NovelToon NovelToon
MAHAR UNTUK SANG PELAKOR

MAHAR UNTUK SANG PELAKOR

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:4.6k
Nilai: 5
Nama Author: gendiz

Amira membawa Lista masuk ke hidupnya sebagai sepupu dan sahabat. Namun, Lista justru keluar sebagai pencuri suaminya.

​Diceraikan saat hamil dengan mahar yang menghina, Amira dipaksa pergi dengan tangan hampa. Tapi mereka lupa satu hal: Amira adalah pemilik takhta yang sesungguhnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gendiz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 6: JEJAK PARFUM DI SAKU KANAN

JEJAK PARFUM DI SAKU KANAN

​Pukul lima pagi, suasana di dalam rumah mewah itu masih diselimuti sisa-sisa hawa dingin dari pendingin ruangan. Amira sudah terbangun sejak fajar belum menyingsing. Matanya terasa bengkak dan berat akibat tangisan semalam yang baru mereda menjelang pukul tiga subuh. Ia menatap langit-langit kamar sejenak, menghirup napas panjang yang terasa menyumbat dada, lalu menoleh ke samping.

​Sisi ranjang di sebelahnya sudah kosong. Selimut kelabu milik Aris terlipat rapi. Suaminya sudah bangun lebih awal dan saat ini terdengar suara pancuran air dari kamar mandi atas. Aris tampaknya sengaja menghindari momen bangun pagi bersama Amira agar tidak perlu melanjutkan perdebatan semalam.

​Amira menghela napas lirih. Ia menyingkap selimutnya, melangkah turun dengan bertelanjang kaki di atas lantai marmer yang dingin, lalu berjalan menuju lemari besar untuk menyiapkan pakaian kerja Aris. Ini adalah tugas rutinnya yang tak pernah absen selama tiga tahun. Memilih kemeja, memadukannya dengan dasi yang serasi, dan memastikan jas suaminya bebas dari sebutir debu pun.

​Saat jemarinya menyentuh gantungan jas abu-abu yang dipakai Aris semalam, indra penciuman Amira menangkap sesuatu yang asing.

​Ia mendekatkan kerah jas itu ke hidungnya. Ada aroma manis yang pekat, samar-samar namun sangat jelas bukan wangi parfum maskulin milik Aris. Itu aroma vanilla dicampur dengan sentuhan bunga melati—aroma yang sangat familiar di ingatannya. Aroma parfum mahal yang dipakai Lista saat arisan sore kemarin.

​Jantung Amira berdegup sedikit lebih kencang. Mungkin hanya tidak sengaja tercium saat mereka berdiskusi berkas di ruang kerja atas semalam, batinnya mencoba menepis pikiran buruk.

​Namun, rasa penasaran menuntun jemari Amira untuk meraba kantong-kantong jas tersebut. Ia memasukkan tangan kanannya ke dalam saku bagian luar. Jarinya menyentuh selembar kertas kecil yang terlipat rapi di sudut saku. Amira menariknya keluar.

​Itu adalah nota pembayaran dari sebuah restoran estetik di kawasan Jakarta Selatan. Waktu yang tertera di nota itu adalah pukul delapan malam—tepat di saat Ibu Ratna mengatakan Aris sedang rapat penting dengan klien besar. Dan yang membuat darah Amira mendadak berdesir dingin adalah nama menu yang dipesan di sana. Dua porsi steak premium, satu kopi hitam, dan satu matcha latte.

​Aris tidak pernah suka manis; dia selalu memesan kopi hitam pahit. Sementara matcha latte adalah minuman favorit Lista sejak kuliah.

​"Sedang apa kamu, Mir?"

​Suara bariton Aris yang tiba-tiba terdengar dari arah pintu kamar mandi membuat Amira tersentak hebat. Kertas nota di tangannya hampir saja terjatuh. Ia menoleh dengan cepat, berusaha menyembunyikan getaran di wajahnya. Aris berdiri di sana dengan handuk yang melilit pinggangnya, rambutnya yang basah mengalirkan tetesan air ke bahu tegapnya. Matanya menatap tajam ke arah tangan Amira.

​Amira menarik napas sedalam yang ia bisa, mencoba menstabilkan suaranya. Ia mengangkat kertas nota itu sedikit tinggi. "Ini... aku cuma mau mengosongkan saku jasmu sebelum dicuci, Mas. Ini nota makan malam semalam."

​Aris berjalan mendekat, merebut kertas itu dari tangan Amira dengan gerakan yang agak kasar, lalu meremasnya sebelum dibuang ke tempat sampah kecil di dekat meja rias. Wajahnya tampak datar, namun ada kedutan tipis di sudut rahangnya yang menandakan dia tidak nyaman.

​"Oh, itu nota makan malam dengan Pak Gunawan. Beliau membawa putrinya yang baru lulus kuliah, jadi mereka memesan minuman manis," jawab Aris cepat, sangat lancar seolah sudah mempersiapkan jawaban itu sejak lama.

​Amira menatap suaminya, mencoba mencari kebohongan di balik mata elang itu. "Pak Gunawan... bukankah dia diabetes dan tidak suka tempat-tempat estetik seperti restoran ini, Mas? Dulu kamu cerita dia lebih suka makan di rumah makan tradisional."

​Wajah Aris seketika berubah mendung. Ego lakilakinya yang merasa diinterogasi mulai terusik. "Amira, kenapa kamu jadi detektif begini? Pak Gunawan punya rekanan baru, dan putrinya yang memilih tempat. Kenapa? Kamu curiga padaku? Kamu tidak percaya pada suamimu sendiri yang sudah lelah bekerja demi menghidupi rumah ini?"

​"Bukan begitu, Mas. Hanya saja..." Amira menjeda kalimatnya, matanya melirik ke arah kerah jas yang masih menggantung. "...aroma jasmu ini wangi parfum perempuan. Wangi parfum Lista."

​Aris tertegun sesaat, namun sedetik kemudian dia mendengus sinis, sebuah tawa meremehkan lolos dari bibirnya. "Lista? Tentu saja! Dia sekretarisku, Amira! Kemarin sore setelah arisan di sini, dia kembali ke kantor membawa berkas yang tertinggal, lalu ikut menemaniku menemui Pak Gunawan karena dia yang memegang jadwal rapat. Dia duduk di sebelahku di mobil saat kami mengejar waktu. Wajar kalau wanginya menempel! Kamu ini picik sekali, ya. Sepupumu sendiri, yang sudah membantumu mengurus Ibu dan membantuku di kantor, masih saja kamu cemburui?"

​Kata-kata Aris menghantam ulu hati Amira seperti godam besar. Picik. Kata itu keluar lagi dari mulut pria yang dulu berjanji akan selalu menjaga perasaannya.

​"Aku tidak picik, Mas," suara Amira mulai serak, menahan tangis yang siap meledak. "Aku hanya seorang istri yang merasa suaminya semakin hari semakin jauh. Kamu tidak pernah lagi bertanya bagaimana hariku, kamu tidak pernah lagi menyentuhku dengan lembut seperti dulu. Setiap kali aku bicara, kamu menganggapku cerewet dan bodoh."

​Aris memakai kemejanya dengan gerakan cepat, mengancingkannya satu per satu tanpa menatap Amira. "Aku dingin karena kamu selalu memancing keributan, Mir. Pulang kerja aku butuh ketenangan, bukan diinterogasi soal nota makanan atau wangi parfum. Kalau kamu mau dihormati, bersikaplah seperti istri yang mendukung, bukan seperti beban yang penuh kecurigaan."

​Aris menyambar jasnya, memakainya dengan sekali gerakan, lalu melangkah menuju pintu kamar tanpa menoleh lagi. "Aku sarapan di kantor saja. Tolong bilang pada Ibu, hari ini aku pulang agak malam lagi karena ada audit bulanan."

​Blam!

​Pintu kamar tertutup dengan keras, menyisakan Amira yang perlahan luruh ke lantai marmer yang dingin. Ia memeluk lututnya sendiri, membiarkan air mata yang sejak tadi ditahannya mengalir deras membasahi pipinya yang sawo matang. Rumah ini terasa semakin asing, semakin luas, dan semakin menekan jiwanya.

​Pukul sepuluh pagi, saat Amira sedang membersihkan sisa sarapan Ibu Ratna di dapur, ponselnya yang tergeletak di atas kitchen island bergetar. Sebuah notifikasi pesan masuk dari nomor yang sangat ia kenal.

​Dari Lista.

​Amira mengeringkan tangannya pada serbet, lalu membuka pesan tersebut. Jantungnya mendadak berhenti berdetak saat melihat gambar yang dikirimkan oleh sepupunya itu.

​Itu adalah foto sebuah dokumen resmi di atas meja kerja Aris. Di sana tertulis: Surat Pengalihan Hak Kuasa Aset Distribusi Utama Snack Pratama. Dan di kolom tanda tangan pihak kedua yang menerima kuasa penuh atas jalur distribusi terbesar milik perusahaan itu, tertera sebuah nama dengan huruf cetak tebal yang jelas: LISTA ANINDYA.

​Di bawah foto dokumen tersebut, Lista menuliskan sebuah pesan singkat dengan emoji senyum polos:

“Mbak Amira, Mas Aris baik banget ya... Hari ini Lista dipercaya buat pegang jalur utama Jawa Timur yang dulu sering Mbak ceritain itu. Doain Lista bisa amanah ya, Mbak! Psttt... jangan bilang Bude Ratna dulu ya, ini kejutan kata Mas Aris.”

​Amira lemas. Tangannya gemetar hebat hingga ponselnya hampir terlepas dari genggaman. Jalur distribusi Jawa Timur... itu adalah jalur emas yang ia bangun dengan air mata dan jaringan keluarganya sendiri sebelum menikah dengan Aris. Jalur yang selama ini menjadi urat nadi keuntungan perusahaan mereka.

​Kenapa Aris menyerahkannya begitu saja kepada Lista? Tanpa berdiskusi dengannya? Tanpa persetujuannya sebagai salah satu pemilik ide awal bisnis ini?

​Di saat Amira masih mencerna rasa syoknya, suara Ibu Ratna terdengar berteriak nyaring dari ruang depan, memanggil namanya dengan nada penuh kemarahan yang tidak biasa.

​"AMIRA! KELUAR KAMU! LIHAT APA YANG SUDAH KAMU LAKUKAN PADA ANAKKU!"

​Amira tersentak. Ia buru-buru melangkah keluar dari dapur menuju ruang tamu dengan perasaan campur aduk yang dipenuhi firasat buruk. Di depan sana, Ibu Ratna berdiri memegang sebuah map besar berwarna merah dengan wajah yang memerah padam karena amarah, siap melemparkannya tepat ke arah wajah Amira.

1
partini
semua orang kalau udah tersudut bilang nya khilaf
gendiz: ya kaaan kak 🤭
total 1 replies
partini
,👍👍👍👍
falea sezi
sejauh ini muter wae. lahh😕
gendiz: makasih ya sudah mau baca, semoga next bab enggak kerasa muter alurnya
total 1 replies
partini
busettt dari dari bab 1 Ampe yg ini Amira apes Thor, kata jadi Badas eh malah kaya gini
gendiz: makasih ya masukkan nya , semoga nanti next bab alurnya gak membingungkan lagi,🤭
total 3 replies
gendiz
bisa mereka dari segi cerita
gendiz
up
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!