Terlahir kembali sebagai Lyra Clarissa Wijaya, cucu tunggal dari keluarga terkaya di dunia, Lyra tidak tumbuh sebagai gadis manja yang lemah. Di balik kecantikannya yang tenang dan elegan, tersimpan jiwa seorang putri bangsawan Vampir dan kekuatan insting Alpha Serigala yang ia bawa dari kehidupan sebelumnya.
Xavier adalah pria paling berbahaya yang ditakuti dunia. Dia dingin, kejam, dan dikenal tidak punya perasaan, tiba-tiba hidupnya yang gelap mendadak jungkir balik. Pria yang tak pernah tunduk pada siapa pun ini, justru rela menyerahkan segalanya untuk gadis kecil nya.
"Mintalah nyawaku, Lyra. Mintalah seluruh dunia ku, asal jangan pernah palingkan matamu dariku, karena tanpamu, duniaku kembali menjadi gelap," bisik Xavier, berlutut di hadapan gadis itu tanpa memedulikan tatapan ngeri para bodyguard nya.
Lyra hanya tersenyum tipis, sebuah senyuman misterius yang membawa sisa-sisa keagungan masa lalunya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hofi03, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KETEGANGAN
"Tetap saja! Membawa gadis baik-baik pergi di jam yang tidak wajar itu bukan perbuatan pria terhormat!" ucap Tuan Steven geram.
Tuba-tiba Xavier berdiri dari duduknya, membuat suasana semakin tegang.
Para bodyguard keluarga Wijaya yang berjaga di pintu masuk mulai waspada.
"Saya tidak butuh validasi tentang kehormatan saya dari kalian," ucap Xavier dingin.
"Saya membawa Lyra pulang dengan selamat. Itu yang terpenting, bukan?" lanjut Xavier, menatap Tuan Thomas dan Nyonya Arin secara bergantian.
Tuan Thomas mengepalkan tangannya dia tahu Xavier baru saja menyelamatkan nyawa mereka semua dengan membawa Lyra pergi saat sisi liar itu bangkit semalam, tapi dia benci harus berhutang budi pada pria itu.
"Sekarang Lyra sudah pulang, sebaiknya kau segera pergi, Valerius," ucap Tuan Thomas dengan suara yang tertahan.
Xavier merapikan jasnya, sebelum melangkah pergi, dia menoleh ke arah Lyra, dengan tatapan lembut nya, berbeda sekali dengan Xavier yang biasanya selalu berwajah dingin dan menyeramkan.
Di depan semua pria Wijaya yang sudah siap menerkamnya, Xavier dengan berani mendekati Lyra dan membisikkan sesuatu yang hanya bisa didengar gadis itu.
"Simpan rahasiamu, permataku, karena tga hari lagi, kamu tidak perlu berbohong pada siapa pun," bisik Xavier, lalu mengecup dahi Lyra dengan sangat lembut.
Cup
"KAU...!"
Eros hendak menerjang, namun Kenzo dan Arkan segera menahannya.
Tanpa memperdulikan kemarahan Eros, Xavier berbalik dan berjalan keluar dengan langkah tenang.
Aura dominasinya meninggalkan ruangan itu dalam keadaan sunyi yang mencekam.
Setelah mobil Xavier menghilang, Tuan Bastian menghela napas panjang.
"Thomas! Arin! Ikut Papa ke ruang kerja sekarang! Ada hal yang harus kita bicarakan secara pribadi," perintah Tuan Bastian, tegas.
"Dan Lyra, masuk ke kamarmu, jangan keluar sebelum Kakek panggil," lanjut Tuan Bastian.
Lyra hanya mengangguk pelan, lalu dia berjalan menuju kamarnya dengan pikiran yang berkecamuk.
Ceklekk
Begitu pintu tertutup, dia langsung menguncinya.
"Mata emas... lompatan lantai tiga... ratusan tahun..." gumam Lyra sambil menatap telapak tangannya.
"Siapa sebenarnya kau, Xavier? Dan siapa sebenarnya aku?" batin Lyra, dengan perasaan berkecamuk.
Di sisi lain, Maxime sedang tertawa, dia baru saja mendengar laporan dari bawahannya bahwa Lyra sudah kembali ke rumah Wijaya.
"Bagus, biarkan ketegangan di rumah itu memuncak, manusia-manusia sombong itu akan segera saling curiga," ucap Maxime sambil mengelus cermin antiknya.
"Tapi Tuan, Tuan Eros Wijaya tampak sangat marah, dia sedang memerintahkan orang untuk menyelidiki latar belakang Tuan Xavier lebih dalam," lapor sang bawahan.
"Eros ya? Dia yang paling emosional," gumam Maxime dengan mata berkilat merah.
"Cari celah untuk menemuinya, berikan dia sedikit informasi bahwa Xavier bukan hanya seorang pebisnis, tapi sesuatu yang jauh lebih mengerikan, biarkan kemarahan Eros menjadi jalan masuk bagi kita," ucap Maxime, tersenyum licik.
"Baik Tuan," jawab bawahnya, undur diri.
"Permainan baru saja dimulai, Aurora. Anakmu akan segera melihat betapa rapuhnya perlindungan keluarga manusianya," batin Maxime meneguk sisa cairan merah di gelasnya.
"Kali ini akan aku pastikan akan mendapatkan darah itu, bahkan pria yang sudah hidup lebih lama dari leluhur suami mu, tidak akan bisa melindungi keturunan mu," lanjut Maxime, tersenyum miring.
🍻🍻🍻🍻🍻🍻🍻🍻🍻🍻
Di ruang kerja Tuan Bastian, suasana terasa sangat berat.
Tuan Bastian duduk di kursi kebesarannya, menatap tajam ke arah Tuan Thomas dan Nyonya Arin yang berdiri kaku di depannya.
"Duduk," perintah Tuan Bastian, suaranya rendah namun penuh penekanan.
Tuan Thomas dan Nyonya Arin duduk dengan perasaan was-was, mereka tahu Ayah nya tidak akan melepaskan masalah ini begitu saja.
"Jelaskan padaku, Thomas. Sejak kapan cucuku punya hubungan sedekat itu dengan pria asing macam Valerius? Sampai mau keluar rumah sembunyi-sembunyi? Bukan kah terakhir kali bertemu dengan nya, justru membuat nya tuba-tiba drop?" tanya Tuan Bastian sambil mengetukkan jari-jarinya di atas meja.
"Pa, ini tidak seperti yang Papa lihat, Lyra hanya sedang bingung dengan banyak tekanan akhir-akhir ini," jawab Tuan Thomas mencoba mencari alasan yang masuk akal.
"Bingung? Jangan coba-coba membingi ku, Thomas! Dia tidak akan melakukan hal bodoh seperti keluar diam-diam tanpa alasan yang sangat mendesak," ucap Tuan Bastian, matanya menyipit penuh selidik.
Nyonya Arin meremas jemarinya sendiri, wajahnya masih sangat pucat karena sisa ketakutan semalam.
"Mungkin ini karena usianya, Pa. Lyra sedang di fase ingin mencari kebebasan, dan Xavier Valerius muncul di saat yang tepat untuk menawarkan hal itu," ucap Nyonya Arin, mencoba membela putrinya meski hatinya terasa perih karena harus berbohong.
Hah....
Tuan Bastian menghela napas panjang, dia menyandarkan punggungnya dan menatap langit-langit ruangan.
"Aku tidak percaya pada Xavier, aku merasa ada sesuatu yang sangat dingin dan tidak biasa dari tatapan matanya, dan rencana pernikahan itu ancaman!" ucap Tuan Bastian dengan nada geram.
"Kami tahu, Pa, kami juga tidak setuju, tapi Valerius punya cara untuk menekan bisnis kita kalau kita menolak secara kasar," jawab Thomas, menggunakan alasan bisnis sebagai tameng utama.
"Kalau dia mau main kasar di bisnis, kita layani! Tapi jangan sekali-kali kalian biarkan Lyra menjadi tumbalnya! Jika sampai tiga hari lagi dia datang dan kalian tidak bisa mencegahnya, maka aku sendiri yang akan mengusirnya dengan cara ku sendiri!" ucap Tuan Bastian, tegas, mengakhiri pembicaraan itu.
Tuan Thomas dan Nyonya Arin hanya bisa mengangguk pasrah, mereka keluar dari ruangan itu dengan beban yang semakin berat di pundak mereka.
Andaikan masalah ini sesederhana urusan bisnis, Tuan Thomas tidak akan ragu untuk memberikan semua kekuasaan bisnis nya, yang penting dirinya tidak kehilangan putri nya, dan Putri nya selalu bersama nya.
Sementara itu, di lantai bawah, Eros sedang mengamuk di ruang tengah, dia melempar vas bunga ke lantai hingga hancur berkeping-keping.
PYAAR
"Sialan! Kenapa semua orang diam saja melihat bajingan itu menyentuh Lyra?!" bentak Eros, napasnya memburu.
Kenzo, yang sedang duduk di sofa sambil mengusap keningnya, menatap kakak sepupunya nya dengan jengah.
"Bang, tenang sedikit, kamu lihat sendiri kan, Lyra malah belain dia tadi, kalau kita main pukul, Lyra pasti makin marah sama kita," ucap Kenzo mencoba menenangkan.
"Aku nggak peduli! Ada yang nggak beres sama si Valerius itu! Aku tidak akan tinggal diam! Aku bakal cari tahu siapa dia sebenarnya, kalau perlu sampai ke akar-akarnya di Eropa!" jawab Eros, matanya berkilat penuh dendam.
"Aku dukung kamu, Bang, aku juga ngerasa ada yang aneh, masa iya penjagaan kita bisa ditembus semudah itu tanpa ada jejak di CCTV? Itu nggak masuk akal," ucap Oliver yang baru saja datang membawa tabletnya.
udh kelewat beberapa bab ,,
gas laaa
Semakin menegangkan dan menakutkan
Seharusnya memang papa Thomas jujur saja sama lyra dan keluarganya,, biar mereka bisa saling melindungi dari musuh yang sebenarnya...,, si maxime...