NovelToon NovelToon
Gagal Jadi Istri Gus, Dinikahi Kakaknya

Gagal Jadi Istri Gus, Dinikahi Kakaknya

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Perjodohan / CEO
Popularitas:4.2k
Nilai: 5
Nama Author: Mur Diyanti

Rela menunggu kepulangan seorang lelaki selama 5 tahun. Alisa harus dihadapkan dengan kenyataan pahit bahwa gadis yang akan Gus Hafidz nikahi, bukanlah dirinya.

Sebagai salam perpisahan terakhir, Alisa rela menjadi bridesmaid pengantin wanita sebelum ia memilih untuk pergi dari pesantren.

Namun ternyata, kakaknya, Zefano. Pria yang baru pulang dari luar negeri itu jatuh cinta pada Alisa pada pandangan pertama. Dan berusaha menjerat Alisa agar menjadi miliknya. Hingga melakukan hal diluar nalar demi menjadikan Alisa istri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mur Diyanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Nyaris kehilangan Alisa

"Kamu yakin akan beli barang belanjaan sendiri, Alisa?" tanya Zefano tampak khawatir, tangannya begitu erat menggenggam tangan Alisa seolah tak ingin istrinya pergi.

Alisa mengulum senyum tipis, mendorong pelan pegangan tangan Zefano dari lengannya, "Iya, Mas. Kalo ngga beli ke pasar nanti siang kita mau makan apa, hm? Kebutuhan dapur kan sudah pada habis." jawabnya lembut.

Tetap saja, Zefano masih merasa cemas, ia ingin menemaninya, namun bau di dalam begitu menyengat, jangankan menemani, membuka kaca mobil saja ia tidak sanggup saking maboknya dengan bau pasar yang menyengat.

Sementara Alisa, baginya ke pasar sudah seperti kegiatan sehari-hari. Ia dan teman-temannya saat kebutuhan sayur pesantren habis, mereka akan mengajukan sendiri diri mereka untuk berangkat ke pasar. Dan hal itu sudah menjadi rutinitas setiap Minggu.

"Yasudah, Alisa pergi dulu yah, Mas. Mas tunggu disini, ngga lama kok." Alisa mengulum senyum lembut.

Akhirnya, setelah pertimbangan lama, Zefano pun pasrah, menyerahkan tanggung jawab dapur kepada Alisa.

"Kenapa tidak ke mall besar saja sayang, aku tidak perlu membiarkanmu sendirian." lagi, ia masih belum rela rupanya.

Alisa tersenyum lagi, "Aku belum terbiasa dengan harga-harga disana, Mas. Semua terpantau sangat jauh selisihnya. Alisa alergi selisih barang mahal, hehehe."

Zefano memanyun, bisa-bisanya istrinya bercanda di hal begini, meski begitu, ia bisa apa? Ia tidak mungkin memaksa istrinya untuk tidak pergi kesana bukan?

"Yasudah deh, hati-hati. Kalo ada apa-apa langsung telfon mas yah." ucapnya lagi.

Alisa mengangguk, "Iya, Mas. Tunggu saja."

Akhirnya, Zefano benar-benar membiarkan Alisa masuk ke pasar sendiri, sementara ia hanya bisa menunggu di luar.

Disela ia menunggu, sebuah telefon mengejutkannya. Nomornya nomor asing, membuat kening Zefano mengerut.

"Hallo."

"Asalamualaikum Kak Zefano. Kami selaku para pendidik di pesantren harus menyampaikan ini kepada anda."

Kening Zefano mengerut, "Pesantren?"

"Iya, saya Ridwan. Anda masih ingat saya bukan?"

Melebar netra Zefano, "Ahhh....iya, Ridwan apa kabar?"

"Alhamdulillah baik, kak. Jadi gini, semenjak kasus Kiai dan Gus Hafidz terbongkar. keadaan pesantren jadi tidak karuan. Para orang tua setempat melakukan demo di depan gerbang, meminta kami untuk membubarkan pesantren. Dan beberapa santriwan santriwati juga sudah di jemput dan ditarik paksa oleh orang tua mereka untuk keluar. Pertanyaan saya, anda sebagai putra sulung yang masih tersisa, akan bagaimana menangani kasus keluarga anda? Dan juga masa depan pesantren ini?"

Kening Zefano mengerut liar, bibirnya terkatup rapat cukup lama. Memang benar, pesantren itu hanya dipegang oleh Abah. Berhubung Abah dan Hafidz masuk penjara. Kondisi pesantren layaknya Medan perang tanpa pemimpin.

"Untuk itu, saya akan coba diskusikan dengan istri saya nanti, setelahnya kami akan menelfon kamu."

Ridwan tersenyum sumringah dibalik telefon," Baiklah! Akan saya tunggu jawaban dari kamu, Zefano. Asalamualaikum!"

"Waalikumsalam."

Telefon pun terputus. Zefano langsung terdiam menatap ke depan, disatu sisi itu bukan urusannya. Tapi di sisi lain, pesantren itu juga tempatnya hidup dulu.

Zefano menyandarkan bahunya pada sandaran kursi, mengusak rambutnya frustasi.

"Apa yang harus aku lakukan?"

"KYAAAA!!!"

Zefano sontak bangkit, menoleh cepat ke arah kaca jendela dimana gedung pasar itu berdiri.

"Alisa?!"

tanpa fikir panjang, ia langsung membuka pintu mobil, menerobos keluar dari mobil, masuk ke dalam pasar.

Kerap kali ia ingin muntah saat baik tidak mengenakkan itu menyelusup masuk ke dalam hidungnya. Namun ia tidak perduli, karena yang paling ia pedulikan sekarang adalah Alisa.

"Alisa!!" teriak Zefano, membelah kerumunan, "Alisa kamu dimana Alisa?!"

Ia semakin gencar berlari, mencari keberadaan Alisa di setiap penjuru dalam pasar seperti orang gila.

"Alisa!!" teriaknya frustasi.

Bayang-bayang Alisa diculik oleh segerombolan orang yang membuntutinya tadi malam membuat otaknya buntu. Ia tidak akan membiarkan itu terjadi, ia ingin berfikir positif, namun otaknya terus mengarah ke hal negatif, membuat hatinya dilanda gundah gulana.

"Alisa!"

"Hey! Tolong hati-hati dong! Pasar ini bukan cuma anda doang yang menempati!"

"Tau tuh! Main tubruk aja! Jangan menghalangi jalan orang!"

Namun Zefano sama sekali tak mengindahkan, ia harus menemukan Alisa. Dirinya akan sangat tenang setelah menemukan keberadaan Alisa.

"Alisa!!" teriaknya lagi, air matanya nyaris luruh, menjambak rambutnya frustasi.

"Alisa aku mohon kembalilah Alisa!"

Rasa bersalah semakin menggerogoti hatinya, harusnya ia tidak mengizinkan Alisa pergi tadi, harusnya ke mall saja. Ini tidak akan terjadi jika ia tetap berada dalam pengawasannya.

"Alisa aku mohon Alisa!"

Netranya membulat saat tak sengaja melihat seorang gadis bergamis dan berkerudung pink lebar di ujung sana, membelakangi dirinya.

"Alisa, aku yakin itu pasti Alisa!"

Tanpa fikir panjang, ia langsung berlari menghampiri gadis itu, lalu membalikkan tubuhnya, hendak memeluknya. Namun ternyata itu bukanlah Alisa, melainkan seorang ibu-ibu yang sedang membeli daging.

"Anda siapa yah?"

Pupus sudah harapan Zefano, ternyata bukanlah Alisa. Ia semakin menjambak rambutnya frustasi, "Maaf, saya salah orang."

Ia langsung berlari ke bagian paling ujung, mencoba mencari keberadaan Alisa lagi siapa tau Alisa masih berada di sekitar sini. Keluar dari pasar lewat pintu yang berbeda.

Namun nihil, ia tetap tidak menemukan Alisa disana.

"Astaghfirullah Alisa!"

Tidak menyadari saja, bahwa gadis yang ia cari-cari sedari tadi, justru sudah berada di depan mobil. Keningnya mengerut saat tak mendapati sosok Zefano di dalam mobil.

"Lho? Mas Zefano kemana?"

Ia berfikir mungkin Zefano hendak membeli sesuatu di toko, atau mungkin bosan. Jadi ia memutuskan untuk menunggu di dalam mobil saja.

"Humm....lama banget, kemana sih Mas Zefano yah?"

Ia ingin mencari, namun ingat Mas Zefano tidak mengizinkannya pergi kecuali ke pasar. Yang alhasil ia memilih menunggu Zefano saja di dalam.

Tak berselang lama, Alisa melihat Zefano berjalan dengan langkah lunglai, merunduk seperti orang kehilangan gairah hidup. Keningnya mengerut kecil, "Lho, itu Mas Zefano kenapa?"

Ia pun melambaikan tangannya keluar dari kaca mobil, tersenyum lebar ke arah Zefano.

"Masss!!!"

Zefano sontak mendongak, melebar langsung netra tajam itu. Sontak berlari menuju mobil. Membuka pintu mobil cepat.

Alisa yang semula tersenyum langsung memudar, menatap bengong suaminya yang berdiri mematung di ambang pintu. Tatapannya tajam, dadanya naik turun tak karuan seperti habis kehilangan seseorang.

"Mas? Kamu kenapa?" tanya Alisa bingung.

Tanpa fikir panjang, Zefano langsung masuk ke dalam serampangan, membantu pintu. Lalu meraih kedua bahu Alisa, menatap wajah Alisa lekat-lekat.

"Ma-Mas?" cicit Alisa, jujur ia merasa takut dengan kondisi suaminya yang sekarang. Seperti, orang yang mengalami trauma berat.

Alisa pun memilih untuk mencairkan suasana. Beranjak menoleh ke belakang untuk mengambil sesuatu yang ia beli untuk suaminya. Namun terhenti saat tiba-tiba Zefano menarik pinggangnya, memeluknya erat.

"Ma-Mas?"

Tanpa fikir panjang, Zefano langsung meraih dagu Alisa, lalu memiringkan kepalanya, mengecup cepat bibir Alisa itu menuntut.

Alisa melotot, mencoba mendorong bahu Zefano. Namun tangan yang melilit pinggangnya begitu erat.

Zefano menciuminya seperti orang kesetanan. Yang sudah berpisah cukup lama, meski begitu, Alisa yang tidak pandai dalam hal ciuman, tentu tak bisa mengimbangi Zefano, nyaris kehilangan nafas.

"Massmhhh!"

1
falea sezi
pergi sejauhnya biar suami. goblok mu klo uda inget pasti kelabakan🤣 sebel liat laki oon gini pengen tak timpuk🤭 lanjut banyak thor q ksih hadiah deh
falea sezi
pergi aja Alisa biar klo dia inget mampus uda telat🤣 laki. goblok gini males bgt bkin Alisa pergi thor biar gk kayak ikan terbang
Dynhz: hhhi siap, aku juga klo jadi Alisa pergi sih😭
total 1 replies
Winny
👍
AsLan 🦁
diawal-awal udah bagus makin kesini makin pret kaya sinetron ikan terbang, basiiii
Dynhz: maaf yah kalo cerita saya kaya ikan terbang😁🙏🏻makasih sudah mampir😁🙏🏻
total 1 replies
AsLan 🦁
preeeetttlaaaghh
falea sezi
yaa kemana si zafano😕 msak hanyut nanti amnesia lagi😕
falea sezi
lanjut donk
Dynhz: uwokeee😍👍
total 1 replies
falea sezi
jahat bgt si hafiz makan aja itu ning nong
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!