Bailla adalah gadis muda berusia 20 tahun seorang putri tunggal yang memiliki karakter yang manja dan terbiasa hidup dengan kemewahan ia terpaksa menjadi ibu tiri muda dan menikah dengan duda beranak 3 yang terpaut usia 20 tahun. Pernikahan itu terpaksa terjadi idikarenakan perusahan orang tuanya diambang kebangkrutan akibat tertipu investasi bodong. Bagaimana Bailla menghadapi kehidupan sebagai istri dan ibu muda untuk anak-anak yang usia hampir sama dengannya ?? banyak hal lucu dan sedih yang terjadi degan Bailla si ibu tiri muda ini. ,🥰🥰
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Danica, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SEKILAS TENTANG SARAH
Sarah Ayudia meninggal tiga tahun lalu. Usianya 33 tahun. Usia yang masih keburu muda buat ngeliat anak bungsunya masuk TK. Tapi kanker rahim nggak peduli umur. Nggak peduli anak yang masih butuh disusuin. Nggak peduli janji-janji kecil di dapur jam 11 malam.
Penyakit itu baru ketahuan dua minggu setelah Aya lahir. Sarah ngerasa perutnya nggak enak. Keluar darah nggak normal.
Tapi dia diem. Dia pikir itu efek nifas. Dia pikir kalau dia periksa, keluarganya bakal panik. Dia lebih milih fokus nyusuin Aya, ngurus Arbil yang lagi hobby main game sampai lupa waktu, ngurus Ara yang baru belajar mengambar.
“Ngapain ke dokter, Pa. Uang buat kontrol lebih baik buat beli susu Aya.” Itu kata terakhirnya waktu Pak Arya ngajakin ke puskesmas.
Pas akhirnya dipaksa periksa, udah stadium akhir. Dokter bilang pelan, “Pak, kalau mau agresif, masih bisa. Tapi waktunya… mungkin empat bulan.”
Empat bulan. 130 hari. Buat ngucapin selamat tinggal ke suami dan tiga anaknya.
Rambut Sarah yang dulu lebat, hitam, sampe pinggang, mulai rontok sejak kemoterapi pertama. Dia ngumpulin helai-helai itu di tisu, disimpen di laci meja rias. Katanya, “Nanti kalau Aya gede, kasih ya. Biar dia tau mamanya dulu rambutnya panjang.”
Matanya yang dulu berbinar tiap liat anak-anaknya ketawa,
pelan-pelan layu. Berat badannya dari 55 kg turun jadi 35 kg.
Dengan badan 160 cm, sekarang tinggal tulang yang jalan.
Kulitnya kempis. Tapi kalau dia senyum, masih Sarah yang sama.
Kenangan tentang Sarah lengket di dinding rumah ini. Lengket di kepala Pak Arya. Lengket di jari Arbil yang sekarang udah bisa masak telur dadar. Lengket di suara Ara yang tiap malam masih nyanyi “Bintang Kecil” pelan-pelan. Lengket di pipi Aya yang masih suka nyari “nen” waktu demam.
*Di mata Pak Arya:*
Sarah bukan perempuan yang pinter debat. Dia pinter ngalah.
Waktu bisnis konveksi kecil-kecilan Pak Arya bangkrut karena proyek dibatalin, Sarah nggak teriak. Dia nggak nyalahin. Dia cuma bangun jam 5 pagi, buka laptop butut, jualan mukena dan daster di marketplace. Omsetnya nggak besar. Cuma cukup buat jajan anak-anak, buat beli beras, buat beli susu.
Waktu Pak Arya pulang jam 9 malam, muka merah,
bau rokok, bawa kabar proyek lagi batal, Sarah nggak ikut marah. Dia cuma taruh kopi hitam sama pisang goreng di meja.
Terus bilang, “Ya udah, Pa. Rezeki gak ke mana. Yang penting kita masih utuh.”
Dia ibarat tiang. Diam. Nggak keliatan. Tapi kalau dia copot,
atap rumah ini rubuh.
*Di mata anak-anak:*
Buat Arbil, Mama adalah wanita penyabar yang bisa ngitung sampai seratus tanpa mukul. Waktu Arbil umur 6 tahun,
dia nggak mau bangun sekolah. Mama duduk di pinggir kasur,
nggak marah. Cuma ngelus punggungnya, “Arbil jagoan. Kalau jagoan nggak sekolah, nanti nggak bisa beli mobil buat Mama.”
Arbil langsung bangun.
Buat Ara, Mama adalah yang nyisir rambut tiap pagi.Kuncirnya dua. Pita merah. Sambil nyanyi “Bintang Kecil” pelan-pelan.
Ara masih inget nada itu. Kadang dia nyanyiin sendiri di depan kaca, pura-pura jadi Mama.
Buat Aya, Mama adalah “gendongan” dan “nen”. Aya nggak inget muka Mama. Dia lahir, tiga bulan kemudian Mama udah nggak bisa gendong. Tapi dia inget hangatnya punggung Mama waktu demam. Hangat yang bikin dia tidur pules. Sekarang kalau demam, dia nyari bantal guling, peluk, terus tidur.
*Kebiasaan kecil yang ninggal jejak:*
Pertama, tulis jadwal piket di papan tulis hijau kecil di dapur.
“Arbil cuci piring. Ara ngemasin mainan. Aya masih bayi jadi gak ada dalam daftar piket.” Papan itu masih nempel. Tulisannya udah pudar.
Spidol birunya udah kering. Tapi Pak Arya nggak pernah hapus.
Biarkan jadi daftar piket bagi hati mereka. Biar mereka inget,
rumah ini pernah diatur sama tangan Mama.
Kedua, nabung receh di toples bekas kue nastar.
“Buat beli es krim kalau Bapak gajian telat,” kata Sarah waktu itu. Toplesnya masih ada. Sekarang isinya karet gelang, klip kertas, receh 500-an yang udah nggak laku. Hampir dibuang Arya waktu bersih-bersih lemari. Untung Arbil liat.
“Jangan Pa! Itu tabungan Mama buat jajan!”
Arya diem. Dia taruh lagi toples itu di rak paling atas.
Ketiga, selalu sisain nasi di magic com. “Siapa tau ada tamu laper tengah malem,” kata Sarah. Sampai sekarang Pak Arya nggak pernah matiin magic com. Nasi selalu ada. Kadang kering. Kadang basi. Tapi tetap ada. Kayak Sarah bilang, “Rumah ini nggak boleh kosong.”
*Hari terakhirnya:*
Rumah Sakit Cipto. Ruangan 302. Bau antiseptik. Sarah nggak nangis. Dia udah kehabisan air mata dua minggu lalu.
Dia panggil Pak Arya. “Pa, duduk sini.”
Pak Arya duduk. Tangan Sarah dingin. Dingin kayak es batu yang udah lama di luar kulkas. Dia genggam tangan Pak Arya yang kapalan. Tangan yang dulu ngangkat semen, sekarang cuma bisa ngelus punggung tangannya.
“Pa, kalau aku gak ada, jangan buru-buru nikah karena kasihan anak-anak. Nikah kalau nemu yang mau nerima anak-anak kita tanpa nyuruh Bapak lupain aku. Kalau gak ada, gak usah. Bapak sama anak-anak aja udah cukup.”
Pak Arya ngangguk. Nggak bisa ngomong. Tenggorokannya kayak disumpel kapas.
Lalu Sarah minta Arbil dipanggil. Anaknya yang paling tua,
umur 7 tahun. Arbil masuk, mata merah habis nangis di luar.
“Jaga adik-adik ya, Jagoan,” bisik Sarah. Suara serak. “Jangan jadi pemarah kayak Bapak.” Arbil angguk. Dia nggak ngerti “pergi” itu selamanya. Dia pikir Mama cuma mau tidur panjang.
Ara dan Aya waktu itu cuma bisa liat dari pintu. Mereka dikasih tau, “Mama lagi tidur. Jangan berisik.” Mereka percaya. Sampai sekarang Ara masih nyisain setengah gelas susu di meja, “Buat Mama kalau bangun.”
*Yang ditinggalkan:*
Bukan harta. Rumah kontrakan. Motor butut. Utang 20 juta di koperasi.
Yang Sarah tinggalkan cuma tiga anak yang hafal suara ketawanya. Anak yang kalau kangen, tinggal buka video 15 detik di HP butut. Video Sarah nyanyi “Pelangi-Pelangi” sambil goyang-goyang.
Dan satu suami yang sampai sekarang, kalau bikin nasi goreng,
masih ngikutin takaran garamnya Sarah:
“seujung sendok, jangan penuh-penuh.” Kalau kebanyakan, rasanya asin. Asin kayak air mata.
Cinta dan kasih sayang yang dia kasih, nggak bisa diambil debt collector. Nggak bisa dijual. Nggak bisa hilang.
Makanya, sampai hari ini, di ruang tamu rumah Pak Arya, foto Sarah masih di tengah. Bukan di pojok. Bukan diturunin waktu ada tamu.
Foto itu diambil waktu ulang tahun Arbil yang ke-6. Sarah pakai baju kuning. Rambutnya masih lebat. Senangnya keliatan sampai ke mata. Senyuman khas. Senyuman yang nggak bisa dilupakan.
Tamu yang datang sering diem dulu. Ngeliat foto itu. Terus bilang,“Istri Bapak cantik ya, Pak.”
Pak Arya cuma angguk. “Iya.”
Begitu juga dengan tetangga. Mereka merasa kehilangan Sarah. Sarah yang terkenal ramahnya. Yang kalau lewat selalu nyapa, “Bu Siti, udah makan?” Yang kalau ada yang sakit, datang bawa bubur.
Tiap ada kegiatan di komplek kerja bakti, pengajian, arisan PKK Sarah selalu hadir. Nggak pernah absen. Dan dia selalu bawa camilan.
Kue bolu buatan Sarah. Wangi vanila. Lembut. Ibu-ibu komplek sampai sekarang masih bilang, “Sejak Sarah nggak ada, nggak ada yang bikin bolu seenak itu lagi.”
Waktu Bailla pertama kali datang ke rumah ini, dia liat foto itu. Dia diem lama. Terus bilang pelan, “Cantik ya, Bu. Boleh ya, saya bantu jagain anak-anak Ibu.”
Pak Arya waktu itu cuma ngangguk. Di dalam hati dia bilang,
“Kalau Sarah denger itu dari surga, dia pasti senyum.”
Senyum sambil ngelap meja. Sambil bilang, “Ya udah, Pa.Rezeki gak ke mana. Lanjutkan.”