Ghea mengira masalah terbesarnya adalah menjaga resto kecilnya, Kedai Raos, tetap bertahan di kota yang tenang untuk membangun bisnis pertamanya. Sampai kerusuhan hebat dan pengalaman nyaris mati membawa orang asing misterius ke dalam hidupnya.
Ghani—yang dikenal di kalangan intelijen elit sebagai Sam—adalah pria yang pendiam dan memiliki ketelitian yang mematikan. Sebagai agen tingkat tinggi untuk organisasi rahasia Garda Biru, ia seharusnya hanya berlibur singkat untuk mengunjungi neneknya. Ia seharusnya tidak menyelamatkan seorang wanita yang tangguh dan mandiri dari kerumunan massa. Ia tentu saja seharusnya tidak tinggal.
Dirinya yang masuk ke dalam hidup Ghea, akankah menyeret Ghea ke dalam dunia bahayanya? Akankah Ghea bersedia menanggung bahaya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Iris11, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33
Setelah berbulan-bulan aku membangun akses root melalui celah keamanan di Vanguard, aku merasa sudah saatnya untuk menanam logic bomb di sistem Vanguard untuk kehancuran mereka.
Diluar apartment, badai salju menghantam kota yang membuat warna putih membentang sepandang mata. Dinginnya amukan salju itu tak membuat pikiranku membeku, namun sebaliknya, mereka memaksa pikiranku untuk terus berpacu seiring tarian indah jemariku diatas keyboard komputerku.
Data yang kucuri dari titanium koper itu mengurai bagaikan untaian DNA di layar monitor komputerku. Aku menuliskan sebuah logic bomb, logic bom bukanlah bom secara fisik tetapi sebuah sistem dimana dia akan menjadi sebuah bom digital bagi mereka yang serakah di Vanguard dan tentu saja itu akan menyeret nama-nama besar dunia. Logic bom bersifat dormant, artinya dia sekarang masih belum aktif, dia akan aktif hanya jika dalam kondisi yang sudah kurancang sedemikian rupa.
Yang pertama, kondisi dimana saat nama "Arthur Prawira" hilang dari peradaban, entah aku sendiri yang mematikan nama itu di dalam sistem, atau aku sendiri yang.. Mati.
Yang kedua, bom akan aktif saat akhir tahun ketiga, saat masaku dan juga kontrakku menjadi Arthur sudah selesai.
Yang ketiga, koordinat atau GPS rumah Ghea muncul dalam sistem target Vanguard, maka bom akan meledak.
Jariku menari indah diatas keybord yang menghasilkan baris demi baris indah C++ Aku menanam bom ini di dalam Kernel sistem akutansi utama Vanguard, karena dalam sistem itu merupakan tempat yang sepi, tempat yang jarang diaudit secara manual karena mereka jarang yang suka jika harus bermain dengan data yamg rumit.
Bom ini aku rancang sementara hanya untuk "bernafas" dalam sistem, dia hanya diam, hanya mendengarkan, dan hanya menunggu sampai salah satu dari tiga kondisi itu tercapai. Dia tidak memperlambat kinerja sistem, dia tidak mencuri memori. Diam.
Jika bom ini meledak, yang berarti di dalam sistem yang awalnya dormant menjadi aktif, maka seluruh aset cripto di cold walled akan terkunci, dan hanya amu yang memiliki kuncinya. Yang kedua akan menyebabkan angka-angka dalam laporan keuangan akan berubah secara acak yang menyebabkan tim audit internasional akan bergerak dalam hitungan jam. Menghapus seluruh log jejak "Arthur", lalu melakukan format tingkat rendah pada seluruh server utama, meninggalkan pesan tunggal di layar setiap komputer: The debt is paid.
Saat baris terakhir selesai ku ketik, timbul keraguan dalam diriku, jika script ini aku upload, maka aku tak akan pernah bisa kembali, jika gagal maka aku mati. Tapi aku teringat dengan Ghea. Jika semua penjahat itu hancur walaupun secara hanya secara aset, maka Ghea akan aman, dan tak ada lagi yang akan memburunya. Keyakinan dalam diriku menjadi tumbuh kembali. Dan dengan keyakinan yang tinggi, akhirnya kutekan tombol enter itu.
"Script Uploaded. Logic Bomb Status: DORMANT."
Punggungku bersandar di kursi, nafasku menjadi panjang dan dalam. Bom itu sudah ada di sana, terkubur di bawah jutaan baris kode Vanguard, berdetak dalam keheningan yang mematikan.
Dan kini, akupun kembali menjadi "Arthur" yang rajin, arsitek Vanguard yang jenius dan pintar. Dan sekarang aku hanya menunggu, menunggu bom itu bekerja, dan aku akan pulang.
Didalam gemuruhnya badai salju di luar, sebuah notifikasi pesan muncul di ponsel enkripsiku.
"Aku akan menikah bulan ini. Kamu bisa datang?"
Ghina, adikku satu-satunya keluarga setelah nenek meninggal. Satu-satunya orang yang harus kulindungi selain Ghea. Hanya saja, Ghina sudah tahu kehidupanku, dan calon suaminya juga seorang agen, sehingga aku menyerahkan keselamatan dia sepenuhnya pada calon suaminya. Aku hampir tidak menghubunginya, karena aku tahu jika aku melakukannya maka keselamatannya adalah taruhannya.
"Tidak. Aku masih liburan. Semoga bahagia Ghina."
"Oke, bawa oleh-oleh."
"Oke."
Ghina tahu jika aku mengatakan liburan maka artinya aku berada dalam misi dalam jangka waktu yang lama. Jika dia meminta oleh-oleh artinya dia mengatakan hati-hati, berjuanglah untuk tetap hidup. Jika aku mengatakan aku makan siang, makan pagi, atau makan malam maka artinya aku dalam misi yang berbahaya, dan tak perlu dia menunggu pertemuan kami. Jika fisik kami berdekatan, kami seperti kucing dan anjing. Saat kami berjauhan, hati kami seperti tertaut oleh ikatan darah.
Dia lebih muda 3 tahun dariku. Bahkan Ghea lebih muda daripada Ghina. Ghea dan Ghina punya sifat yang sangat jauh berbeda. Ghina manja padaku, tapi punya kemauan keras, juga mandiri jika harus berjauhan denganku. Ghea lembut tapi juga mandiri, dia tak akan meminta bantuan siapapun jika dia masih bisa melakukan sendiri.
Aku segera membuka akun rekening kriptoku. Aku kirim Ghina sebesar USD 10.000 sebagai hadiah pernikahan. Hanya itu yang bisa kulakukan selain restu dan juga do'aku. Aku tahu Ghina mengerti dengan kondisiku saat ini.
Sebagai seorang kakak dan keluarga satu-satunya tentu saja aku merasa sedih karena tak bisa hadir dalam peristiwa penting di kehidupan Ghina. Aku hanya bisa berdo'a semoga pernikahan mereka lancar dan dia bahagia selalu bersama keluarga kecilnya.
Aku merebahkan tubuhku di kasur yang empuk itu. Suara jam berdentang seolah menentang suara deru angin badai di luar. Pikiranku jauh menerawang ke belakang. Aku merindukan dia. Senyumnya saat dia bermain air di pulau Re hari itu berputar kembali di otakku. Aku berada di sini, di Zurich, di Swiss yang dingin, seperti dinginnya hati dan jiwaku, seperti bekunya wajah penduduk lokal, kontras dengan Tora-Tora, kontras dengan negaraku yang hangat, kontras dengan wajah-wajah yang terpasang senyum hangat di setiap sudutnya.
Aku mengambil gelang pemberian Ghea hari itu. Itu adalah satu-satunya pemberian tulusnya padaku. Gelang itu yang mengingatkanku bahwa hatiku pernah terikat dengan seorang wanita. Aku menggunting benang yang menjadi tempat untaian batu-batu itu. Aku mengambil benang lilin yang tersimpan manis di laci nakas yang sudah ku beli dari satu bulan yang lalu. Akupun mulai menyusun butiran batu itu satu persatu ke dalam benang yang sudah kugunting menjadi sebuah untaian gelang, yang kata Ghea akan membawa keberuntunganku. Aku tersenyum sendiri mengingat perkataannya hari itu.
Jika biasanya gelang itu akan kusimpan di sakuku, tapi entah mengapa aku ingin sekali memakainya. Hari ini, untuk hari ini saja sebelum esok aku memulai hari di Vanguard, memulai pertempuranku di ladang penuh ranjau digital. Untuk hari ini aku ingin membangkitkan kenangan indahku bersamanya yang terasa hanya sebentar saja. Aku tak ingin kehangatan cinta dalam hatiku ikut tenggelam dalam badai salju Zurich.