Ara di jodohkan dengan Aib, bukan dengan laki-laki, Ia di tatap jijik oleh keluarga nya sendiri.
ini kisah tentang pernikahan Tampa pesta, Tampa restu dan Tampa wali, tapi ada Tuhan jadi saksi dan luka jadi maharnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Delvi Binti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
tidak akan lemah lagi
dan mulai malam itu Ara memutuskan untuk tidak akan lemah lagi, ia akan bangkit melawan orang - orang yang mencoba mencelakai nya dan akan menjalankan hidup sesuai keinginan nya tanpa harus mendengarkan orang lain yang mencoba menjatuhkan nya.
meski Ara tau rintangan kedepan mungkin akan sangat berat tapi Ia percaya bahwa selama Ia kuat dia akan bisa melewati semua nya dan Dimas akan selalu berada di samping nya.
akhirnya saat Ara mulai tenang nenek nya pun pamit untuk kembali masuk ke kamar nya, hati nenek Ara saat ini sudah lebih tenang karna telah menjelaskan semua rahasia yang selama ini Ia dan tante Rianti sembunyikan, dan alasan kenapa selama ini Ia tidak pernah mau membela Ara karna jika nenek membela Ara tante Rianti tidak akan segan - segan mengusir nenek dari rumah ini dan juga tante Rianti mengancam akan mencelakai Ara.
keesokan pagi nya saat matahari mulai menyinari bumi Ara sudah selesai mengerjakan pekerjaan rumah seperti biasa nya, namun saat itu Ara belum sempat untuk menyiapkan sarapan untuk mereka semua sampai akhirnya tante Rianti yang baru saja keluar dari kamar nya dan menuju meja makan untuk sarapan kembali emosi karna Ara belum menyiapkan sarapan pagi di meja makan itu.
" Ara mana sarapan nya kok ngga ada kamu ngapain aja si hah." ucap tante Rianti dengan suara yang cukup keras
" maaf tante aku baru aja selesai nyuci piring jadi belum sempat buat sarapan." Jawab Ara dengan tenang tidak ada lagi ketakutan seperti biasa, kini Ara lebih berani lagi dan akan melawan jika tante Rianti akan memukul nya lagi.
" dasar pemalas kamu yaa, bilang aja kamu tadi cuma leha-leha ajakan, sengaja kamu kan mau mancing emosi saya."
" maaf tante kalau saya memang pemalas dan cuma leha - leha lantas siapa yang membersihkan ruangan ini, siapa yang mencuci baju tante, nggak mungkin tante kan."
Mendengar jawaban dari Ara membuat tante Rianti tersentak kaget, Ia tidak menyangka Ara akan mengatakan itu, ia bingung kenapa Ara yang selama ini hanya bisa meminta maaf jika dimarahi dan selalu memohon ampun jika akan di pukuli pagi ini Ara berubah seolah-olah Ia bukan lagi Ara.
" kamu sudah berani menentang saya, dan apa maksud kamu mengatakan hal itu mau nyindir saya kamu hah." ucap Tante Rianti yang kini semakin emosi
" saya tidak menentang tante apalagi menyindir tante saya hanya mengatakan apa yang harus saya katakan." Jawab Ara
Mendengar itu membuat tante Rianti sekali emosi, Ia hendak menampar Ara namun kali ini Ara tidak tinggal diam Ia menangkis tangan tante Rianti dan menghempaskan nya.
" maaf tante saya fikir selama ini anda sudah keterlaluan karna selalu berbuat kekerasan terhadap saya dan saya hanya diam tapi kali ini saya tidak akan membiarkan tante melakukan hal itu lagi."
Setelah mengatakan itu Ara bergegas pergi dari hadapan Tante Rianti, sedangkan tante Rianti hanya bisa berdiri mematung seakan tidak percaya dengan hal yang baru saja terjadi.
" sejak kapan dia berubah kenapa sekarang dia bisa melawan saya, ini tidak bisa di biarkan awas aja kamu Ara." ucap tante Rianti yang tidak Terima akan perubahan sikap Ara.
Sementara itu Ara masuk ke dalam kamar nya dan menutup pintu, di dalam kamar nya Ia mulai menenangkan diri ada rasa bersalah dalam hati nya karna telah melawan tante Rianti.
" Maafin aku tante aku nggak bermaksud untuk melawan tante, tapi aku juga tidak mau jika tante terus menerus menyiksa aku." ucap Ara
Sementara nenek nya yang melihat itu dari balik pintu kamar nya terseyum tipis.
" akhirnya cucuk ku benar-benar sudah dewasa, kamu harus bisa melawan nak karna nenek tidak bisa melindungi kamu." ucap nenek sangat pelan
pagi itu Tante Rianti menyiapkan sarapan nya sendiri dengan hati yang di penuhi emosi.
Saat hari menjelang siang Dimas akhirnya datang ke rumah Ara dengan niat akan meminta izin untuk melamar Ara secara resmi.
Namun saat tante Rianti melihat kedatangan Dimas wajahnya seketika berubah sorot matanya tajam menatap Dimas dan wajahnya datar tampa ekspresi menatap Dimas.
" permisi tante Ara nya ada, saya mau ketemu sama Ara." ucap Dimas.
" ada urusan apa kamu mencari wanita si**n itu, sebaiknya kamu pergi dari sini." jawab tante Rianti
" ada hal yang saya dan Ara ingin bicarakan dengan tante dan juga nenek." jawab Dimas dengan sopan.
Ara yang mendengar keributan di luar segera keluar dari kamar nya dan menghampiri asal suara itu, saat Ara sampai di depan pintu mata tante Rianti langsung melirik nya dengan tatapan siap menerkam.
" Dimas kenapa kamu datang, ada masalah apa." tanya Ara kepada Dimas.
" aku datang untuk membicarakan hal yang semalam aku katakan ke kamu tentang aku akan meminta izin dari tante dan nenek kamu untuk melamar kamu secara resmi dan untuk menikahi kamu." jawab Dimas dengan suara yang lembut namun penuh keyakinan.
Tante Rianti yang mendengar itu tertawa sinis Ia seakan mengolok-olok Dimas yang berniat akan menjadikan Ara sebagai istri nya
" kamu yakin mau nikah sama cewek kaya dia ini, sudahlah bodoh, ngga bisa apa - apa dan yang paling penting dia ini cuma anak ha**m." ucap Tante Rianti.
Ara yang mendengar itu tidak percaya bahwa tante Rianti akan merendahkan nya di hadapan Dimas, saat itu hati Ara hancur, tapi kali ini dia tidak menangis Ia hanya menarik nafas panjang berusaha menenangkan diri nya.
Begitu pun dengan Dimas yang kaget mendengar ucapan tante Rianti saat itu, Ia tak menyangka tante Rianti akan tega mengatakan hal itu di depan keponakan nya sendiri, suasana hening beberapa saat hinga akhirnya suara nenek Ara pun terdengar dari dalam rumah.
" nggak Ara bukan anak ha**m, justru kamu yang mengarang cerita itu untuk menjauhkan Ara dari Ayah nya." ucap nenek yang sudah berada di depan pintu.
" ibu apa - apaan sih, ibu jangan ikut campur ya ini urusan aku sama mereka mending ibu masuk aka ke kamar ibu."
" Ara kamu sudah dewasa sekarang saatnya kamu menentukan pilihan kamu, jalan hidup kamu, tante kamu ini tidak berhak untuk itu jalani apa yang menurut kamu benar jangan perdulikan omongan tante mu." ucap nenek kepada Ara dan tidak menghiraukan kata - kata tante Rianti.
" iya nek aku tau dan Terimakasih karna sudah mau dukung aku. " jawab Ara yang menatap nenek nya sabil tersenyum.
Melihat hal itu Tante Rianti merasa terpojok kan ia, Ia tidak bisa berkata-kata lagi namun beberapa menit kemudian Ia kembali membuka suara.
" kalau kalian tidak mau mendengarkan perkataan saya kalian pergi dari rumah ini, ini rumah saya." ucap Tante Rianti dengan nada yang membentak.
" ini bukan Rumah kamu ni rumah Ara yang kamu curi dari Ara, kamu tidak punya hak untuk mengusir Ara." jawab nenek yang menatap tante Rianti dengan tajam
" sadar lah nak ini sudah keterlaluan sudah cukup kamu menyiksa Ara selama ini hentikan ini nak, ibu mohon sama kamu." ucap nenek Ara lagi yang membuat tante Rianti semakin tidak bisa mengenai emosi nya.
"Diam aku ngga mau denger apa-apa dari kalian dan satu lagi sertifikat Rumah ini atas nama aku, dan dia tidak berhak atas rumah ini jadi aku bisa mengusir kalian kapan saja."
dan akhirnya Dimas pun angkat bicara stelah lama iya diam dan menyimak apa yang sedang terjadi.
" maaf tante Rianti, Ara dan nenek jika kedatangan aku ke sini membuat kalian bertengkar, tapi niat aku ke sini cuma ingin meminta izin untuk menjadikan Ara istri aku, aku nggak perduli status dia apa." ucap Dimas.
"Saya tidak akan menyetujui hal itu sampai kapan pun itu." jawab tante Rianti
Ara pun tidak tinggal diam ia mulai berbicara.
" maaf tante aku bukan nya mau melawan tante, tapi tante setuju atau tidak setuju aku akan tetap menikah dengan Dimas." ucap Ara dengan suara tenang
tante Rianti yang mendengar itu kembali naik pitam kali ini Ia akan menampar wajahnya Ara lagi namun di hentikan oleh Dimas.
" lepaskan tangan saya, dasar perempuan mu**han, ingat ya kalau kamu berani membanta perkataan saya kamu dan juga nenek kau ini pergi dari rumah ini sekarang juga." tante Rianti yakin bahwa jika Ia mengancam akan mengusir Ara pasti akan tunduk lagi karna Ia tau Ara tidak punya tempat tinggal lain selain rumah itu.
" baik saya akan pergi dari rumah ini, nenek. nenek mau ikut Arakan, Ara janji akan jagain nenek." ucap Ara
mendengar itu tante Rianti hanya tertawa sinis.
Mendengar itu tante Rianti lalu bergegas masuk ke dalam rumah ia masuk ke kamar Ara dan mengeluarkan semua baju-baju Ara dari lemari, lalu pergi ke kamar nenek Ara lalu mengeluarkan semua baju-baju nenek yang ada di lemari itu
Sementara di luar Dimas meminta maaf kepada Ara karna telah menyebabkan keributan yang mengakibatkan Ara dan nenek harus di usir dari rumah itu.
" Ara, nenek maafin aku yaa sudah membuat keributan dan membuat kalian harus di usir dari rumah ini, tapi aku janji tidak akan membiarkan kalian tidak punya tempat tinggal."
beberapa menit kemudian Tante Rianti pun keluar dari rumah dan melemparkan baju-baju Ara dan nenek ke lantai, melihat itu Ara hanya diam lalu memunguti baju-baju yang berserakan di lantai dan di bantu oleh Dimas.
nenek yang melihat itu tidak bisa berkata apa - apa sebab, rumah itu sudah atas mama tante Rianti, jadi mereka bisa menuntut.
"sekarang kalian pergi dari sini jangan pernah kalian injakan kaki di rumah ini lagi." ucap tante Rianti
Dimas pun akhirnya mengajak Ara dan juga nenek nya pergi dari tempat itu, sementara itu para tetangga yang melihat kejadian itu muali berbisik - bisik, mereka menyayangkan perbuatan tante Rianti yang tega mengusir ibu dan keponakan nya hanya karna ke egoisnya.
" si Rianti ini jahat banget yaa, tega banget dia ngusir ibu sama keponakan nya sendiri ngga takut kualat apa ya." bisik - bisik pun mulai terdengar dari beberapa tetangga.
" iya yaa, kok ada ya orang kaya Rianti padahal Ara sudah baik banget loh sama dia." jawab ibu- ibu lain.
akhirnya Ara, Dimas dan juga nenek pun sudah menjauh dari rumah tante Rianti, Dimas menelfon Doni untuk meminta bantuan nya.
" halo Don luh sibuk ngga, gua mau minta tolong bentar boleh." ucap Dimas di telfon
" boleh luh mau minta tolong apa?." tanya Doni.
" luh bisa ke rumah gua trus ambil mobil gua ngga trus bawa ke dekat rumah nya Ara . "
" lah emang nya luh kenapa trus luh lagi di mana." tanya Doni
" udah nanti luh bakalan tau kok, tolongin yaa."
" yaudah gau ke rumah luh sekarang tungguin ya biar lebih cepat gua lewat jalan pintas ya."
" terserah luh aja yang penting luh cepet ke sini bawa mobilnya."
Akhirnya Dimas mematikan sambungan telfon itu lalau kembali menyimpan handphone nya ke dalam saku celana nya.
" Ara sekali lagi aku minta maaf yaa, karna aku kalian jadi kena masalah kaya gini." ucap Dimas yang entah sudah keberapa kali nya Ia meminta maaf.
" iya ngga apa- apa kok ini bukan sepenuhnya salah kamu." jawab Ara
lalu Ara memegang tangan nenek nya dan meminta maaf karna harus telibat dalam masalah ini yang akhirnya harus ikut di usir dari rumah.
" nek maafin Ara ya karna Ara nenek harus ikut di usir, tapi Ara janji akan jagain nenek Ara akan cari tempat buat kita tinggal." ucap Ara
" ngga apa - apa nak, nenek juga sudah tidak kuat tinggal di rumah itu, tiap hari harus di ancam sama tante kamu rasa nya ngga enak." jawab nenek Ara
" hmm aku punya rumah yang udah lama ngga di tempatin tapi masi layak untuk tempat tinggal kok, kalau Ara sama nenek mau kalian boleh tinggal di sana, nanti biar aku yang bicara sama ibu aku, dia pasti akan setuju kalau kalian tinggal di sana."
" tapi kami ngga bakalan ngerepotin kamu kan Dim, takutnya nanti ibu kamu keberatan." jawab Ara yang tidak enak untuk nerima tawaran Dimas.
" ibu pasti suka kalau ada yang tinggal dan ngerawat rumah itu, apalagi kalau ibu tau yang tinggal di sana itu kamu, jadi kamu tenang aja ya."
Untuk saat itu Ara hanya bisa menerima tawaran Dimas sebab Dia sendiri juga tidak tau harus tinggal di mana dan Ara pun juga kasian melihat nenek nya.
setengah jam kemudian Doni pun sampai dengan membawa mobil Dimas, saat turun dari mobil Doni terkejut dengan apa yang Ia liat saat itu.
" Ara, nenek kalian mau ke mana kok bawa tas." tanya Doni
" udah cerita nya Nanti aja, sekarang gua minta tolong lagi, tolong bawain motor gua yaa." jawab Dimas
akhirnya Mereka semua pun benar-benar pergi meninggalkan rumah tante Rianti.
Tante Rianti yang melihat itu hanya tertawa sinis dan berkata bahwa mereka pasti akan kembali lagi memohon agar bisa tinggal di rumah itu.