hitungan detik.

"Biarkan saja mereka melihat. Saya hanya memastikan bahwa tidak ada lagi mahasiswa kurang ajar yang berani meminta nomor telepon istri saya," katanya dengan nada yang dibuat-buat tenang.

Kami berjalan menyusuri lorong mal. Pemandangan seorang Arkan Mahendra berjalan sambil menggandeng istrinya di sebuah mal kelas menengah benar-benar membuat pengunjung lain berbisik-bisik. Dia sama sekali tidak peduli. Wajahnya tetap datar, namun genggamannya pada tanganku semakin erat setiap kali ada pria yang berpapasan dengan kami.

"Kamu itu sangat berlebihan," kataku sambil berusaha menahan senyum. "Ini cemburu atau hanya ingin pamer kalau kamu punya istri?"

Arkan berhenti melangkah. Dia menarikku ke sudut yang sedikit lebih sepi di dekat sebuah toko buku. Dia memojokkanku ke dinding, kedua tangannya mengunci posisiku di antara dinding dan tubuhnya.

"Keduanya," bisiknya jujur.

Aku terpaku. Tatapannya begitu intens, begitu tulus, dan begitu... posesif hingga membuatku lupa bagaimana cara bernapas.

"Kamu tahu, Naura," lanjutnya, suaranya melembut, "setiap kali kamu pergi keluar tanpa pengawasanku, saya merasa seperti orang gila. Saya memikirkan seribu skenario di mana seseorang mencoba mendekatimu, mencoba mencuri perhatianmu, atau mencoba membuatmu tertawa seperti yang saya lakukan."

"Kamu cemburu pada hal-hal yang bahkan tidak terjadi?"

"Saya cemburu pada siapa pun yang bisa melihatmu dengan cara yang tidak bisa saya miliki saat saya sedang sibuk bekerja," ucapnya dengan nada sedikit gengsi.

Aku tertawa pelan, lalu menyentuh dasinya yang sempurna. "Mas Bos, kamu itu orang paling berkuasa di perusahaan, tapi di sini, kamu cuma pria yang sedang cemburu pada mahasiswa yang bahkan tidak kukenal."

Arkan menatapku dalam-dalam. "Dan pria itu tidak akan membiarkan istrinya berkeliaran sendirian lagi setelah ini."

Dia kemudian menunduk dan mencium keningku, cukup lama. Di tengah keramaian mal, di antara pengunjung yang lalu lalang, ciuman itu terasa sangat manis, sangat hangat, dan sangat... Arkan. Posesif, arogan, namun penuh dengan kasih sayang yang sulit ia ungkapkan dengan kata-kata.

"Ayo pulang," katanya tiba-tiba, menarik tanganku lagi.

"Pulang? Rapat surveiku belum selesai!"

"Hadi sudah mengambil alih tugasmu. Kamu sekarang sedang dalam masa cuti darurat karena alasan keamanan internal," ucapnya mutlak.

"Arkan! Itu tidak adil!"

"Adil atau tidak, saya tidak peduli," dia menarikku menuju parkiran. "Lagipula, ada hal lebih penting yang harus kita selesaikan di rumah. Seperti... menjelaskan padaku mengapa kamu tidak menjawab telepon dari sekretarisku selama dua puluh menit terakhir."

Aku menghela napas panjang, tapi di sudut hatiku, aku tahu bahwa ini adalah sisi dari Arkan yang paling kucintai. Posesifnya yang aneh, cemburunya yang tak masuk akal, dan gengsinya yang tinggi, semuanya hanyalah cara dia mengatakan bahwa dia takut kehilangan satu-satunya hal yang paling berarti dalam hidupnya.

Saat kami sampai di mobil Maybach-nya, Hadi sudah menunggu di balik kemudi dengan wajah yang tampak menahan tawa. Dia sepertinya sudah sangat terbiasa dengan drama pasangan ini.

"Maaf, Pak Arkan, Bu Naura. Mobil sudah siap," ujar Hadi sopan.

Arkan membukakan pintu mobil untukku, memastikan kepalaku tidak terbentur, lalu masuk dan duduk di sampingku. Dia segera merengkuh pinggangku, menarikku mendekat hingga bahuku bersandar di dadanya.

"Jangan pernah berpikir untuk pergi sendirian lagi tanpa sopir atau pengawal," bisiknya di telingaku.

Aku tersenyum, menyandarkan kepalaku di bahunya yang kokoh. "Iya, Pak Bos. Terserah apa katamu."

Mungkin besok, aku akan kembali berdebat dengannya tentang kemandirian wanita karier. Mungkin besok, aku akan kembali menertawakan sikap posesifnya yang berlebihan. Tapi untuk hari ini, aku membiarkan diriku tenggelam dalam pelukannya. Karena di tengah dunia yang penuh dengan ambisi dan persaingan bisnis yang kotor, menjadi satu-satunya orang yang dilindungi oleh pria sekuat Arkan Mahendra adalah hal paling romantis yang pernah kudapatkan.

Arkan Mahendra mungkin adalah diktator di kantor, tapi bagiku, dia adalah rumah. Dan rumah ini, meski sering kali membuatku kesal karena aturan-aturannya yang kaku, adalah tempat di mana aku tahu aku akan selalu aman.

"Ngomong-ngomong," gumamku pelan saat mobil mulai bergerak.

"Hmm?"

"Tadi itu, mahasiswa itu cuma tanya lokasi booth kita, bukan minta nomor telepon."

Arkan terdiam sejenak. Wajahnya yang datar sedikit memerah. "Sama saja. Dia punya niat buruk di matanya."

Aku tertawa kecil, menyandarkan diriku lebih dalam di pelukannya. Hari ini memang melelahkan, tapi setidaknya, aku punya cerita lucu untuk diceritakan pada diriku sendiri nanti: tentang bagaimana seorang CEO besar rela meninggalkan rapat penting hanya untuk menjemput istrinya di mal karena cemburu pada seorang mahasiswa yang salah arah.

1
Maya Sari
Semangat💪
Eunoia Fashion: Terimakasih 🥰
total 1 replies
Read_Forever👄
bagus kak novelnya, semangat sampai tamat
Eunoia Fashion: terimakasih 🥰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!