*Novel dengan Alur Sat Set dan Bab Pendek.*
Junee tidak pernah menyangka akan bertemu lagi dengan Ben Pratama.
Anak culun yang dulu ia tolak di SMA, sekarang jadi CEO muda yang dingin dan sukses. Ketika panti asuhan tempat Junee mengabdi terancam digusur, satu-satunya jalan keluar adalah menerima tawaran Ben: Menjadi istri kontraknya selama satu tahun. Tidak ada cinta. Hanya kesepakatan.
Begitu pikir Junee. Tapi tinggal serumah dengan Ben ternyata tidak sesederhana itu. Setiap tatapannya penuh teka-teki. Setiap sikapnya seperti menyimpan amarah yang belum selesai.
Junee mulai bertanya: Apakah Ben benar-benar membencinya? Atau selama ini, ia salah paham tentang alasan penolakan itu? Satu tahun. Satu kontrak. Satu kesempatan untuk memperbaiki masa lalu. Pertanyaannya… apakah hati mereka masih bisa diperbaiki?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Five Vee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
33. Percobaan Kedua.
Ben dan Junee tidak lagi membahas tentang IVF selama hampir sebulan.
Mereka berpura-pura hidup normal. Ben bekerja di lantai 45, Junee mengajar di panti asuhan pusat, kadang berkunjung ke Bekasi.
Bertemu kembali saat makan makan malam, membahas tentang hari itu, berbagi peluh bersama meski hasilnya nihil, kemudian tidur saling memeluk.
Namun, setiap kali Ben melihat Junee menatap perutnya sendiri di depan cermin, ia tau jika sang istri belum selesai.
“Dokter mengatakan kita bisa coba lagi bulan depan.” Ucap Ben pada suatu malam.
Junee tidak menjawab.
Ia hanya menatap sang suami cukup lama, lalu mengangguk pelan.
Mungkin memang tidak ada salahnya untuk mencoba lagi untuk yang kedua kalinya.
Dan 3 bulan pun berlalu setelah gagal pertama mereka.
Ben kembali mengajak Junee melakukan pemeriksaan dengan dokter Wina.
“Saya senang karena ibu dan bapak mau mencoba lagi.” Ucap dokter kandungan itu.
Ben dan Junee mengangguk pelan.
“Prosedurnya masih sama seperti sebelumnya, Bu, Pak.” Ucap dokter Wina.
“Iya, Dok.” Ucap Junee pelan.
Meski prosedurnya sama, namun kali ini rasanya berbeda, dari yang pertama.
Tidak ada harapan besar yang meledak-ledak.
Yang ada hanya rasa pasrah yang tenang.
Ben dan Junee tau resikonya. Mereka tau rasa sakitnya. Tetapi, keduanya tetap memilih jalan ini.
Siklus kedua pun dimulai.
Pasangan suami istri itu di hadapkan kembali dengan jarum suntik, alkohol swab, dan cairan bening.
Suntik hormon lagi selama 14 hari kedepan. Dan Junee pasti akan kembali merasakan perubahan hormon.
Bedanya, kali ini Ben sudah terbiasa.
Tangan yang dulu gemetar waktu menyuntik perut Junee, sekarang sudah stabil.
Setiap jam sembilan malam, Ben akan duduk di samping Junee.
“Tarik nafas ya, Junee. Pelan-pelan.” Ucap Ben saat hendak menyuntik perut sang istri.
Junee tidak mengeluh.
Ia hanya menggigit bibir setiap kali jarum menusuk masuk ke dalam perutnya.
Dan setiap kali selesai, Junee pun menatap sang suami lalu mengatakan, “Terima kasih, Ben.”
Ben tidak tau Junee berterima kasih untuk apa?
Untuk suntikannya? Atau karena Ben masih setia menemaninya?
Setiap malam selalu di akhiri dengan tidur saling memeluk satu sama lain. Seakan takut di tinggalkan oleh pasangannya.
Hari - hari pun berlalu begitu saja.
Mungkin karena Ben dan Junee tidak terlalu menaruh harapan besar. Sehingga waktu terasa berjalan sangat cepat.
Ben dan Junee pun kembali bertemu dengan dokter Wina.
“Mari kita lakukan pengambilan sel telurnya.” Ucap dokter Wina.
Junee mengangguk pelan. Dan terlihat pasrah, sebelum dirinya di bius total.
Pengambilan sel telur kedua berhasil.
Delapan sel telur. Lima matang. Tiga fertilisasi.
Dua embrio grade A.
Dokter Wina tersenyum kecil. “Kualitasnya lebih baik dari sebelumnya, Bu.”
Junee keluar dari ruangan tindakan dengan mata berkaca-kaca.
Bukan karena bersedih.
Tapi karena takut berharap lagi.
Ben menyambut kedatangan sang istri dengan pelukan hangat.
“Ayo kita pulang.” Ucap pria itu.
Ben dan Junee keluar dari rumah sakit dengan saling berpegangan tangan.
Mereka siap untuk menunggu hari transfer embrio itu datang..
- - -
Hari transfer embrio.
Embrio kedua masuk ke dalam rahim Junee.
Prosesnya masih sama. Hanya lima menit dalam kesunyian.
Tapi rasanya lebih berat dari sebelumnya.
Setelah beristirahat selama lima menit, Junee pun keluar dari ruang tindakan. Ben selalu setia menunggu, kemudian menyambut dengan pelukan hangat.
Sebagai tanda penyemangat untuk sang istri.
Karena tidak boleh banyak bergerak, Ben langsung membawa Junee pulang ke penthouse.
“Mau makan sesuatu?” Tanya pria itu.
“Mau nasi goreng resep ayah.” Ucap Junee.
Ben mengusap kepala sang istri. “Tunggu di ruang tamu. Biar aku buatkan nasi goreng untuk kamu.”
Junee menganggukkan kepalanya. Ben pun pergi ke dapur untuk memasak.
Malam harinya, sebelum tidur Junee memegang tangan sang suami.
“Ben.” Bisiknya pelan.
“Iya?” Ben menatap penuh penasaran.
“Kalau gagal lagi… kita berhenti ya?” Ucap wanita itu.
Ben menelan ludah.
“Berhenti, kenapa?” Tanyanya lagi.
“Karena aku tidak mau melihat kamu sakit karena aku.”
Ben menggenggam tangan Junee lebih erat.
“Kita berhenti kalau kamu yang bilang berhenti. Bukan karena aku. Aku kuat, Junee. Yang aku tidak kuat itu melihat kamu menyerah sendirian.”
Junee tidak menjawab.
Ia pun memejamkan matanya.
- - -
Empat belas hari menunggu dimulai lagi.
Kali ini Junee tidak berani mengatakan apa-apa.
Junee tidak berani mengatakan ‘mudah-mudahan berhasil’.
Ia takut kalau kata-kata itu menjadi bumerang.
Hari kesepuluh, Junee muntah di pagi hari.
Hari kedua belas, payu-daranya terasa sakit.
“Aku merasa berbeda, Ben.” Ucap Junee di hari ketiga belas.
Namun, Ben juga tidak berani berharap.
Dan malam harinya, ia pun tidak bisa tidur.
Pagi hari keempat belas datang.
Ben dan Junee kembali ke ruangan yang sama.
Dokter yang sama.
Dan map cokelat yang sama.
Mungkinkah hasilnya juga akan sama?
Ben menggenggam tangan Junee sampai telapak tangannya basah.
Junee menatap pria itu. Mata begitu tenang.
“Kita siap, kan?” tanya Junee pelan.
Ben pun mengangguk.
“Siap apa pun hasilnya.”
Dokter Wina membuka map itu.
Dia menatap pasangan suami istri itu secara bergantian.
Kemudian ia pun menghela napas pelan.
“Maaf, Pak. Bu. Hasilnya negatif lagi.” Ucapnya penuh penyesalan.
Dunia rasanya berhenti berputar.
Junee tidak menangis.
Ia hanya menunduk.
Ben melihat bahu sang istri bergetar pelan.
“Gagal lagi.” Bisik Junee.
Ben tidak tau harus mengatakan apa?
Ia hanya mampu menarik Junee ke dalam pelukannya.
Junee pun tidak menolak. Ia menangis di dada sang suami.
Tangis yang tertahan selama dua minggu akhirnya pecah.
“Kenapa, Ben?” Tanya June di antara isaknya.
“Kenapa badan aku tidak bisa menyimpan dia satu saja?”
Ben tidak tau jawabannya.
Ia pun mengusap rambut Junee pelan.
“Aku tidak tau, Junee. Tapi aku di sini. Aku tidak akan ke mana-mana.”
Dokter Wina menatap prihatin pasangan suami istri itu.
Mereka masih muda. 29 tahun. Namun sudah di hadapkan dengan kegagalan berulang kali.
Keluar dari klinik, mereka tidak langsung pulang.
Mereka masih berada di parkiran.
Duduk di mobil dalam diam.
Junee menatap keluar jendela.
“Aku lelah, Ben. Aku lelah menjadi orang yang selalu berharap.”
Ben mengangguk.
“Aku tau.”
“Kalau kita berhenti sekarang… apa kamu akan kecewa?” Tanya Junee.
Ben menoleh ke arah sang istri.
“Aku tidak kecewa sama kamu, Junee. Aku hanya kecewa sama keadaan.
Tapi kalau berhenti membuat kamu tenang, aku ikut.”
Junee menatap Ben cukup lama.
Lalu ia pun mengangguk pelan.
“Kita mulai dari awal lagi, Junee. Bukan dari IVF. Tetapi, dari diri kita sendiri.” Ucap Ben kemudian.
Mungkin mereka gagal memiliki anak dua kali.
Tapi mereka berhasil menemukan satu sama lain lagi.
Dan untuk sekarang… itu sudah cukup.
---
---
pesan 1 kak