NovelToon NovelToon
Rahim Bayaran

Rahim Bayaran

Status: tamat
Genre:Romantis / Cintapertama / Cintamanis / Contest / Nikahkontrak / Konflik Rumah Tangga- Terpaksa Nikah / Tamat
Popularitas:114.6M
Nilai: 4.9
Nama Author: Sept

Hanya karena uang, Dira menjual rahimnya. Pada seorang pria berhati dingin yang usianya dua kali lipat usia Dira.
Kepada Agam Salim Wijaya lah Dira menjual rahim miliknya.
Melahirkan anak untuk pria tersebut, begitu anak itu lahir. Dira harus menghilang dan meninggalkan semuanya.
Hanya uang di tangan, tanpa anak tanpa pria yang ia cintai karena terbiasa.

Follow IG Sept ya
Sept_September2020

Facebook
Sept September

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sept, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tarik Ulur

Rahim Bayaran #6

oleh Sept September

Mau terus melangkah tapi kakinya terasa berat, seakan uji nyali ketika Agam meminta dirinya mengikuti ke kamar pria tersebut.

Apa Dira tidak salah dengar? Pria berparas tampan dan penuh wibawa itu mengajaknya pergi ke kamar utama? Sepanjang jalan menuju kamar Agam, Dira pun benar-benar tak bisa berpikir. Otaknya mendadak kram tak bisa memikirkan suatu apapun.

"Masuklah!" seru Agam sembari membuka pintu kamar lebar-lebar.

Ragu bercampur canggung, Dira akhirnya masuk juga ke dalam kamar milik Agam dan Agata tersebut.

Gadis kampung itu langsung berdecak kagum, saat melihat isi di dalam kamar Agam.

"Ini kamar atau toko?" gumam Dira sembari kedua matanya terus memindai banyak benda di sekitarnya.

Ada banyak sekali lemari kaca, persis seperti di toko-toko yang pernah ia lihat di TV. 'Lihat itu!' serunya dalam hati ketika melihat koleksi tas branded milik Agata.

'Dan itu!' Mata Dira berbinar-binar ketika melihat barisan sepatu kaca berjejer rapi dan cantik sekali.

Dira sampai heran, istri pertama suaminya itu seperti apa. Mungkin sangat cantik seperti artis ibu kota, pikirnya.

Tak butuh waktu lama, rasa penasaran Dira akhirnya terjawab sudah. Di samping ranjang. Di atas nakas, terdapat pigura berbentuk hati.

Di dalam pigura warna merah maroon itu, ada potret wanita cantik sekali sedang memeluk Agam. Serasi, satu cantik dan satu ganteng. Ups, dira keceplosan. Ia memuji-muji suaminya sendiri.

'Sadar Dira, ini hanya pernikahan kontrak. Dia memang suamimu, tapi bukan milikmu. Dia menikahimu hanya untuk meminjam rahim yang kamu miliki. Sadar Ra ... sadar!' Dira terus membatin. Mengeleng kepala pelan. Mencoba membuang jauh-jauh pikiran yang bukan-bukan.

"Dira!" panggil Agam, membuat Dira yang kala itu sibuk dengan keterkagumannya langsung pulih kembali.

"I ... iya!"

"Ke mari!" Agam mengerakkan telunjuk kanannya untuk meminta gadis itu mendekati dirinya.

Tanpa membantah, bagai kerbau dicucuk hidungnya. Dira mendekat tanpa perlawanan.

'Mengapa wajahnya selalu ketakutan bila dekat denganku?' batin Agam yang menatap Dira lekat-lekat.

"Duduklah!"

Agam pun menepuk bibir ranjang yang ada di dekatnya.

"Duduk di sana?" Seolah tidak percaya, Dira membuka mata lebar-lebar.

"Ke mari. Aku yakin akan aneh bagi kita melakukan hal itu sebelum ..." Kata-kata Agam terputus sejenak.

Ia mengambil napas panjang, kemudian melanjutkan kata-katanya kembali.

"Aku rasa, mari lakukan secepatnya, kamu juga ingin segera berjumpa dan berkumpul dengan ibumu lagi, kan?"

Dira langsung mengangguk cepat, seakan-akan sependapat dengan Agam. Ia juga ingin kontrak ini segera selesai.

Melihat Dira yang sepertinya kini sejalan dengan kemauan Agam. Maka Agam pun menyuruh Dira segera melepas pakaiannya.

"Buka bajumu!"

Jleb

Tubuh gadis itu bagai tersetrum aliran listrik, ketika Agam memintanya untuk melepas pakaian yang ia kenakan. Malu, takut serta canggung.

'Bagaimana ini, Ibu?' ratapnya lirih. Selama ini ia tak pernah berurusan dengan spesies bernama laki-laki.

Sejak balita Bapaknya merantau tak pulang-pulang. Kabar burung mengatakan, bahwa Bapaknya sudah menikah lagi di Kalimantan.

Bila dekat, mungkin Dira akan menyusulnya. Sama seperti saat ia mencari ibunya.

Sayang, Kalimantan terlalu jauh. Dira tak yakin uangnya akan cukup untuk menyusul dan mencari bapaknya.

Ditambah lagi, ibunya justru tidak peduli. Bapaknya itu masih hidup atau mati. Mungkin karena sakit hati, membuat wanita tersebut begitu memendam benci terlalu dalam terhadap suaminya.

"Dira! Kamu dengar saya, tidak?"

Lagi-lagi Agam membentak dengan kasar. Pria itu marah lantaran Dira hanya diam terpaku, tak membuka baju seperti apa katanya.

Agam tak tahu, betapa malunya saat ini gadis itu. Ia tak pernah menanggalkan baju di depan siapa pun, tak satu pun. Kecuali saat ia mandi.

"Apa kamu mau saya melepasnya dengan paksa?"

Dag dig dug der

Makin menjeritlah hati Dira saat ini. Tanpa sadar ia mengunakan tangan untuk menutupi bagian tubuhnya. Seolah menjadi perisai agar Agam tak macam-macam pada dirinya.

Tapi tunggu, bukankah kini Agam bebas melakukan apa saja terhadap dirinya?

Mereka sudah sah, walau hanya di mata agama. Tapi Dira sudah sangat halal untuk pria tersebut. Ah, gadis polos itu Makin meragu.

Karena tidak bisa mundur lagi, detik berikutnya Dira memberanikan diri. Perlahan ia duduk, mengatur napas kemudian mencoba membuka kancing piyama yang ia kenakan.

Agam tersenyum sinis, ketika melihat tangan gadis itu bergetar membuka kancing demi kancing piyama yang ia kenakan.

Matanya menatap remeh pada Dira, ibunya saja wanita penghibur. Anaknya pasti juga memiliki bakat yang sama, batin Agam sembari menikmati pemandangan di depannya.

Melihat Dira gemetaran cukup membuatnya terhibur. Sejak pagi moodnya buruk sekali, tapi kini. Bibirnya sudah bisa mengulas senyum ketika melihat Dira dengan ekspresi yang tak biasa itu.

Lucu, sangat lucu. Bagi pria sejenis Agam. Dira pandai betul berakting gemetaran. Nervous! Dam!!! Gadis itu benar-benar licik!

Agam terus saja mengumpulkan prasangka buruknya terhadap Dira.

"Lama sekali!" cibir Agam yang melihat Dira nampak ragu-ragu untuk membuang pakaian yang sudah tak terkancing itu.

Bagaimana mau dibuang, Dira sangat malu bukan main. Ia tak berpakaian hanya saat di kamar mandi dan waktu bayi!

"Boleh pinjam selimut?" Dira melirik kain selimut warna merah muda yang ada di sisi lain ranjang.

Kesal, Agam meraih selimut itu dan melempar tepat ke arah Dira.

Buggh

Selimut tebal nan lembut itu berhasil mendarat di wajahnya.

Tak berani protes karena aksi kasar Agam, Dira pun membungkus tubuhnya dengan kain selimut itu. Lalu meletakkan piyamanya di atas kursi di dekatnya.

"Mau tidur dengan memakai selimut tebal itu?"

Agam mendesis, kemudian dengan sengaja mematikan AC di dalam kamarnya.

"Rasakan!" ucapnya lirih, seperti mendapat mainan baru. Pria dewasa itu kini mulai main-main dengan anak kecil.

Ya, anak kecil! Dira bahkan pantas menjadi putrinya.

"Tidurnya!" Dengan kembali memasang muka dingin, Agam merebahkan tubuhnya di atas ranjang.

'Mengapa AC-nya dimatikan? Kamar ini jadi panas sekali!' keluh Dira namun Tak berani bersuara.

"Apa masih mau memakai selimut itu?" sindir Agam yang tahu pasti bahwa Dira kini kepanasan. Terlihat jelas dari bulir bening di dahi gadis bau kencur tersebut. Keringat dingin campur kepanasan.

"Tidak apa-apa, tidak panas kok," kelit Dira, padahal ia sudah seperti dipanggang di atas kompor. Gerah sekali, sekujur tubuhnya sudah bermandikan keringat.

Tahu bahwa anak nakal itu sudah berani berbohong, Agam lantas menarik langsung kain selimut yang menutupi tubuh Dira.

"Agrrhhh!" Dira menjerit keras, membuat gendang telinga Agam langsung mendengung.

Reflek, gadis itu menarik lagi kain selimut yang semula ditarik oleh Agam.

"Cih!" Agam kembali mendesis. Rupanya Dira mengajak dirinya main-main. Oke Dira! Elu jual gue beli.

Bug bug

Mata Dira terbelalak ketika melihat Agam melempar semua pakaian yang dikenakan pria itu.

Kaos oblong, celana pendek Agam sudah melayang di atas lantai. Semua tercacar berantakan. Bila bisa pingsan, Dira ingin pingsan saat itu juga.

Bersambung

Bisa jadi, benci adalah awal dari rasa cinta.

1
Uus Sumartini
jgn pliss biarin aja mati ayahnya jgn smpai batari ngasih ginjalnya
juwita
🤣🤣🤣bukannya jaja miharja yg suka mandang sebelah mata
juwita
agam terlalu kasar dn trs ngungkit kerjaan ibunya dira pdhl dia tau pas mlm pertama dia yg pertama buat dira.
juwita
bkn egois dira hny ingin bersama anaknya. kita pun sm klo ada di posisi dira pasti pergi. apa lg mertuanya sayang sm istri pertama . pasti klo anak dira lahir di ambil sm mrk trs dira di usir. walo pun ada agam g 24 jam agam sm dira
juwita
🤣🤣🤣🤣
juwita
dikira ada yg manggil dek dek dek🤣🤣🤣
juwita
km. yg harus bisa ngemong bknya di marahi trs
juwita
di perumahan elite ada yg pelihara ayam ya🤣🤣🤣🤣
juwita
knpa marah org km yg ngundang dira di rmh tangga km. dira jg istri agam
juwita
udh dpt jatah dr istri muda skrg pindah ke istri tua. nikmatnya punya istri dua. harusnya smbil nyanyi agam🤣🤣
juwita
g enak mkn tp nasi habis sebakul. hehe bercanda thor🤣🤣🙏
juwita
dikira enak pny istri dua🤣🤣🤣
juwita
janin msh segumpal darah bisa flu🤣🤣
juwita
kan km yg nyuruh agam nikah lg. mknya jgn main api kebakar sendiri km yg ngundang org ke 3 masuk ke rumah tangga mu
juwita
bknya mmh nya nyuruh nikah lg jg. cerita aj jujur klo dira bkn pembantu. kasihan dira udh sering di maki sm agam skrg sm emaknya di kira babu😭
juwita
harusnya di jidat dira di tulis istri agam gitu biar g di sangka simpana🤣🤣
juwita
ya g belikan mn ada baju baru
juwita
kasihan sebenernya . dia ky gitu krn kelakuan dia sendiri
juwita
itulah susahnya pny istri dua hati akn bercabang tp enaknya ketika istri pertama marah lari ke istri muda🤣🤣
juwita
pny malu jg tuan arogan🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!