NovelToon NovelToon
Belunggu Pernikahan

Belunggu Pernikahan

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / CEO
Popularitas:7.8k
Nilai: 5
Nama Author: Maya sabir

"Dia hanya memiliki aku, Maya. Sedangkan kau? Kau punya segalanya. Berhentilah bersikap menjijikkan dengan menuduhnya yang bukan-bukan!"

Kata-kata itu menjadi cambuk harian bagi Maya. Di rumah itu, dia adalah orang asing di tengah keluarga yang "sempurna". Arlan, suaminya, telah memindahkan seluruh pusat dunianya kepada Sarah dan anak almarhum adiknya.

Setiap kali Maya mencoba membela diri dari fitnah halus yang disebarkan Sarah, Arlan akan menatapnya dengan kebencian murni. Bagi Arlan, Maya adalah beban, sedangkan Sarah adalah amanah suci. Ketidakadilan itu semakin kelam ketika Arlan mulai memperlakukan Sarah layaknya seorang istri, dan membuang Maya ke sudut tergelap dalam hidupnya.

Ini bukan lagi tentang cinta, melainkan tentang pengabdian yang salah arah dan kehancuran seorang istri yang dipaksa menyaksikan suaminya mencintai bayangan orang lain.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maya sabir, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22

Dokter segera masuk dan melakukan serangkaian pemeriksaan saraf sementara Arlan menunggu dengan napas tertahan di sudut ruangan. Setelah pemeriksaan selesai, Dr. Sanjaya (yang kini ikut memantau kondisi saraf Maya) menghampiri Arlan dengan kerutan di dahi.

Arlan mengangguk kaku. Ia bersiap untuk diusir, bersiap untuk melihat tatapan kebencian itu lagi. Ia melangkah mendekati ranjang dengan tangan bergetar.

"Maya..." panggil Arlan lirih.

Maya menoleh. Matanya yang jernih tanpa kabut kesedihan atau dendam yang biasanya ada ,menatap Arlan dari ujung kaki hingga ujung kepala. Tiba-tiba, sudut bibirnya terangkat. Sebuah senyuman lebar, manis, dan sedikit... nakal.

"Ya ampun! Mas Arlan?!" seru Maya dengan suara yang melengking ceria, sangat berbeda dengan suara dingin yang Arlan dengar selama setahun ini.

Arlan membeku. "Maya? Kau... kau tidak apa-apa?"

"Apa-apa gimana sih? Mas Arlan makin ganteng aja! Kok bisa ada di sini? Mas jemput aku ya? Ih, kangen banget!" Maya mencoba duduk, mengabaikan selang infus, dan tiba-tiba merentangkan tangannya lebar-lebar. "Sini dong, peluk calon istrinya! Kok malah bengong kayak liat hantu?"

Arlan nyaris terjungkal ke belakang. Calon istri? Ingatan Maya tertinggal di masa lima tahun lalu, saat mereka baru bertunangan dan Maya masih merupakan gadis periang yang sangat ekspresif. Ia lalu menoleh ke arah dokter yang sepertinya sedang mengamati kondisi Maya.

" Seperti nya pasien sudah baik-baik,saja tapi tuan Arlan..nanti keruangan saya." Ujar sang dokter sembari beranjak pergi dari ruangan itu.

"Mas Arlan," Maya merengek, bibirnya dikerucutkan manja. "Kenapa liatin aku kayak gitu? Oh, aku tahu! Pasti karena aku pucat ya? Aduh, jangan liat! Aku belum dandan, belum pake lip tint. Mas, beliin aku tas baru dong buat gantiin rasa sakit di kepala ini. Yang merk-nya ada huruf 'C' itu loh, yang mahal!"

Arlan melongo. Maya yang bar-bar, manja, dan terang-terangan menyukai uang karakter asli Maya sebelum tragedi kecelakaan itu merenggut keceriaannya ,telah kembali. Seluruh memori tentang gudang, Sarah, kecelakaan, dan kebencian setahun terakhir telah lenyap dari kepalanya.

"Mas Arlan kok diem aja sih? Biasanya langsung keluarin kartu kredit," goda Maya sambil mengedipkan matanya dengan centil. "Eh, bentar... kok Mas pake baju kantor kusut gini? Mas nungguin aku ya semalaman? So sweet banget sih calon suami dingin aku ini!"

Rlan tak kuasa menahan tawa yang bercampur dengan air mata haru. Ia mendekat, lalu dengan ragu menyentuh pipi Maya. Maya tidak menepisnya. Justru, wanita itu menggesekkan pipinya ke telapak tangan Arlan, mencari kenyamanan.

"Mas Arlan," Maya berbisik manja, "Nanti kalau keluar dari sini, kita belanja ya? Terus makan steak yang paling mahal. Aku mau kuras tabungan Mas Arlan sampai habis!"

Arlan memeluk Maya dengan sangat erat, menyembunyikan wajahnya di ceruk leher istrinya. Ia menangis tanpa suara. Ini adalah kesempatan kedua yang bahkan tidak berani ia impikan. Semesta tidak hanya mengembalikan nyawa Maya, tapi juga mengembalikan sosok Maya yang ia cintai dulu sebelum Arlan sendiri yang menghancurkannya.

"Iya, Sayang. Apa pun. Aku akan belikan apa pun yang kamu mau," bisik Arlan parau.

Tepat saat itu, Dion masuk ke kamar. "Mama?"

Maya melepaskan pelukan Arlan, menatap Dion dengan bingung, lalu menatap Arlan. "Mas... ini anak siapa? Ih, lucu banget! Apa kita udah punya anak segede ini pas aku tidur? Wah, Mas Arlan hebat ya, produksinya cepet!"

Arlan syok mendengar ucapan bar-bar istrinya di depan anak kecil, namun ia tersenyum lebar. Kehidupan di rumah Dirgantara tidak akan lagi sunyi dan dingin. Mulai hari ini, naga es itu akan dijinakkan oleh seorang istri yang centil, boros, dan sangat mencintainya. Arlan bersumpah dalam hati, kali ini ia akan menjaga ingatan "bahagia" ini seumur hidupnya, dan tidak akan membiarkan satu tetes air mata kesedihan pun jatuh di pipi Maya lagi.

Setelah Maya istirahat kembali,Arlan beranjak keluar dan menuju ruangan dokter yang menangani Maya.

Arlan melangkah menyusuri koridor rumah sakit dengan perasaan yang campur aduk. Di satu sisi, jantungnya berdegup kencang karena bahagia ia merasa seolah baru saja mendapatkan kembali dunia yang sempat ia hancurkan sendiri. Namun di sisi lain, ada rasa takut yang menghantui . Bagaimana jika ingatan itu kembali? Bagaimana jika kebahagiaan ini hanya sekadar jeda sebelum badai yang lebih besar?

Setibanya di ruangan Dr. Sanjaya, Arlan mendapati sang dokter sedang mempelajari hasil CT Scan terbaru Maya. Dokter itu mempersilakan Arlan duduk dengan ekspresi yang cukup serius.

"Tuan Arlan, kondisi nyonya Maya adalah fenomena yang menarik sekaligus kompleks," Dr. Sanjaya memulai. "Dia mengalami Retrograde Amnesia yang sangat spesifik. Dia memblokir memori traumatik selama tiga hingga lima tahun terakhir secara total. Pikirannya memilih untuk mundur ke masa di mana dia merasa paling aman dan dicintai yaitu masa pertunangan kalian."

Arlan mengangguk pelan. "Apakah ingatan itu akan kembali, Dok?"

"Bisa jadi. Amnesia pascatrauma seperti ini sifatnya fluktuatif. Bisa kembali dalam hitungan hari, atau bahkan tidak pernah kembali sama sekali," dokter itu menjeda, menatap Arlan dengan tajam. "Namun, yang harus Anda sadari adalah kondisi emosionalnya sekarang. Dia sangat rapuh. Karena ingatannya mundur ke masa lalu, sifat 'bar-bar' dan manja yang Anda lihat itu adalah mekanisme pertahanan dirinya. Dia tidak tahu bahwa dia pernah menderita. Dia tidak tahu tentang kecelakaan, atau tentang kebencian Anda."

"Lalu apa yang harus saya lakukan?" tanya Arlan lirih.

"Jangan memberikan informasi yang mengejutkan secara tiba-tiba. Ikuti alurnya. Jika dia merasa dicintai dan aman, otaknya tidak akan merasa perlu menggali memori gelap itu sebagai ancaman. Namun..." Dr. Sanjaya menghela napas. "Tuan Arlan, Anda harus berhati-hati. Sekarang dia menganggap Anda adalah calon suami yang sempurna. Jika dia menemukan kebenaran bahwa Anda pernah menindasnya saat dia amnesia nanti, dampaknya bisa jauh lebih fatal bagi mentalnya."

Arlan keluar dari ruangan dokter dengan satu tekad bulat. Kebohongan ini harus menjadi kebenaran. Ia tidak akan membiarkan Maya mengingat penderitaannya. Jika perlu, ia akan menghapus semua jejak masa lalu yang kelam itu.

Saat Arlan kembali ke kamar, ia mendapati Maya sudah bangun lagi, kali ini sedang asyik mengajak Dion bermain hom pim pah di atas ranjang rumah sakit.

"Ih, kamu kalah lagi! Nanti kalau Mama keluar, kamu harus temenin Mama beli es krim paling besar, ya!" seru Maya sambil mencubit gemas pipi Dion.

Dion tertawa lepas, sesuatu yang sangat jarang terlihat. Begitu melihat Arlan masuk, Maya langsung merentangkan tangan dengan manja.

"Mas Arlan! Lama banget sih di ruangan dokter? Pasti lagi gosipin aku ya? Mas... aku bosen di sini. Bau obatnya bikin aku pusing. Aku mau pulang ke apartemen aku!"

Arlan tersenyum, melangkah mendekat dan duduk di tepi ranjang. Ia mengelus rambut Maya dengan penuh kasih. "Sayang, kita nggak pulang ke apartemen. Kita pulang ke rumah kita. Rumah yang besar, yang ada taman luasnya buat kamu lari-lari."

Mata Maya berbinar-binar. "Rumah kita? Wah, berarti kita udah nikah dong? Terus, Dion ini beneran anak kita?"

Arlan terdiam sejenak. Ia menatap Dion yang menatapnya penuh harap, lalu kembali menatap Maya. "Iya. Dia anak kita. Anak yang paling kamu sayangi."

"Ih, Mas Arlan pinter banget bikin anak yang lucu gini!" Maya tertawa centil, lalu menarik kerah kemeja Arlan agar wajah pria itu mendekat. "Tapi Mas, ada satu masalah penting. Penting banget!"

"Apa itu, Sayang?"

"Kartu kredit Mas Arlan masih aktif, kan? Dompet Mas nggak hilang pas aku kecelakaan, kan?" Maya bertanya dengan wajah yang sangat serius, seolah itu adalah masalah hidup dan mati.

Arlan tertawa, tawa paling tulus yang pernah keluar dari bibirnya selama bertahun-tahun. Ia mengeluarkan dompetnya dan meletakkan semua kartu kreditnya di tangan Maya. "Semua ini milikmu, Maya. Kamu boleh beli apa saja. Bahkan jika kamu ingin membeli rumah sakit ini, aku akan memberikannya."

"Aaaa! Mas Arlan makin cool kalau lagi sombong begini!" Maya memeluk Arlan dengan heboh, membuat kabel-kabel medis di sekitarnya bergoyang. "Aku cinta banget sama dompet Mas Arlan... eh, maksudnya sama Mas Arlan juga!"

Arlan membalas pelukan itu, menghirup aroma rambut Maya yang bercampur bau antiseptik. Di dalam hati, sang naga dingin itu telah luluh sepenuhnya. Ia tidak peduli jika ia harus menjadi "mesin ATM berjalan" atau meladeni sikap centil Maya yang baru, asalkan ia bisa terus melihat binar bahagia itu. Penjara itu kini benar-benar telah berubah menjadi surga, setidaknya selama Maya belum mengingat siapa Arlan yang sebenarnya.

1
Rini Yuanita
hadwch...udh bgus...maya mw pergi...ech mlah d bikin amnesia....skip dech thor...ujung² ny ttp balikan sm arlan😄😄😄
Bang Ipul
Cerita gak bermutu
Bang Ipul
jadi laki sok percaya diri sekali lo
Bang Ipul
bikin emosi deh
Nessa
hadeuhh 🤦🏻‍♂️🤦🏻‍♂️🤦🏻‍♂️
Nessa
baru awal bab udah menguras emosi
ㄒ丨乇
misi
partini
🙄🙄🙄🙄🙄
partini
wah Maya very good,,bikin Arlan kering kerontang biar mamposs
partini
enak benar nyalahi orang lain ,ayo Maya be strong be smart jadi wanita tangguh dan sukses bikin dunua mereka jungkir balik
maya: makasih KK sudah mampir
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!