Keira tidak pernah menyangka—keputusan sederhana untuk bersembunyi di sebuah rumah kosong justru mengubah seluruh jalan hidupnya. Niatnya hanya menghindar dari masalah yang mengejarnya, mencari tempat aman untuk sesaat. Namun takdir seolah punya rencana lain.
Sebuah kesalahpahaman terjadi.
Dan dalam hitungan waktu yang begitu singkat… Keira terikat dalam pernikahan dengan seorang pria yang bahkan belum pernah ia kenal sebelumnya.
Gus Zayn.
Pria yang datang ke rumah itu bukan untuk mencari masalah—melainkan hanya menjalankan permintaan temannya untuk mensurvei sebuah rumah yang akan dibeli. Ia tak pernah membayangkan, langkahnya hari itu justru menyeretnya ke dalam sebuah ikatan suci yang sama sekali tidak ia rencanakan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Julia And'Marian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 32
Keira langsung menangis semakin keras dalam pelukan itu.
Tangannya mencengkeram pelan baju Gus Zayn seolah pertahanan terakhirnya benar-benar runtuh malam ini.
Sedangkan Gus Zayn tetap memeluknya erat.
Sabar.
Tenang.
Meski jauh di dalam hatinya sendiri, pria itu juga merasa lelah menghadapi semua yang terjadi hari ini.
“Maaf...” isak Keira lirih. “Saya cuma takut.”
Gus Zayn mengusap pelan punggung gadis itu.
“Takut apa?”
“Saya takut suatu hari nanti Gus nyesel milih saya.”
Pelukan Gus Zayn langsung mengerat sedikit.
Dan tanpa sadar, kalimat itu terasa menyakitkan baginya.
Pria itu perlahan menjauh sedikit lalu menangkup wajah Keira agar gadis itu menatapnya.
“Lihat saya.”
Mata Keira merah dan penuh air mata.
Sedangkan Gus Zayn menatapnya begitu dalam.
“Selama ini...” suaranya rendah dan lembut, “apa saya pernah memperlakukan kamu seperti seseorang yang saya sesali?”
Keira langsung menggeleng kecil.
“Kalau begitu jangan pernah berpikir seperti itu lagi.”
Air mata Keira jatuh lagi.
“Saya cuma... nggak ngerti kenapa Gus bisa sayang sama saya sebesar ini.”
Deg.
Tatapan Gus Zayn melembut luar biasa.
Karena bahkan sekarang pun...
Keira masih belum sadar seberapa berharganya dirinya di mata pria itu.
“Kamu tahu kenapa saya memilih kamu?”
Keira diam.
Gus Zayn mengusap pelan pipinya dengan ibu jari.
“Karena waktu semua orang melihat kekuranganmu...” lirihnya tenang, “saya justru melihat hati kamu. Kamu mau berusaha bisa lebih baik lagi.”
Napas Keira langsung tercekat. Air mata gadis itu terus jatuh diam-diam.
“Perempuan seperti itu langka, Keira.”
Suasana kamar terasa begitu hangat meski malam di luar semakin dingin.
Keira menunduk kecil sambil menangis pelan.
“Saya nggak sebaik yang Gus pikir.”
“Tidak ada manusia yang sempurna.”
“Tapi saya banyak kurangnya.”
“Saya juga.”
Keira perlahan menatap pria itu lagi.
Dan untuk pertama kalinya malam ini...
Sesak di dadanya mulai sedikit mereda.
Gus Zayn lalu mengecup pelan keningnya lama.
“Jangan pergi lagi dari saya.” bisiknya rendah.
Deg.
Keira memejamkan matanya perlahan.
Entah kenapa...
Kecupan sederhana itu selalu terasa seperti tempat paling aman untuk hatinya.
Namun di luar kamar itu—
Seseorang berdiri diam di lorong ndalem sambil menggenggam tasnya erat.
Ning Afifa.
Perempuan itu ternyata belum benar-benar pergi.
Dan tanpa sengaja...
Ia mendengar semuanya.
*
Keesokan paginya suasana pondok yang biasanya tenang mendadak berubah tegang.
Beberapa santri yang sedang menyapu halaman langsung berhenti saat melihat tiga mobil hitam memasuki area ndalem dengan cepat.
Pintu mobil terbuka.
Dan dari sana turun seorang pria paruh baya dengan wajah keras disusul beberapa anggota keluarga lainnya.
Di belakang mereka—
Ning Afifa turun perlahan dengan mata yang masih sembab sejak semalam.
Para santri langsung saling melirik panik.
“Itu Abahnya Ning Afifa...”
“Ya Allah...”
Suasana pondok mendadak riuh kecil.
Sedangkan di dalam ndalem, Keira yang sedang membantu Ummi Halimah menyusun sarapan langsung menoleh kaget mendengar suara langkah ramai dari luar.
Dadanya mendadak terasa tidak enak.
Dan benar saja—
Brak!
Pintu ruang tamu terbuka cukup keras.
“Assalamu’alaikum!” suara berat penuh emosi terdengar memenuhi rumah.
Ummi Halimah langsung berdiri cepat.
“Wa’alaikumsalam...”
Namun belum sempat suasana mencair, pria paruh baya itu sudah bicara dengan nada tinggi.
“Mana Zayn?!”
Deg.
Keira langsung pucat.
Tak lama kemudian Gus Zayn keluar dari ruang dalam dengan langkah tenang seperti biasa.
“Abah.” sapanya sopan sambil menundukkan kepala sedikit.
Namun pria itu justru tertawa kecil penuh amarah.
“Jangan panggil saya begitu dulu!” bentaknya.
Suasana langsung membeku.
Afifa menunduk sedih di belakang ayahnya.
Sedangkan Keira refleks mundur pelan ke belakang Ummi Halimah.
“Apa ini cara keluarga kalian memperlakukan anak saya?!” suara pria itu meninggi penuh kecewa. “Kalian membiarkan Afifa berharap bertahun-tahun lalu tiba-tiba bilang kalau Zayn sudah menikah?!”
Ummi Halimah mencoba menenangkan.
“Kami memang salah karena terlambat menjelaskan—”
“Terlambat?!” potong pria itu keras. “Anak saya dipermalukan!”
Deg.
Keira menunduk makin dalam.
Tangannya gemetar kecil.
Sementara Gus Zayn tetap berdiri tenang meski sorot matanya mulai serius.
“Saya yang salah.” ucap pria itu rendah. “Dan saya siap meminta maaf.”
Namun ayah Afifa justru makin marah.
“Meminta maaf tidak cukup!”
Suasana ruang tamu semakin menyesakkan.
“Keluarga kami menjaga hubungan ini bertahun-tahun!” lanjutnya penuh emosi. “Semua orang tahu Afifa dijodohkan dengan kamu!”
Tatapan tajam pria itu perlahan beralih.
Dan berhenti tepat pada Keira.
Deg.
Keira langsung membeku saat semua mata kini tertuju padanya.
“Jadi ini perempuan itu?”
Nada suaranya penuh penilaian.
Keira otomatis menunduk lebih dalam.
“S-saya...”
“Apa istimewanya dia?” tanya pria itu tajam. “Sampai kamu mengorbankan perasaan anak saya?”
“Abah cukup.” Suara Gus Zayn kali ini terdengar lebih tegas.
Namun pria itu justru melangkah mendekat.
“Tidak, Zayn.” sorot matanya keras. “Saya mau tahu.”
Keira merasa napasnya mulai sesak lagi.
Tatapan-tatapan itu terasa begitu menekan.
“Abah...” Afifa mencoba menahan pelan.
Namun pria itu tetap menatap Keira dengan kecewa.
“Anak saya dididik agama sejak kecil.” lanjutnya penuh emosi. “Menjaga nama baik keluarga. Menunggu laki-laki yang dijodohkan dengannya.”
Setiap kata terasa seperti menghantam Keira.
“Sedangkan perempuan ini datang tiba-tiba lalu mengambil semuanya?”
Air mata Keira langsung jatuh. "Saya nggak pernah berniat—”
“Keira bukan perebut siapa pun.”
Suara Gus Zayn memotong tenang namun tajam. Pria itu melangkah lalu berdiri di depan Keira secara refleks. Seolah melindunginya dari semua tatapan itu. Dan tindakan kecil itu justru membuat suasana makin tegang.
#ges beneran ini, sinyal di daerahku susah bangettt. Ini ada sinyal dua titik baru aku buru-buru tuliz dan update. Maaf banget ya.. 😭
palingan ntar gus Zayn nyesel