Soren Ravensdale-seorang assassin yang tak pernah gagal menjalankan misinya kini harus menerima kenyataan pahit ketika sahabat yang ia percaya-Vera, justru mengkhianatinya. Bukan hanya itu, Vera juga terlibat dalam pembunuhan adik angkatnya, Ellian Sorrel dan ternyata semua telah direncanakan atas perintah langsung dari ketua mereka sendiri.
Janji bahwa keluarga para anggota akan aman ... ternyata hanyalah kebohongan.
Dengan luka tembak di perutnya, Soren memilih mengakhiri hidupnya dengan kepercayaannya yang hancur dan terjun ke dasar jurang. Namun bukannya mati, ia justru terbangun di tubuh seorang gadis rapuh dengan wajah yang sangat mirip dengannya.
Yang kini statusnya adalah menjadi istri seorang Letnan Kolonel yang dingin dan penuh rahasia.
Dari seorang assassin menjadi seorang istri, apakah Soren benar-benar bisa berhenti dari dunia yang sudah menelan hidupnya atau justru kehidupan barunya hanya akan menyeretnya kembali ke lingkaran kejahatan yang lebih gelap?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Luo Aige, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Misi Terakhir
Suara high heels terdengar menggema di sebuah lorong club malam kota Vienna—Austria, memantul di dinding gelap yang dipenuhi bayangan samar dari lampu redup. Gadis itu beberapa kali menoleh ke belakang, bukan karena takut, melainkan kebiasaan. Ia memastikan ritme langkahnya tetap stabil, tidak terlalu cepat dan juga tidak terlalu lambat, cukup untuk terlihat seperti seseorang yang memang seharusnya berada di sana. Dress merah tanpa lengan yang ia kenakan jatuh pas di atas lutut, membungkus tubuhnya dengan rapi tanpa terlihat berlebihan. Soren—wanita berusia dua puluh tiga tahun itu mengangkat tangannya, memasang earpiece kecil di telinganya dengan gerakan yang nyaris tak terlihat.
[Bagaimana?]
“Aku sudah di lorong menuju VIP Schwarz. Sepertinya Markus Leitner ada di dalam. Tempat ini lebih gelap dari yang kubayangkan … terlalu cocok untuk disebut sebagai ruang yang mencurigakan.” Suaranya santai, seolah ia hanya membicara tentang perkiraan cuaca, bukan tentang target yang bisa saja membuatnya mati jika satu langkah saja salah.
[Bagus. Jangan lama-lama. Satu jam, itu batas kita.] Vera menjawab singkat, tanpa basa-basi.
Soren terkekeh pelan, membuka bungkus permen rasa ceri dari dalam clutch kecilnya lalu memasukkannya ke mulut. “Tenang saja. Ini misi terakhirku, aku tidak akan mengacaukannya.” Nada bicaranya ringan, tapi matanya tidak pernah berhenti bergerak. Setiap sudut lorong, setiap bayangan, setiap kemungkinan ia hitung tanpa sadar. Hingga pandangannya berhenti pada seorang pelayan yang berjalan membawa nampan berisi minuman, langkahnya rapi, kepala sedikit menunduk seperti yang diajarkan.
Sudut bibir Soren terangkat tipis. “Sepertinya aku tidak perlu repot-repot mencari cara masuk.”
[Apa maksudmu?]
Soren tidak menjawab. Ia hanya menyesuaikan langkahnya, memperlambat tempo agar sejajar dengan pelayan di depannya, menyamakan ritme sepatu mereka hingga suara ‘tap’ yang terdengar menjadi satu pola yang sama. Tidak ada kecurigaan. Sampai akhirnya dalam hitungan singkat—satu, dua, tiga.
Tubuhnya bergerak cepat, tangannya menghantam tepat di titik yang ia tahu akan membuat seseorang pingsan tanpa suara. Pelayan itu langsung limbung sebelum sempat bereaksi, dan Soren dengan sigap menangkap nampan yang hampir terjatuh.
Ia tidak terburu-buru. Pertama ia memastikan lorong tetap kosong, lalu menyeret tubuh pelayan itu ke dalam ruangan terdekat, menutup pintu tanpa suara. Proses berikutnya berlangsung cepat dan efisien. Ia menukar pakaiannya dengan seragam pelayan, merapikan lipatan kain, menyesuaikan posisi rambut, bahkan mengatur ekspresi wajahnya agar terlihat lebih lembut dan tidak mencolok. Ketika ia menatap dirinya sekilas di cermin kecil, ia mendecih pelan. “Murahan sekali,” gumamnya, menarik kerah yang terlalu terbuka itu dengan sedikit kesal.
Namun ia tidak punya waktu untuk mengeluh. Nampan kembali berada di tangannya, langkahnya kini berubah lebih ringan dan tenang, seperti seseorang yang tidak memiliki alasan untuk dicurigai. Lorong menuju ruang VIP jauh lebih sunyi dibanding bagian lain club, hanya sesekali terdengar suara tawa samar dari balik pintu-pintu tertutup. Saat akhirnya ia berdiri di depan pintu besar berwarna gelap, suara musik yang berat dan dentuman gelas mulai terdengar jelas.
“Aku masuk sekarang,” ucapnya pelan.
Ia tidak menunggu jawaban Vera. Tangannya langsung mendorong pintu.
Ruangan di dalam dipenuhi cahaya keemasan yang berlebihan, lampu kristal menggantung rendah, memantulkan cahaya ke segala arah hingga terasa menyilaukan. Aroma alkohol, parfum mahal, dan asap rokok bercampur menjadi satu. Soren hanya melirik sekilas, memutar matanya dengan malas sebelum memasang senyum yang sempurna. Tatapannya segera menemukan targetnya—Markus Leitner yang duduk santai dengan segelas whisky di tangannya, dikelilingi beberapa pria yang jelas menikmati malam mereka tanpa beban.
“Hey, Pelayan! Whisky!” Salah satu pria berseru, suaranya berat dan sedikit serak.
Soren mendekat tanpa ragu, meletakkan botol di atas meja dengan gerakan yang halus. “Silakan, Tuan.” Senyumnya terpasang rapi, meski matanya menyimpan rasa jijik ketika tangan pria itu menyentuh kulitnya terlalu lama. Ia menarik tangannya dengan halus, tidak kasar, tapi cukup jelas untuk menunjukkan batas.
Namun sebelum ia sempat pergi, pergelangan tangannya dicekal. “Kalau disentuh, kau seharusnya tahu harus bagaimana,” ujar pria itu dengan nada rendah yang menjijikkan.
Soren hanya tersenyum tipis, menepis tangannya dengan ringan. “Sayang sekali, tapi malam ini saya sudah memiliki tujuan lain.” Nada suaranya tetap lembut, tapi cukup tajam untuk membuat pria itu mengerti bahwa ia bukan sasaran mudah.
Ia tidak menunggu reaksi lebih lanjut. Fokusnya sudah berpindah ke Markus. Dengan satu gerakan elegan, ia mengambil botol lain, mendekat, lalu duduk di pangkuan pria itu tanpa ragu, seolah itu adalah hal yang paling wajar di dunia ini. Bau asap rokok langsung menusuk hidungnya, tapi ekspresinya tidak berubah.
“Tuan … ingin menambah minuman?” bisiknya pelan.
Markus menatapnya beberapa detik lebih lama dari seharusnya. Ada sesuatu di matanya—bukan sekadar ketertarikan, tapi juga penilaian. “Aku tidak pernah melihatmu sebelumnya.”
“Karena saya baru pertama kali melayani Anda,” jawab Soren ringan, tangannya menyentuh bahu pria itu seolah akrab.
“Begitu?” Markus tersenyum samar, lalu tanpa ragu mengangkat tubuhnya, membawanya pergi dari keramaian menuju kamar pribadi. Sorakan kecil terdengar dari teman-temannya, tapi Soren hanya membalas dengan senyum tipis dan satu kedipan singkat.
Pintu kamar ditutup dengan kasar. Soren dijatuhkan ke atas kasur, namun ia tetap tenang, bahkan saat Markus mendekat dengan niat yang terlalu jelas. Tangannya terangkat, menahan dada pria itu dengan lembut. “Tuan … saya tidak suka bau alkohol.” Nada suaranya rendah, hampir seperti bisikan.
Markus tertawa kecil, lalu mundur. “Baiklah. Tunggu di sini.”
Begitu pintu kamar mandi tertutup dan suara air mulai terdengar, Soren langsung bergerak. Wajahnya yang tadi lembut berubah dingin dalam sekejap. Ia memeriksa kemeja Markus, saku-saku, meja, laci, semuanya dengan cepat, rapi, tanpa membuang waktu. Tidak ada.
Tidak mungkin. Informasi yang ia dapatkan jelas, pria itu tidak mungkin acuh pada barang yang penting.
Ia berhenti sejenak, menarik napas, memaksa pikirannya tetap jernih. Tatapannya beralih ke sudut ruangan, ke sebuah sofa yang tampak sedikit tidak rapi. Tertutup kain. Ia mendekat, menarik kain itu, dan menemukan laptop dengan sebuah flashdisk masih terpasang.
“Bodoh … atau terlalu percaya diri,” gumamnya.
Laptop itu tidak dikunci. Soren duduk, membuka file yang sudah aktif.
Ledger_47.
Begitu diklik, deretan data langsung muncul—angka, tanggal, nama. Transfer uang dalam jumlah besar, jalur yang berliku, perusahaan bayangan. Semua tersusun rapi, terlalu rapi untuk disebut sebagai bisnis biasa. Ia membuka file lain—daftar kontak. Nama-nama penting muncul, beberapa di antaranya tidak seharusnya berada di sana.
Soren menyipitkan mata. “Menarik.”
Tanpa membuang waktu, ia mengeluarkan flashdisk miliknya dan mulai menyalin data. Layar menunjukkan angka yang perlahan naik.
10%.
23%.
41%.
Waktu seakan terasa melambat, tapi Soren tidak bergerak. Ia hanya menatap layar, telinganya tetap waspada pada suara air dari kamar mandi, tubuhnya siap bergerak kapan saja jika situasi berubah. Angka terus merangkak naik, secara perlahan namun pasti. Sementara pikirannya mulai menangkap sesuatu yang janggal. Data di layar tampak tersusun rapi dan teratur seolah tidak hanya mencatat transaksi. Tetapi juga menyimpan pola.
57%
Soren menggeser kurson sedikit ke bawah, matanya menyapu deretan nama dengan cepat. Beberapa nama pejabat ada yang dia kenal. Bahkan, nama-nama perusahaan yang sering muncul di laporan investigasi juga ada di file ini. Akan tetapi, ada satu hal yang membuat gerakannya kemudian melambat karena tak sengaja membaca nama yang terlalu disamarkan. Nama itu tidak ditulis penuh, melainkan hanya inisial, V.T.
Keningnya berkerut.
63%
Ia membuka file lain di dalam folder yang sama. Sebuah dokumen lama yang tampaknya tidak terlalu penting jika hanya dilihat sekilas. Catatan singkat, tanpa format resmi lebih terlihat seperti ringkasan internal. Ada beberapa baris yang ditandai dengan simbol kecil di sampingnya, tanda yang tidak biasa digunakan dalam laporan keuangan.
Soren memperhatikan lebih dekat.
‘Subjek telah dibersihkan. Keluarga terkait tidak meninggalkan saksi.’
Matanya berhenti.
71%
Tangannya tidak bergerak selama beberapa saat. Kalimat itu tidak menjelaskan apa-apa secara langsung, tetapi cukup untuk membuatnya mengerti arah pembicaraan. Ia menggulir ke bawah. Baris lain kemudian muncul.
‘Operasi selesai. penghubung: V. T.’
Degup jantungnya tidak berubah, tapi napasnya terasa sedikit lebih berat. Inisial V. T lagi.
79%.
Ia menutup file itu dengan cepat, lalu membuka daftar kontak kembali, matanya mencari nama secara sadar. Huruf demi huruf, baris demi baris. Hingga akhirnya ia menemukannya ... bukan nama lengkap, hanya satu entri sederhana yang hampir tidak menarik perhatian jika tidak dicari.
Vera T.
Tidak ada detail apapun yang merujuk pada identitas orang tersebut. Hanya nama, itu saja.
88%.
Soren menatap layar lebih lama dari yang seharusnya. Otaknya bekerja cepat, menyusun potongan-potongan kecil yang selama ini tidak pernah ia pertanyakan. Cara Vera selalu tahu lebih banyak dari yang seharusnya. Cara beberapa misi yang berakhir terlalu sempurna, seolah tidak pernah ada yang tersisa.
92%.
Ia menggerakkan kursor lagi, membuka satu file terakhir yang berada di bagian bawah. Tidak ada judul yang jelas, hanya kode angka. Begitu dibuka, hanya ada satu baris kalimat pendek.
‘Arsip lama—insiden keluarga S. status: selesai’
Soren tidak tahu kenapa matanya berhenti di sana. Namun ia tidak melanjutkan membaca.
96%.
Jarinya bergerak sedikit lebih cepat di keyboard, memastikan semua data tetap tersalin. Apapun arti dari potongan-potongan itu, sekarang bukan waktunya untuk mencari jawaban. Tapi satu hal yang pasti—ini bukan sekadar kasus korupsi seperti yang ia pikirkan.
98%.
Suara air dari kamar mandi masih mengalir.
99%.
Soren menarik flashdisknya tepat saat angka di layar berhenti bergerak. Ia menutup laptop dengan tenang, mengembalikannya ke posisi semula, lalu berdiri perlahan seolah tidak ada yang terjadi. Namun ada hal lain yang masih tertinggal di dalam pikirannya. Bukan rasa takut, melainkan satu pertanyaan yang tidak bisa dia abaikan.
Sejak kapan Vera terlibat lebih dalam dari yang ia ketahui? Entah kenapa nama keluarga yang tercatat hanya berupa inisial, padahal setiap segala misi selesai, para eksekutor tidak menyembunyikan nama marga keluarga itu. Terlebih lagi, kenapa data diri Vera bisa ada di dalam sini? Meski tidak disebutkan secara detail, Soren tahu bahwa ada yang tidak beres.
Suara air akhirnya berhenti. Soren menoleh ke belakang, pintu belum terbuka.
Tanpa berniat menunggu, Soren memilih untuk segera bergerak pergi ke luar. Flashdisk itu menghilang ke dalam clutch kecilnya. Tangannya kemudian merapikan sedikit lipatan seragam pelayan yang ia kenakan, memastikan tidak ada sesuatu yang bisa menarik kecurigaan. Wajahnya kembali lembut dengan senyum tipis, persis seperti yang ia lakukan tadi.
Dengan langkah tidak terburu-buru, Soren membuka pintu kamar. Ia melangkah keluar, namun hal pertama yang ia lihat adalah ruangan itu kosong. Padahal tadinya ada dua partner bisnis Markus dan seorang bodyguard.
Ah, sepertinya mereka sedang mencari udara segar. Soren berpikir realistis. Ia kembali melangkahkan kaki sebelum Markus benar-benar mengikutinya.
Ketika satu langkah menggesek lantai marmer ....
“Hei!” Soren berhenti tanpa ragu. Kepalanya menoleh pelan ke arah belakang. Dua pria yang tadinya duduk bersama Markus kini sedang berdiri di ujung lorong dengan seorang bodyguard yang sama. Wajah mereka tidak lagi mabuk seperti sebelumnya, tetapi berubah menjadi tatapan mengintimidasi.
“Kenapa ke luar dari kamar itu?” Salah satu pria bertanya dengan nada datar.
Soren mengangkat nampan sesikit, senyumnya tetap seperti sebelumnya. Lembut dan tipis. “Tuan meminta cemilan tambahan, jadi saya akan pergi mengambilnya.”
Tatapan mereka turun ke arah nampan yang kosong. Suasananya berubah menjadi menegangkan seketika, kemudian salah satu dari mereka—lelaki yang menggunakan jas putih itu tersenyum tipis, tetapi matanya tetap bertahan dengan tatapan tajam.
“Lucu.”
“Markus tidak pernah menyuruh siapapun keluar sebelum dia selesai bersenang-senang.”
Soren tidak menjawab, ia menghela napas pelan. Tidak ada gunanya lagi, gadis itu mengayunkan nampan itu ke arah pria tersebut dengan sekuat tenaga. Mereka berhasil menghindarinya.
Selanjutnya, saat lelaki berbadan tambun itu mendekat, bahkan saat belum sempat mengangkat tangannya untuk menangkap Soren, gadis itu sudah berada di hadapannya. Gerakannya cukup lincah dan mematikan.
Siku kanan Soren meluncur naik secepat kilat, menghantam tepat ke bawah dagu pria itu. Benturan keras membuat rahang pria itu bergeser, hingga giginya saling bergesekan dan sebagian patah. Kepala itu tersentak ke belakang secara tidak wajar menyebabkan napasnya terputus seketika.
Wajahnya memerah, matanya membelalak tak percaya, lututnya lemas seolah tulang penyangganya dicabut.
Tapi Soren tidak berhenti di situ.
Sebelum tubuh itu sempat ambruk, tangan kirinya menangkap leher pria itu. Genggamannya dingin dan kuat seperti besi. Dengan satu gerakan putar yang cepat dan presisi ... Krak!
Suara patah tulang leher terdengar jelas, kering dan mengerikan.
Kepala itu miring sembilan puluh derajat. Tubuhnya terlempar ke samping oleh Soren, jatuh berantakan di lantai marmer yang dingin. Dia sudah mati
.
.
.
Bersambung
Hallo guys, selamat datang di cerbung keduaku, mungkin alurnya hampir mirip sama cerita sebelumnya tapi kalo mau baca nikmatin aja, wkwkw.
Soren Ravensdale👇