Tujuh tahun lalu, malam penyerangan musuh menghancurkan segalanya.
Venus terpaksa pergi membawa rahasia kehamilan yang belum sempat diungkapkan pada suaminya—Dante.
Kini, Venus harus bertahan hidup bersama Sean, putra mereka yang memiliki tatapan sedingin es milik ayahnya.
Saat takdir mempertemukan mereka kembali, dunia Venus seketika runtuh. Dante telah menikah lagi dengan wanita yang menyelamatkan nyawanya.
Meski Dante tak pernah mencintai istri barunya dan terus mencari Venus, Venus memilih bungkam. Venus tak ingin menghancurkan rumah tangga pria itu.
Namun, saat mata Dante tertuju pada sosok Sean, rahasia tujuh tahun itu terancam
Akankah Dante berhasil menemukan Venus dan mengenali Sean sebagai putranya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 33 Izin menginap
"Aku ingin bertanya soal flashdisk itu. Kau sudah mengambilnya, bukan?" tanya Dante dengan nada rendah yang bergetar antara tuntutan dan kecemasan.
Venus menelan ludah dengan susah payah. Ia meraba saku jaket taktisnya yang masih menyisakan aroma uap sauna dan mesiu.
"Kau... kau tahu soal itu?" jawabnya gugup.
Dante mendekat, berdiri tepat di depan sofa tempat Venus bersandar. Bayangannya yang besar dan tinggi menyelimuti wanita itu.
"Kau pikir untuk apa aku memasang brankas palsu di ruang bawah tanah dan membiarkan Bianca menyimpan dokumen aslinya di ruang sauna pribadinya? Aku menunggu momen yang tepat, Venus. Tapi aku tidak menyangka kau akan senekat ini."
"Aku harus melakukannya, Dante! Tujuh tahun aku hidup seperti hantu, menyembunyikan wajahku di balik topeng, dan membesarkan Sean dalam kebohongan bahwa ayahnya sudah mati!" suara Venus meninggi, emosinya tumpah seketika.
"Aku tidak bisa menunggu momen tepat versi mu yang mungkin tidak akan pernah datang!"
Dante berlutut di depan Venus, mencengkeram kedua tangan wanita itu dengan lembut namun kuat.
"Aku menunggu cukup lama karena aku pikir kau sudah tiada! Aku pikir duniaku sudah hangus bersama rumah itu! Selama tujuh tahun aku terjebak dalam kabut yang diciptakan Bianca, dan sekarang setelah kau kembali, kau hampir membuatku kehilanganmu lagi demi benda kecil ini?"
"Tapi aku selamat, Dante," bisik Venus, matanya berkaca-kaca. "Dan benda ini... benda ini adalah kunci kebebasan kita."
Sean yang sedari tadi berdiri di ambang pintu kamar dengan laptop di pelukannya, melangkah maju. Wajah kecilnya nampak sangat serius.
"Kalau kalian sudah selesai berdrama soal siapa yang lebih menderita, bisakah kita fokus pada isinya? Aku sudah menyiapkan deskripsi tingkat tinggi. Paman Udang, pinjamkan jarimu."
Dante menoleh, sedikit bingung. "Jariku?"
"Sidik jari konfirmasi untuk sistem keamanan ganda yang kau pasang di protokol
mansion," sahut Sean ketus. "Aku tahu kau mematikan aksesnya, tapi kodenya masih membutuhkan otorisasi biometrik pemilik rumah agar data di dalam flashdisk ini tidak terhapus otomatis."
Dante menghela napas, menatap putranya dengan bangga sekaligus ngeri akan kecerdasannya. Ia bangkit dan menempelkan jempolnya pada alat pemindai kecil yang sudah disambungkan Sean ke laptop.
Klik. Access Granted!
Layar laptop Sean seketika berubah hitam, lalu deretan baris kode hijau meluncur deras sebelum akhirnya membuka sebuah folder terenkripsi berjudul “Project Phoenix & Golden Lotus”.
"Duduklah, Ma. Paman, kau juga harus lihat ini," ucap Sean.
Mereka bertiga berkumpul di kamar Sean yang kini berubah menjadi pusat komando. Sean membuka file pertama. Itu adalah laporan keuangan tersembunyi.
"Lihat ini," Sean menunjuk grafik merah yang aneh.
"Keluarga Rodriguez melakukan penggelapan uang melalui proyek Golden Lotus milik Carson Group. Jumlahnya... astaga, ini hampir empat puluh persen dari total aset perusahaan selama lima tahun terakhir."
Dante menyipitkan mata, rahangnya mengeras. "Mereka mencuci uang hasil perdagangan gelap melalui anak perusahaan konstruksi ku? Pantas saja Bianca selalu mendesak ku untuk menandatangani ekspansi proyek itu."
"Itu belum seberapa, Paman. Lihat file video ini," potong Sean. Ia mengklik sebuah file MP4 bertanggal tujuh tahun yang lalu. Tanggal yang sangat dihafal oleh Venus.
Video itu adalah rekaman kamera pengawas tersembunyi di sebuah kantor gelap. Di sana terlihat ayah Bianca, Eduardo Rodriguez, sedang berbicara dengan seorang pria yang mengenakan masker.
"Pastikan tidak ada jejak. Bakar seluruh paviliun itu. Jika Venus ada di dalam, itu lebih baik. Dante harus merasa hancur agar dia mudah kita kendalikan melalui Bianca," suara Eduardo terdengar jernih dan dingin.
Venus menutup mulutnya dengan tangan, tubuhnya gemetar hebat. Kenyataan yang ia curigai selama ini terpampang nyata di depan matanya.
"Mereka... mereka benar-benar ingin membunuhku."
Lalu muncul rekaman suara Bianca, tertawa kecil sambil menyerahkan sebuah amplop cokelat pada pria bermasker itu.
"Ini sisa pembayarannya. Pastikan Dante selamat, tapi buat dia koma cukup lama sampai aku bisa memegang surat kuasa penuh atas asetnya. Dan wanita itu... pastikan dia tewas tanpa menyisakan abu sekalipun."
Brak!
Dante menggebrak meja hingga gelas di atasnya terguling. Wajahnya merah padam, urat-urat di lehernya menonjol. Amarah yang meledak-ledak terpancar dari matanya.
"Selama ini... aku tidur dengan iblis yang merencanakan pembunuhan istriku?!" raung Dante. Suaranya menggelegar, penuh dengan penyesalan dan kebencian yang mendalam.
"Tujuh tahun aku memberikan segalanya pada wanita yang hampir memusnahkan hidupku!"
"Paman, tenanglah. Kau membuat mama ku takut," ucap Sean, meski tangannya sendiri sedikit gemetar melihat kemarahan ayahnya.
Dante menoleh pada Venus, matanya basah oleh air mata amarah. "Venus, maafkan aku. Aku begitu bodoh. Aku membiarkan ular itu merayap di tempat tidur kita, menggunakan uangku untuk menghancurkan mu... Aku—"
Venus meraih wajah Dante, memaksa pria itu menatapnya.
"Bukan salahmu, Dante. Mereka menipumu saat kau sedang hancur. Tapi sekarang, kita punya senjatanya. Kita punya segalanya untuk menjatuhkan mereka."
Dante mengambil napas dalam, mencoba menenangkan debar jantungnya yang liar. Ia menoleh ke arah Sean.
"Sean, bisa kau kirimkan salinan file ini ke server pribadi Papa? Papa akan memanggil seluruh dewan direksi dan tim hukum besok pagi."
"Sudah kulakukan sepuluh detik yang lalu, Papa," jawab Sean pendek.
Dante tertegun. Ia menatap Sean dengan mata membelalak.
"Kau... kau barusan memanggilku apa?"
Sean memalingkan wajah, berpura-pura sibuk dengan kode di layarnya, tapi telinganya memerah.
"Aku bilang Paman, kau pasti salah dengar karena terlalu emosi."
"Tidak, aku mendengarnya jelas. Kau memanggilku Papa," Dante tersenyum tipis di tengah badai hatinya. Ia mengacak rambut Sean dengan gemas.
"Jangan sombong. Itu hanya hadiah karena kau menyelamatkan Mama tadi," gumam Sean pedas, namun ia tidak menepis tangan Dante.
Dante kembali menatap layar laptop, matanya kembali mendingin dan tajam.
"Bianca Rodriguez, Eduardo Rodriguez... kalian pikir kalian bisa mencuri hidupku dan mengkhianati ku? Aku akan memastikan kalian membusuk di sel yang paling gelap, setelah aku mengambil kembali setiap sen yang kalian curi dari perusahaan ini."
"Apa rencana kita selanjutnya?" tanya Venus, kini ia merasa jauh lebih kuat.
"Malam ini, kita tetap di sini. Besok pagi, saat matahari terbit, aku akan membawa pasukan hukum dan polisi ke kediaman Rodriguez. Aku ingin melihat wajah Bianca saat dia menyadari bahwa monster yang dia benci masih hidup, dan suaminya adalah orang yang akan memborgol tangannya sendiri," ucap Dante dengan suara yang tenang nan penuh ancaman maut.
Sean menutup laptopnya .
"Dan aku akan memastikan semua aset digital mereka membeku. Mereka tidak akan bisa membeli sebotol air mineral pun besok pagi."
Venus memeluk Sean dan bersandar pada bahu Dante.
"Ehem, jadi malam ini apakah boleh aku menginap?" tanya Dante.
Venus dan Sean sontak menoleh ke arah pria itu.
"Tidak!" jawab mereka bersamaan.
amazing 🤩
kasian lho dia.... 😁😁😁