Adelin Azzura tak pernah menyangka hidupnya akan berakhir dalam sebuah pernikahan dengan seorang ustaz bernama Afwan Zaid, setelah masa lalunya ternoda oleh kekerasan seksual dari seorang lelaki asing.
Hidup Adelin yang penuh luka dan drama begitu bertolak belakang dengan cara pandang Afwan yang selalu memegang teguh prinsip Islam, bahwa setiap takdir telah diatur oleh Allah.
Namun Adelin tak pernah benar-benar jujur tentang masa lalunya. Ia memendam trauma itu sendirian.
Sampai akhirnya Afwan mulai dilanda konflik batin ketika Adelin selalu menolak disentuh.
Akankah rumah tangga mereka bertahan?
Ataukah berakhir dengan kalimat cerai yang sering dikaitkan dengan godaan jin dasim?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Larasatii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3 Jilbab di tengah Kerlap-Kerlip
“Temani saya malam ini.”
Diam. Aku mencoba untuk tetap tenang menghadapi situasi kalut malam ini. Dadaku terasa begitu sesak. Seperti diimpit oleh bebatuan besar. Wajahku memanas karena tak kuasa menahan amarah yang bergejolak. Tiba-tiba ... tanganku bergerak lebih cepat dari pikiranku sendiri.
Bugh.
Darah mengucur dari dalam lubang hidung Pak Thomas. Ia segera menyeka darah itu dengan tangan kosongnya. Kobaran api amarah semakin merajalela. Aku melirik kartu identitas yang tergantung di leherku. Melepasnya—lalu menaruhnya dengan kasar ke atas meja kerja Pak Thomas.
Kuacungkan jari tengahku, kemudian berlalu begitu saja. Namun, saat hendak meraih gagang pintu, tiba-tiba suara serak Pak Thomas mengurungkan langkahku.
“Temani saya minum kopi di kafe sebelah.” Kedua mataku membelalak. Tak percaya dengan apa yang baru saja kudengar dari lisannya.
Aku kembali menolehkan pandangan ke arah Pak Thomas. Kali ini dengan mata berkaca-kaca. Tanganku gemetar. Debar jantungku kian berpacu seolah saling adu dengan paru-paru. Sesak.
“Pak. Saya ...”
“Tidak perlu kamu jelaskan! Kamu dipecat malam ini!”
Mataku memanas. Malam ini, malam yang kukira akan menjadi jembatan kesuksesanku, justru sebaliknya. Aku berakhir oleh kelabilanku sendiri.
“Pak! Tapi saya kira tadi ...”
“Sudah! Saya tak mau menjelaskan apa pun lagi. Kemasi barang-barang kamu di meja kerja!”
Aku menunduk pasrah. Membiarkan air mataku mengalir deras. Dadaku menyempit. Menyesakkan paru-paru untuk terus menumpahkan rasa sakit menjadi hujan. Tapi, air mata mengalir sedikit sekali. Hanya kepasrahan yang tercipta.
Malam itu, ponselku berdering nyaring. Tapi telingaku tak bisa menangkap volume kerasnya. Aku melirik layar ponselku yang sedari tadi menyala. Panggilan masuk hampir puluhan kali dari Ibu. Aku bingung, bagaimana hendak pulang malam ini. Bagaimana cara aku bisa menjelaskan semua keadaan malam ini pada Ibu?
Kutemukan bak sampah di tepi jalanan ini. Kulirik semua perkakas kerjaku yang sudah tiga tahun menemaniku. Ada badai yang tak bisa kuhentikan saat itu juga di hati. Hingga perlahan, derainya menetes setitik demi setitik. Aku membiarkan kenangan itu menyatu dengan kumpulan sampah lainnya.
“Damailah kalian di sana. Aku tak akan bisa kembali lagi,” ucapku dengan nada suara gemetar.
Hujan turun, mengalahkan tangis yang sedari tadi mengalir bagai gerimis. Setiap tetesnya hanya aku yang tahu maknanya. Semua manusia sibuk berlalu lalang. Ya, tak akan ada yang peduli dengan gadis malang sepertiku.
Tiba-tiba, jalanan yang semula riuh oleh suara klakson kendaraan itu, kini lenyap oleh dentuman musik di sebelahku. Beberapa wanita dengan heels, baju yang minim bahan serta dandanan yang menor. Kini masuk ke dalam sebuah tempat penuh dengan dentuman musik itu.
Sejatinya aku sama sekali tidak nyaman. Tapi, langkah kakiku seolah ingin tahu bagaimana dunia di dalamnya.
Seorang sekuriti mencegatku. Memerhatikanku dari ujung kaki, hingga kepala.
“Mau ke mana, Neng?” tanyanya dengan dahi yang mengerut samar.
Aku tersadar dari rencana awalku. Kemudian mundur selangkah. Namun, sepertinya rasa penat bercampur penasaran begitu besar. Hingga aku kembali memajukan langkah.
“Saya mau masuk.”
“Perdana, ya?” Dia kembali melirikku. Namun, kali ini lirikan matanya lebih dalam. Seolah tengah menelusuri seluruh bagian diriku.
“Ada KTP?” tanyanya kemudian. Ia menengadahkan tangannya ke arahku. Lengkungan bibir sekuriti itu membawa hawa pekat yang merayap di tengkukku. Membuat bulu kudukku berdiri karena muak.
Aku menyodorkan KTP-ku padanya. Ia menatap bergantian foto identitas KTP-ku dengan diriku yang nyata. Kemudian ia berkata ...
“Neng, ayu ya buka jilbab.”
“Jangan lancang! Udah belum KTP-nya?!” Aku menggerutu dengan nada sedikit berteriak. Kemudian mengambil paksa KTP-ku dari tangannya.
Sekuriti itu hanya diam. Kini tatapan liarnya itu berubah menjadi rasa heran saat menatapku. Aku tak tahu isi kepalanya saat itu. Yang pasti, tatapan matanya mengisyaratkan bahwa ia sedang salah kira. Aku, bukan wanita lemah lembut.
Aku melangkah. Dengan yakin menerobos kerumunan orang yang telah terlena oleh kenikmatan semu. Kehadiranku disambut oleh kerlap kerlip lampu diskotek. Ruangan yang dingin, tapi pengap. Di pojok kiri, terdapat area khusus bagi perokok. Namun, asap rokok itu masih menyengat di hidungku.
Tiba-tiba, seseorang menyapaku dari arah belakang.
“Mau pesan apa, Kak?” sapa seorang pelayan wanita padaku. Pakaiannya sopan dan rapi. Ia membawa buku menu padaku.
Kuperhatikan buku menu tersebut. Tapi, aku tak menemukan adanya minuman yang kucari di sana.
“Ada bir?” tanyaku dengan percaya dirinya tanpa memedulikan hijab yang kukenakan.
“Ha? A ... ada sih, Kak. Tapi ...” Ia menatapku dengan tatapan menyelidik. Seolah ia tak percaya dengan apa yang baru saja kupesan.
“Jualan nggak, nih?” ketusku padanya. Sambil menatapnya dengan sudut mataku yang tajam.
“Ha ... baik deh, Kak.” Pelayan wanita itu bergegas menuju bar untuk meracik bir pesananku. Namun, ternyata yang meracik bukan dia, melainkan orang yang tak asing di mataku.
“Dimas?” tanyaku heran seraya menyipitkan mata. Meyakinkan diri sekali lagi bahwa pandanganku salah.
“Dia kerja di sini juga?” tanyaku lirih, sambil memerhatikannya berjalan menujuku.
Aku lantas memalingkan wajahku. Membiarkan ujung jilbabku menutupi wajahku saat ini.
“Silakan, Kak.” Ia mempersilakanku minum. Kemudian berlalu begitu saja.
Aku mengembuskan napas lega. Ternyata, dia tidak tahu kalau itu adalah aku. Tapi, tiba-tiba ... sebuah suara yang menyapaku dengan sedikit berteriak mengagetkanku.
“Lin? Itu kamu?”
“Sial! Kenapa dia malah tahu kalau itu aku?” batinku meronta. Namun, kali ini aku tak lagi bisa bersembunyi darinya.
“Pulang, gih! Malah ke sini. Perdana kan, kamu ke sini?” tanyanya dengan nada berteriak sambil menatap segelas bir yang baru saja kupesan.
“Kamu yakin mau minum ini? Kuat?” Ia bertanya seolah meragukanku.
Tanganku gemetar mengangkat gelas bir tersebut. Aku ingin membuktikan padanya bahwa aku sanggup meminum bir ini. Hingga kini, dinginnya bibir gelas itu menyentuh bibirku. Aku menahan napas, sembari memejamkan mata.
Bir itu berhasil kutelan. Rasa pahitnya yang tajam membuat lidahku terasa kebas. Tenggorokanku bagai ditusuk-tusuk oleh jarum. Perih dan dingin. Namun, setelah ia benar-benar tertelan, kurasakan hawa hangat naik menuju dada hingga tengkukku.
Aku kira meminumnya benar-benar akan membuatku melayang dan terbebas dari beban stres seketika. Tapi ...
“Kenapa pandanganku buram ya?” lirihku kemudian.
“Itu efeknya. Biasa itu. Nanti pandangan matamu bakal cerah lagi,” jawab Dimas dengan suara yang terdengar samar di telingaku.
Aku menggelengkan kepala. Membuka lebar-lebar mataku. Lalu tiba-tiba pandanganku benar kembali cerah.
“Ya udah. Aku balik kerja dulu ya. Kamu jangan minum kebanyakan. Satu gelas aja ya,” nasihatnya padaku seraya berlalu meninggalkanku sendirian.
Tiba-tiba ... tanpa aba-aba, telingaku berdenging keras. Dengingnya membuatku benar-benar kehilangan indera pendengaran. Suara bisingnya diskotek seketika musnah. Pandanganku yang semula jelas, kini kembali samar. Tubuh dan kepalaku yang tadi seolah melayang dan terlena, kini terasa berat. Lalu ... semuanya, gelap.
jangan mau!
.
Masih banyak cobaan yang belum kamu cobain,
kamu masih belum merasakan betapa bahagianya saat menang GA, kamu belum merasakan betapa bahagianya CO nol rupiah di tanggal kembar. It's amazing Adelin.🤣
Oke, semoga kamu baca komentarku ini, sebelum lantai dasar gedung itu menerima suara gedebugh mu🔥🔥🔥🔥🔥
Akhirnya penasaran dengan kata Bugh di ujung paragraf, apa itu suara tubuh Adelin yang memilih terjun ke bawah sana? atau apa?