NovelToon NovelToon
Mantu Idaman

Mantu Idaman

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / CEO / Mengubah Takdir
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Irh Djuanda

"Saya nikahkan engkau dengan Rasti Nugroho binti Adi Nugroho dengan mas kawin satu set perhiasan emas dan uang seratus juta rupiah di bayar tunai"

"Saya terima nikah Rasti Nugroho binti Adi Nugroho dengan mas kawin tersebut tunai" sahut Xena.

"Sah"

" Sah"

Air mata Rasti mengalir deras. Dengan cepat ia mengusapnya agar tak terlihat oleh ibu dan adiknya. Sementara itu Budi ayah Xena tersenyum senang. Namun berbeda dengan Mira istrinya ,raut wajahnya menunjukkan ketidaksenangan melihat pernikahan putranya. Namun ia sebisa mungkin menutupinya.

"Selamat ya Nak, kini kau sudah menjadi seorang istri." ucap Siti, ibu Rasti sambil memeluk putrinya.

Rasti hanya bisa mengangguk pelan. Sungguh ini suatu mimpi buruk baginya. Ia tak pernah mengira akan menikah dengan pria yang sama sekali belum mengenalnya bahkan untuk melihat juga belum pernah.

"Siti, terima kasih atas semuanya. Akhirnya hutangku pada sahabatku lunas. Kini aku akan menjaga Rasti seperti putriku sendiri." Ujar Budi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irh Djuanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tak ingin melepaskan

Malam itu berlalu sangat panjang. Tidak ada yang benar-benar tidur dengan tenang. Di kamar, Rasti duduk bersandar di kepala ranjang. Lampu sudah dimatikan, hanya menyisakan cahaya redup dari lampu samping. Matanya terbuka, menatap langit-langit tanpa fokus

Tangannya kembali menyentuh dadanya. Bukan lagi karena rasa sakit fisik. Tapi sesuatu yang jauh lebih dalam.

"Aku sudah masuk ke dalam," batinnya.

Rasti memejamkan mata. Air matanya kembali jatuh tanpa suara.

"Aku tidak boleh seperti ini..." gumamnya pelan.

Ia menarik selimut, mencoba memeluk dirinya sendiri.

Di sisi lain rumah, Xena berdiri di balkon kamar. Kemejanya sudah terbuka di bagian atas. Tangannya bertumpu pada pagar, menatap kosong ke arah taman yang gelap. Xena tersentak saat ponselnya bergetar.

Nama Sandra muncul di layar. Xena menatapnya beberapa detik. Lalu mengangkat panggilan itu.

"Halo."

Suara di seberang sana tidak langsung menjawab. Beberapa detik hening.

"Aku tidak bisa tidur," ucap Sandra akhirnya.

Xena menghembuskan nafas panjang, "Aku juga."

Sandra tertawa kecil, "Lucu ya... Kita seperti orang asing sekarang."

Xena tidak membalas.

"Apa kau sudah memutuskannya?" tanya Sandra pelan.

Xena menutup mata sejenak. Pertanyaan itu jelas tidak perlu dijelaskan lagi.

"Aku butuh waktu."

"Sampai kapan?"

Xena menggenggam ponselnya lebih erat.

"Aku tak bisa mengambil keputusan dalam kondisi seperti ini."

Sandra menarik nafas dalam di seberang sana.

"Aku tak ingin berbagi."

Kalimat sederhana tapi berat. Xena menatap ke depan. Ia tidak tahu perasaannya sekarang seperti apa. Rasanya seperti buah simalakama.

"Aku tidak memintamu untuk berbagi."

Hening. Sandra tidak menjawab.

"Aku akan menunggu mu." lanjut Sandra akhirnya.

Sambungan itu terputus. Xena tetap berdiri di sana. Dengan ponsel yang masih menempel di telinganya.

Tak lama, Xena masuk ke kamar. Pandangannya menoleh ke ranjang. Xena berhenti di ambang pintu. Langkahnya tertahan. Rasti sudah berbaring di sana. Membelakangi pintu. Tubuhnya meringkuk kecil di bawah selimut. Lampu redup membuat bayangannya tampak rapuh.

Tapi entah kenapa pemandangan itu membuat dada Xena terasa sesak. Ia menutup pintu perlahan.

SREKKK

Hanya sunyi yang menggantung di antara mereka. Xena berjalan masuk. Melepas jam tangannya, lalu meletakkannya di meja. Tapi pandangannya tidak pernah benar-benar lepas dari Rasti. Langkahnya berhenti di sisi ranjang. Seolah sedang mempertimbangkan sesuatu.

Lalu tangannya terangkat. Ragu. Namun akhirnya ia menyentuh bahu Rasti.

"Rasti..."

Tidak ada respon sama sekali. Xena mengernyit.

Hanya sunyi yang menggantung di antara mereka.

Ia sedikit mencondongkan tubuhnya.

"Rasti?"

Masih diam. Xena langsung memutar tubuh Rasti perlahan. Dan saat itu, nafasnya tertahan.Tangannya langsung menyentuh dahi Rasti. Panas.

"Rasti...Rasti..."

Xena langsung mengguncang bahu Rasti sedikit.

"Rasti bangun."

Tidak ada respon. Sekarang bukan lagi kekhawatiran. Ia panik. Xena langsung berteriak.

"Papa... Mama..." teriaknya.

Pintu kamar terbuka dengan cepat. Budi dan Mira masuk hampir bersamaan. Wajah keduanya langsung berubah begitu melihat kondisi Rasti.

"Apa apa?" tanya Budi tegas, tapi nada suaranya panik.

"Dia panas, Pa. Dan Rasti pingsan," jawab Xena cepat.

Mira langsung mendekat. Tangannya menyentuh dahi Rasti lalu turun ke pipinya. Wajahnya langsung mengeras.

"Panas sekali."

"Sejak kapan ini?" tanya Budi.

"Aku tidak tau, Pa."

Mira menatap tajam ke arah Xena, tapi tidak berkata apa-apa. Ia langsung berdiri.

"Pa, cepat hubungi dokter, sekarang," ucap Mira tegas.

Xena merogoh sakunya memberikan ponsel itu pada Budi. Budi langsung menerima ponsel iru tanpa banyak bicara. Tangannya bergerak cepat menekan nomor dokter keluarga.

"Dokter, datang ke rumah, sekarang juga," ucapnya tegas sebelum menutup panggilan.

Sementara itu, Mira tetap di sisi ranjang. Tangannya tak berhenti mengusap pelan rambut Rasti yang basah oleh keringat. Mira terlihat cemas, meski belum sepenuhnya ia menerima Rasti sebagai menantunya.

"Ambilkan air hangat dan handuk," ucap Mora tanpa menoleh.

Tanpa membantah, Xena langsung bergerak. Ia kembali beberapa saat dengan baskom dan handuk. Tangannya sedikit gemetar saat menyerahkannya. Mira mulai mengompres dahi Rasti dengan hati-hati.

"Apa yang terjadi? Apakah kalian bertengkar?"

Xena terdiam di sampingnya. Ia menatap wajah Rasti lebih lama.

"Tidak. Kami tidak..."

"Jangan berbohong. Mama tau kalian menyembunyikan sesuatu," potong Mora cepat.

Xena terdiam. Kali ini ia tak tak menjawab. Namun suara langkah tergesa terdengar dari luar. Dokter keluarga masuk bersama Siti yang membawa tas medis di tangan.

"Permisi"

Ia langsung menuju ranjang, memeriksa suhu, nadi dan kondisi Rasti dengan cepat.

"Demamnya tinggi. Tubuhnya drop," ucap dokter itu serius.

"Berbahaya, Dok?" tanya Budi dari belakang.

"Untuk saat ini tidak. Tapi kalau terlambat ditangani, bisa berbahaya. Dia kelelahan...dan kemungkinan besar dia mengalami tekanan."

Xena menunduk. Kata-kata itu terasa seperti ditujukan padanya. Dokter mulai memberikan suntikan.

"Saya akan turunkan panasnya dulu. Setelah itu biarkan dia beristirahat. Jangan sampai ada tekanan emosional."

"Kalau panasnya tidak turun sampai pagi, segera hubungi saya lagi."

"Baik, Dok," jawab Budi.

Dokter pun pamit. Diantar Siti sampai ke depan. Mira berdiri perlahan.

"Besok kita harus bicara, Xena," ucap Mira pelan, nadanya tegas.

Xena menoleh cepat menatap ibunya itu.

"Papa, kita keluar dulu," ucapnya lagi.

Budi mengangguk. Menyisakan hanya mereka berdua, "Jaga dia."

Pintu tertutup. Xena duduk di siai ranjang. Matanya tidak lepas dati wajah Rasti. Perlahan ia menggenggam tangan Rasti yang dingin.

"Kenapa kau selalu mencoba kuat?" bisiknya pelan.

Tidak ada jawaban.

"Aku tak ingin melukaimu. Aku benar-benar sudah menerima mu. Menerima mu sebagai istriku."

Rasti masih diam. Matanya tertutup rapat.

"Maafkan aku, jika kau merasa aku tak menginginkan mu."

Kalimat itu menggantung. Tidak ada jawaban. Namun beberapa detik kemudian jari Rasti bergerak. Sangat pelan. Xena membeku. Pandangannya langsung turun ke tangan yang ia genggam.

"Rasti..?" suaranya berubah. Lebih pela. Lebih hati-hati.

"Xena.."

"Aku di sini,"

"Jangan... baik kepadaku."

Kalimat itu sederhana. Tapi terasa seperti menolak sesuatu yang bahkan belum sempat ia beri sepenuhnya.

"Kenapa?" suaranya pelan, nyaris seperti bisikan.

Rasti tidak langsung menjawab. Nafasnya masih berat. Matanya tetap terpejam, seakan tidak punya tenaga untuk membukanya.

"Karena aku tidak mungkin kuat."

Xena mengernyit. Tangannya masih menggenggam tangan Rasti. Lebih erat seakan tidak mau lepas. Xena tak menjawab.

"Kalau kau terus begini, aku tak bisa menjaga jarak," ucap Rasti lagi.

"Maka jangan lakukan," balas Xena akhirnya.

Perlahan mata Rasti terbuka. Kini keduanya saling bertatapan. Rasti menatap Xena lama. Tatapan itu lemah, tapi dalam.

"Aku tidak bisa."

"Kita lakukan bersama," ucap Xena, sambil mengecup punggung tangan Rasti yang masih dingin.

"Aku tidak akan melepas mu."

DEG

1
amatiran
awal yang bagus 🥰
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!