NovelToon NovelToon
Batas Sunyi Kinaya

Batas Sunyi Kinaya

Status: sedang berlangsung
Genre:Action
Popularitas:249
Nilai: 5
Nama Author: AKSARA NISKALA

​"Ayah, bawa boneka matanya besar ya? Kinaya nggak mau tidur sendirian!"

​Janji itu hancur bersama truk kontainer di perempatan maut. Haidar terbangun di Niskala, dimensi sunyi tanpa manusia. Satu-satunya cara bicara pada dunianya hanya lewat coretan dinding yang muncul secara misterius di depan putrinya, Kinaya.

​Namun, Haidar diburu "Penjaga" kegelapan. Ada rahasia kelam di balik boneka itu yang mulai terungkap. Haidar harus berjuang kembali atau terjebak selamanya sebagai gema. Karena batas antara kasih sayang dan kutukan hanyalah setipis hembusan napas.

​"Aku tidak mati, Kinaya. Aku hanya tertinggal di balik sunyimu."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AKSARA NISKALA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 3: BONEKA YANG MENANGIS

Suara derit pintu depan yang terbuka perlahan membuat bulu kudukku berdiri. Aku masih tersungkur di lantai dapur, sisa-sisa suara dentuman truk dan decitan ban di kepalaku perlahan memudar, menyisakan denyut nyeri yang aneh. Aku menoleh ke arah ruang tamu dengan napas yang memburu. Di sana, di tengah kesunyian yang membeku, sosok hitam tinggi kurus itu tak lagi terlihat. Namun, hawa dingin yang ditinggalkannya masih menusuk hingga ke tulang, seolah-olah suhu ruangan turun drastis di bawah titik nol.

Pandanganku terjatuh pada karpet tua di depan televisi—tempat favorit Kinaya menghabiskan waktu dengan krayon-krayonnya. Di sana, sebuah benda tergeletak kaku. Jantungku mencelos. Itu adalah kotak kado yang kulihat di persimpangan maut tadi. Kertas kado warna-warninya sudah terkoyak, menampilkan sesosok boneka beruang dengan mata plastik besar yang pecah sebelah. Bagaimana bisa benda itu sampai di sini? Apakah Rina yang membawanya pulang dari lokasi kecelakaan?

Aku merangkak mendekat, mengabaikan rasa lemas yang menggelayuti setiap persendianku. Di dunia yang pucat ini, boneka itu tampak berbeda. Warnanya tidak lagi cokelat hangat, melainkan abu-abu kusam seperti sesuatu yang sudah lama terkubur. Saat jemariku yang gemetar menyentuh kain boneka itu, sebuah getaran hebat menghantam dadaku. Bukan rasa sakit fisik, melainkan sebuah gelombang emosi yang begitu murni dan menghancurkan.

“Ini salah Kinaya, Yah... Kalau Kinaya nggak minta temen tidur, Ayah nggak bakal pergi...”

Bisikan itu terdengar begitu dekat, seolah-olah Kinaya sedang bersembunyi di balik punggungku. Itu bukan sekadar suara; itu adalah rasa bersalah yang teramat dalam yang sanggup merobek dimensi ini. Aku menyadari satu hal: boneka ini adalah "jangkar" emosi Kinaya. Melalui benda ini, aku bisa merasakan setiap tetes penderitaannya.

"Kinaya? Ayah di sini, Nak! Ayah nggak marah!" teriakku sambil mengguncang boneka itu. Namun, di duniaku, boneka itu tetap diam. Aku kembali menyambar spidol hitam yang tadi kugunakan untuk menulis di dinding. Dengan tangan yang nyaris tak bisa memegang benda dengan stabil, aku menuliskan pesan di bagian perut boneka yang sobek: AYAH SUDAH PULANG. JANGAN MENANGIS.

Tepat saat ujung spidol menyelesaikan huruf terakhir, aku melihat sesuatu yang mustahil. Dari sudut mata kancing boneka yang pecah, perlahan-lahan keluar cairan bening yang mengalir deras. Di duniaku, cairan itu tampak seperti tinta hitam yang kental. Boneka itu menangis. Tangisannya tidak bersuara, namun aku bisa mendengar raungan batin Kinaya di dunia nyata yang semakin histeris.

"Ayah? Bonekanya gerak... Ibu! Bonekanya gerak!"

Suara tipis Kinaya terdengar lagi, kali ini diikuti oleh suara langkah kaki orang dewasa yang terburu-buru. Rina. Aku bisa mendengar suara istriku, meskipun wujudnya tak nampak. Suaranya terdengar panik, mencoba menenangkan Kinaya yang terus menunjuk ke arah boneka yang sedang kupeluk di dimensi ini.

Kegembiraanku karena bisa berkomunikasi kembali sirna seketika saat bayangan hitam itu muncul lagi. Kali ini tidak di jendela, melainkan merayap di langit-langit tepat di atas kepalaku. Makhluk itu—si Penjaga yang kurus dan mengerikan—mengeluarkan suara decitan logam yang lebih memekakkan telinga dari sebelumnya. Ia tidak suka dengan "getaran" yang kubuat. Baginya, setiap pesan yang kutulis adalah noda yang mengotori kesunyian Niskala.

Ia meluncur turun dengan gerakan patah-patah, tangannya yang panjang dan kurus mencoba meraih boneka di pelukanku. Aku tidak akan membiarkannya. Jika boneka ini satu-satunya cara Kinaya bisa merasakan keberadaanku, maka aku akan menjaganya meski harus bertaruh nyawa untuk kedua kalinya. Aku bangkit berdiri, mendekap boneka itu erat-erat di dadaku, dan berlari menuju gudang di bawah tangga. Aku harus bersembunyi. Aku harus bertahan. Karena jika makhluk itu berhasil mengambil boneka ini, aku takut Kinaya akan benar-benar kehilangan satu-satunya alasan untuk tetap bertahan di dunia nyata.

1
T28J
saya mampir kesini juga kak 👍
Manusia Ikan 🫪
hmmmm
AKSARA NISKALA
nantikan terus kelanjutannya ya kak😍
Wigati Maharani
ceritanya keren si tapi masih agak bingung ini alur nya gimana, apa beda dimensi atau gimana bikin penasaran banget😭 cepet update torrr
Wigati Maharani
ceritanya kayak ada horor" nyaa 😭 agak takut sii bacanya tp penasaran😞
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!