Warning ***+
~~~
Mayang Puspita Sari, seorang lulusan SMP dari kampung, pindah ke ibu kota dengan tujuan menyelamatkan adiknya yang sakit keras dan menopang ekonomi keluarga. Setelah berjuang mencari pekerjaan di kota yang keras, ia akhirnya mendapatkan kesempatan sebagai ibu pengganti - pekerjaan yang memberinya hidup berkecukupan dan biaya pengobatan yang cukup untuk adiknya.
Seiring waktu, Mayang malah merasa senang dengan pekerjaannya karena semua keinginannya tercapai dan bayarannya sangat besar, meskipun ia tidak menyadari bahwa pilihan ini akan membawa konsekuensi emosional dan moral yang tidak terduga nanti.
~~
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 28
***
Vila di Puncak itu kini telah menjelma menjadi laboratorium obsesi yang dingin. Kabut yang menyelimuti perbukitan seolah sengaja memerangkap Mayang dalam keheningan yang menyesakkan. Tidak ada suara televisi, tidak ada koneksi internet, bahkan tidak ada buku selain literatur tentang anatomi kehamilan dan keajaiban persalinan yang diletakkan Aditya di meja samping tempat tidur.
Identitas Mayang sebagai "Rahayu," sang penguasa bisnis Jakarta, telah lumat. Di mata para pelayan yang bisu di vila ini, ia hanyalah sebuah wadah suci. Sebuah inkubator bernyawa yang membawa masa depan sang Auditor Negara.
Trimester pertama kehamilan kelimanya ini terasa jauh lebih berat daripada empat kehamilan sebelumnya. Mungkin karena tubuhnya belum sepenuhnya pulih dari persalinan Rani, atau mungkin karena jiwanya yang sudah terlalu lelah terus-menerus disewakan untuk ambisi pria. Setiap pagi, sebelum matahari benar-benar sanggup menembus kabut, Mayang sudah meringkuk di lantai kamar mandi, memuntahkan cairan lambung yang pahit.
"Nghhh... huekkk..." Mayang mencengkeram pinggiran wastafel marmer, tubuhnya gemetar hebat. Perutnya terasa seperti diaduk oleh tangan besi.
Pintu kamar mandi terbuka. Aditya berdiri di sana, mengenakan jubah sutra abu-abu, menatap Mayang bukan dengan rasa iba, melainkan dengan tatapan klinis yang menakutkan.
"Kau mual lagi?" tanya Aditya, suaranya datar namun berwibawa.
Mayang hanya bisa mengangguk lemah, menyeka bibirnya dengan tangan gemetar. "Ini... ahh... ini jauh lebih parah dari sebelumnya, Adit. Kepalaku serasa berputar."
Aditya mendekat, membantunya berdiri, namun cengkeramannya di lengan Mayang terasa begitu posesif. "Itu tanda benihku sedang berjuang menguasai tubuhmu, Mayang. Itu artinya dia kuat. Seorang putra memang menuntut pengabdian yang lebih besar dari inangnya."
"Inang?" Mayang tertawa getir di sela napasnya yang pendek. "Kau bahkan tidak memanggilku dengan namaku lagi."
"Kau adalah ibunya," bisik Aditya sembari membawa Mayang kembali ke tempat tidur besar yang kini menjadi seluruh dunianya. "Dan kau harus patuh. Ingat, setiap sendok suplemen yang kau tolak, setiap pikiran jahat yang kau susun untuk melarikan diri, akan dibayar oleh isolasi yang lebih ketat bagi Aira dan Rani. Kau ingin mereka tetap makan dengan baik, bukan?"
Mayang memejamkan mata. Ancaman itu adalah rantai yang lebih kuat daripada borgol baja. Aditya tahu persis di mana letak urat nadinya.
**
Malam harinya, ritual pemujaan itu kembali dimulai. Aditya tidak membiarkan Mayang beristirahat meski wanita itu tampak kuyu. Baginya, kehamilan bukan penghalang untuk memuaskan fetish-nya; justru perut yang mulai menegang itu adalah pusat gairahnya.
Aditya memaksa Mayang meminum ramuan herbal kental yang aromanya memuakkan.
"Minum semuanya. Ini untuk menguatkan rahimmu agar tidak gugur saat aku 'memujamu' malam ini."
Mayang meminumnya dengan paksa, menahan rasa mual yang kembali merayap di tenggorokannya. Begitu gelas kosong, Aditya menarik kain tipis yang menutupi tubuh Mayang. Di bawah temaram lampu kristal, kulit Mayang yang pucat tampak bersinar secara tragis.
"Kau tahu, Mayang..." Aditya mulai menyentuh perut bawah Mayang, jarinya menelusuri garis halus yang menjadi tempat bersemayamnya benihnya. "Aris mungkin memilikimu karena uang, Gunawan karena kegilaan, dan Baskara karena dendam. Tapi aku memilikimu karena takdir. Kau diciptakan untuk melahirkan pimpinan, dan aku diciptakan untuk membuahi sang dewi."
Aditya mulai mencium leher Mayang dengan intensitas yang menuntut. Mayang merintih, sebuah suara yang merupakan campuran antara kelelahan fisik dan rasa muak yang harus disembunyikan.
"Nghhh... Adit... ahh... pelan-pelan... aku masih merasa mual," rintih Mayang, jemarinya mencengkeram sprei sutra.
****
Bersambung....