NovelToon NovelToon
MANISNYA SI BOS NARSIS

MANISNYA SI BOS NARSIS

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: Nina Sani

Kalau kamu butuh novel yang ceritanya manis, menggemaskan, dan ringan, untuk menemani waktu istirahat dan mengusir penat, kisah tentang Anaya dan Bos narsisnya adalah pilihan terbaik.


Setelah lima tahun bertahan menghadapi Bima—CEO muda genius, tajir melintir, dan narsisnya selangit—Anaya sang sekretaris kompeten memutuskan resign demi mengejar mimpi membuka toko kue dan toko buku kecil.

Beban finansialnya tuntas sejak adiknya sukses menjadi atlet nasional.

Namun, rencana resign itu buyar saat Mama Bima justru menjebaknya untuk menjadi menantu. Bagaimana kelanjutan nasib Anaya?.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nina Sani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 34: PIYAMA SUTRA MERAH

Sinar matahari sore Bali yang menembus kaca besar Presidential Suite sama sekali tidak mampu menghangatkan hati Anaya yang sedang dongkol setengah mati. Setelah sesi keliling proyek resort yang menguras tenaga—ditambah bonus harus menahan sabar mendengar Bima memuji kegeniusan dan ketampanannya sendiri di depan para kontraktor—Anaya akhirnya bisa bernapas lega di dalam kamar.

Bima saat ini sedang berada di kamar mandi utama, membersihkan diri setelah seharian berpeluh di bawah terik matahari pantai. Mengambil kesempatan dalam kesempitan, Anaya buru-buru menyeret koper hitamnya ke sudut ruangan dekat sofa. Dia berniat mengganti pakaian formalnya dengan baju tidur paling sopan, paling longgar, dan paling tidak menarik yang dia bawa: kaos oblong kedodoran bergambar ayam jago dan celana training panjang.

Namun, begitu ritsleting kopernya ditarik terbuka, jemari Anaya langsung membeku.

"Loh? Perasaan saya gak pernah punya baju warna ginian..." gumam Anaya, mengerutkan kening dalam-dalam.

Di atas tumpukan baju kaosnya yang terlipat rapi, tergeletak sebuah bungkusan plastik transparan berpita merah muda. Di dalamnya terdapat selembar kain berbahan sutra satin premium berwarna merah menyala. Dengan dahi berkerut, Anaya menarik kain tersebut keluar dari bungkusannya.

Begitu diangkat, kain itu meluncur jatuh dengan sangat mulus. Detik itu juga, mata Anaya hampir saja melompat dari rongganya.

Itu bukan piyama. Itu adalah sebuah slip dress alias baju tidur seksi dengan potongan dada super rendah, berhias renda brokat transparan di bagian pinggang, dan talinya hanya sehelai benang tipis yang tampak rawan putus jika ditarik sedikit saja. Singkatnya: baju kekurangan bahan.

Di bawah bungkusan tersebut, sebuah kartu ucapan kecil berwarna emas jatuh ke lantai. Anaya memungutnya dengan tangan gemetar.

Untuk Anaya sayang,

Mama tahu koper kamu pasti isinya baju-baju jadul yang kayak kain gorden kantor. Jadi Mama titip ini lewat sekretariat umum kemarin buat diselipin di koper kamu pagi ini. Dipakai ya, Sayang! Anggap saja ini seragam dinas malam khusus untuk mendukung efisiensi kerja anak Mama yang narsis itu. Semangat memikat singa kelaparan!

Kecup sayang,

Mama Ambar.

Anaya bener-bener ingin berteriak histeris saat itu juga. "Ibu Ambaar!! Ini namanya pelecehan seksual buat saya, sekaligus percobaan pembunuhan iman buat anak Ibu!" batin Anaya menjerit frustrasi.

Bagaimana bisa seorang ibu kandung memfasilitasi sekretaris anaknya dengan baju tidur yang lebih mirip kostum film dewasa begini? Kalau Bima sampai melihat Anaya memakai baju ini, harga dirinya sebagai wanita karier yang bermartabat akan langsung anjlok ke dasar samudra Hindia. Terlebih lagi, respons Bima pasti akan sangat menyebalkan. Pria itu pasti akan mengira Anaya benar-benar sudah memakai pelet jalur hitam untuk memikatnya.

"Gak, gak boleh. Ini harus dimusnahkan, atau minimal disembunyikan di dasar koper paling dalam!" bisik Anaya panik. Dengan gerakan secepat kilat, dia menjejalkan kembali piyama sutra merah itu ke dalam bungkusan dan menyuruknya di balik lipatan celana jeans.

Pemandangan yang Salah untuk Jantung yang Sehat.

CEKLEK.

Suara pintu kamar mandi yang terbuka membuat Anaya tersentak kaget seperti pencuri yang tertangkap basah. Dia refleks menutup kopernya dengan bunyi dentuman cukup keras dan langsung membalikkan badannya.

"Anaya, kamu lagi ngapain—"

Kalimat Bima menggantung di udara, sama halnya dengan napas Anaya yang mendadak berhenti berputar di paru-parunya.

Anaya bersumpah, jika ada tombol fast-forward untuk melompati waktu, dia akan menekannya sekarang juga. Di depannya, Bima keluar dari kamar mandi dengan kondisi yang bener-bener di luar batas aman untuk kesehatan jantung seorang wanita normal.

Pria itu sama sekali tidak memakai baju. Satu-satunya kain yang melekat di tubuhnya hanyalah selembar handuk putih polos milik hotel yang terlilit longgar di pinggangnya, menggantung pasrah di atas tulang pinggulnya yang tegas.

Rambut hitamnya yang biasanya tertata rapi dengan pomade kini basah kuyup, sebagian helainya jatuh berantakan menutupi keningnya. Sisa-sisa air jernih masih mengalir lambat dari rahang tegasnya, turun melewati leher, lalu merayap di atas dada bidangnya yang bidang sebelum akhirnya tenggelam di antara lekukan perut six-pack-nya yang tercetak sangat sempurna. Pria itu tampak seperti dewa Yunani yang baru saja turun dari langit Bali.

Anaya mematung. Matanya melebar, menatap lurus ke arah perut kotak-kotak Bima tanpa bisa dialihkan.

Bima yang menyadari tatapan intens dari sekretarisnya itu tidak merasa risi sama sekali. Dia justru menghentikan langkahnya, menyugar rambut basahnya ke belakang dengan jemari tangannya, lalu menyunggingkan senyum miring yang luar biasa narsis.

"Anaya," panggil Bima, suaranya terdengar lebih berat dan serak dari biasanya. "Saya tahu saya ini punya proporsi tubuh yang legal untuk dikagumi. Tapi kalau kamu menatap saya tanpa berkedip seperti itu, saya bisa merasa sedang ditelanjangi oleh pikiran kamu."

Kesadaran Anaya langsung tersentak kembali ke bumi. Wajahnya seketika memanas, berubah merah padam dari ujung telinga hingga ke leher.

"P-Pak Bima! Kenapa Bapak keluar gak pakai baju?!" semprot Anaya, langsung berbalik membelakangi Bima sambil menutup kedua matanya dengan telapak tangan. "Ini pelecehan mata namanya! Pakai baju Bapak sekarang juga!"

Bima terkekeh rendah, melangkah mendekat dengan santai. Bunyi langkah kakinya yang basah di atas lantai kayu terdengar semakin mendekat, membuat bulu kuduk Anaya meremang.

"Saya lupa bawa baju ganti ke dalam kamar mandi, Anaya. Lagipula, ini kan kamar saya juga. Kenapa kamu yang repot?" Bima sekarang sudah berdiri tepat di belakang Anaya. Aroma sabun maskulin yang segar bercampur dengan aroma tubuh alami Bima yang hangat langsung mengepung indra penciuman Anaya.

"Tapi saya ada di sini, Pak! Tolong punya urat malu dikit kenapa sih?!" seru Anaya, masih setia menutup matanya.

"Oh, ya? Jadi kamu terganggu?" Bima berbisik tepat di dekat telinga Anaya, membuat gadis itu merinding disko. "Atau... kamu sebenarnya lagi menahan diri supaya gak khilaf karena melihat aset masa depan kamu yang terlalu sempurna ini, hmm?"

Anaya merasa dunianya mulai berputar. Kombinasi antara kepanikan akibat piyama sutra merah dari Ibu Ambar, ditambah dengan serangan visual tubuh six-pack Bima yang basah dalam jarak kurang dari tiga puluh sentimeter, benar-benar membuat otaknya mengalami system crash.

Jika dia berbalik dan memaki Bima, bosnya itu pasti akan semakin gencar menggodanya. Jika dia kabur keluar kamar, dia hanya memakai baju kerja yang lecek dan lobi hotel pasti penuh orang.

Hanya ada satu jalan keluar yang terlintas di otak jenius Anaya saat situasi darurat begini. Strategi klasik yang sering dia tonton di drama televisi.

"Duh... Pak... kepala saya... kok mendadak pusing banget ya..." ujar Anaya dengan nada yang dibuat selemas mungkin. Dia sengaja mendramatisasi suaranya, memegang dahinya dengan punggung tangan.

Bima mengernyitkan dahi, sedikit terkejut dengan perubahan nada suara Anaya. "Anaya? Kamu kenapa?"

"Aduh... bumi kayak berputar, Pak... pandangan saya... gelap..."

Tanpa menunggu respons Bima lebih lanjut, Anaya langsung menjatuhkan tubuhnya ke arah sofa panjang di dekatnya. Dengan gerakan yang diatur sedemikian rupa agar kepalanya tidak terantuk pinggiran kayu yang keras, Anaya mendarat dengan mulus di atas bantalan sofa empuk. Dia memejamkan matanya rapat-rapat, mengatur napasnya agar terlihat sehalus mungkin, dan terkulai lemas bagai manekin tanpa nyawa.

Hening.

Anaya menunggu reaksi Bima dalam diam. Dalam hatinya dia berdoa, Ayo, Pak Bima, panik dong! Terus buru-buru pakai baju sana!

Namun, setelah hampir satu menit berlalu, tidak ada suara kepanikan dari Bima. Yang terdengar hanyalah helaan napas panjang yang terdengar sangat geli, diikuti oleh suara langkah kaki yang mendekati sofa.

Anaya merasakan embusan angin pelan saat sebuah tubuh besar membungkuk di atasnya. Jantung Anaya kembali berdegup kencang secara ilegal.

"Anaya," suara Bima terdengar sangat dekat, tepat di atas wajahnya. "Akting kamu itu sebenarnya lumayan bagus untuk ukuran amatir. Tapi sayang, sekretaris saya ini lupa satu hal."

Anaya tetap bertahan dalam posisi "pingsan"-nya, tidak bergerak sedikit pun.

"Orang pingsan itu... bola matanya gak akan bergerak-gerak panik di balik kelopak mata kayak kamu sekarang," bisik Bima jenaka.

Detik berikutnya, Anaya bisa merasakan sentuhan lembut dari ujung jari Bima yang hangat, menyelipkan sehelai rambut yang menutupi pipi Anaya ke belakang telinganya. Sentuhan kasual itu terasa seperti sengatan listrik bertegangan rendah yang langsung membuat seluruh tubuh Anaya menegang.

"Tidur yang nyenyak di sofa, Anaya. Saya mau pakai baju dulu sebelum pesona saya beneran bikin kamu pingsan beneran," bisik Bima penuh kemenangan, dibarengi dengan suara tawa baritonnya yang renyah saat dia melangkah menjauh menuju lemari pakaian.

Di atas sofa, Anaya tetap memejamkan matanya, namun kali ini bukan karena akting—melainkan karena dia benar-benar bingung bagaimana cara menghadapi hari esok jika benteng pertahanannya terus-menerus digempur oleh pesona mematikan sang bos narsis.

1
English Lesson
Mirip novel 'Pawang CEO galak' - Savana Liora☺️
English Lesson
semangat 💪🏻
English Lesson
Bagus👍🏻
Mar lina
Kirain mau kiss
ternyata pada masih
malu" kucing...
lanjut Thor ceritanya
di tunggu updatenya
Mar lina
Di tunggu
cerita kelanjutannya, Thor
mungkin Anya belum merasakan benih" cinta pak...
pak Bima juga seperti itu
kerjaan melulu yg di fikirkan...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!