NovelToon NovelToon
Belunggu Pernikahan

Belunggu Pernikahan

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / CEO
Popularitas:21.2k
Nilai: 5
Nama Author: Maya sabir

"Dia hanya memiliki aku, Maya. Sedangkan kau? Kau punya segalanya. Berhentilah bersikap menjijikkan dengan menuduhnya yang bukan-bukan!"

Kata-kata itu menjadi cambuk harian bagi Maya. Di rumah itu, dia adalah orang asing di tengah keluarga yang "sempurna". Arlan, suaminya, telah memindahkan seluruh pusat dunianya kepada Sarah dan anak almarhum adiknya.

Setiap kali Maya mencoba membela diri dari fitnah halus yang disebarkan Sarah, Arlan akan menatapnya dengan kebencian murni. Bagi Arlan, Maya adalah beban, sedangkan Sarah adalah amanah suci. Ketidakadilan itu semakin kelam ketika Arlan mulai memperlakukan Sarah layaknya seorang istri, dan membuang Maya ke sudut tergelap dalam hidupnya.

Ini bukan lagi tentang cinta, melainkan tentang pengabdian yang salah arah dan kehancuran seorang istri yang dipaksa menyaksikan suaminya mencintai bayangan orang lain.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maya sabir, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 28

Sore hari saat Maya pulang ke rumah,suasana rumah nampak begitu sepi dan hening.

Maya menghempaskan tubuhnya ke sofa besar di ruang tamu yang terasa dua kali lebih luas dari biasanya. Sepi. Biasanya, suara tawa Dion yang sedang bermain robot-robotan atau gerutuan Arlan soal berkas-berkas kantor mengisi setiap sudut rumah. Sekarang, yang terdengar hanyalah suara detak jam dinding yang seolah mengejek kesendiriannya.

Tadi pagi, sebelum Arlan pergi ke bandara, pria itu hampir tidak membiarkan Maya melepaskan pelukannya.

"Mas harus pergi," bisik Arlan di rambut Maya, suaranya terdengar enggan. "Tiga hari di Singapura, dua hari di Tokyo. Mas akan pastikan pekerjaan ini selesai cepat supaya bisa segera pulang."

"Mas, aku kan bisa jaga diri," jawab Maya berusaha tegar.

"Mas tahu. Tapi hati Mas yang nggak bisa tenang kalau kamu jauh dari pandangan," sahut Arlan sebelum memberikan kecupan panjang yang membuat Maya merona.

Dan soal Dion? Ibu mertuanya, Nyonya Besar Dirgantara, tiba-tiba datang siang tadi dengan alasan ingin mengajak cucunya "berpetualang" ke rumah nenek di puncak selama seminggu. Alhasil, rumah ini benar-benar kosong melompong.

Maya mendesah, ia menatap ponselnya yang bergetar di atas meja. Sebuah nama muncul di layar .Clara Alister.

Dahi Maya mengernyit. Ngapain nih anak manja telepon?

Dengan malas, Maya mengangkat panggilan itu. "Halo?"

"Maya! Akhirnya kamu angkat juga!" suara Clara terdengar panik dan memerintah di seberang sana. "Aku butuh bantuanmu. Sekarang juga. Datang ke kediaman keluarga Alister di Menteng. Pesta ulang tahunku lusa, tapi dekorator bodoh yang kusewa malah membuat semuanya berantakan. Aku butuh seseorang dengan 'selera tinggi' dan keberanian untuk memaki orang-orang itu supaya mereka bekerja benar."

Maya terdiam sejenak.Membantu? Dia pikir dia siapa?

"Dengar ya, Clara," suara Maya mulai meninggi, "Jam kerja asistenku sudah berakhir. Dan aku tidak ada kewajiban untuk menjadi penyelenggara acaramu, apalagi di hari liburku!"

"Oh, ayolah! Bukannya kamu mau jadi profesional? Kalau kamu datang sekarang, aku akan memastikan Kak Devan memberikan bonus gajimu dua kali lipat minggu ini. Cash!"

Harga diri Maya yang baru saja ia bangun kembali goyah mendengar kata bonus, tapi rasa kesalnya jauh lebih besar.

"Aku nggak butuh uangmu!" semprot Maya. "Dan satu lagi, cara bicaramu itu yang membuat orang tidak betah bekerja padamu! Cari saja orang lain!"

Klik.

Maya mematikan sambungan telepon itu dengan penuh kemenangan. Ia bernapas lega, merasa sudah melakukan hal yang benar. Namun, lima detik kemudian, ponselnya berdering lagi. Kali ini dari Devan.

Maya menarik napas dalam-dalam, bersiap untuk mengeluarkan seluruh amunisi kata-kata pedasnya. "Halo, Tuan Kaku! Kalau Anda mau menyuruh saya jadi babu adik Anda, saya tegaskan.."

"Maya," suara Devan terdengar berat dan sangat berbeda dari biasanya. Tidak ada nada perintah, yang ada hanyalah suara yang terdengar... lelah? "Adikku baru saja menangis karena dekorator itu merusak skema warna kesukaannya. Dia tidak bisa menghandle ini sendiri. Aku tahu kalian tadi berdebat, tapi bisakah kamu... tolong bantu dia? Sebagai bantuan pribadi, bukan sebagai asisten."

Maya terpaku. Permintaan tolong dari Devan? Pria es itu?

"Kenapa harus aku?" tanya Maya melembut.

"Karena dari semua orang yang kukenal, hanya kamu yang tidak takut padanya. Dan aku tidak ingin hari ulang tahunnya hancur. Please."

Maya menatap rumahnya yang kosong. Kesepian ini benar-benar mencekik. Ia menatap ponselnya lagi.Bantu Clara berarti dia akan sibuk. Sibuk berarti dia tidak akan merasa kesepian.

"Oke," jawab Maya pelan. "Aku akan datang. Tapi ingat, jangan suruh aku pakai seragam pelayan!"

Maya mengendarai mobil sport miliknya—bukan mobil keluarga yang biasa ia pakai bersama Arlan dengan kecepatan sedikit di atas rata-rata. Ia mengenakan blazer merah menyala, merasa kalau ini adalah "seragam tempur" untuk menghadapi kekacauan di rumah keluarga Alister.

Setibanya di sana, rumah mewah bergaya kolonial modern itu sudah terlihat seperti kapal pecah. Bunga-bunga mawar yang seharusnya berwarna peach lembut justru tampak seperti jeruk busuk, dan para dekorator tampak pucat pasi di sudut ruangan.

"Lihat ini! Ini warna aprikot, bukan peach! Matamu buta atau bagaimana?!" suara Clara melengking, diselingi isakan kecil yang tertahan.

Maya melangkah masuk, suara langkah sepatunya yang beradu dengan lantai marmer membuat semua orang menoleh.

"Berhenti teriak," ucap Maya datar. Ia menatap Clara yang wajahnya sembab karena menangis. "Kamu membuat rumah ini jadi lebih berisik daripada pasar loak. Clara, minggir."

Clara terbelalak, namun ia menuruti Maya tanpa membantah. Maya berjalan ke tengah ruangan, menunjuk dekorator utama. "Anda. Lepaskan kain-kain murahan ini sekarang juga. Ganti dengan palet ivory dan aksen emas. Dan kau," Maya menunjuk seorang staf lain, "Pindahkan lampu itu ke sudut, jangan di tengah, itu membuat ruangan terlihat sempit!"

Instruksi Maya begitu cepat, tegas, dan penuh otoritas. Para pekerja yang tadinya bingung kini bergerak dengan efisien, seolah tersihir oleh gaya kepemimpinan Maya yang "bar-bar" tapi elegan.

Devan berdiri di ambang pintu, memperhatikan dari jauh. Ia tertegun melihat bagaimana Maya mengubah suasana yang tadinya mencekam menjadi terorganisir hanya dalam waktu dua puluh menit.

"Kau punya bakat dalam mengelola kekacauan," suara Devan muncul di belakang Maya.

Maya menoleh, menyeka keringat di dahinya dengan punggung tangan. "Ini bukan bakat, Tuan Kaku. Ini pengalaman mengurus suami yang punya jadwal kerja sepadat jadwal penerbangan internasional."

Clara mendekat, kali ini dengan sikap yang jauh lebih rendah hati. "Maya... kenapa kamu mau membantu?"

Maya menatap Clara, lalu menatap Devan yang sedang memperhatikan mereka dengan tatapan yang sulit diartikan.

"Karena aku tahu rasanya tidak didengarkan," jawab Maya jujur. "Dan karena rumahku sedang sepi. Bekerja di sini lebih baik daripada duduk sendirian menatap tembok."

Devan mendekat, ia memberikan sebotol air mineral dingin pada Maya. "Suamimu sedang ke luar negeri?"

"Iya. Tiga hari di Singapura, dua hari di Tokyo," jawab Maya tanpa sadar.

"Arlan tidak akan suka melihatmu berada di rumahku saat dia tidak ada," ujar Devan dengan seringai tipis.

Maya memutar bola matanya. "Dia tidak perlu tahu. Dan asal kamu tahu, aku di sini sebagai teman, bukan sebagai bawahanmu. Jadi jangan berani-berani memerintahku untuk membuat kopi lagi!"

Clara tertawa kecil, tawa yang terdengar tulus untuk pertama kalinya. "Ternyata asisten Kak Devan memang jauh lebih menarik daripada yang kubayangkan."

Malam itu, Maya tidak langsung pulang. Ia terjebak dalam diskusi panjang tentang menu katering, gaun pesta, hingga debat soal jenis musik yang harus dimainkan. Tanpa ia sadari, rasa sepi di hatinya perlahan menguap, digantikan oleh kesibukan yang menyenangkan.

Namun, di tengah kesibukan itu, ponsel Maya berdenting. Sebuah pesan dari Arlan."Sudah sampai di Singapura. Kamu sedang apa di rumah? Jangan rindu, Mas akan segera pulang."

Maya menatap layar ponselnya, lalu menatap Devan yang sedang sibuk memberikan instruksi pada timnya. Ups, pikir Maya.Sepertinya aku harus membuat rencana untuk menjelaskan kenapa aku berada di sarang musuh suamiku sendiri.

Maya buru-buru memasukkan ponselnya ke dalam saku blazer. Jantungnya berdegup lebih kencang daripada saat ia memaki dekorator tadi. Ia harus segera pergi sebelum Arlan memutuskan untuk melakukan video call mendadak.

"Clara, aku harus pergi sekarang," ucap Maya sambil menyambar tas tangannya.

Clara, yang sedang memegang katalog bunga, menoleh dengan wajah kecewa. "Lho? Kan kita belum membahas soal dress code untuk para tamu VIP?"

"Itu sudah ada di catatan yang kubuat di tabletmu. Kamu pintar, Clara, kamu bisa mengaturnya sendiri," ujar Maya sambil tersenyum tipis. Ia melirik Devan yang masih berdiri bersandar di pilar, menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan.

"Terima kasih untuk airnya, Tuan Kaku. Dan tolong, jangan buat adikmu menangis lagi setelah aku pergi," Maya memberikan peringatan kecil sebelum berbalik langkah.

Namun, saat ia sampai di pintu depan, suara berat Devan menghentikannya.

"Maya."

Maya menoleh, sedikit risih. "Apa lagi?"

Kau yakin ingin pulang ke rumah yang kosong itu?" Devan melangkah mendekat. "Kalau kau masih merasa kesepian, besok aku tidak keberatan jika kau menghabiskan waktu di kantor untuk membantu urusan administrasi. Setidaknya, itu lebih baik daripada kau memikirkan cara menjelaskan keberadaanmu di sini kepada Arlan."

Maya mendengus. "Jangan mencoba memanipulasi situasiku, pak Devan. Aku tahu apa yang kulakukan."

Maya berjalan menuju mobilnya. Saat mesin mobil menderu, ia sempat melihat ke arah jendela lantai dua rumah Alister. Devan masih berdiri di sana, menatap mobilnya yang perlahan keluar dari gerbang.

Sesampainya di rumah, Maya langsung mematikan semua lampu kecuali lampu ruang tamu. Ia membuka laptopnya dan mulai mengetik pesan balasan untuk Arlan dengan sangat hati-hati, mencoba menyusun kalimat yang tidak akan memicu kecemburuan suaminya.

“Mas, tadi aku sempat keluar sebentar untuk bertemu teman, sekarang sudah di rumah. Rumah sepi sekali, Mas. Cepat pulang ya. Jangan lupa istirahat.”

Baru saja ia menekan tombol send, layar laptopnya menampilkan sebuah panggilan video call dari Arlan.

Maya memekik pelan, hampir menjatuhkan laptopnya ke lantai. Jantungnya terasa berhenti berdetak sesaat sebelum ia dengan panik merapikan rambutnya yang sedikit berantakan karena aktivitas "dekorasi darurat" tadi.

Jangan panik, Maya. Cukup pasang wajah santai, batinnya.

Dengan tangan gemetar, ia menekan tombol terima. Wajah tampan Arlan muncul di layar, dengan latar belakang kamar hotel yang mewah dan pemandangan lampu kota Singapura di balik jendela.

"Mas Arlan!" sapa Maya dengan suara seceria mungkin, meski ia yakin senyumnya terlihat agak kaku. "Baru saja aku mau tidur, eh, Mas menelepon."

Arlan menatap Maya lekat-lekat. Matanya yang tajam seolah sedang memindai setiap inci wajah istrinya melalui layar. "Kamu baru pulang? Tadi katanya pergi bertemu teman. Teman siapa, Maya? Di jam segini?"

"Ehm... itu..." Maya menelan ludah, otaknya berputar mencari alasan masuk akal. "Teman... teman sekolah dulu! Iya, kami sudah lama tidak bertemu. Tadi dia curhat soal pernikahannya, jadi ya... aku terbawa suasana dan pulang sedikit larut."

Arlan terdiam. Keheningan di seberang sana membuat Maya merasa seolah sedang diinterogasi di kantor polisi. Arlan kemudian menyandarkan punggungnya ke kepala ranjang, tatapannya melembut namun tetap penuh selidik.

"Jangan bohong pada Mas, Maya. Kamu tahu Mas punya firasat yang kuat soal kamu," suara Arlan terdengar rendah. "Tadi Mas sempat menelepon rumah dua kali, tapi tidak ada jawaban. Kamu pergi ke mana sebenarnya?"

Maya merasakan keringat dingin mengalir di punggungnya.Tuhan, jangan biarkan dia tahu aku di rumah Devan Alister.

"Aku... aku tadi tidak mendengar ponselku karena sedang di toilet! Terus setelah itu aku bertemu teman di kafe. Benar, Mas! Demi apa pun, tidak ada apa-apa," jawab Maya dengan memelas yang sangat meyakinkan.

Arlan menatap Maya cukup lama, membuat Maya menahan napas. Tiba-tiba, Arlan menghela napas panjang dan tersenyum tipis senyum yang membuat lutut Maya lemas.

"Ya sudah. Mas percaya padamu," ujar Arlan.

"Tapi, aku akan pulang lebih cepat. aku tidak suka rumah kita kosong dan kamu keluyuran saat aku tidak ada."

"Iya, Mas. Siap!" sahut Maya cepat. "Mas istirahat ya, jangan terlalu keras bekerja."

Saat sambungan terputus, Maya menghempaskan tubuhnya ke sofa, dadanya naik turun dengan kencang. Ia merasa baru saja selamat dari bencana besar. Namun, ketenangannya tidak bertahan lama.

Sebuah pesan masuk lagi di ponselnya. Kali ini dari nomor tak dikenal. Saat Maya membukanya, ia mematung.

Foto dirinya sedang tertawa saat berjalan keluar dari gerbang rumah keluarga Alister, diambil dari jarak jauh.

Di bawah foto itu, sebuah pesan singkat tertulis.

"Kau beruntung Arlan tidak curiga. Tapi lain kali, jangan biarkan aku melihatmu bersama pria lain lagi..."

Maya mencengkeram ponselnya dengan erat.Sial. Devan mengerjaiku.

Keadaan di Tokyo berbanding terbalik dengan kecemasan Maya di rumah. Arlan, yang baru saja terbangun dengan kepala berdenyut hebat akibat efek samping cocktail perayaan penutupan tender semalam, merasakan sesuatu yang janggal. Ruangan itu terasa terlalu dingin, dan ada beban berat di sampingnya.

Samar-samar terdengar suara seseorang menangis di sampingnya,Arlan menoleh dan matanya membulat tak percaya dengan kenyat pagi ini. Seorang wanita asing sedang duduk dengan kondisi tubuhnya yang di tutupi selimut. Arlan mengintai lantai kamar dan mendapati pakaian nya dan pakaian wanita asing itu berserakan.

" Siapa kamu...kenapa kamu ada di kamarku..?" Tanya Arlan Frustasi

Wanita itu tidak langsung menjawab. Ia menarik selimut hingga ke dada, menyembunyikan pundaknya yang telanjang, lalu menatap Arlan dengan mata yang sembab.

" Aku juga tidak tahu kenapa aku berada di sini ..tuan...seingatku semalam aku baru saja merayakan ulang tahun teman ku.. setelah itu aku tidak ingat apa-apa lagi dan bangun sudah seperti ini."

Arlan tertegun mendengar penjelasan dari wanita itu.Ia nampak begitu frustasi dan merasa jijik pada dirinya sendiri,ia telah mengkhianati istrinya. Wanita yang sangat ia cintai.

Arlan merasakan mual yang hebat di perutnya, bukan hanya karena alkohol yang masih mengendap di kepalanya, tapi karena rasa jijik yang luar biasa. Ia adalah pria yang sangat menjaga kesetiaannya pada Maya. Bahkan memikirkan wanita lain saja tidak pernah terlintas di benaknya.

1
Agunk Setyawan
iyo mbulet trus aneh padahal Farah kan jebak Arlan ko seakan" Farah korbanya bener g jelas ceritanya
mama
nah kan ada dalangnya dibalik kehancuran rmh tangga arlan,dan utk km darah jgn sok2 n jdi korban km sendiri yg ikut adil dalam rencana busuk paman mu buat jebak arlan..sok2 jdi wanita yg pling tersakiti..basi sm semua ekting mu..
mama
kok cerita ny dr kmr itu2 aj gk ad kepastian ny..lama2 agak mbulet ni cerita
Lily
cepat selesaikan thor. aku Gedeg sma mama c Arlan juga
mama
bukanny kmrin darah ada yg nyuruh buat ngejebak arlan,.kok sekarang kyk di yg jd korban.. aneh sekali farah,sok2 n juga dia juga korban.. pdhl ini rencana seseorang yg nyuruh biar arlan hancur.. gitu kan cerita ny kmri
eni maryani
knapa GK ada kejelasan dr Farah ttg MLM itu trs orang yg nyuruh jg.
tau" lgsung diterima trs yakin aja KLO beneran anak arlan
Haryati Atie
cerita bagus ka 💪 semangat up nya .
Haryati Atie
bru juga lurus hubunggan nya udah ada badai lagi .
Lee Mba Young
Pokok nya Arlan Dan Farrah hrs hancur. atau gk bayi nya gk lahir dng selamat Wes 👍
Lee Mba Young
nunggu Arlan Dan pelakor Farrah hancur. semoga bayi nya cacat atau gk mati saja Wes drpd lahir Dr ibu pelakor.
falea sezi
lanjut g sbar nunggu cerai dan arlan hancur dan lacur Farrah hancur
falea sezi
🤣🤣 jalang berkedok korban ya farah ini dr awal. lu jalang yg ngejebak skg belagak korban perkosaan lacur emank🤭
falea sezi
maya sok jual mahal😒😒 janda aja lu sok
falea sezi
🤣 kapok kau arlan uda ma jalang aja yg ngandung anak mu cocok kok sampah sama. sampah😒
falea sezi
urus cerai may devan singgle. cocok tuh🤭
falea sezi
cerai aja laki tukang selengki🤭
falea sezi
anak tai😒 emak lu noh di. penjara
falea sezi
laki egois😒
Cookies
lanjut thor
evi carolin
WOW ... 😱😱😱
Maya 😣
Arlan /Curse/
Devan /Casual/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!