"Kenapa hanya diam berdiri di sana? ... Cepat kesini!" suruh Nyonya Laras, yang sedang duduk santai menyilangkan kakinya sambil bermain menatap ponselnya.
Karena merasa kaget sekaligus panik, Anya sedikit berlari kecil menghampiri wanita yang sedang duduk cantik di sofa panjang itu. Sofa panjang itu mengarahkan pandangan Anya kepada sebuah televisi besar yang terpajang di dinding. Membuat Anya kembali melamun.
Anya jadi tidak fokus, ketika suara Laras ternyata sudah sedari tadi memanggilnya beberapa kali dengan akhir yang kencang dan membuat Anya kaget.
"Hey!"
"Saya bertanya siapa nama mu?! Apakah kamu ingin bekerja di sini atau tidak? Kenapa hanya melamun dari tadi?" tanya Laras dengan bentakan kecil. Membuat anak polos dan lugu di hadapannya menjadi panik.
"Maaf Ibu ... Nama saya, Anya ..." ucapan Anya terpotong. Ketika Laras yang seakan tidak ingin mendengar ucapan Anya, langsung memanggil Bi Inah. Pembantu lain yang sudah cukup lama juga bekerja di keluarga Adiwijaya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Imen Firewood, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER 25-30
"Siapa yang kamu maksud sayang?" tanya Laras penasaran. Matanya menatap mulut Bianca seolah menunggu apa yang hendak ingin Bianca ucap.
Bianca tersenyum sinis, sebelum berteriak memanggil nama seseorang.
"Bi ... Bibi !!! ... Cepat kesini," teriak Bianca, dengan nada keras dari tempatnya berdiri memanggil Bi Inah yang kemudian hadir.
Bulir kecil keringat Bi Inah keluar dari kening tuanya, setelah berjalan cepat menghampiri Bianca dan berkesiap menerima perintah dari majikannya.
Nafas Anya tercekat, ketika melihat orang yang di maksud Bianca adalah Bi Inah. Anya benar-benar tidak mengerti dengan apa yang sedang terjadi. Apa yang Bianca harapkan dengan memanggil Bi Inah ke sini?
"Bi Inah? ..." gumam Anya pelan, suara itu nyaris tidak terdengar ketika mata sembab Anya melihat Bi Inah yang sudah berdiri melirik sekilas dirinya.
Karena sudah terlanjur terjadi, Bi Inah mengesampingkan rasa kasihan terhadap Anya yang harus menjadi kambing hitam dari ulah Bianca. Karena ia juga merasa harus bertahan menjadi pembantu di rumah ini untuk kebutuhan hidup.
"Iyaa, Non .. Ada apa?" tanya Bi Inah, suara itu pelan dengan nada yang lirih tidak berani menatap para majikannya. Jemari tua Bi Inah memegang ujung baju yang ia pakai.
"Coba ambilkan tas Anya di kamarnya. Untuk membuktikan, apakah anak kampung! Ini mencuri kalung mamih Bian atau nggak."
Sekilas Bi Inah tanpak ragu ketika ingin menjawab. Melirik sekilas wajah Anya yang sedari tadi memperhatikannya dengan semua kebingungan.
Wanita yang telah lama bekerja di dalam keluarga ini, menatap Adiwijaya. Seolah menunggu persetujuan dari pemilik rumah yang langsung mengangguk memberi tanda.
"Ba-Baik, Non .." jawab Bi Inah berlalu pergi. Mendadak tertahan ucapan singkatnya karena merasa gugup. Ia sendiri tidak sanggup membayangkan hal apa lagi yang akan selanjutnya terjadi kepada Anya.
Kilas balik.
Moment dimana Anya sedang bersantai duduk bersama Bi Inah, usai mengerjakan beberapa pekerjaannya.
Hamparan kabut tipis berada diatas rumput hijau di halaman belakang rumah keluarga Adiwijaya. Sebuah kursi panjang berwarna putih menjadi tempat peristirahatan mereka berdua.
"Anya seneng, deh Bi .. Bisa kerja di rumah ini ketemu ama Bibi," kata Anya menatap Bi Inah, seraya memegang tangan yang sudah tua. Senyumnya merekah seperti buanga yang mekar di bawah sinar mentari pagi.
Bi Inah membalas dengan senyum hangat, layaknya orang tua yang sedang berbincang dengan anak sendiri.
"Bibi tuh .. Udah kayak ibu Anya sendiri. Terimakasih, yaa .. Udah ngejaga Anya sampai detik ini."
"Iyaa, Anya .. Sama-sama. Bibi juga seneng mengenal Anya, bertemu dengan Anya, kerja bareng Anya," balas Bi Inah menatap lama Anya. Senyum di wajah ia berubah menjadi tawa kecil yang di ikuti Anya.
Bi Inah mencondongkan tubuh kedepan, memberi pelukan hangat untuk anak seusia Anya yang harus bekerja keras di tengah kota besar seperti ini.
Pelukan itu di sambut hangat oleh Anya, dengan senyum tipis yang menggantung dari anak manis seperti Anya.
Semilir angin yang berhembus ikut menghiasi suasana hangat mereka berdua, di belakang sebuah taman kecil dari keluarga Adiwijaya.
Tok ... Tok ... Tok!
Suara ketukan pintu terdengar beberapa kali dari luar kamar Anya.
"Anya, apa kamu sudah tidur?" ucap Bi Inah memanggil Anya di dalam. Ia berdiri dengan membawa piring berisi lauk makanan untuk Anya.
Anya yang sedang menulis sesuatu di meja samping tempat tidurnya, beranjak bangun. Membuka pintu dan mendapati Bi Inah dengan senyum di wajahnya.
"Eh, Bi Inah ... Ada apa?" tanya balik Anya, bola matanya menangkap sesuatu yang sedang di pegang oleh Bi Inah.
"Kirain Bibi kamu sudah tidur, apa kamu udah makan? Ini Bibi bawain makanan ..." sahut Bi Inah, langsung memberikan makanan itu agar Anya terima.
"Belum Bi, Anya belum tidur ... Masih ngerjain sesuatu. Ih, si Bibi ... Segala di bawain makanan, Anya kan bisa ngambil sendiri."
"Udah nggak apa-apa ..." jawab Bi Inah dengan senyum, perasaan peduli yang tulus selalu di berikan untuk Anya. Yang sudah ia anggap seperti anaknya sendiri.
"Terimakasih, yaa. Anya jadi nggak enak. Apa Bibi udah makan juga?" tanya balik Anya, wajahnya terlihat cemas. Merasa khawatir akan kesehatan Bi Inah.
Bi Inah tersenyum lagi. Menenangkan Anya agar tidak merasa risau akan dirinya.
"Udah, Bibi udah makan kok. Yaudah, kalo gituh Bibi tinggal dulu yaa, kamu jangan tidur malem-malem ... Nggak baik buat kesehatan kamu," ujar Bi Inah, memegang bahu Anya sebelum pergi meninggalkan.
"Iyaa, Bi."
Hubungan Bi Inah dan Anya pada saat itu benar-benar menggambarkan sosok ibu dan anak yang sedang perduli satu sama lain. Tidak heran, bila Bi Inah ... Merasa sangat sedih ketika harus menghianati perasaannya sendiri seperti saat ini.
Semua perasaa Bi Inah itu hancur kini, ketika kembali berada di dalam pilihan yang tidak bisa ia tolak dari majikannya yang bernama Bianca.
Saat ini.
"Ini Non ..." kata Bi Inah ragu, memberikan tas Anya yang sudah ia bawa dari dalam kamar. Sebuah Backpack kecil biasa berwarna pastel telah berada di tangan Bianca.
Semua mata tertuju kepada Bianca yang sudah membuka dan melihat isi tasnya, termasuk Anya. Ketika membuka isi tas Anya, bola mata Bianca membulat besar. Seakan tidak percaya dengan apa yang berada di dalam.
"Ini, kan ..." ucap Bianca, menggantungkan kalimat sebelum mengeluarkan sebuah benda yang perlahan ia angkat.
Keadaan berubah menjadi lebih tegang dari sebelumnya. Jangankan bernafas, kini Anya terlihat untuk menelan salivanya sendiri saja susah. Ketika Bianca mengeluarkan benda itu, jantung Anya berhenti sepersekian detik saat melihatnya.
"Ini, kan ... Kalung mamih gue! Kok bisa ada di dalam tas lo?!" bentak Bianca menuduh, mata tajam itu menatap Anya nyalang seolah tidak ingin memberikan ruang Anya bergerak.
Deg!
Nafas Anya lagi-lagi tertahan, ia benar-benar tidak tahu kenapa kalung berlian mahal milik Laras bisa berada di dalam tasnya.
Bi Inah yang mengetahui semua hal ini selain Bianca, hanya bisa menunduk. Tidak berani menatap dan melihat wajah Anya karena terlalu merasa sangat bersalah.
"Tidak mungkin ..." suara Anya pelan, keluar dengan sendiri berbarengan dengan kedua bola mata cantik yang membesar karena perasaan terkejutnya.
Laras yang melihat kalung berlian mahal miliknya, langsung bergegas menghampiri Bianca untuk mengecek. Dan benar saja, setelah di cek Laras, ia yakin kalau itu adalah kalung asli miliknya.
Kini semua pandangan berganti menatap Anya yang masih terlihat pucat samar. Tidak tahu harus melakukan dan berbuat apa lagi di tengah-tengah keadaannya yang semakin tersudutkan.
Termasuk Adiwijaya, melihat Anya dengan perasaannya hancur karena kepercayaan yang telah di berikan, sudah rusak oleh kenyataan ini.
"Kamu ..." suara Laras pelan, menatap nyalang Anya yang masih diam tidak bergerak sama sekali dari tempatnya. Anya hanya bisa menggelengkan kepala seraya menahan air mata yang sudah memberontak ingin keluar.
"Jawab!! ... Jangan diem aja. Lo kan, yang udah nyuri kalung mahal ini?!" tuduh Bianca lagi, berjalan mendekati Anya dan mendorong tubuhnya hingga jatuh tersungkur kebelakang.
Bruk!
Anya yang sudah jatuh ke tanah, hanya bisa menerima perlakuan tidak adil ini dan mendengar setiap umpatan-umpatan yang di keluarkan Bianca lebih keras dari sebelumnya.
Lagi-lagi air mata Anya jatuh dengan sendiri. Menggelengkan kepalanya sebelum berkata.
"Tidak, bukan aku yang mengambil kalung itu ..." lirih Anya, mata layu di wajahnya melambangkan kesedihan sekaligus ketakutan yang tidak bisa membuat Anya melakukan apa-apa.
Tidak puas dengan hanya mendorong Anya, kini tangan Bianca mengambil gelas di atas meja. Mengguyur Anya dengan air minuman berwarna di sebelahnya.
Byur!
Anya menahan nafasnya, ketika Bianca menumpahkan air yang berada di gelas sekaligus. Membasahi seluruh wajah Anya bahkan sampai pakaiannya sudah kuyub.
"Dasar maling!" kata Bianca dengan cepat, kalimat yang sangat menyakitkan Anya selalu terdengar di telinganya. Sampai teman Bianca sendiri merasa kaget, melihat kekejaman Bianca saat ini.
"Astag!" kata Wati, mulutnya tertutup dengan kedua telapak tangan, yang merasa kaget sekaligus tidak percaya.
Bianca benar-benar tega. Ia sama sekali tidak memikirkan perasaan Anya saat ini yang menjadi pusat perhatian banyak orang. Dimana, seluruh tubuhnya sudah basah kuyub dengan posisi tersungkur di tanah.
Perlahan Anya mulai bangkit, berusaha kembali berdiri di tengah kedinginan yang melanda seluruh tubuh. Anya memeluk erat badan sendiri, agar dapat setidaknya sedikit memberi kehangatan.
Di saat Anya memandang ke depan, sebuah telapak tangan mendarat tepat di pipi halusnya. Laras yang sudah geram menampar dengan sangat keras.
Plak!
Wati dan teman-teman Bianca yang lain kembali kaget, ketika mendengar suara tamparan yang keras itu tepat mendarat di pipi Anya. Membuat kedua bola mata mereka melebar.
"Aw! ... Pasti sakit," kata Novi, yang tiba-tiba mengelus pipinya sendiri membayangkan rasa sakit itu.
"Dasar anak kampung!!"
"Pencuri miskin yang tidak tahu diri !!!"
"... Udah bagus saya kasih pekerjaan, malah mencuri di rumah saya," umpat Laras, memaki-maki Anya di hadapan para tamu yang lain. Tanpa memikirkan perasaan Anya sama seperti Bianca.
Mendapat perlakuan itu, Anya kembali meneteskan air mata, seraya memegangi sebelah pipinya yang mulai terasa sakit dan meninggalkan bekas merah.
"Tidak Nyonya ... Itu bukan—"
"Mulai sekarang, kamu saya PECAT!" ungkap Laras, menegaskan kalimat terakhirnya dengan nada yang lebih keras di depan wajah Anya.
Bianca yang mendengar itu, merasa senang bukan main. Tangannya menopang tinggi setinggi dada, ketika berhasil menyingkirkan Anya dengan rencana jahatnya.
"Itu hukuman yang pantes buat orang yang sok cantik di depan Rangga," gumam Bianca dalam hati. Menunjukan senyum smirk yang menggantung menatap Anya puas.
Anya benar-benar tidak menyangka. Bahwa hal ini, akan menjadi akhir dari pekerjaan yang belum lama ia dapatkan. Matanya menatap Adiwijaya yang hanya diam memperhatikan, mencari sisa-sisa pembelaan yang tidak Anya temukan disana.
Adiwijaya sendiri sudah kecewa melihat Anya, mengetahui semua bukti yang ada tertuju kepada dirinya yang dianggap telah mencuri kalung berlian mahal milik Laras.
"Punya kuping 'kan?! ... Ngapain diem doang? Pergi!"
"Udah di usir juga ... Dasar gatau malu!" kata Bianca mengumpat, memberi cap buruk kepada Anya menjadi seorang pembantu yang telah mencuri.
Awak media yang berada di sana, tiada hentinya mengambil gambar menggunakan lensa kamera masing-masing.
Anya yang merasa sudah tidak lagi di butuhkan, lalu pergi perlahan berjalan meninggalkan keluarga Adiwijaya. Tanpa pembelaan dan dengan memegang sebelah lengannya karena masih merasakan dingin di sekujur tubuh.
Anya tahu, apapun yang ia ucapkan sekarang, tidak akan ada lagi yang percaya. Ia menerima semua perlakuan ini dengan rasa sedih yang mendalam ternaman di hati kecilnya.
"Anya ..." kata Bi Inah pelan dalam hati, memandang Anya yang terlihat sangat sedih berjalan ketika meninggalkan kerumunan.
Cahaya dari sorot lampu jalan berpendar, menghiasi langkah Anya yang ia sendiri tidak tahu harus kemana. Setelah diusir dan dipecat dari pekerjaannya tanpa gaji.
Di sepanjang jalan raya ini, hanya suara dari kendaraan yang Anya dengar. Tidak ada lagi senyum di wajahnya. Ini merupakan titik terendah bagi Anya.
Ia bingung, takut, kalut akan keadaan bahaya yang bisa saja hadir di dekatnya. Hingga, tibalah Anya di sebuah halte bus. Ia duduk sejenak mengistirahatkan langkahnya.
"Yaa, tuhan ... Kenapa sulit sekali rasanya untuk bertahan hidup. Sekarang aku tidak ada siapa-siapa, aku bingung ..."
"Jika kamu adalah sutradara dalam hidup ini, aku mohon ... Tolong berikan aku peran wanita yang selalu kuat," lirih Anya, memeluk erat backpack di depannya.
Anya bersandar di sisi tiang halte, menatap langit gelap yang sudah tidak ada bintang, hanya ada cahaya rembulan yang menemaninya malam ini.
Kruuk ... Kruuk ...
Terdengar suara dari dalam perut Anya yang merasa lapar, karena tidak sempat makan malam sebelum di pecat dari keluarga Adiwijaya.
"Hem! Kenapa harus sekarang ..." ringis Anya, seraya memegang perut yang tertutup oleh backpack di depannya. Mata lelahnya perlahan mulai menipis, berharap sekarang mempunyai tenaga baru.
Di saat rasa lapar itu semakin menjalar di tubuhnya, Anya memutuskan untuk kembali berjalan. Untuk setidaknya, ketika berjalan ia berharap bisa melupakan rasa lapar itu.
Anya berdiri di depan sebuah rumah makan yang sepi pelanggan, dan sepertinya rumah makan itu hendak baru saja ingin tutup. Ia bertemu dengan salah satu pria yang baru saja keluar dari dalam.
"Permisi ... Apakah, saya bisa meminta makanan? Saya sangat lapar sekali," pinta Anya, melas di wajah manis itu terukir ketika sekarang sedang membuang rasa malunya karena terlalu lapar.
Pria itu menelusuri dari pangkal bawah sampai atas ujung rambut Anya, bagi siapapun yang melihatnya, pasti menyangka bahwa Anya adalah pengemis miskin yang sama sekali tidak punya uang.
"Nggak ada! Udah mau tutup. Pergi-pergi ..." kata pria itu, menatap Anya dengan sinis sambil memasukan banner papan tinggi nama warung makanannya yang tadi ia pajang di depan.
Lampu di depan warung itu, kemudian mati. Anya benar-benar bingung. Tidak tahu lagi harus bagaimana mencari makan dimana hari sudah mulai gelap seperti ini. Ia kembali berjalan di tepian rute pejalan kaki.
Sampai akhirnya, Anya menemukan sebuah roti yang tergeletak di tengah-tengah trotoar pejalan kaki. Wajahnya senang, sebuah senyum tiba-tiba terukir di wajah Anya ketika akhirnya bisa mendapatkan makanan untuk mengisi perut.
Saat hendak mengambil roti itu, sebuah suara langkah kaki yang melangkah dari belakang terdengar mulai mendekat. Anya yang sudah berjongkok di depan roti, harus melihat langkah kaki orang itu menginjak roti yang hendak ingin Anya ambil.
Tanpa rasa bersalah dan memperdulikan Anya, pria paruh baya yang terlihat baru saja pulang dari kantor itu berlalu lalang pergi begitu saja setelah melirik Anya sekilas.
"Astaga ..." lirih Anya masih berjongkok, seraya perlahan mengambil roti yang sudah sangat tidak layak untuk di makan.
Raut senyum di wajah Anya yang sempat muncul, perlahan hilang. Tiba-tiba air mata Anya jatuh dengan sendirinya, membasahi berjalan pelan mulus dari kedua pipi Anya.
Tangisannya pecah di bawah pendaran sinar bulan yang berada di atas langit. Ingin sekali rasanya Anya berteriak sekarang, namun suara lembutnya seolah sudah habis, sulit keluar karena isakan tangis Anya yang semakin sulit untuk di kontrol.
Anya menundukkan kepala, menahan dengan kedua lengan yang berpangku di lututnya. Nasib baik yang Anya harapkan, semuanya telah hancur sirna.
Ketika sekarang tidak memiliki dan mempunyai siapa-siapa di kota besar seperti ini. Gadis malang itu masih berdiam diri di tengah-tengah trotoar pejalan kaki, di samping beberapa pohon yang berbaris seakan ingin menemani keadaan Anya saat ini.
"Hiks ... Hiks ..."
Di sisi lain.
Pesta di dalam rumah keluarga Adiwijaya masih terus berlangsung. Dimana para tamu yang sudah duduk di meja masing-masing, tengah memperhatikan dan mendengar pidato yang sedang Adiwijaya present.
Semua orang yang hadir di sana, merasa terpukau melihat kewibawaan seorang Adiwijaya ketika berbicara, termasuk para rekan bisnisnya yang selalu tersenyum duduk manis memperhatikan.
Sedangkan Bianca, masih merasakan euforia senangnya ketika sekarang sudah tidak ada lagi hawa keberadaan dari Anya anak kampung! Yang sering membuatnya kesal.
"Sayang-sayang, coba lihat deh! Mamih cantik nggak?" tanya Laras yang berdiri di sampingnya. Memecahkan lamunan Bianca karena merasa senang telah menemukan kembali kalung kesayangannya yang sempat hilang.
Bianca meringis kaget tersenyum, ketika Laras menyenggol-nyenggol sambil menunjukan kalungnya.
"Iyaa mih, cantik kok!" tanggap Bianca, melihat Laras seraya menunjukan senyum kecil.
"... Seperti yang sebelumnya saya katakan, saya tidak akan berada di titik ini kalau bukan karena para pegawai perusahaan saya yang memiliki integritas dan intelektual yang tinggi."
"Saya pribadi, ingin mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada mereka. Karena telah mendukung dan membawa saya sampai berada di tahap ini ..."
Beberapa pegawai perusaha Adiwijaya yang hadir bertepuk tangan mendengar pernyataan itu, membuat yang lain juga ikut mengapresiasi dengan tepukan yang meriah.
"Saya harap, semua rekan bisnis terutama yang bekerja sama dengan perusahaan Adiwijaya dapat terus mempercayakan dan mensupport kami agar terus bekerja lebih baik, dan terus konsisten menjalankan visi misi dari perusahaan yang telah di berikan tanggung jawab besar."
Prook! ... Prook! ... Prok!
Suara dari tepukan tangan yang sempat memudar, perlahan kembali meriah. Memberikan apresiasi setinggi-tingginya untuk pemimpin besar utama perusahaan Adiwijaya ketika telah selesai berpidato dan turun dari panggung.
Setelah berjalan cukup jauh, Anya yang sudah sangat lelah memutuskan beristirahat di depan sebuah ruko gelap yang telah tutup.
"Aduh ... Kaki ku sayang lelah, aku tidak sanggup lagi berjalan," kata Anya, ketika baru saja menjatuhkan duduknya, mencari tempat bersandar di dinding.
Anya kembali memeluk tas. Meluruskan kaki agar dapat beristirahat dengan nyaman di depan ruko yang entah milik siapa. Saat ini, ia hanya butuh sandaran di kepalanya.
Tanpa sadar, mata lelah dan sayu Anya mengerjap seketika. Menutup perlahan tanpa Anya sadar lalu tertidur dengan sendirinya.
Ya. Tepat di depan sebuah ruko Anya sedang tertidur. Tidak memiliki siapa-siapa dan tidak mempunyai tujuan, di tambah kondisi fisik dan mentalnya yang sudah sangat lelah.
Anak manis yang malang itu sekarang harus bertahan sendiri di tengah kerasnya kota Jakarta. Berselimut tas yang ia peluk, Anya berusaha menempatkan posisi tidur duduknya senyaman mungkin.
5 jam kemudian ...
Langit gelap malam yang dingin sekarang berganti menjadi pagi yang cerah. Cahayanya, menyoroti Anya yang masih tertidur lelah di depan ruko. Sampai tiba-tiba, suara yang keras itu terdengar.
Braak ... Brak ... Braak!
"Bangun, bangun! ... Enak-enakan lu yaa, tidur di sini. Udah siang noh liat!" bentak seorang pria pemilik toko. Ketika merasa kesal karena Anya tidur tepat di depan rukonya menghalangi jalan.
Suara pria yang sedang marah itu semakin kesal, di saat Anya belum juga terbangun karena merasa lelah. Ia memukul sebuah asbes yang menjadi atas gerobak di depannya.
BRAAK!
Anya yang kaget karena mendengar suara keras itu, sontak terperanjat duduk. Berusaha membuka mata dengan pandangannya yang masih sedikit kabur.
"Hm?" gumam Anya pelan melihat ke atas, masih mengumpulkan nyawanya. Ketika ia samar-samar melihat seorang lelaki yang berdiri di hadapannya dengan ekspresi kesal.
Byur!
Laki-laki itu menyiram Anya. Setelah mengambil ember berisi air dari dalam ruko untuk mengguyur Anya agar cepat sadar dan pergi.
Sontak, Anya mengusap seluruh wajahnya. Berusaha mengambil nafas sedikit dari tubuhnya yang sekarang menjadi basah semua.
"Maaf. Maaf pak ... Saya—"
"Alaaah ... Udah-udah sono pergi!" teriak pria itu lagi, menyuruh Anya secepatnya beranjak dari tempat ruko miliknya.
Anya perlahan bangkit, berusaha berdiri di tengah-tengah tenaganya yang belum terkumpul. Meninggalkan pria yang masih berdiri menatapnya sambil mengoceh pelan di belakang Anya.
"Emang ini hotel?! Dasar ..."
Suara itu tidak lagi terdengar oleh Anya yang sudah jalan pergi meninggalkan. Keadaan Anya benar-benar kacau, ia bingung. Tidak tahu lagi harus apa dan bagaimana.
Di sepanjang langkah Anya menelusuri bahu jalan raya, lagi-lagi perut Anya berbunyi. Rasa nyeri perlahan menjalar di perut yang sedari tadi Anya cengkram.
"Aish ... Aku harus cepat-cepat dapat pekerjaan baru," kata Anya menahan lapar. Rintihan Anya berubah menjadi keyakinan untuk tetap bisa bertahan di kota ini.
Anya memutuskan dengan niat penuh mencari pekerjaan. Setiap ia melewati rumah makan, ia selalu menanyakan lowongan pekerjaan disana.
"Permisi pak ... Apakah disini membutuhkan karyawan?" tanya Anya, menatap wajah pemilik rumah makan penuh harap.
Namun sebaliknya, melihat kondisi yang tidak meyakinkannya, ia menolak hanya karena melihat penampilan Anya yang kusut.
"Maaf Dek, disini sedang tidak ada lowongan ..." tanggap pria itu dengan cepat. Anya membuang nafasnya, kembali berjalan dengan kondisi yang mencemaskan.
Beberapa kali Anya menemukan rumah makan di pinggir jalan siang ini. Namun anehnya, tidak ada satupun dari mereka yang mau menerima Anya.
Hingga tiba, Anya melihat sebuah tulisan di depan kaca rumah makan yang baru saja Anya datangi. Ia tersenyum, ketika melihat tulisan "Lowongan Pekerjaan"
Anya dengan cepat menghampiri dan berdiri di depan daun pintu rumah makan itu.
"Permisi ... Saya melihat tulisan lowongan pekerjaan di depan. Apakah saya bisa bekerja di sini?" tanya Anya tersenyum, seraya membenarkan posisi tasnya yang sedang ia pakai.
Wanita yang sedang memotong beberapa sayuran di meja itu melihat Anya, memperhatikan Anya dari bawah sampai atas rambutnya.
"Hmm ... Benar, kami lagi butuh seorang bekerja yang bisa membantu kami melayani tamu di sini ..."
Raut senang di wajah Anya terukir dengan sendirinya, ia merasa amat sangat senang ketika akhirnya menemukan rumah makan yang sedang mencari pekerja.
Suami dari istri yang sedang memotong sayuran itu, mendengar pecakapan mereka. Melihat Anya dan menyuruh istrinya masuk terlebih dahulu.
"Bu. Bu! ... Sini," panggil suaminya yang mengintip dari dalam. Wanita yang sedang duduk pun beranjak dari kursinya menghampiri suami.
"Sebentar yaa ... Saya bilang suami saya dulu," ujar wanita yang berada di hadapan Anya sebelum pergi masuk ke dalam.
"Dia itu pembantu yang di usir dari keluarga Adiwijaya, ibu tau nggak ... Dia di usir gara-gara apa?" bisik sang suami, yang sedang bercakap dengan istrinya di dapur.
Anya yang sedang berdiri melihat-lihat di depan, seperti mendengar suara bisikan. Namun ia tidak terlalu menghiraukannya, karena ia merasa senang seandainya bisa bekerja di tempat rumah makan yang cukup besar seperti ini.
"Semoga ... Aku di terima," gumam Anya di dalam hati, berharap agar mendapat pekerjaan hari ini.
Tidak lama setelah itu, sepasang suami istri yang tadi sedang berbincang di dapur, kembali menghampiri Anya. Dengan ekspresi cemasnya karena merasa bersalah.
"Kalau boleh tau, nama kamu Anya bukan?" tanya wanita yang sudah datang berdiri. Memastikan validasi dari ucapan suaminya benar atau tidak.
Mendengar ia mengetahui namanya, sedikit membuat Anya bingung. Ia mengangguk dan tersenyum kikuk.
"Iyaa, bu ... Benar. Nama saya Anya," tanggap Anya, dengan ekspresi wajahnya yang terlihat bingung.
Kedua orang di hadapan Anya itu saling pandang. Seolah mengerti langkah apa yang akan mereka ambil untuk memutuskan.
"Gimana bu ... Apa saya bisa bekerja di sini?" tanya Anya lagi, merasa ingin cepat-cepat mendapat jawaban dari mereka.
"Maaf, yaa Anya ... Ibu nggak bisa nerima kamu. Hmm ... Berita soal kamu mencuri di keluarga Adiwijaya, telah tersebar di internet. Dan ibu tidak ingin mengambil resiko ..."
"Iyaa dek Anya, maafin kami yaa ... Kami nggak bisa bantu," sambung suaminya, meneruskan kalimat istrinya yang sudah sepakat menolak Anya bekerja.
Deg!
Hati Anya seperti terbentur meteor. Ia tidak mengira, bahwa dampak dari masalah kemarin, sangat berpengaruh untuk Anya mencari pekerjaan di kemudian hari. Anya terdiam menatap lama sepasang suami istri itu.
"Yaah ... Yaudah, bu ... nggak apa-apa, Anya ngerti kok. Kalo gitu Anya permisi dulu yaa, marih~"
Anya pun berlalu pergi meninggalkan kedua orang pemilik rumah makan yang sedang menatap prihatin langkah Anya.
Anya harus kembali menelan semua nasib pahitnya ketika masih berada di kota ini. Ia marah, kecewa, juga sedih. Namun Anya tidak bisa mengungkapkan itu semua karena terlalu merasa lelah. Hampir muak dengan semua yang terjadi di hidupnya saat ini.
Waktu terus berjalan tanpa henti. Seolah tidak memikirkan tentang bagaimana nasib Anya yang belum juga mendapat pekerjaan. Melihat langit mulai gelap, Anya memutuskan untuk segera mencari tempat beristirahat sejenak.
"Ah~ Enaknya ..." ungkap Anya, ketika dirinya menemukan sebuah kursi panjang yan berada di tepi trotoar bahu jalan, untuk mengistirahatkan dirinya.
"Oh, iyaa ... Aku belum mengabari ibu!" sambung Anya yang baru saja ingat, ia segera mengambil ponsel di dalam tas. Namun sialnya, ponsel yang hendak ia gunakan untuk menelpon telah habis baterai.
Tut ... Tut ...
Suara dari ponsel yang berusaha Anya hidupkan namun gagal beberapa kali. Anya membuang nafas pendek seraya mendongakkan wajahnya menatap langit yang sudah gelap.
Huuh ...
"Betapa sialnya hidup ku saat ini ..." gumam Anya pelan, sedikit mengeluhkan nasib seraya meratap kosong jalanan.
Tang ... Tang ... Tang ...
Gema dari derap langkah pelan Anya memenuhi seluruh isi terowongan, pelan, namun teratur. Hanya ada beberapa kendaraan yang bisa Anya lihat melintasi jalan satu arah ini.
Saat keluar dari terowongan, Anya melihat sebuah gang. Gelap. Namun tiba-tiba kening Anya mengerenyit, saat melihat sebuah sosok bayangan diam tidak bergerak.
"Hah? Itu apa?" gumam Anya pelan.
Angin yang berhembus menyentuh kulit Anya, seketika membuat bulu-bulu halus ia merinding sampai kepala.
"Jangan-jangan? ..." sambung Anya, mata hitam cantiknya membulat, saat memikirkan hal mistis yang berkumpul di pikirannya.
Namun rasa penasaran Anya membuat ia berani melangkahkan kaki untuk mendekati, memeriksa bayangan apa itu.
Tap ... Tap ...
Langkahnya ragu, takut, namun rasa penasaran Anya berhasil mengalahkan itu semua sampai akhirnya ia melihat bayangan itu adalah seorang pria yang sedang tergeletak.
Wajah Anya panik, mengira kalau ini adalah korban tabrak lari, atau kejahatan kriminal lainnya.
"Aduh ... Gimana ini? Apa dia habis di rampok?" ucap Anya dengan cepat, pikirannya kalut ketika wajahnya menoleh ke kiri dan kanan mencari seseorang.
"Tolong ... Tolong ..." Anya berteriak, berharap ada seseorang yang mendengar permintaannya dari sebuah gang gelap dan sepi itu.
Merasa tidak ada yang mendengar suara Anya, ia berjongkok tepat di sebelah pria itu. Menepuk-nepuk pipinya berharap ia sadar dan bangun.
Deg!
Jantung Anya berhenti sepersekian detik, ketika melihat wajah pria yang sedang pingsan itu.
"Tapi ... Kenapa orang ini ganteng sekali?" gumam Anya pelan. Suara yang tiba-tiba saja keluar dari mulut manis Anya tanpa sadar.
Seumur hidup Anya, ini pertama kalinya ia terkagum dengan ketampanan seseorang, membuat Anya diam tertegun memandang lama wajah pria tersebut.
Bagaimana tidak, pria yang sedang Anya lihat, memang sangat tampan. Bentuk tubuh yang ideal, di balut dengan kemeja polos putih panjang yang di gulung sampai siku dan celana berbahan polyester stretch premium berwarna hitam.
Bola mata yang berwarna cokelat, dengan potongan rambut bergaya curtain mid long trim, pria yang berada dekat di hadapan Anya benar-benar membuatnya terhipnotis.
"Nggak, nggak! Astaga ... Apa yang aku pikirin sih?" kata Anya sambil menepuk-nepuk pipinya sendiri, setelah sadar dalam lamunan saat memperhatikan pria di dekatnya.
"Lebih baik aku bawa dia dulu. Tapi ..."
"Apa aku bisa?" lanjut Anya merasa tidak yakin, karena melihat perbedaan berat badan mereka. Anya ingin membantunya, agar tidak tidur di tengah jalan seperti ini.
Kemudian, dengan sekuat tenaga Anya, ia merangkulnya. Membantu pria itu berdiri dan membawanya pergi untuk mendapat pertolongan. Karena sepertinya, saat Anya memegang salah satu pipi pria itu, ia seperti sedang demam.
"Arrggh ... Berat banget!" gerutu Anya, saat dirinya membopong pria itu di pundaknya dengan susah payah.
Untungnya, tidak jauh dari keberadaan mereka, Anya melihat sebuah warung kopi. Namun warung itu terlihat seperti hendak ingin tutup karena sudah larut.
"Bu! Bu ... Bu!" cegah Anya dengan suaranya yang cepat, agar wanita paruh baya itu berhenti.
Wanita itu menatap Anya, sedikit merasa bingung karena malam-malam seperti ini ada seorang wanita yang sedang membopong pria pingsan di pundaknya.
"Tolong saya, Bu ... Apakah Ibu punya obat demam?" tanya Anya cemas, berharap ia mau menolongnya.
Wanita itu terdiam, merasa ragu dan akhirnya mau menolong Anya. Membantu Anya membopong pria itu untuk masuk ke dalam warungnya.
"Aduh ... Kamu kenapa malam-malam begini? Ayok masuk dulu!" ujar Ibu pemilik warung. Gara-gara Anya, ia membuka kembali rolling door yang sudah tertutup setengah.
Mendengar ucapan Ibu itu, membuat Anya tertegun. Ia tidak mengira bahwa masih ada orang baik di kota ini ternyata.
"Apa Ibu ini serius ingin menolong?" gumam Anya dalam hati, ketika mereka sedang membawa, membantu pria itu tidur di sebuah ruangan kecil di dalam warung.
"Syukurlah, kalau gitu ..." lanjut Anya dalam hati, masih menatap wajah Ibu pemilik warung di sampingnya.
Setelah meletakan pria itu di atas karpet yang sudah tergelar. Ibu pemilik warung beranjak diri.
"Sebentar yaa ... Ibu ambil obatnya dulu," kata Ibu yang beranjak diri, mengambil obat dari sebuah etalasi kaca yang terpajang.
Anya tersenyum kikuk. Bingung harus merespon seperti apa lagi. Ia pun hanya mengangguk pelan sekali.
Segelas air putih dan satu obat demam di berikan kepada Anya. "Ini obatnya ..." kata Ibu-Ibu yang segera duduk menekuk kaki di sebelah Anya.
Anya yang tiba-tiba merasa sungkan, mengangguk sekali saat menerimanya. "Terimakasih ..."
Anya sedikit mengangkat kepala pria itu, memasukan obat dan memberi minum air putih hangat di tangannya.
Pria itu merenguh, sedikit tersadar namun belum sepenuhnya karena masih terpejam merasakan sakit di tubuhnya. Ia berusaha menelan obat yang di berikan Anya berbarengan dengan air putih.
Setelah selesai memberikan obat, Anya kembali merebahkan kepala pria itu, agar ia dapat kembali beristirahat.
Wanita paruh baya itu melihat dan memperhatikan Anya, lalu bertanya karena merasa penasaran.
"Oh iyaa, nama saya Sri ... Kamu siapa? Dan siapa pria ini? Apakah pacar kamu?" ucap Sri, dengan pertanyaannya yang menebak kalau mereka sedang berpacaran.
Deg!
Hati Anya seperti merasakan sesuatu. Ia menatap Sri dengan cepat dan menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Tidak-tidak. Bukan! Saya menemukan dia tergeletak di tengah jalan, disebuah gang sepi. Lalu saya menolongnya dan melihat warung ibu ... Nama saya Anya, kami juga tidak saling kenal."
Mendengar perkataan Anya, membuat Sri lama menatapnya. Ia langsung tahu, bahwa Anya adalah wanita yang baik. Buktinya, ia mau menolong orang yang bahkan sama sekali tidak di kenalnya.
"Yaudah, kalo gitu ... Kalian istirahat saja disini, saya mau pulang dulu. Tapi maaf, jika hanya ruangan ini yang ada," tutur Sri, yang ingin berpamitan karena mengharuskan ia pulang kerumah.
"Hm? ..."
"Ma-maksud ibu ... Saya boleh menginap dengan pria ini di warung ibu?"
"Mengapa ibu tidak mencurigai saya?" tanya Anya dengan banyak kalimatnya. Karena setahu Anya, tidak banyak orang baik yang berada di kota Jakarta ini.
Ibu Sri tersenyum. Melihat Anya yang penuh ketulusan di bola matanya.
"Ibu percaya kamu Anya ... Lagian, ibu akan mengunci warung ini dari luar. Jika kalian berniat mencuri, kalian tidak bisa kemana-mana," tutur Sri, sedikit memberikan candaan kepada Anya yang terlalu mengkhawatirkan hal itu.
Anya terdiam. Mencari sisa-sisa kebohongan yang di ucapkan ibu Sri namun tidak ia temukan. Hingga suara Sri kembali menghancurkan dugaannya karena terlalu skeptis.
"Yaudah, kalo gitu ... Ibu pamit dulu, itung-itung ... Ibu mendapat satpam gratis disini," ucap Sri tertawa pelan. Sebelum berlalu pergi meninggalkan Anya yang tersenyum melihatnya.
"Terimakasih, yaa Bi ... Eh, ibu Sri maksudnya," ucap Anya, pikirannya teralihkan ketika kembali mengingat Bi Inah yang sering berperilaku baik kepada Anya. Ibu Sri tersenyum rentan.
Setelah di tinggal berdua oleh bu Sri, sang pemilik warung. Anya yang sedang duduk bersandar tiada hentinya memandang mie instan yang terpajang di etalase, di tambah bunyi dari perut ia yang semakin merasa lapar.
Bisa saja saat ini Anya mengambil makanan-makanan itu karena tidak ada siapa-siapa lagi selain pria yang tidur. Namun Anya tidak akan pernah melakukan hal tercela itu.
"Huh ... Untung, tenaga ku tidak habis di jalan saat membawa pria ini," gumam Anya pelan dengan membuang nafas. Pandangannya beralih kepada pria yang sedang tidur terlentang di depan Anya.
Gara-gara terlanjur menolong orang yang tidak ia kenal, Anya harus berjaga malam ini setidaknya sampai pria yang sedang demam sadar.
Beberapa kali juga terlihat rasa kantuk Anya menerpa wajahnya yang lelah. Di saat, ia harus mengganti air kompresan untuk penyembuhan pria itu.
"Yaa ampun! ... Hampir aja aku ketiduran," kata Anya mengerjapkan mata. Ia bertegak kembali di saat kepalanya hampir jatuh.
Anya mengambil kain basah yang berada di kening pria itu untuk kembali membasahinya dengan air hangat baru.
Di saat Anya hendak melakukan itu ... Tiba-tiba saja pria yang masih tidur itu menahan tangan Anya. Menggenggamnya sampai membuat Anya terdiam kaku.
Deg!
Suara jantung yang hanya bisa Anya sendiri rasakan berdegup semakin kencang. Itu berlangsung selama tatapan Anya melihat bingung wajah tampan di dekatnya.
Entah pria itu sudah sadar atau belum, Anya tidak mengetahuinya. Ia sibuk menerka-nerka perasaan aneh apa yang menjalar di tubuhnya sekarang.
"Ada apa ini?" lirih Anya pelan, masih dengan tangan yang di genggam erat oleh pria yang sedang tidur di hadapannya.
Kemudian, Anya perlahan memindahkannya, dengan mengangkat secara hati-hati tangan pria yang menggenggam agar tidak membangunkannya.
Huh ...
Suara nafas pelan yang di buang Anya. Ketika dirinya, kembali membenarkan posisi duduk semula. Ia menyandarkan lagi kepalanya di sisi dinding. Hingga tidak sadar, perlahan mata Anya tertutup dengan sendiri.
Keesokan hari ...
Sinar hangat dari mentari pagi yang datang, masuk melalui sela-sela jendela ruangan dimana Anya dan pria asing berada. Perasaan hangat sinar itu terus memancar lewat kulit putih Anya yang masih tertidur pulas.
Tanpa Anya sadari, kini posisi tidur Anya telah berada tepat di sebelah pria asing. Badan Anya meringkuk karena menahan angin malam yang terus hadir, wajahnya kini tepat berada di samping pundak seseorang yang tidak ia kenal.
"Sssh ... Aw! Badan ku seperti mati rasa."
Suara berat dari pria yang baru setengah sadar itu terdengar, ia meringis masih merasakan sakit di sekitar tubuhnya seraya mengurut kening sendiri. Masih merasakan pusing hingga ia belum sempat membuka mata.
Pria asing itu menoleh ke kiri. Ketika membuka mata, ia mendapati wajah cantik Anya yang sedang tertidur dari jarak yang cukup dekat. Sangat dekat.
"Hm?"
Tepat saat itu juga, kedua mata Anya terbuka. Ia terbangun dari tidurnya dan kembali melihat wajah pria tampan yang tadi malam ia tolong.
Pandangan mereka bertemu beberapa saat. Anya kembali melamun terhipnotis sebelum akhirnya ia panik terbangun duduk dan merapatkan kembali punggungnya ke sisi dinding.
"Maaf ... Aku tidak bermaksud untuk tidur di sebelah mu," ujar Anya, merasa takut pria yang baru saja sadar berpikir yang tidak-tidak.
Namun bukannya membalas ucapan Anya, pria yang juga perlahan berusaha untuk bangun terlihat biasa saja dengan keadaan ini.
"Dimana ini?" tanya pria asing itu, tanpa melihat Anya dan malah sibuk menyapu pandangan di sekelilingnya.
"Kita ada di dalam warung milik seseorang, aku menemukan mu pingsan di tengah jalan ..."
Pria itu berdiri lebih dulu. Merapihkan kembali pakaiannya selagi Anya menjelaskan.
"... Aku yang telah membawa mu kemari. Karena sepertinya, tadi malam kamu mengalami demam yang cukup tinggi," jelas Anya menyelesaikan kalimatnya.
Ketika Anya hendak berdiri, salah satu kakinya terasa tidak kuat menahan badan. Membuuat Anya hampir jatuh karena hilang ke seimbangan.
"Eh—"
Tepat sebelum Anya hampir jatuh, dengan gerakan reflek yang cepat, pria itu berhasil menangkap pinggang Anya.
Deg!
Jantung Anya kembali di pompa dengan cepat. Ketika jarak pandangan mereka kini sangat dekat. Hingga, tanpa Anya sadar di kedua pipinya muncul warna merah yang pucat.
"Nama ku Bara. Siapa nama mu?" tanya Bara. Suara yang sebelumnya berat itu kini tampak terucap dengan lembut. Suara nafas Bara yang menghembus, menerpa wajah Anya di setiap ia mengucapkan kata.
Untuk pertama kalinya, dalam hidup Anya ia baru merasakan perasaan aneh yang menjalar di tubuhnya yang tidak bisa ia jelaskan. Ia malah terdiam lama sibuk menatap wajah Bara dari dekat seperti ini.
"Hm?"
Suara Anya yang keluar tanpa ia sadar. Ia mengerjapkan kelopak matanya karena tidak sanggup berada terlalu lama di dalam posisi ini.
"Yaa ampun ... Kenapa aku jadi gugup begini? ..." gerutu Anya di dalam hati. Sebelum akhirnya, ia berkesiap berdiri kembali. Membenarkan pakaiannya yang terlihat sedikit berantakan.
"Na-nama ku ... Anya," balas Anya dengan gugup, kembali menoleh ke Bara. Namun bukannya memperhatikan Anya, Bara malah sibuk mencari cara untuk keluar setelah melepaskan dekapan barusan.
"Ih ... Nyebelin banget, sih nih orang?" gerutu Anya lagi-lagi di dalam hati. Kening Anya mengerut, ketika melihat Bara yang tidak mendengarkan ucapannya lagi.
"Bagaimana cara kita keluar dari sini?" tanya Bara, berbalik badan agar bisa menatap Anya kembali.
Entah kenapa, Anya seperti merasakan ingin membalas perbuatan Bara barusan. Ia tidak menjawab dan hanya mengangkat kedua bahunya seolah tidak mengerti apa-apa.
Beberapa saat kemudian ...
Di meja makan depan warung kopi Bu Sri. Terlihat Anya dan Bara sedang duduk berhadapan asik menyantap sarapan pagi nasi uduk Bu Sri.
"Terimakasih, yaa Anya ... Gara-gara kamu bantuin, Ibu jadi bisa buka warung sepagi ini," tutur Ibu Sri, ketika sedang menyiapkan minuman untuk mereka berdua.
"Ah, nggak apa-apa kok Bu ... Malah Anya yang seharusnya berterimakasih karena sudah di beri izin menginap di sini."
Ibu Sri tersenyum, seraya memberikan minuman itu membawanya kedepan hadapan Anya dan Bara.
Tek ... Tek ...
"Itu karena Ibu ngerasa kasihan sama kamu, rela gendong dan berjaga semalaman untuk pacar kamu," sindir Bu Sri dengan nada pelan, melirik sekilas Bara yang sedang asik menikmati makanannya.
Merasakan lirikan Bu Sri, Bara langsung menatap wajah Anya. Seolah mencari kebenaran tentang ucapan wanita paruh baya itu.
Pandangan Anya dan Bara bertemu. Lalu Anya menghempaskan wajahnya mencari dan melihat Bu Sri.
"Hmm ... Ah, nggak gitu Bu! A-Anya bukan pacarnya. Anya cuma menolong dia," ujar Anya gugup, kalimatnya sempat tertahan karena Bara yang terus melihatnya. Anya jadi mendadak merasa malu.
Suasana mereka mendadak hening. Di tengah-tengah ocehan Bu Sri yang baru saja ia sadari.
"Apakah mereka lagi berantem?" gumam Bu Sri dalam hati. Melihat ketegangan diantara mereka berdua.
"Kayaknya ... Ibu harus masuk dah, permisi~" sambung Sri, membawa kembali nampan yang terus ia peluk masuk kedalam. Seolah ingin cepat-cepat pergi.
Anya mendadak kikuk. Pandangannya tidak jelas seakan mencari sesuatu yang tidak ia tahu.
"Ah, nasi uduk ini benar-benar. The best!" tutur Anya berpura melanjutkan makan, di saat salah tingkah dirinya masih di perhatikan oleh Bara.
Tidak ada percakapan yang terjadi diantara mereka. Hanya ada suara dari denting alat makan ketika mereka berdua sedang menikmati nasi uduk Bu Sri.
Pandangan mereka lagi-lagi bertemu. Namun kali ini Bara menatap Anya lebih lama dari biasanya. Tanpa ada kalimat yang keluar.
"Ada apa yaa? Kenapa dia ngeliatin aku kayak gitu?" gumam Anya merasa bingung. Bermonolog sendiri di dalam hati.
Tiba-tiba tangan Bara terangkat. Bergerak perlahan mendekati wajah Anya yang mendadak kikuk.
Tangan itu semakin dekat beberapa cm tepat di hadapan Anya. Membuat jantung Anya yang berdetak terasa ingin meloncat. Sampai, suara keras itu mendarat di pipi Bara.
Plak!
Ya. Bara baru saja di tampar oleh Anya yang mengira ia akan berbuat macam-macam. Bara kembali menarik tangan dan meletakkannya di pipi yang mulai terasa panas.
Mata Anya membulat. Ini pertama kalinya dalam hidup Anya ia menampar seseorang. Terlebih, itu adalah orang yang baru ia kenal.
"Maaf. Maaf! Aku beneran nggak sengaja ... Aku kira, kamu—"
"Ada sedikit nasi di mulut kamu," potong Bara dengan sikapnya yang dingin. Membuang pandangan yang sebelumnya menatap Anya.
"Aduuh ... Gimana, nih. Aku baru saja menampar dia? Gila kamu Anya ..." gerutu Anya merasa cemas, berbicara lagi sendiri di dalam hati seraya bingung harus melakukan apa.
Bu Sri yang memperhatikan mereka dari dalam warungnya, semakin yakin. Kalau hubungan mereka lebih dekat dari sekadar teman. Ia malah menganggap Anya pacaran dan sedang bertengkar karena masalah.
"Aw! ... Pasti sakit yaa itu?" ucap Bu Sri pelan. Ketika ia mendengar suara tamparan yang cukup keras dari tangan Anya. Bu Sri melihatnya seraya mengelus pipi sendiri. Membayangkan rasa sakit itu.
Ketika mereka sudah selesai menghabiskan makanannya, Bara langsung mengecek saku. Mencari ponsel untuk membayar tagihan makan mereka.
"Apa kamu lihat ponsel ku?" tanya Bara, menatap Anya dengan ekspresi bingung karena tidak menemukan apa yang ia cari.
"Kamu tidak mengeluarkan apapun dari tadi Bara."
Bara langsung tersadar, kalau ia melupakan sesuatu. Semua barang-barangnya ada di dalam hotel. Untuk seseorang yang tampan seperti Bara, kecerobohannya adalah sering lupa.
"Aishh ... Aku melupakannya lagi," gumam Bara, berbicara sendiri seraya mengurut keningnya. Anya memperhatikan tingkah Bara yang baru pertama kali ia lihat.
Tidak lama setelah itu, Bu Sri datang dengan membawa cemilan penutup berupa kue basah untuk mereka berdua.
"Aduh, Bu Sri ... Jangan repot-repot. Kami berdua sama sekali tidak punya uang untuk membayar ini semua," ujar Anya, mengatakan yang sejujurnya dengan kondisi ia saat ini.
Bara menatap Bu Sri. Ia juga sependapat dengan Anya perihal kondisinya saat ini. Bara mengatakan sesuatu untuk meyakinkan Bu Sri.
"Ibu tenang saja. Nanti setelah semua ini selesai, saya janji akan bayar ini," ungkap Bara, dengan ekspresi berusaha membuat Bu Sri yakin.
Bu Sri tertawa pelan. Melihat tatapan mereka berdua sekarang.
"Tidak apa-apa ... Ini gratis kok. Ibu senang jika membantu kalian," kata Bu Sri, seraya meletakkan sepiring berisi kue basah untuk mereka.
"Jangan begitu Bu ... Anya jadi merasa tidak enak," balas Anya, merasa pertolongan dari Ibu Sri sudah lebih dari cukup. Ia tidak ingin merepotkan lebih dari ini. Anya berkata dengan nada pelan menatap Ibu Sri.
"Hmm ... Begini saja. Kalian berdua bantu Ibu cuci piring di dalam ... Saat ini 'kan warung Ibu lagi ramai, kalian bisa membayar makanan ini dengan cara itu. Bagaimana?" tanya Ibu Sri, memberikan solusi untuk Anya yang tidak ingin mendapat bantuan secara cuma-cuma.
"Hm?" sahut Bara merasa kaget, di sela-sela Ibu Sri sedang bicara dengan Anya.
Berbeda dengan wanita di depan Bara, Anya langsung dengan cepat menyetujui permintaan Bu Sri tanpa berpikir lagi.
"Baik-baik Bu ... Akan kami lakukan!" ucap Anya mengangguk memutuskan secara sepihak, tanpa bertanya dahulu dengan Bara yang menatapnya heran. Anya tersenyum kepada Bu Sri yang juga tersenyum mendengar jawabannya.
Anya berganti menatap Bara, ia menemukan ketidak yakinan di wajah Bara saat ini. Ketika mereka berdua akan bekerja sementara di warung kopi Bu Sri.
"Udah ... Tenang aja," ucap Anya pelan. Hampir berbisik untuk membuat Bara lebih percaya diri lagi.
Byurr ... Crruuurr~
Suara dari air keran yang deras mengalir membasahi lengan Bara yang di gulung. Untuk pertama kali dalam hidupnya, Bara harus merasakan bekerja mencuci piring seperti ini.
Spons berwarna kuning berlapis busa halus, tengah mengoles di permukaan piring berwana putih. Bara benar-benar kaku. Tidak terbiasa dan terlihat amatir sekali di pekerjaan ini.
Beberapa kali juga, tangan licin yang memegang piring sering terlepas akibat busa yang menumpuk di telapak tangannya.
Anya yang baru saja tiba di dapur, melihat Bara yang masih newbie sedang mencuci piring. Anya sedikit tersenyum kecil sebelum datang menghampiri Bara.
"Sini Biar aku bantu," kata Anya, mengambil spons yang di pegang Bara lalu mencuci piring yang sedang ia kerjakan.
Bara terdiam melihat tingkah Anya yang tiba-tiba datang membantunya. Merasa selalu di tolong Anya, Bara langsung mengambil kembali piring dan spons di tangan Anya.
"Biar aku aja," sahut Bara cepat, tanpa melihat Anya karena fokus memperhatikan piring agar tidak jatuh.
Karena keduanya saling ingin membantu, membuat mereka kini malah terlihat seperti anak kecil yang saling merebut permen.
"Nggak apa-apa biar aku bantu ..."
"Tidak usah Anya ... Aku bisa,"
Sampai pada akhirnya, piring yang mereka rebutkan hampir saja jatuh ke lantai. Bara dengan refleknya yang bagus, berhasil menangkap piring serta tangan Anya yang terus memegangnya erat.
"Eh—"
Kini tatapan mereka bertemu. Saling pandang dengan jarak yang cukup dekat. Dengan tangan mereka yang saling bersentuhan.
Deg ... Deg ... Deg ...
Kedekatan mereka berhasil membuat jantung Anya kembali berdetak dengan tidak normal, hingga menimbulkan warna sedikit merah di pipinya.
Bola mata Anya yang berwarna cokelat, bertatapan langsung dengan wajah tampan Bara yang terus melihatnya tanpa berkedip.
Sampai, suara dari Bu Sri menghancurkan moment mereka.
"Anya ... Tolong bawakan makanan ini ke depan!" teriak Bu Sri, yang sedang sibuk menyiapkan makanan untuk para pelanggan yang menunggu di depan.
Mendengar hal itu, Anya dengan cepat melepaskan pegangan Bara. Mengambil kembali nampan yang sempat ia taruh lalu pergi begitu saja.
"Cih ..." Bara berdecih pelan. Memandang piring yang sebelumnya berhasil membuat ia tersenyum kecil. Bara kembali melanjutkan tugasnya mencuci piring sendiri.
Di sela-sela langkah Anya menghadap Bu Sri, ia berusaha kembali mengatur nafasnya agar normal kembali. Juga ekspresinya yang sempat membuat Bu Sri bertanya.
"Anya ... Ada apa? Kenapa wajah mu merah sekali?" tanya Bu Sri, malah mengira Anya demam karena terlalu keras bekerja.
"Apa kamu sakit?"
"Ah, nggak kok Bu ... Aku baik-baik saja!" sahut Anya dengan cepat. Mengambil pesanan yang telah Bu Sri siapkan untuk diantar ke depan warungnya.
Bersambung ...